
Tami terdiam ketika melihat noda merah di pakaian dalamnya. Pagi ini dia mengalami datang bulan. Tami menghela nafas lega, setidaknya ini pertanda baik baginya.
"Sayang, ayo sarapan aku sudah siapkan sarapan" teriakan suaminya di balik pintu kamar mandi.
"Iya Sayang, sebentar aku tiba-tiba datang bulan"
Bahu Alvaro seketika melemas mendengarnya. Jika istrinya datang bulan, berarti harapannya mempunyai anak belum terwujud. Sepertinya aku harus lebih berusaha keras untuk itu. Gumamnya.
"Sayang, aku tunggu di bawah ya"
"Iya Sayang"
Beberapa saat kemudian, Tami keluar dari kamar mandi. Segera memakai pakaiannya dan menyusul suaminya ke lantai bawah. Tersenyum ketika melihat menu sarapan yang di buat suaminya pagi ini. Tami menarik kursi dan duduk disana.
"Makanlah, kamu sedang datang bulan jadi harus makan banyak" Alvaro mengambil satu potong sandwich yang di taruh ke atas piring Tami, lalu dia mengambilkan kembali satu telur mata sapi.
"Haha. Aku hanya datang bulan, bukan sakit Sayang. Aneh-aneh saja kamu ini"
Alvaro hanya tersenyum, dia selalu ingin memberikan yang terbaik untuk Tami. Dia ingin istrinya merasa nyaman bersamanya dan tidak akan pernah berniat untuk pergi dari sisinya.
"Hari ini gak usah kuliah saja"
Tami langsung mencebikan bibirnya, selalu saja seperti ini ketika Tami datang bulan. "Aku datang bulan Sayang, bukan demam. Kenapa sampai tidak kuliah"
"Bukannya setiap datang bulan selalu membuat perutmu sakit? Kalau nanti kau tiba-tiba sakit di kampus dan pingsan bagaimana?"
Tami memutar bola mata malas, suaminya memang terlalu panikan untuk hal yang menyangkut kesehatan Tami. Apalagi sejak Tami mengalami kecelakaan dua minggu lalu.
"Sayang, sakit perut ketika datang bulan memang normal bagi semua perempuan. Tidak perlu kamu terlalu cemas seperti itu. Aku tidak akan sampai pingsan kalau hanya belajar di kampus"
"Janji ya gak akan melakukan hal yang membuat kamu kecapean"
"Iya Sayang, kamu tenang saja"
__ADS_1
Dan akhirnya Tami bisa berangkat kuliah setelah melewati banyak drama karena datang bulannya.
...💫💫💫💫💫💫💫💫...
Tami masuk ke dalam Slick Grind Resto, hari ini dia memutuskan untuk datang menemui suaminya tanpa sepengetahuan Alvaro. Tami pulang kuliah lebih cepat hingga Alvaro tidak sempat menjemputnya. Jadi, dia memilih pulang ke Slick Grind Resto untuk menemui suaminya.
"Ya ampun Tami, kemana saja kamu?"
Beberapa pekerja yang melihatnya datang langsung menghampiri Tami dan bertanya tentang keadaannya dan banyak pertanyaan lainnya.
"Kamu beneran sudah menikah? Dengan siapa? Kenapa tidak undang kita-kita ini?"
Tami tersenyum kaku mendengar pertanyaan dari teman kerjanya dulu. "Iya Kak, Tami sudah menikah. Ini mau menemui suami Tami":
Semuanya langsung saling pandang, lalu mereka terkejut sendiri saat semua gosip yang tersebar selama ini memang benar-benar terjadi.
"Kamu beneran menikah dengan Tuan Alvaro? Ya ampun Tami, kamu hebat banget bisa meluluhkan hati Tuan kita"
"Selamat ya Tami, semoga pernikahan kalian langgeng. Tapi, sepertinya kita harus mengganti panggilan kita ke kamu ya"
"Baiklah, baiklah"
Tami berpamitan pada mereka dan segera pergi untuk menemui suaminya. Dia melihat Kemal yang berdiri di dekat pintu ruangan karyawan. "Hai Kak, apa kabar?"
"Emm. Ba-baik Mi"
Tami mengerutkan keningnya, merasa bingung dengan sikap Kemal kali ini. Kenapa pria itu terlihat aneh baginya. Namun Tami hanya mengangkat bahu acuh, dia melanjutkan langkah kakinya menuju lift.
