My Sweet Girl

My Sweet Girl
Benar Mencintaiku?


__ADS_3

Tami menutup setengah wajahnya dengan selimut. Menatap Alvaro yang terus menahan tawa saat dia sedang menelepon saudara kembarnya untuk menjelaskan apa yang terjadi. Takutnya rumah tangga saudaranya juga akan terancam jika dia tidak segera menjelaskan.


"Iya, dia adalah istriku. Memang dia belum tahu jika kita saudara kembar. Jadi, kau jangan salah faham lagi dengan suamimu"


Setelah mengatakan itu, Alvaro segera menutup sambungan teleponnya. Lalu dia menatap ke arah istrinya dengan senyuman menggoda. "Jadi kau benar mencintaiku?"


Duh kenapa malah bahas itu si.


Tami semakin menarik selimut untuk menutupi wajahnya, namun tangan Alvaro menahan selimut itu. Membuat selimut itu tertarik dari wajahnya. Dan sekarang Alvaro melihat dengan jelas wajah malunya.


Tangan Alvaro terangkat, mengelus pelan perban di kepala istrinya dan juga beberapa goresan luka di wajahnya. "Apa ini menyakitkan? Maafkan aku karena tidak bisa menjagamu dengan baik. Dan terima kasih karena sudah mencintaiku"


Tami hanya diam, dia menatap ketulusan yang ada di balik mata coklat milik Alvaro. Untuk saat ini, sepertinya memang Tami sudah benar-benar jatuh cinta pada Alvaro. Ketika dia mengetahui tentang Alvaro yang memiliki saudara kembar, membuat Tami menghilangkan segala prasangka buruk dalam hatinya. Termasuk tentang foto yang di kirimkan seseorang malam itu.


Mungkin foto itu juga saudara kembarnya, bukan suamiku. Melihat bagaimana dia memperlakukan aku begitu tulus, rasanya tidak mungkin jika dia melakukan itu di belakangku.


"Sekarang kamu gak aku izinkan membawa motor lagi"


Tami langsung tersadar dari segala pemikirannya, dia menatap suaminya yang mengatakan itu dengan wajah datar. "Oh ya, Sayang dimana motorku dan ponselku juga"


"Motormu rusak cukup parah, dan aku tidak akan membenarkannya. Biarkan saja rusak selamanya, agar kamu tidak pergi sendiri lagi seperti ini"


Tami menghembuskan nafas berat, melihat tatapan dingin Alvaro membuatnya tidak bisa membantah. "Emm. Tapi itu 'kan..."


"Ini ponselmu, lain kali angkat kalau aku menghubungimu. Jadinya, kau seperti ini 'kan"


"Sayang, masa motor ku mau kamu biarkan rusak si. Kan itu lumayan untuk pergi jarak dekat saja"


"No, mulai hari ini tidak ada lagi motor-motoran. Kemana pun kamu mau pergi, aku yang akan antar. Jika aku tidak bisa, aku akan mempekerjakan supir untukmu"


Sepertinya Tami benar-benar tidak bisa lagi membantah kali ini. Alvaro sudah benar-benar membuat ultimatum untuk tidak Tami bantah sedikit pun.


"Sekarang makan dan minum obatnya, tadi perawat sudah mengantar makanan untukmu"

__ADS_1


Alvaro mengambil makanan yang di sediakan rumah sakit dan mulai menyuapi istrinya dengan lembut. "Buka mulutmu"


Tami hanya menurut, dia menerima suapan Alvaro. Mengunyah makanan dengan pelan. "Sayang sudah ahh, gak enak. Hambar banget makanannya"


"Habisakan dulu yang ini, nanti malam biar aku beliΒ  makanan di luar. Kamu harus minum obat sekarang, jadi harus makan dulu"


Dengan lembut Alvaro membujuk istrinya untuk menghabiskan makanannya. Dengan perlahan Alvaro terus menyuapi istrinya itu. Hingga makanan sudah hampir habis.


"Sudah ahh, aku benar-benar sudah kenyang"


"Yaudah, sekarang minum obatnya dulu"


Alvaro membantu Tami untuk meminum obatnya. Setelah itu dia berdiri dan duduk di pinggir tempat tidur. Menggenggam tangan Tami dan mengecupnya dengan lembut. "Jaga dirimu baik-baik, jangan sampai seperti ini lagi. Aku benar-benar khawatir saat mengetahui kau kecelakaan"


Tami menatap suaminya dengan mata yang berkaca-kaca. Tidak pernah menyangka dia akan begitu di pedulikan oleh suaminya. Terlepas bagaimana awal pernikahan ini terjadi. "Terima kasih untuk semuanya. Jika bukan karena kehadiranmu dan bantuanmu waktu itu. Mungkin aku tetap akan menyusahkan kedua orang tuaku"


Mendengar nama orang tua, Alvaro langsung teringat jika dia belum memberi tahu kedua orang tua Tami tentang keadaannya ini. "Sayang, aku belum mengabari Ayah dan Ibu tentang keadaanmu sekarang"


Alvaro menghentikan gerakan jarinya yang siap menelepon nomor ponsel Ayah. Dia menatap Tami. "Yakin? Apa tidak papa jika Ayah dan Ibu tidak di beri tahu sekarang?"


