My Sweet Girl

My Sweet Girl
Belum Ada Kata Cinta Yang Terucap


__ADS_3

Satu hal yang Tami ketahui tentang masa lalu suaminya. Apakah Tami tidak marah dan kesal? Tentu saja dia kesal saat mengetahui tentang masa lalu suaminya satu ini. Namun, ketika dia tahu jika hal itu terjadi sebelum Alvaro kenal dengannya, maka Tami merasa tidak pantas untuk marah dan menghakimi kesalahan suaminya yang sudah bertahun-tahun berlalu. Tami hanya ingin menerima setiap masa lalu Alvaro.


Alvaro tidak berhenti mencium puncak kepala istrinya yang berada dalam pelukannya ini. Entah harus bagaimana lagi Alvaro merasa bersyukur ketika bisa mendapatkan istri seperti Tami. Yang bisa mengerti keadaannya dan menerima semua masa lalu buruk dalam hidupnya.


"Terima kasih Sayang karena sudah menerima masa laluku"


"Aku menerimanya, karena kejadian itu terjadi sebelum kamu bersama denganku. Jika kamu melakukan itu setelah bersama denganku, maka aku tidak akan mau memaafkan kamu. Karena hal itu sudah termasuk dalam sebuah pangkhianatan"


Alvaro tersenyum, di mengecup kembali puncak kepala istrinya. "Setelah bersamamu, aku tidak akan mungkin melakukan itu. Karena aku tidak akan mungkin berpaling dari kamu yang sudah se-sempurna ini untukku"


Tami mendongak, dia menatap wajah suaminya dengan tatapan tidak percaya. "Janji ya, untuk tidak berpaling dariku. Karena aku sudah terlanjur membuka hati untukmu"


Cup..


Seolah tidak ada puasnya, Alvaro mengecup bibir istrinya yang selalu menggoda ketika istrinya berbicara. "Aku senang mendengarnya, setelah kamu membuka hati untukku, lalu untuk apa aku berpaling ke lain hati jika kamu saja sudah segalanya untukku"


Tami hanya tersenyum, lalu kembali menyandarkan kepalanya di dada Alvaro dengan nyaman. "Sayang, kemarin aku mengatakan tentang pernikahan kita pada karyawan kamu di Resto"


"Kan aku juga ingin memberi tahu semua orang pernikahan kita ini, pada awalnya. Tapi kamu yang melarangnya"


"Sekarang aku tidak takut lagi semua orang tahu tentang pernikahan ini. Karena sekarang aku jatuh cinta padamu, kalau dulu aku pernah berpikir untuk pergi meninggalkan kamu"


Namun sekarang aku hanya berharap jika kamu tidak akan pernah bosan hidup bersamaku dan tidak cepat-cepat menyuruh aku pergi dari hidupmu.


"Sayang ihh..." Alvaro mengeratkan pelukannya, seolah takut istrinya akan benar-benar pergi darinya. Dia mencium puncak kepala Tami beberapa kali. "...Jangan pernah berfikir untuk pergi dariku, karena aku tidak akan pernah membiarkan kamu pergi dari hidupku. Apapun alasannya"


Tapi kenapa sampai sekarang tidak ada kata cinta yang terucap dari bibirmu.


Satu hal yang masih membuat Tami ragu dengan pernikahan ini. Tentang kata cinta yang tak pernah terucap, tentang hatinya dan perasaannya yang belum sepenuhnya Tami ketahui bagaimana. Ingin bertanya langsung, tapi Tami merasa tidak pantas untuk bertanya. Karena kata cinta, tidak perlu di tanyakan jika memang dia memiliki perasaan itu padanya.


"Sudah tidurlah, kamu harus istirahat. Apa perutmu masih sakit?" Alvaro mengelus perut Tami, entah kenapa selalu ada debaran senang dalam hatinya ketika dia mengelus perut istrinya. Berharap suatu saat nanti calon anaknya ada disana.

__ADS_1


"Sudah tidak apa-apa, kan sudah minum obat tadi. Sayang, aku mau ke bawah sebentar"


"Ke bawah untuk apa? Ini sudah malam, Sayang. Kamu mau apa ke bawah"


"Aku mau ambil minum, air minimnya sudah habis tuh. Biasanya kalau sedang datang bulan, aku harus banyak minum"


"Yaudah kamu diam saja disini, biar aku yang bawakan minum untukmu"


Tami bangun dari tidur nyamannya dalam pelukan suaminya. "Yaudah, tolong kamu ambilkan ya. Itu tinggal sedikit lagi"


"Iya Sayang"


Setelah Alvaro keluar dari kamar, Tami segera turun dari tempat tidur dan berlalu ke ruang ganti. Mengambil sesuatu yang hampir dia lupakan malam ini. Saat Alvaro kembali ke kamarnya, Tami sudah berada kembali di tempat tidur.


