My Sweet Girl

My Sweet Girl
Menghadapi Ibu Hamil


__ADS_3

"Bisa di lakukan tapi dengan tidak terlalu cepat dan tidak menekan bagian perut. Dan juga harus memperhatikan kondisi Ibu, apa dia dalam keadaan stabil atau tidak. Takutnya terjadi sesuatu pada bayi di dalam perutnya"


Penjelasan Dokter benar-benar membuat Alvaro tenang sekarang. Dirinya bisa melakukannya, tanpa harus takut lagi. Keluar dari ruangan Dokter, Alvaro menggandeng istrinya dengan wajah beriseri. Berbeda sekali dengan Tami yang malah terlihat kesal dan malu.


"Sayang, sudah dong jangan cemberut terus"


"Tau ahh, aku malu Sayang"


Datang ke dokter hanya untuk menanyakan hal seperti itu. Semua wanita juga pasti merasa malu. Tapi kenapa pria malah terlihat biasa saja. Tami sampai heran melihat suaminya ini.


"Sekarang mau kemana?"


"Pulang, kemana lagi?" Jawab Tami ketus


"Ke Resto sebentar ya, aku mau ambil berkas disana. Laporan yang kemarin belum sempat aku periksa"


"Iya terserah kamu"


Dan setelah pulang dari rumah sakit, Alvaro membawa Istrinya ke Restaurant. Sampai disana, Tami menyapa beberapa karyawan Resto yang dulu juga menjadi temannya.


"Hai Kak, apa kabar"


Kemal yang sedang mengelap meja langsung menoleh pada Tami yang sengaja menyapanya. Dia tersenyum dan mengangguk pada Tami. Melihat tatapan Alvaro yang seolah tidak suka ketika istrinya menyapa Kemal.


"Baik, kamu bagaimana?"


"Ba..."


"Nona, panggil dia seperti itu. Dia istriku dan sekarang sedang hamil anakku!"


Ucapan Alvaro itu membuat Tami langsung memegang tangannya. Dia tidak suka ketika suaminya seperti itu. "Sayang, apaan si, dia itu teman aku jadi gak perlu panggil Nona atau apalah itu"


Alvaro langsung menatap Tami dengan tajam, dia merasa istrinya sedang membela pria lain. Membuat dia semakin kesal saja.


"Maaf ya Kak, suami Tami memang suka begitu. Maaf ya"

__ADS_1


"Emm. Tidak papa"


Tami segera menarik tangan Alvaro untuk pergi dari sana. Bisa lebih kacau lagi jika suaminya tetap berada di sana. Masuk ke dalam lift, Tami langsung melepaskan tangan suaminya.


"Kamu apaan si, aku gak enak sama Kak Kemal tahu. Jangan seperti itu"


Alvaro mendelik tajam pada istrinya, sepertinya Tami benar-benar sedang menguji kesabarannya. "Kamu suka sama dia? Sampai membelanya begitu?"


Tami berdecak kesal, dia tidak habis fikir dengan kecemburuan suaminya yang terkadang sangat berlebihan itu. "Aku tidak membela siapa-siapa. Aku hanya tidak suka saat kamu bersikap begitu sama temanku, Kak Kemal itu teman aku saat aku bekerja disini juga. Jadi kenapa kamu harus meminta dia memanggilku seperti itu"


"Ya jelas dia harus merubah panggilannya, karena kamu adalah istriku!"


Pintu lift terbuka, Tami menggeleng pelan melihat suaminya yang keras kepala itu. Dia keluar lebih dulu dari dalam lift. Berjalan menuju ruang kerja suaminya, tanpa menghiraukan suaminya yang mengikutinya di belakang.


Ketika Tami hampir sampai di depan pintu ruang kerja suaminya, dia terdiam saat melihat seseorang yang menunggu di depan pintu ruangan. Tami menghela nafas, dia melirik suaminya dengan tajam. Seolah menunjukkan jika suaminya juga memiliki seorang perempuan yang patut Tami cemburui.


"Ada apa kamu kesini?" Tanya Alvaro, Tami hanya diam saja tanpa ingin menyapa wanita di depannya ini.


"Hai Al, aku cuma mau kasih kue ini buat kamu. Ini 'kan kue kesukaan kamu"


Tami menarik tangan Alvaro dan membawanya masuk ke dalam ruangan. Dia malas meladeni Weny yang seolah tidak ada habisnya untuk mendekati suaminya. Padahal jelas dia sudah tahu jika Alvaro sudah menikah.


