My Sweet Girl

My Sweet Girl
Memilih Keputusan


__ADS_3

"Apa?! Keberhasilannya hanya 50 persen. Kau gila, kau ingin mengorbankan siapa Hah?"


Alvaro benar-benar tidak bisa menanhan diri ketika mendengar penjelasan Dokter keseluruhah. Dia menggebrak meja, saking tidak percaya dengan apa yang di ucapkan oleh Dokter.


Tami memegang tangan suaminya. "Sayang, tenang. Kita dengarkan penjelasan Dokter"


"Maaf Tuan, memang begitu semua ibu hamil kembar yang memiliki preeklamsia. Saya hanya menyarankan untuk anda segera mengambil keputusan"


"Baik Dok" Tami segera menarik tangan suaminya untuk keluar dari ruangan Dokter. Dia tidak bisa terlalu lama berada di ruangan Dokter, karena suaminya ini sangat tidak bisa menahan emosi.


Masuk ke dalam mobil, Alvaro benar-benar hanya diam. Ekspresi yang sama dengan Tami ketika pertama kali dia mengetahui keadaannya ini. Tami menghela nafas melihat suaminya yang hanya diam. Dia memegang lengan suaminya yang sedang menyetir.


"Sayang, sudah ya. Kita lakukan saja saran dokter"


Alvaro memarkirkan mobilnya di halaman rumah mereka. Dia melepaskan sabuk pengaman, menoleh pada Tami dengan wajah yang frustasi. "Sayang, aku tidak bisa mengambil kemungkinan 50 persen itu. Aku tidak mau kehilanganmu ataupun anak-anak kita"


Tami mengelus pipi suaminya dengan lembut. Dia tersenyum meyakinkan. "Sayang, aku yakin keajaiban Tuhan itu ada. Kita hanya perlu banyak berdo'a semoga saja aku dan anak-anak kita bisa selamat"


Alvaro benar-benar tidak bisa melakukan apapun saat ini. Situasinya sangat tidak memungkinkan untuk dirinya egois. Karena istrinya adalah taruhan nyawanya.


"Baiklah, mari kita lakukan operasi untuk lahiran anak-anak kita"


Tami tersenyum, dia mengelus pipi suaminya. "Pokoknya apapun yang terjadi, semuanya adalah takdir Tuhan. Percaya saja jika takdir Tuhan adalah yang terbaik untuknya"


Alvaro memeluk suaminya, dia menghembuskan nafas berat karena tidak bisa melakukan apapun. Nyawa istri dan anaknya harus di pertaruhkan, tapi benar-benar tidak ada solusi lain lagi.


Akhirnya Alvaro hanya bisa berserah pada takdir Tuhan. Berharap istrinya dan anak-anaknya bisa selamat. Alvaro tidak bisa melakukan perlawanan apapun selain menuruti perkataan dan saran dokter.


"Yaudah, ayo kita masuk ke rumah"


Tami turun dari mobil di ikuti suaminya, masuk ke dalam rumah dengan merangkul lengan suaminya. "Sudah ya, jangan terlalu memikirkan apapun"

__ADS_1


Alvaro tidak menjawab, dia sedang tidak punya tenaga untuk memikirkan apapun. Semuanya seolah menjadi berputar dalam ingatannya, tentang ucapan Dokter dan tentang keselamatan istri dan anaknya yang terancam.


"Sayang, Istirahatlah. Aku ada pekerjaan sebentar"


"Iya Sayang"


Alvaro mencium kening istrinya sebelum dia berlalu darisana. Dia pergi ke perusahaan Aiden. Dia menemui kedua sahabatnya untuk sedikit menghilangkan beban dalam dirinya.


"Sabar Al, semuanya pasti sudah menjadi suratan takdir Tuhan untukmu. Jadi, jangan membuat semuanya sulit. Percaya pada Dokter, karena kamu juga tidak bisa membantah apapun" kata Aiden.


Rega menghela nafas, melihat sahabatnya yang begitu frustasi dengan keadaan yang ada. "Aku punya teman yang sekarang menjadi Dokter kandungan terbaik di negaranya. Aku bisa membantunya datang kesini. Tapi entah dia bisa atau tidak, jika mendadak seperti ini"


"Terima kasih Ga, aku berharap masih ada harapan 50 persen itu bisa menjadi keajaiban"


Aiden dan Rega mengangguk. Mereka juga berharap sepert itu.


...💫💫💫💫💫💫💫💫...


Alvaro selalu berada disampingnya, tidak pernah sedikit pun Alvaro meninggalkan Tami. Dia tahu perasaan takut yang Tami rasakan, karena dirinya juga merasakan hal yang sama.


