
Akhirnya setelah beberapa hari di rawat, Tami sudah di perbolehkan pulang. Saat masuk ke dalam rumah, dia benar-benar merasakan kembali udara segar. Tami merasa tidak betah berada terus menerus di rumah sakit. Suasana rumah sakit yang terlalu membosankan baginya.
"Istirahat dulu, kamu masih harus banyak istirahat"
Tami menoleh ke arah suaminya yang sedang membawa tas berisi barang-barang miliknya. "Aku udah gak papa Sayang, jadi tidak harus selalu berada di kamar 'kan"
Alvaro menggeleng tegas, nyatanya ucapan Dokter yang lebih Alvaro percaya saat ini. "Pokoknya sampai hari kamu chek up, kamu harus tetap banyak istirahat. Kepala kamu saja masih terpasang perban begitu"
Bahu Tami melemas mendengarnya, padahal dia pulang ke rumah agar bisa menjalani aktivitas seperti biasanya. "Yaudah iya, tapi kalau aku sudah sembuh boleh kerja lagi 'kan"
Alvaro menyimpan tas yang di bawanya di atas meja dekat sofa. Lalu dia memeluk istrinya dari belakang, mengecup bahunya dengan lembut. "Sepertinya aku tidak akan membiarkan kamu bekerja lagi mulai sekarang"
Tami langsung berbalik badan dan menatap Alvaro dengan wajah masam. "Sayang, jangan mulai deh. Kan udah janji biarin aku tetap bekerja meski sudah menjadi istrimu"
"Ya itu dulu, tapi sekarang aku tidak mengizinkan kamu bekerja lagi"
Tami mulai panik, kalau dia tidak bekerja darimana dia bisa mengumpulkan uang untuk membayar hutangnya pada Alvaro. Tami pegang lengan Alvaro dan menatapnya dengan wajah memelas. "Sayang, aku janji deh gak bakal kayak gini lagi. Aku gak bakalan buat kamu khawatir lagi, tapi tolong tetap izinkan aku kerja ya"
Alvaro tetap menggeleng tegas, karena sampai kapan pun dia tidak akan pernah membiarkan Tami bekerja lagi. Apalagi setelah Alvaro tahu jika istrinya juga mencintainya.
"Keputusan aku kali ini tidak akan bisa di udah lagi. Kau, resmi aku pecat mulai hari ini!"
Mendengar itu Tami hanya menunduk, dia sudah tidak bisa mencari pekerjaan lagi kalau seperti ini. Mencari pekerjaan paruh waktu tidak mudah. Bagaimana aku bisa melunasi pinjaman 'ku padanya kalau seperti ini. Gumamnya.
"Sudah, ayo ke kamar sekarang"
Alvaro membawa Tami ke kamar mereka, menyuruh Tami untuk berbaring di atas tempat tidur. "Tidurlah, aku ada pekerjaan sebentar"
"Iya"
Setelah suaminya keluar dari kamar, Tami mulai memikirkan bagaimana masa depannya jika dia terus bergantung pada Alvaro. Sementara Tami sekarang tidak mempunyai pekerjaan lagi. Tami hanya ingin segera melunasi pinjaman uang pada suaminya agar dia bisa terbebas dari beban hidupnya selama ini. Karena meski hatinya telah benar-benar jatuh cinta pada Alvaro, tapi Tami masih harus menjaga hatinya agar tidak terlalu terluka ketika kenyataannya bahwa Alvaro tidak memiliki perasaan yang sama untuknya.
__ADS_1
Sampai saat ini, bahkan dia tidak membalas ungkapan cintaku. Mungkin memang dia tidak memiliki perasaan apapun padaku, mengingat pernikahan ini yang terjadi karena sebuah tragedi.
Merasa bosan terus berada di atas tempat tidur, Tami memilih berjalan menuju jendela kamar sekaligus pintu menuju balkon. Dia geser pintu yang terbuka dari kaca transparan itu, lalu berjalan ke arah balkon kamar. Berdiri di dekat pagar pembatas dengan kedua tangan berpegangan pada pagar.
Tami menghirup udara yang masuk ke rongga hidungnya. Sangat segar dia rasakan ketika bisa menghirup lagi udara luar. Satu minggu berada di rumah sakit, membuatnya tidak bisa bebas menghirup udara segar.
"Bagaimana kabar Ayah dan Ibu ya"
Tami mengambil ponsel di dalam saku baju yang di pakainya. Menekan nomor ponsel Ayah untuk menghubunginya.
"Hallo Yah, apa kabar?"
"Ya ampun Mi, kenapa baru menghubungi Ayah. Kabar Ayah baik, bagaimana denganmu dan suamimu?"
