
Tami menatap pantulan dirinya di cermin, dia terlihat tampil berbeda dengan dress mewah yang sudah lama berada di dalam lemari pakaiannya, namun tidak pernah dia sentuh sekalipun.
"Rasanya aneh sekali saat aku memakai baju seperti ini"
Alvaro yang baru saja keluar dari ruang ganti tersenyum mendengar ucapan istrinya itu. Dengan perlahan Alvaro menghampiri istrinya, lalu dia memeluk Tami dari belakang. Menyandarkan dagunya di bahu sang istri.
"Kamu cantik memakai itu, sangat pas di tubuh kamu"
Tami tersenyum, dia mengelus pipi suaminya yang bersandar si bahunya. "Kita berangkat sekarang? Duh, aku makin gugup deh"
Cup..
Alvaro mencium pipi chubby istrinya, dia gemas juga melihat wajah istrinya. Padahal Tami hanya ber-make up biasa saja. Tidak terlalu berlebihan, terkesan make up yang sangat tipis. Tapi kalau sudah cinta, bagaimana pun penampilannya selalu terlihat menggemaskan.
"Kamu datang bersamaku, suamimu. Jadi, kenapa harus gugup"
"Ya tetap saja, ini 'kan pengalaman pertama bagiku datang ke acara seperti itu"
Alvaro hanya tersenyum, dia melepaskan pelukannya dan membalikan tubuh Tami agar menghadap padanya. Menatap wajah istrinya. "Sayang, kamu itu istriku. Jadi tidak perlu merasa malu atau apapun itu saat bersamaku"
Tapi aku hanya istri karena hutang, bukan karena cinta.
Sesering apapun Alvaro mengatakan itu, Tami tetap mencoba menutup hatinya dengan rapat. Dia takut jatuh cinta padanya dan akan berakhir menyakitkan baginya, jika suatu saat Alvaro akan mencampakkannya.
Setidaknya aku harus tetap bekerja keras untuk bisa mengumpulkan uang dan segera melunasi hutangku itu. Jadi aku bisa segera mengakhiri semua ini sebelum aku benar-benar jatuh cinta padanya.
"Sayang ayo, malah bengong disitu" Alvaro menggandeng tangan istrinya keluar dari kamar.
Mereka kini telah sampai di tempat acara, pesta pembukaan butik baru bagi desainer yang baru saja kembali dari luar negara. Tangan Tami sudah terasa sangat dingin dalam genggaman Alvaro. Dia menatap istrinya yang sejak masuk ke pintu utama, dia sudah menundukkan wajahnya dengan tangan yang menggenggam tangan suaminya dengan erat.
"Rasa gugup itu wajar, tapi kamu harus mencoba menghilangkannya. Mencoba percaya diri, jika kamu kesini datang bersamaku" bisik Alvaro pada istrinya, untuk menghilangkan rasa gugup dalam diri istrinya itu.
__ADS_1
Tami menarik nafas dalam, lalu menghembuskannya dengan perlahan. Mencoba mengusir rasa gugup dalam dirinya. Beberapa kali melakukan itu, cukup efisien karena Tami mulai bisa mengendalikan perasaan gugup yang tiba-tiba menyergap hatinya.
"Sudah lebih baik, hmm?" Alvaro mengelus rambut istrinya dengan lembut, dia tersenyum melihat anggukan dari Tami sebagai jawaban atas pertanyaannya.
Alvaro menggandeng istrinya dengan penuh percaya diri menuju tempat dimana sang pemilik pesta ada disana. Sedang di sapa beberapa tamu undangan yang datang.
"Hai, Wen selamat ya atas pembukaan butik baru kamu" Alvaro mengulurkan tangannya pada Weny yang langsung di jabat oleh wanita itu dengan penuh semangat, bahkan dia menjabat tangan Alvaro dengan kedua tangannya.
"Terima kasih Al karena sudah datang, kehadiranmu sudah sangat bersyukur bagiku"
Alvaro tersenyum sedikit di paksakan, dia melepaskan genggaman tangan Weny di tangannya. Dia melirik istrinya yang terlihat tidak nyaman dengan adegan di depannya ini. "Oh ya Wen, perkenalkan ini istriku Tami"
Mendengar itu terlihat wajah terkejut Weny yang tidak bisa dia sembunyikan lagi. Dia kira perkataan Alvaro saat di Slick Grind Resto hanya sebuah bualan semata. Tapi, nyatanya pria itu memang sudah benar-benar menikah dan menjadi milik wanita lain.