"Nih minumnya, aku simpan disini ya" Alvaro menyimpan gelas itu di atas nakas samping tempat tidur.


"Iya, makasih ya Sayang"


"Iya, sekarang tidur ya" Alvaro mencium kening Tami sebelum dia naik ke atas tempat tidur dan berbaring di samping istrinya.


...💫💫💫💫💫💫💫💫...


Tami terbangun saat merasa suhu tubuh suaminya yang dipeluknya terasa lebih tinggi dari suhu normal. Tami bangun dan melihat suaminya yang menggigil kedinginan, padahal suhu tubuhnya tinggi. Tami menepuk pelan pipi suaminya untuk menyadarkan Alvaro.


"Sayang, kamu demam ya. Bangun yuk, minum obat. Atau kita ke rumah sakit saja"


Tidak ada jawaban dari Alvaro, hanya sebuah gumaman tidak jelas yang terdengar oleh Tami. Hal ini membuat Tami panik sendiri, dia mengambil air hangat dan handuk kecil untuk mengompres suaminya.


Dan hampir semalaman Tami tidak tidur hanya untuk menjaga suaminya dan mengganti kompres di keningnya. Hingga pagi ini Alvaro tersadar, dia merasakan tangannya yang di genggam. Ketika dia melirik ke arah sampingnya, dimana Tami tidur dengan posisi duduk menyandar pada sandaran tempat tidur dan tangannya yang menggenggam tangan Alvaro.


Alvaro meraba keningnya saat terasa ada sesuatu yang menempel disana. Dia mendapatkan handuk basah yang menempel di keningnya. Alvaro tersenyum haru, merasa dirinya begitu beruntung memiliki istri seperti Tami. Dia bahkan rela tidak tidur semalaman, hanya untuk menjaganya yang sedang sakit.

__ADS_1


"Sayang..." Alvaro bangun dan menepuk pelan pipi Tami yang terlelap. "...Yang benar tidurnya"


Tami mengerjap, dia mengucek matanya yang terasa perih. "Sudah bangun ya, gimana keadaan kamu?"


"Sudah baik-baik saja, terima kasih ya sudah merawatku semalaman. Sampai kamu tidak tidur"


Tami menempelkan punggung tangannya di kening Alvaro, menghela nafas lega ketika merasa suhu tubuh suaminya sudah kembali normal. "Tidak papa, ini sudah tugasku sebagai istri kamu"


Alvaro tersenyum, dia genggam tangan Tami dan mengecupnya dengan lembut. "Terima kasih untuk semuanya Sayang, sekarang kamu tidurlah. Aku sudah tidak apa-apa"


Tami menurut, dia berbaring di atas tempat tidur. Alvaro segera menarik selimut untuk menutupi tubuh istrinya. Dia mengelus kepala Tami dengan lembut, dan memberikan kecupan di kening gadis itu.


Alvaro turun dari tempat tidur dan berjalan ke ruang ganti, sambil memegang keningnya sendiri. Kenapa aku tiba-tiba demam ya. Gumamnya.


Entah berapa lama Tami terlelap, tapi saat dia terbangun suaminya sudah tidak ada di tempat tidur. Tami melirik jam dinding, dan kaget sendiri karena hari yang sudah siang. Karena tidak tidur sampai pagi, membuat Tami tidur begitu lelap.


"Kemana suamiku ya, ini 'kan hari minggu. Apa dia ke Resto juga hari ini"


Saat Tami baru saja akan turun dari atas tempat tidur, pintu kamar terbuka dan Alvaro masuk dengan wajah lebih segar dari semalam. Suaminya itu membawa nampan berisi makanan untuk Tami.


"Makan dulu, kamu tidur lelap banget sampai tidak sarapan"


Tami tersenyum, dia memang tidak sadar jika tidur terlalu lelap. "Sayang, kamu lagi sakit kok malah masak buat aku si. Diam saja, istirahat. Biar aku yang melakukannya"


"Aku sudah sembuh, berkat istriku yang merawatku semalaman. Jadi hari ini aku sudah tidak papa. Kamu tenang saja"


Alvaro duduk di pinggir temlat tidur, mengambil sepiring makan siang yang dia simpan di atas nakas. Lalu mulai menyiapi Tami dengan lembut.


"Makan yang banyak, kamu pasti lapar karena tidak sempat sarapan"


Ini sebenarnya siapa yang sakit, siapa yang sehat si.

__ADS_1


Tami malah ingin tertawa sendiri dengan situasi saat ini. Suaminya yang sakit, tapi dia yang di suapi makan.


Bersambung


__ADS_2