"Tidak papa, aku tidak mau membuat mereka khawatir. Lagian kasihan Ayah kalau sampai tahu kecelakaan, mungkin dia akan berhenti berjualan. Biarkan saja mereka tahu nanti saja setelah aku pulang ke rumah"


Alvaro mengangguk, dia mengelus punggung tangan Tami yang tidak terpasang infus. Entah bagaimana lagi dia harus mengungkapkan perasaannya saat ini. Setelah dia tahu jika Tami juga mencintainya. Ada rasa senang yang membuncah dalam hatinya.


"Jadi benar kau mencintaiku?"


"Iya, aku mencintaimu" Tami sedikit kesal menjawabnya, dia memalingkan wajahnya karena malu saat mengatakan itu. Tapi hatinya merasa lebih lega ketika Tami telah mengungkapkan yang memang sudah seharusnya dia ucapkan sejak lama.


Alvaro tersenyum, wajah memerah istrinya membuat dia semakin senang menggodanya. "Terima kasih karena sudah mencintaiku"


Tami tidak menjawab lagi, dia memejamkan matanya karena rasa kantuk yang tiba-tiba menyerang. Mungkin efek dari obat yang dia minum. Alvaro tersenyum melihat istrinya yang kembali terlelap. Dia berdiri dan membenarkan selimut yang menutupi tubuh istrinya. Lalu memberikan kecupan di keningnya.


"Selamat istirahat Sayang"

__ADS_1


Alvaro beralih duduk di atas sofa, mengusap wajahnya dengan kasar. Alvaro benar-benar masih merasakan terkejut dan cemas berlebihan ketika dia mengetahui jika istrinya kecelakaan. Alvaro sudah berpikir terlalu jauh, takut jika keadaan istrinya akan parah atau bahkan akan meninggalkannya. Tapi, sekarang dia sudah bisa lebih tenang karena ternyata Tami masih selamat dan baik-baik saja.


Terlalu lelah, Alvaro membaringkan tubuhnya di atas sofa. Memejamkan matanya hingga akhirnya dia ikut terlelap disana.


...πŸ’«πŸ’«πŸ’«πŸ’«πŸ’«πŸ’«πŸ’«πŸ’«...


Suara pintu terbuka membuat Alvaro terbangun dari tidurnya. Dia menatap Dokter dan perawat yang masuk ke dalam ruang rawat istrinya. Dia langsung berdiri dan menghampiri Dokter yang sedang melakukan pemeriksaan pada Tami. Gadis itu masih terlelap dan terlihat tenang saat Dokter memeriksanya.


"Bagaimana Dok?"


"Semuanya baik, tinggal menunggu luka di kepalanya kering. Maka sudah boleh pulang. Tapi tolong di jaga untuk tetap banyak beristirahat. Jangan dulu membuatnya kelelahan dan banyak pikiran jika sudah pulang nanti"


Alvaro mengangguk mendengar penjelasan Dokter. Dia mengelus pelan kepala Tami dan menatap wajah teduhnya dengan lekat. Wajah wanita yang dia cintai, yang berhasil membuat hatinya berdebar hanya di pertemuan pertama mereka.


"Kalau begitu saya permisi dulu, Tuan"


"Baik Dok"


Setelah dokter pergi, Alvaro duduk di pinggir ranjang pasien. Dia menatap wajah Tami dengan lekat. Entahlah seolah dia tidak mau mengalihkan pandangan dari wajah istrinya itu.


Sampai Tami mengerjapkan kedua matanya dan mulai membuka matanya. Dia melihat suaminya yang menatapnya dengan begitu lekat. Membuatnya bingung dan sedikit salah tingkah.


"Kamu kenapa menatapku seperti itu?"


Alvaro tersenyum, tangannya terangkat untuk mengelus pipi Tami. "Karena kau cantik"


Deg..


Wajahnya mulai memanas, Tami memalingkan wajahnya yang sudah pasti sudah sangat memerah. "Apaan si kamu ini"


Alvaro hanya tekekeh mendengarnya.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2