
Alvaro pulang ke rumah dengan tubuh yang lelah. Namun ketika dia masuk ke dalam rumah dan melihat senyum istrinya, seketika perasaan lelah itu hilang seketika. Alvaro menghampiri suaminya dan memeluk istrinya dengan lembut. Mencium seluruh bagian wajah Tami.
"Sayang, aku merindukan kamu"
Tami tersenyum mendengarnya, dia mengelus punggung suaminya. "Aku juga merindukanmu"
Alvaro melerai pelukannya, dia menatap wajah istrinya yang sedikit berbeda dari biasanya. "Sayang, kamu menangis? Matamu bengkak"
Ternyata dari banyaknya orang yang memperhatikan dirinya. Hanya suaminya yang peka. Dia bisa melihat Tami yang habis menangis, padahal Tami sudah berusaha mengompres kelopak matanya agar tidak terlihat terlalu bengkak.
Tami memegang kelopak mata bagian bawah. "Emm. Tidak papa, aku hanya kurang tidur saja karena kamu tidak ada disampingku"
Alvaro tersenyum mendengar itu, dia kembali memeluk istrinya. "Kasihan sekali istriku ini, pasti kamu gak bisa tidur"
"Yaudah sekarang kamu mandi dulu, Tante sudah masak makan siang untuk kita"
Alvaro mengangguk.
Tami menyiapkan perlengkapan mandi untuk suaminya itu. Setelahnya dia segera menemui Tante di kamarnya, Tante belum mengetahui jika Alvaro sudah pulang.
"Tan, ayo kita siapkan makan siang. Mas Alvaro sudah pulang"
"Ohh, dimana dia? Apa kamu sudah memberi tahunya?"
Tami menggeleng pelan. "Belum Tan, nanti saja setelah makan siang. Kasihan Mas Alvaro, terlihat sangat lelah"
"Yaudah, tapi kamu harus segera memberi tahu dia. Karena kalian harus segera mengambil keputusan yang tepat"
Tami mengangguk.
Di saat mereka sedang menata makanan di atas meja, Alvaro datang dengan wajahnya yang lebih terlihat segar.
"Ayo makan Al, Tante sudah masak untuk makan siang kita hari ini"
"Iya Tan, makasih ya sudah jagain Tami selama Al di luar kota"
"Iya Al, tidak masalah. Lagian Tami juga keponakan Tante"
Mereka semua memulai makan siang dengan tenang. Namun Alvaro merasa ada yang berbeda dari istrinya, dia lebih terlihat menjadi pendiam. Bahkan makanan di depannya hanya di aduk-aduk saja tanpa dia makan.
__ADS_1
"Sayang, dimakan dong makanannya"
Tami mengerajap, dia menatap suaminya dan tersenyum. "I-iya Sayang, ini juga mau makan"
Tami memakan makanannya meski tidak merasa berselera makan sedikit pun. Selera makannya hilang begitu saja.
Selesai makan siang, Tami membantu Tante untuk membereskan bekas makan mereka. Meski Tante melarangnya, tapi Tami tetap kekeuh untuk membantunya.
"Tami ke kamar dulu ya Tan, mau lihat Mas Alvaro"
"Iya Nak"
Tami berlalu ke kamarnya, membuka pintu kamar dan masuk ke dalamnya. Melihat suaminya terlelap di atas tempat tdiur. Tami berjalan menghampirinya, duduk di samping tempat tidur. Menatap wajah tenang Alvaro yang sedang terlelap. Tami mengelus kepala suaminya dengan lembut.
"Kasihan, dia pasti sangat lelah"
Tami ikut naik ke atas tempat tidur dan berbaring di samping Alvaro. Memeluk suaminya dengan nyaman sebelum akhirnya ikut terlelap.
Hingga entah pukul berapa mereka terbangun dari tidurnya. Alvaro yang bangun lebih dulu, tersenyum saat mendapati kepala istrinya yang berada di atas dadanya. Memeluknya dengan erat.
Alvaro mengelus kepala Tami, merapikan beberapa anak rambut yang menutupi wajah cantik istrinya. "Sayang, aku mencintaimu"
"Jam berapa sekarang" Melirik jam dinding yang berada di kamarnya. "...Sudah sore ya, sayang aku mau mandi dulu"
Alvaro menahan tangan Tami yang siap turun dari atas tempat tidur. Tami menoleh dan menatap tangan Alvaro yang memegang pergelangan tangannya.