"Tami"
Meski sedikit canggung, Tami tetap bersikap sopan. Dia mengulurkan tangannya dengan sedikit menganggukan kepalanya.
"Weny, senang berkenalan denganmu. Aku kira Al berbohong saat mengatakan jika dia sudah menikah. Ternyata benar ya"
Alvaro tersenyum, dia merangkul bahu Tami dan mencium kepala istrinya itu. Menunjukan betapa dia mencintai dan menyayangi istrinya. Hingga tidak akan pernah tergoda oleh siapapun lagi. Meski hati istrinya masih belum benar-benar terbuka untuk dirinya. "Dia istriku, jadi aku memang sudah benar-benar menikah"
Di sudut ruangan, seorang wanita berdiri menyandar di dinding. Dia jelas mendengar segala percakapan itu. Melihat bagaimana Alvaro memperlakukan istrinya dengan begitu manis. Ada penyesalan yang menyusup ke hatinya. Seandainya dulu dia juga menerima Alvaro sebagai pacarnya, mungkina sekarang yang berada di posisi Tami adalah dirinya.
"Sial. Dia tampak begitu bahagia bersama istrinya"
Kembali pada Alvaro dan Tami yang mulai tidak merasa nyaman saat kedua orang tua Weny datang menghampiri mereka. Keduanya terlihat begitu akrab dengan Alvaro. Entah kenapa Tami merasa sangat kesal sekarang, melihat tatapan Weny yang terus tertuju pada suaminya. Naluri dirinya sebagai seorang istri tiba-tiba keluar, dia langsung merangkul lengan suaminya. Apalagi saat Tami sadar jika bukan hanya Weny yang memperhatikannya tapi ada beberapa gadis lain juga.
Melihat itu Alvaro tersenyum, dia menatap lingkaran tangan istrinya di lengannya. Dia mengelus tangan mungil itu. Lalu kembali menatap pada kedua orang tua Weny. "Maaf Tante, Om sepertinya saya permisi sebentar. Mau menyapa yang lainnya"
"Oh baik-baik Alvaro, silahkan"
__ADS_1
Saat berjalan menjauh dari keluarga itu, Tami mendengar beberapa percakapan yang di lakukan kedua orang tuanya pada Weny.
"Kau lihatlah, Alvaro bahkan sangat menyanjung istrinya. Padahal istrinya biasa saja, jelas jauh denganmu. Tapi ini semua salahmu sendiri karena dulu tidak mau di jodohkan dengan pria sepertinya"
"Sudahlah Mam, memang begitu kalau anak yang tidak pernah menurut pada orang tua. Dia pasti sangat menyesal sekarang karena tidak menuruti ucapan orang tua"
Entah kenapa mendengar percakapan itu membuat hati Tami benar-benar kesal. Mungkin juga karena pengaruh hormonnya yang sedang datang bulan. Tami langsung melepaskan rangkulan tangannya pada suaminya. Berjalan mendahului Alvaro.
"Sayang..."
Alvaro bingung sendiri dengan sikap istrinya itu. Dia segera mengejar istrinya yang duduk di meja yang berada di pojok ruangan. Alvaro duduk di kursi depan istrinya. Mencoba meraih tangan Tami yang berada di atas meja, namun segera di tepis kasar oleh istrinya.
"Sayang, kamu kenapa? Kok tiba-tiba marah?"
Aku juga tidak tahu kenapa aku bisa sekesal ini saat mengetahui jika wanita itu pernah akan di jodohkan dengan suamiku.
"Jadi, Nona Weny yang cantik itu pernah mau di jodohkan denganmu? Pantas saja saat ketemu di restaurant, kamu terlihat begitu gugup. Masih cinta ya sama dia"
Ishh. Kenapa aku malah berbicara seperti itu.
Alvaro tersenyum, rasanya begitu senang saat istrinya mulai menunjukan perasaan cemburu padanya. Karena hanya orang yang mencintai yang akan merasakan cemburu seperti Tami sekarang. Sepertinya Alvaro sudah bisa mulai berharap.
"Sayang dengarkan aku, kenapa saat itu aku gugup. Bukan karena aku bertemu lagi dengannya, tapi karena kamu yang tiba-tiba datang. Aku takut kamu akan salah faham padaku"
"Kenapa aku harus salah faham? Lagian pernikahan ini hanya sebatas pembayaran hutang aku padamu"
"Tami Arinda!"
Bersambung
Like komen di setiap chapter.. kasih hadiahnya dan votenya.. berikan bintang rate 5
__ADS_1
konflik awal di mulai ya..