My Sweet Girl

My Sweet Girl
Aku Tidak Akan Merebut Suamimu


__ADS_3

Alvaro bangun pagi ini, melihat kondisi Tami yang masih seperti biasanya. Namun, lagi-lagi pagi ini Alvaro melihat bekas air mata di sudut mata Tami. Dia mengusapnya dengan pelan.


"Kau menangis lagi? Sayang, ayo bangun dan ceritakan kesedihanmu padaku"


Alvaro mengecup kening istrinya sebelum dia turun dari atas tempat tidur. Berjalan gontai menuju ruang ganti. Akhir pekan ini dia tidak akan pergi bekerja, Alvaro hanya ingin menemani istri di rumah.


Saat dia keluar dari ruang ganti, Alvaro melihat Clarissa yang sedang mengecek keadaan Tami. Dia berjalan menghampirinya.


"Cla, bagaimana keadaan istriku?"


"Semuanya normal Al, detak jantung dan tekanan darahnya sudah benar-benar normal kembali. Hanya saja, dia masih belum sadarkan diri dari koma. Sepertinya masih butuh beberapa waktu lagi, bersabarlah Al. Aku yakin Tami akan sadar"


Alvaro mengangguk, dia duduk di pinggir tempat tidur. Meraih tangan istrinya, lalu menggenggamnya. Membawa tangan itu ke pipinya. Tangan yang selalu mengurus segala hal kebutuhan Alvaro. Tapi saat ini, tangan itu hanya terkulai lemas, tidak bisa melakukan apapun.


"Sayang, cepat bangun ya. Aku sangat merindukanmu"


Clarissa menepuk bahu Alvaro, mencoba meberinya kekuatan atas segala hal yang di lewati pria itu. "Kamu hanya perlu yakin jika istrimu akan sadar dan sehat kembali"


"Iya Cla, terima kasih untuk semuanya"


"Iya, tidak masalah"


Alvaro keluar dari kamar bersama Clarissa, dia melihat kedua anaknya yang sedang di jaga oleh Ibu mertuanya. Alvaro segera menghampirinya.


"Bu, sudah datang. Bagaimana keadaan Ayah?" Alvaro menyalami tangan Ibu mertuanya.


"Baik Al, Ayah baik meski sekarang dia sering melamun dan menanyakan tentang Tami. Mungkin nanti siang dia akan datang kesini. Katanya sudah sangat merindukan putri kesayangannya itu"


"Baguslah, semoga saja Tami akan mendengar suara Ayah dan segera bangun. Oh ya Bu, dimana Tante?"


Ibu menghela nafas pelan, ada suatu kejadian yang tidak di ketahui Alvaro barusan. "Tante kamu kembali ke rumahnya. Maafkan Ibu ya Nak"


Alvaro mengerutkan keningnya, merasa bingung dengan ucapan Ibu mertuanya itu. "Kenapa Ibu minta maaf? Ibu tidak salah apa-apa"

__ADS_1


Ibu menghembuskan nafas pelan, dia memangku Alqi yang merangkak ke atas pangkuannya. "Tadi Tante kamu bilang jika Alma dan Alqi membutuhkan sosok seorang Ibu. Ya, Ibu mengerti tentang itu. Tapi, untuk mengizinkan kamu menikah lagi. Jika kamu memang sudah merasa lelah menunggu Tami sadar, tidak papa jika kamu ingin menikah lagi. Tapi, Ibu minta kamu serahkan kembali Tami pada Ibu dan Ayah. Biarkan kami yang mengurusnya"


Alvaro menggeleng cepat, dia tidak menyangka jika Tante benar-benar menginginkan Alvaro untuk menikah lagi. "Tidak akan Bu, sampai kapan pun aku tidak akan menikah lagi. Tami adalah istri satu-satunya untuk aku"


Ibu tersenyum mendengar itu, jelas dia melihat ketulusan dan keyakinan di setiap ucapan Alvaro. "Terima kasih Nak, terima kasih karena sudah menjadikan Tami istri kamu satu-satunya"


"Iya Bu, dia seperti ini juga karena melahirkan anak-anak ku. Jadi, tidak sepantasnya aku melakukan itu padanya. Menikah lagi disaat istriku sedang koma. Rasanya aku terlalu tidak berperasaan"


Alvaro meminta izin untuk pergi sebentar siang ini. Dia harus menyelesaikan masalah yang ada. Menghentikan mobilnya di depan rumah Tante. Alvaro segera turun dan berjalan masuk ke dalam rumah itu. Menemui Tante yang sedang duduk di ruang tengah rumah ini.


"Loh Al, ada apa datang kesini?"