"Ada apa?"
"Ayo mandi bersama"
Tami memutar bola mata malas, selalu saja suaminya menginginkan itu. Seolah tidak bosan-bosan dia terus mengajak Tami untuk mandi bersama.
"Hanya mandi ya, tidak melakukan apapun! Aku lelah Sayang, kondisi tubuhku sedang tidak fit"
Akvaro tersenyum, dia beringsut mendekati istrinya dan memeluknya dari belakang. "Iya Sayang, hanya mandi saja"
Dan sepasang suami istri ini benar-benar mandi bersama. Berendam di dalam bak mandi dengan Alvaro yang berada di belakang Tami.
Tami menyandarkan kepalanya di dada suaminya. "Sayang, ada yang ingin aku sampaikan sama kamu. Tapi kamu janji tidak akan marah dan panik berlebihan tentang apa yang akan aku sampaikan nanti"
__ADS_1
Alvaro sedikit mengerutkan keningnya, merasa jika pembahasan yang akan Tami bahas adalah hal yang cukup serius yang belum dia ketahui.
"Memangnya apa yang ingin kau sampaikan padaku?"
Tami meraih tangan Alvaro dan meletakannya diatas perut Tami yang terendam di dalam air. Alvaro merasakan gerakan dari dalam sana, membuatnya tersenyum.
"Kamu merasakannya? Mereka bergerak sangat aktif di dalam perutku, jadi jangan hancurkan harapan anak-anak kita yang ingin hidup dan melihat dunia ini"
Alvaro benar-benar tidak mengerti apa yang dimaksud istrinya. Tapi perasaannya mulai tidak enak. "Sayang sebenarnya ada apa? Aku merasa ada yang tidak beres dengan sikapmu seharian ini"
Tami memegang tangan Alvaro yang berada di atas perutnya. Menghela nafas pelan, sebelum dia mengungkapkan apa yang ingin dia katakan pada suaminya.
"Sayang, anak-anak kita harus lahir lebih cepat"
"Hah?! Maksudnya? Sayang, tolong jelaskan dengan benar"
"Aku mengalami preeklamsia, jadi solusi terbaiknya adalah melahirkan mereka dengan cepat. Intinya mereka harus lahir sekarang, sebelum waktunya"
"Sayang, kenapa kau baru memberi tahuku"
"Aku juga baru tahu kemarin saat pemeriksaan bersama Tante. Jadi, aku mohon sama kamu jika sesuatu terjadi pada aku. Tolong selamatkan saja anak-anak kita"
"Gila! Kamu gila! Mana mungkin aku bisa memlih diantara kalian. Kita ke dokter lagi sekarang. Aku harus tahu jelas bagaimana keadaanmu" Alvaro keluar dari dalam bak mandi dan berjalan menuju shower.
Tami segera menyusul suaminya. "Sayang, aku mohon. Janji dulu padaku, apapun yang terjadi kamu harus menyelamatkan anak-anak kita"
"Tidak Tami! Itu terlalu mustahil bagiku"
Tami memeluk suaminya, dia menangis di punggung suaminya. Di bawah guyuran air shower yang membersihkan beberapa sisa busa sabun di tubuh mereka. Alvarp mengacak rambutnya dengan frustasi. Mana mungkin dia memilih diantara istri dan anak-anaknya. Dia tidak bisa melakukan itu.
"Sudahlah, sekarang kamu bersihkan tubuh kamu dan kita bersiap ke rumah sakit"
Tami menurut saja, dia tidak akan bisa membantah suaminya dalam keadaan seperti ini. Selesai mandi, Tami segera bersiap.
"Kita berangkat sekarang, aku harus mendengar jelas keadaan kamu dari Dokter"
Alvaro menggandeng istrinya keluar kamar dam turunĀ ke lantai bawah. Mereka benar-benar pergi ke rumah sakit untuk menemui dokter kandungan Tami. Meski sebenarnya Alvaro sudah sangat tidak yakin dengan jawaban Dokter nantinya. Takut akan membuatnya semakin cemas saja dengan keadaan istrinya ini.
Bersambung
__ADS_1