Tami telah sampai di depan ruangan Alvaro, dia tersenyum sendiri untuk memberikan kejutan pada suaminya. Ketika dia memegang handel pintu dan memutarnya terdengar suara seseorang di dalam sana. Tami tidak sempat membuka lebar pintu ruangan. Tami dia bisa melihat punggung seorang wanita yang berdiri di depan meja kerja suaminya.
"Jadi sampai saat ini istrimu tidak tahu tentang malam itu? Haha.. Kira-kira bagaimana reaksi istrimu ya, jika dia tahu kalau suaminya pernah tidur bersama wanita lain. Ketika dia tahu jika dirinya bukan yang pertama bagi suam...."
"Diam!"
__ADS_1
Alvaro menggebrak meja kerja dengan sangat emosi. Dia tidak bisa bersabar lagi menghadapi Evelin yang seperti itu. Yang terus menekan dirinya tentang masa lalu yang pernah terjadi diantara mereka.
Tangan yang memegang handel pintu itu bergetar kuat. Satu hal yang baru saja dia ketahui tentang suaminya, benar-benar membuatnya tidak percaya. Membuat pikirannya mendadak kosong dan tidak bisa berfikir apapun lagi. Tami membuka lebar pintu ruangan suaminya, menatap kedua orang yang terkejut dengan kehadirannya ini.
"Sa-sayang.." Alvaro mematung di tempatnya ketika melihat istrinya yang berada di ambang pintu.
Tami berjalan ke arah mereka dia menatap Alvaro dan Evelin secara bergantian. Ada rasa sesak di dadanya mengetahui hal ini. Tapi sepertinya Tami harus mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.
Tami menatap Alvaro dengan lekat. "Kapan kejadian itu terjadi?"
"Sa-sayang, aku..."
"Jawab pertanyaanku! Kapan kejadian itu terjadi?"
"Beberapa tahun lalu, saat aku menyelesaikan kuliah di luar negara"
Tami tersenyum mendengarnya, kini dia tahu harus mengambil keputusan seperti apa saat menghadapi wanita seperti Evelin. "Apa mungkin Kakak juga yang mengirim aku foto kalian berdua? Pantas saja di foto itu, gaya rambut suamiku terlihat berbeda"
Mendengar itu membuat Alvaro langsung menatap tajam ke arah Evelin. "Kau! Jadi kau sudah berusaha membuat istriku salah faham dengan semua ini. Kau ingin pernikahan 'ku dengan istriku berakhir. Sialan"
Tami mengambil ponselnya lalu menunjukan foto yang di kirim nomor tidak di kenal di ponselnya. "Malam saat kamu pergi dengan alasan nongkrong bersama teman-temanmu, ada nomor ponsel tidak di kenal yang mengirim aku foto ini"
Alvaro menggeleng tidak percaya menatap Evelin yang mulai ketakutan saat melihat tatapan tajam dari Alvaro. "Kau benar-benar wanita gila, beruntungnya aku tidak jadi menikah denganmu. Sekarang istriku sudah tahu semuanya, kau mau apa lagi? Ingin mengancam aku dengan cara apa lagi? Sekarang silahkan pergi dari kehidupanku dan jangan pernah menunjukan wajahmu lagi di hadapanku"
Evelin menghentakan kakinya dan pergi darisana di saat sudah merasa tidak mempunyai kesempatan apapun lagi.
Alvaro menatap Tami yang langsung memalingkan wajahnya. "Sayang, aku minta maaf karena belum memberi tahumu tentang ini"
Tami tetap cemberut, dia berjalan ke arah sofa dan duduk disana dengan bersidekap dada. "Kamu benar-benar melakukannya bersama wanita tadi? Ck. Kamu yang pertama untukku, tapi aku bukan yang pertama bagimu"
Alvaro menggaruk tengkuknya yanh tidak gatal, dia berjalan mendekati istrinya. Berlutut di depan istrinya dan menyimpan kedua tangannya di atas paha Tami. "Sayang, aku benar-benar minta maaf. Lagian waktu itu, aku yang dalam keadaan mabuk. Jadi, aku tidak sadar saat melakukannya dengan dia. Tolong maafkan aku"
Alvaro meletakan kepalanya di pangkuan istrinya. Tami yang melihat itu tersenyum tipis. Sebenarnya dia tidak semarah itu, karena Tami tahu kejadian itu jauh sebelum Alvaro bersamanya. Jadi anggap saja kejadian itu adalah bagian dari masa lalu suaminya yang harus dia terima dengan lapang. Namun, karena hormon tubuhnya yang sedang datang bulan membuat Tami kesal pada suaminya.
__ADS_1
Bersambung