My Sweet Girl

My Sweet Girl
Tidak Ingin Mempunyai Anak Lagi


__ADS_3

Tami berendam di dalam bak mandi, suaminya langsung pergi ke Restaurant setelah mengantarkan Tami pulang ke rumah. Dan sebentar lagi suaminya akn segera pulang. Jadi Tami harus segera mempersiapkan diri. Jelas sekali dari apa yang dibicarakan Alvaro saat mereka kembali dari mengantar Clarissa ke bandara. Sudah dapat di pastikan jika malam ini akan menjadi malam yang panjang untuk mereka.


"Kenapa aku gugup ya, padahal ini bukan pengalaman pertama bagiku"


Tami keluar dari bak mandi dan memberisihkan sisa sabun di tubhnya di bawah air shower yang mengalir. Selesai mandi, Tami memilih pakaian tidur yang cocok untuk malam ini.


"Kenapa aku malah memilih gaun tidur yang ini si. Bukannya ini malah menambah aku gugup"


Tami menatap pantulan dirinya di cermin. Gaun tidur transparan yang dia kenakan, jelas menunjukan setiap lekuk tubhnya ini.


"Sayang.."


Pintu ruang ganti yang tiba-tiba saja terbuka membuat Tami terkejut. Dia segar menutupi dadanya dengan kedua tangannya. Namun rasanya apa yang di lakukan Tami hanyalah sia-sia karena tentu saja menutupi bagian dadanya saja tidak akan berguna apapun karena suaminya pasti melihat bagian lainnya.


Alvaro tersenyum penuh arti pada istrinya, dia melangkah perlahan mendekati Istrinya. Menatap penuh gairah pada tubuh istrinya yang terlihat sangat seksi dengan gaun tidur transparan yang dipakainya.


"Ternyata kau juga merindukan sentuhanku ya"


Tami memalingkan wajahnya, dia sangat malu dengan ucapan Alvaro barusan. Padahal Tami melakukan ini hanya untuk membuat suaminya senang saja. Meski dia tidak bisa membohongi dirinya sendiri jika dia juga merindukan setiap sentuhan lembut yang diberikan oleh suaminya.


"Apaan si, aku hanya sedang mencoba baju ini saja. Ternyata masih muat, sekarang aku akan menggantinya lagi dengan piyama tidur yang lain"


Saat Tami berbalik dan membuka lemarinya untuk mencari piyama tidur yang lain. Alvaro langsung memeluknya dengan erat dari belakang. Menyandarkan dagunya di bahu Tami.


"Jangan menggantinya, aku suka melihatmu memakai gaun tidur yang ini. Terlihat sangat cantik"


Tami tidak menjawab, dia benar-benar malu dengan apa yang dia lakukan. Tapi menyenangkan hati suami memang tugasnya istri. Gumamnya dalam hati, sedikit menyemangati dirinya dari rasa malu.


"Tunggulah di kamar, aku akan mandi dulu"


Cup..


Alvaro mengecup pipi Tami sebelum dia berlalu ke kamar mandi. Sementara Tami menutup kembali pintu lemari, lalu keluar dari ruang ganti. Duduk di pinggir tempat tidur dengan tangan yang meremas gaun transparan yang dia pakai.


"Kenapa aku jadi segugup ini? Oh. Ayolah Tami, ini bukan yang pertama bagimu"


Tami benar-benar merasa semakin gugup saat pintu ruang ganti yang terbuka. Suaminya muncul disana dengan jubah mandi yang dia pakai. Dada bidangnya yang mulus bersih, jelas terlihat sangat menggoda di mata Tami. Eh.

__ADS_1


Alvaro berjalan mendekati Tami, berdiri tepat di depan istrinya itu. Tami hanya menundukan wajahnya, dia merasa sangat gugup sekarang.


"Sa-sayang kenapa tidak memakai baju?"


Alvaro membungkukan tubuhnya, mendekati wajah Tami. Bibirnya tepat berada di dekat telinga Tami. "Kenapa harus memakai baju, kalau nanti juga akan dibuka lagi"


Deg..


Hembusan nafas suaminya benar-benar terasa hangat di kulit Tami. Membuatnya langsung merinding dengan itu. Tiba-tiba saja tangan Alvaro mendorong bahu Tami hingga dia terjerambah di atas tempat tidur. Alvaro naik ke atas tempat tidur dan mengukung tubuh Tami. Kini suaminya itu benar-benar berada di atas tubuh Tami. Bertumpu pada kedua tangan dan lututnya yang berada di kedua sisi tubuh Tami.