Alvaro duduk di sofa tunggal yang ada disana. "Tan, aku minta untuk Tante tidak lagi membahas tentang aku yang harus menikah lagi. Karena sampai kapan pun aku tidak akan melakukan itu"


Tante menghela nafas, dia hanya ingin keponakannya tidak terus terpuruk dengan keadaan istrinya yang sekarang. "Al, Tante mengerti keadaan kamu. Tapi, Tante hanya ingin kamu bahagia. Melihat tubuh kurus kamu dan kamu yang tidak ter-urus sejak istrimu koma. Tante merasa jika kamu harus mempunyai pengganti Tami untuk mengurus kamu dan anak-anak kamu":


"Tidak perlu Tan, aku sudah bahagia ketika melihat anakku tumbuh dengan baik. Lagian, aku akan selalu sabar menunggu Tami sadar. Dan asal Tante tahu, saat ini Tami sudah mulai memberikan perkembangan yang baik. Dia sudah mulai memberikan respon"


Mendengar itu Tante langsung menoleh dan menatap keponakannya. "Benarkah? Syukurlah kalau begitu"


"Iya Tan, Tami sudah pernah menggerakkan jari tangannya saat Ayra mengajaknya bicara. Dan kata Clarissa itu adalah sebuah respon yang bagus"


"Sykurlah, dengan begitu maka kesempatan sembuh untuk Tami akan benar-benar ada"


"Iya Tan, jadi cukup menyuruh aku untuk menikah lagi"


"Iya Al, Tante tidak akan melakukan hal itu lagi"


...💫💫💫💫💫💫💫💫...


Alvaro kembali ke rumahnya bersama Tante. Dia langsung menuju kamarnya untuk melihat kondisi istrinya. Menghela nafas panjang ketika istrinya masih saja terdiam dalam tidur panjangnya. Alvaro naik ke atas tempat tidur, merebahkan tubuhnya sambil memeluk istrinya dengan lembut.


"Ayo sadar Sayang, atau mungkin aku akan menikah lagi baru kamu akan sadar. Memangnya kamu rela melihat aku bersama wanita lain?"

__ADS_1


Tes..


Alvaro melihat istrinya yang meneteskan air mata. Membuat dia merasa bersalah dengan ucapannya. Alvaro mengusap air mata itu. "Tidak kok, aku tidak akan pernah berpaling dari kamu. Aku sangat mencintaimu Sayang"


Alvaro terlelap dengan memeluk istrinya. Satu tangannya menggenggam tangan Tami. Hingga dia merasakan adanya sebuah gerakan dari tangan yang dia genggam.


Alvaro mengerjap dan melihat ke arah tangan istrinya yang bergerak-gerak. Lalu dia menatap wajah istrinya, matanya masih terpejam. Namun dengan melihat pergerakan ini, sungguh membuat Alvaro bahagia. Dia yakin istrinya akan sembuh.


"Terus menunjukan pergerakan ini Sayang, aku senang melihatnya. Dan segeralah bangun"


Pintu kamar yang terbuka membuat Alvaro menoleh kepada Clarissa yang masuk ke dalam ke kamarnya.


"Hai Al, baru bangun tidur ya"


"Iya Cla, aku baru saja merasakan pergerakan dari istriku"


"Wah. Itu perkembangan yang bagus" Clarissa berjalan mendekat pada Alvaro. Dia mulai memeriksa keadaan Tami.


"Semuanya baik Al, kita hanya perlu bersabar menunggu Tami sadar"


Alvaro mengangguk, dia mengelus kepala istrinya. Waktu satu tahun membuat pipi chubby Tami yang selalu membuat Alvaro gemas. Kini dia melihat pipi istrinya itu yang sangat tirus. Alvaro mengecup pipi istrinya dengan lembut.


"Sayang, pipi ini sangat tirus. Aku tidak suka, ayo bangun dan makan yang banyak untuk mengembalikan pipi chubby menggemaskanmu"


Clarissa menatap Alvaro yang begitu mencintai istrinya. Tiba-tiba saja dia ingat dengan apa yang di bicarakan Tante padanya beberapa hari yang lalu.


"Tante rasa kamu cocok untuk menikah dengan Alvaro dan menjadi Ibu untuk Alma dan Alqi"


Clarissa diam mematung mendengarnya. Meski dia merasa kagum dengan cinta dan kesetiaan Alvaro. Tapi untuk menikahinya, rasanya tidak mungkin. "Tidak mungkin Tante, Alvaro sangat mencintai Tami. Aku tidak mau merusak pernikahan mereka"


Dan sekarang Clarissa melihat sendiri bagaimana besarnya cinta Alvaro untuk istrinya.


Aku tidak akan merebut suamimu, asalkan kamu cepat bangun Tami.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2