Tami meraih tangan suaminya, menggenggamnya dengan erat. "Sayang, janji ya sama aku kalau nanti hal darurat terjadi padaku. Tolong selamatkan anak-anak kita"


Alvaro menggeleng pelan, cairan bening mulai menggenang di pelupuk matanya. "Sayang, aku hanya ingin bersamamu dan anak-anak kita. Jadi aku tidak akan memilih siapapun diantara kalian"


"Sayang pliss..." Tami menatap suaminya dengan tatapan memohon. "...Biarkan anak-anak kita merasakan indahnya dunia ini. Jangan membuat mereka terluka karena Ayahnya lebih memilih Ibunya. Aku sudah siap dengan konsekuensi apapun"


Disini posisinya Tami memang lebih tegar dan tenang daripada suaminya. Tami ikhlas dan akan menerima takdir yang Tuhan berikan padanya. Meski dia merasa sangat berat jika harus meninggalkan Alvaro. Namun, selama dia bisa hidup bersama suaminya sudah menjadi hal terindah dan paling membuatnya bahagia. Tami sudah sangat bersyukur dengan itu. Jadi, dia ingin anak-anaknya juga merasakan indahnya dunia.


"Aku tidak bisa Tami, kamu mengerti perasaan aku tidak? Aku sangat takut kehilanganmu, tapi aku juga tidak mau kehilangan anak-anak kita. Jadi, aku tidak bisa memilih diantara kalian berdua"


"Sayang aku...."

__ADS_1


Tami tidak melanjutkan ucapannya ketika mendengar suara pintu ruangan yang terbuka. Ayah dan Ibu masuk ke dalam ruangan bersama Tante di belakang mereka. Tami tersenyum ketika melihat semua keluarganya ada disini.


"Tami, kamu hebat Nak. Ibu yakin kamu akan kuat" Ibu memeluk Tami, dia berkata seperti itu tapi air mata sudah menggenang di pelupuk matanya. Karena dia juga seorang Ibu, tidak ada seorang Ibu yang akan membiarkan anaknya pergi begitu saja.


"Terima kasih Bu"


Ibu segera menghapus air matanya dengan kasar. Dia melerai pelukannya dan menatap Tami dengan senyum hangatnya. "Banyak berdo'a, kamu harus yakin kalau kamu bisa. Disini banyak orang yang menunggu kamu. Suami kamu, Ayah, Ibu dan juga Tante"


Tami mengangguk, dia merasa sangat bahagia karena di waktu seperti ini, begitu banyak orang yang mendorong semangat untuknya. "Tami yakin Tami bisa Bu, kalian do'akan Tami ya"


"Pasti Sayang"


Ayah tidak banyak bicara, dia paling takut kehilangan anaknya lagi. Sudah cukup Tian yang pergi meninggalkannya, jangan lagi dengan Tami. Melihat Ayah yang hanya berdiri diam, Tami mengulurkan tangannya pada Ayah.


"Ayah sini deh"


Ibu berdiri dan sedikit menjauh dari Tami, dan Ayah berjalan mendekati putrinya. Meraih tangan tangan Tami, lalu dia duduk di pinggir ranjang pasien yang di tempat Tami.


Tami memeluk Ayah, menyandarkan kepalanya di dada Ayah. "Tahu gak kalau Tami sangat bersykur karena terlahir dari Ibu yang sangat baik, dan Ayah yang begitu hebat. Pokoknya, Ayah adalah cinta pertama Tami. Bukan Mas Alvaro, tapi Ayah. Mas Alvaro hanya cinta sejati Tami"


Ayah mengelus kepala anaknya, mencium puncak kepalanya dengan lembut. Putri kecilnya saat ini sedang berjuang untuk melahirkan anaknya. Semua yang ada disana juga ikut terharu dengan kedekatan Tami dan Ayahnya.


"Kamu pasti kuat Nak, putri Ayah selalu kuat sejak kecil. Kamu jatuh dari sepeda saja sampai tanganmu patah, kamu tidak menangis. Kamu memang anak Ayah yang kuat"


Tami tersenyum, mengingat kejadian yang terjadi saat dia baru berusia 5 tahun. Dia jatuh dari sepeda dan mengalami patah tulang di tangannya. Tapi karena Ayah mengatakan jika putri Ayah sangat kuat. Maka Tami benar-benar tidak menangis, lebih tepatnya menahan tangisnya.


"Iya dong Yah, kan kata Ayah juga kalau orang gampang menangis nanti di anggap lemah. Ayah tahu 'kan kalau Tami kuat"


"Iya Nak, putri Ayah memang kuat" Suara Ayah sudah terdengar parau. Dia menahan tangisnya yang siap pecah, ketika mengingat keadaan putrinya ini.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2