Saling menatap dengan lekat, hingga semuanya di mulai dari sebuah ciuman.


...💫💫💫💫💫💫💫💫...


Pagi ini Tami terbangun dengan tubuhnya yang masih lelah. Semalaman suaminya benar-benar melepaskan segala kerinduannya. Tami menatap suaminya yang masih terlelap di sampingnya.


Kenapa dia malah terasa lebih ganas setelah libur satu tahun. Aku tidak menyangka jika kekuatannya masih sama.


Tami menurunkan kedua kakinya ke atas lantai. Memakai sandal rumah dan berjalan ke arah jendela. Tami membuka tirai jendela kamarnya hingga sinar matahari langusung masuk me dalam kemarnya lewat pentilasi.


Ternyata hal itu berhasil membuat Alvaro terbangun dari tidur lelapnya. Dia mengerjap dan membuka kedua matanya. Menatap bayangan istrinya yang sedang berdiri di depan jendela kamar.


"Sayang.."


"Bangun yuk, sudah pagi"


Bukannya bangun, Alvaro malah menarik tangan istrinya hingga Tami jatuh terjerambah di atas dada suaminya. Alvaro meleluk Tami dengan erat dan mencium keningnya.


"Kamu benar-benar memuaskan semalam"


Tami segera bangun dari atas dada suaminya. Ucapan Alvaro barusan benar-benar membuatnya kesal dan malu sekaligus. Akhirnya tanpa berkata-kata, Tami segera berlalu ke ruang ganti. Dia malu sekali jika mengingat kejadian semalam. Padahal itu bukan pengalaman pertama baginya.


Alvaro hanya terkekeh melihat tingkah istrinya itu. Dia tidur terlentang di atas tempat tidur, menatap langit-langit kamar dengan tatapan menerawang.


Aku tidak mau kehilangannya lagi, jadi aku tidak akan membuatnya hamil lagi. Untukku si kembar sudah cukup.


Alvaro berniat untuk membahas tentang ini pada istrinya.

__ADS_1


Tami yang baru saja selesai mandi, keluar dari ruang ganti dan duduk di kursi meja rias. Menyisir dan mengeringkan rambutnya. Melirik suaminya yang masih belum beranjak dari atas tempat tidur.


"Sayang, mandi ih. Bukannya kamu akan ke Resto"


"Iya Sayang sebentar, aku masih lemas"


Cih. Lemas dia bilang, kalau lemas kenapa semalam tidak mau berhenti.


Tami selesai dengan rambutnya, lalu dia berjalan ke arah tempat tidur dan duduk disana. "Aku ke bawah dulu ya, mau lihat si kembar"


"Hmm"


Tami menggelengkan kepalanya ketika Alvaro seolah benar-benar merasa lemas atas kejadian semalam. Padahal dia tidak terlihat lemas sama sekali semalam.


Tami menemui si kembar yang berada di kamarnya. Ternyata kedua anaknya itu masih terlelap. Tami menatap pada pengasuh mereka yang sedang membereskan baju-baju si kembar.


"Mbak, mereka masih tidur ya jam segini? Padahal ini sudah siang"


"Tidak Nona, keduanya sudah bangun dan sudah pada mandi. Sekarang mereka tertidur lagi"


Tami mengangguk mengerti, dia menarik kursi ke dekat box bayi. Dia melihat kedua anaknya yang terlalap. Tami menoel-noel pipi si kembar dengan gemas. "Terima kasih ya Mbak sudah menjaga anak-anak"


"Iya Nona sama-sama"


Setelah mengecek keadaan kedua anaknya, Tami segera keluar dan melihat suaminya tadi masih berada di atas tempat tidur. Ketika Tami masuk ke dalam kamar, dia melihat suaminya sudah selesai mandi dan berganti pakaian. Alavaro terlihat sedang duduk di atas sofa dengan ponsel di tangannya. Tami duduk di samping suaminya dan memeluknya dari samping, menyandarkan dagunya di bahu Alvaro.


"Sayang, bagaimana si kembar?"


"Mereka sedang tidur"


Alvaro menyimpan ponsel di atas meja, lalu dia menoleh pada istrinya. "Sayang ada yang ingin aku bicarakan tentang kita"


"Apa?"


"Sepertinya kita tidak perlu mempunyai anak lagi. Kamu pakai kontrasepsi ya"


Deg...

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2