Tami tersenyum mendengarnya, dia senang mendengar kembali suara Ayah. "Baik Yah, Ibu bagaimana?"
"Ibu kamu sakit Mi, sudah hampir seminggu ini. Tepatnya sejak kepergiaan Tian, Ibumu tidak benar-benar sehat"
"Belum Mi, tapi sudah Ayah beri obat dari apotek. Ayah juga harus tetap jualan untuk kebutuhan kita"
Hati Tami menjerit mendengarnya, dia tahu sesulit apa perekonomian keluarganya. Dan sekarang di saat Tami sudah mengorbankan segalanya hanya untuk meringankan beban keluarganya. Nyatanya tetap tidak mampu.
"Oh ya, Mi tolong sampaikan ucapan terima kasih Ayah dan Ibu pada suami kamu. Jika bukan karena suami kamu yang rutin mengirim kami uang, mungkin kehidupan kami tidak akan sebaik ini. Suami kami juga sudah membelikan Ayah kios untuk berjualan gorengan. Jadi tidak perlu kepanasan lagi"
Deg..
Suaminya? Itu artinya Alvaro telah banyak membantu keluarganya sampai saat ini. Bahkan Tami pun tidak tahu tentang ini. Alvaro benar-benar melakukannya tanpa sepengetahuan Tami.
"Yaudah, Ayah lagi buat adonan untuk jualan nanti siang. Kamu mainlah kesini sesekali. Ibu sering menanyakan kamu"
"I-iya Yah, nanti kalau ada waktu senggang Tami akan datang berkunjung ke sana"
__ADS_1
Tami memutuskan sambungan telepon, dia menatap layar ponselnya yang mati. Mengingat semua ucapan Ayah barusan, membuat Tami sedikit tidak percaya. Suaminya rela melakukan itu untuk keluarganya. Dan Tami harus mengatakan apa lagi selain rasa terima kasih yang sangat pada Alvaro.
Kenapa hatinya baik sekali?
"Sayang, kau dimana?"
Suara teriakan dari Alvaro yang sepertinya baru masuk ke dalam kamar, membuat Tami tersenyum. Dia kembali masuk ke dalam kamar untuk menemui suaminya dan mengucapkan banyak terima kasih padanya atas semua yang telah dia lakukan pada keluarganya.
"Aku disini Sayang" Tami menutup pintu balkon dan berjalan mendekati Alvaro yang berdiri di samping tempat tidur. Tanpa berkata-kata, Tami langsung memeluk tubuh suaminya dengan erat. "...Terima kasih Sayang"
Alvaro mengerutkan keningnya bingung, istrinya tiba-tiba memeluknya dan mengucapkan terima kasih. Memangnya apa yang telah Alvaro lakukan?
"Terima kasih karena kamu sudah banyak membantu keluargaku. Ayah dan Ibu juga sangat berterima kasih atas apa yang kamu berikan pada mereka"
Alvaro baru mengerti apa maksud istrinya ini. Dia tersenyum dan mencium puncak kepala Istrinya. "Bukan apa-apa, hanya sekedar hal kecil saja. Syukur kalau Ayah dan Ibu senang"
Tami mendongak, dia mengecup dagu suaminya sebagai ucapan terima kasih padanya. "Jelas Ayah dan Ibu sangat senang dan bersykur. Kamu sudah membuat usaha Ayah semakin maju dan saat Ayah berjualan pun tidak akan lagi kepanasan. Terima kasih ya Sayang, untuk semuanya"
"Iya Sayang, aku hanya mencoba melakukan apa yang aku mampu dan yang aku bisa untuk Ayah dan Ibu"
Alvaro duduk di pinggir tempat tidur dengan membawa Tami untuk duduk di atas pangkuannya. Memeluknya dengan erat. "Kapan kamu menghubungi Ayah?"
"Barusan, dia bercerita tentang kebaikan kamu padanya. Terima kasih ya"
Alvaro tersenyum sambil menatap lekat wajah istrinya. "Tidak perlu terus berterima kasih. Aku melakukan yang bisa aku lakukan saja untuk Ayah dan Ibu. Oh ya, apa kamu memberi tahu mereka tentang kecelakaan kamu?"
Tami menggeleng pelan. "Tidak, Ibu sedang sakit. Jadi, aku tidak mau semakin menambah beban mereka jika aku mengatakan tentang kecelakaan itu. Lagian biar saja mereka tidak tahu, toh sekarang aku sudah baik-baik saja"
"Yaudah gak papa kalau itu keputusan kamu"
Alvaro membenamkan wajahnya di dada Tami. Menghirup aroma tubuh istrinya dengan sangat nyaman. Pelukan Tami masih yang ternyaman dalam hidupnya.
__ADS_1
Bersambung