"Sayang, sejak kapan aku punya alergi dengan kue?" Alvaro terkekeh melihat istrinya yang cemburu, tapi jika Tami sedang cemburu padanya maka dia pasti berubah menjadi wanita jutek yang bisa membuat wanita mana pun ketakutan.


Tami duduk di atas sofa di ruangan Alvaro, dia menatap kesal pada suaminya itu dengan bersidekap dada. "Ohh, jadi kamu ingin mengambil kue itu dan memakannya dengan perasaan yang bahagia"


Alvaro tertawa melihat wajah kesal istrinya, selalu merasa senang ketika melihat istrinya yang cemburu padanya. Dia duduk di samping istrinya dan memeluknya dengan erat. Mencium pipi Tami dengan gemas.


"Sayang, secantik apapun wanita di luar sana kamu tetap yang menjadi pemilik hatiku. Aku mencintaimu"


"Maksud kamu jelas lebih cantik wanita di luar sana, daripada aku istrimu sendiri? Apalagi jika nanti kehamilan aku sudah besar,  sudah pasti bentuk tubuh aku akan berubah. Dan kamu tidak akan tertarik lagi sama aku. Kamu tega banget ya, tahu gitu aku gak akan mau menghentikan konsumsi pil kontrasepsi"


Alvaro langsung melepaskan pelukannya, menatap Tami dengan tajam. "Kenapa ngomong gitu? Kamu gak rela mengandung anak aku?"


"Tidak, aku hanya kesal saja padamu"

__ADS_1


"Yasudah kalau kesal, jangan kayak gitu bicaranya. Aku tidak suka!"


"Ya, aku juga tidak suka saat kamu membanding-bandingkan aku dengan orang lain"


"Sayang, siapa si yang membanding-bandingkan kamu dengan orang lain" Alvaro menatap tidak percaya pada Istrinya yang menganggap dirinya telah membandingkan Tami dengan orang lain.


"Barusan, kamu bilang kalau wanita di luar sana lebih cantik daripada aku"


Alvaro menghembuskan nafas kasar, benar-benar harus mempunyai sabar yang besar ketika dia menghadapi istrinya yang sedang sensitif karena kehamilannya. Alvaro berlutut di atas lantai, tepat di depan Tami. Memegang kedua tangan istrinya dan mengecupnya.


"Sayang, bukan begitu maksud aku. Kamu tetap yang paling cantik dan terbaik buat aku"


Tami melengos, jelas dia tidak merasa seperti itu. Entahlah hatinya sedang benar-benar tidak bisa di ajak bercanda. "Jelas aku tidak secantik wanita di luar sana. Kamu memang gak benar-benar cinta ya sama aku"


Alvaro benar-benar dibuat pusing dan tak habis fikir oleh Tami. Satu kata yang salah dia ucapkan, maka kata selanjutnya akan selalu salah.


Beginikah menghadapi Ibu hamil?


"Yaudah, aku minta maaf. Aku gak akan lagi mengatakan hal seperti itu. Pokoknya hanya kamu yang paling cantik dan yang aku cintai"


Akhirnya Alvaro memilih jalan terakhir, meminta maaf atas kesalahan yang sebenarnya dia tidak merasa melakukan kesalahan apapun. Tapi dari pada rencananya nanti malam gagal, jadi dia harus mengalah.


...💫💫💫💫💫💫💫💫...


Dan malam ini Alvaro benar-benar melancarkan rencananya. Dia sudah mulai mendekati istrinya yang masih bermain ponsel di atas tempat tidur. Tangannya mulai merayap di atas paha Tami, mengelus lembut hingga membuat Tami merasa merinding.


"Sayang, mau apa si?"


Alvaro tersenyum ketika sudah mendapat sinyal dari istrinya. Dia beralih posisi menjadi berada di atas tubuh istrinya. Mengukungnya tubuh Tami.


"Jelas aku ingin melakukannya Sayang, aku sudah terlalu lama tidak memanjakanmu"


Tami memutar bola mata malas, tapi dia juga tidak bisa melakukan apa-apa. Apalagi ketika suaminya sudah mulai mencium bibirnya. Dan semuanya di mulai dari ciuman di bibir.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2