My Sweet Girl

My Sweet Girl
Konsultasi Tentang Kita?!


__ADS_3

Ketika malam hari Alvaro kembali dari pekerjaannya, dia mendapati istrinya yang sedang terlelap di atas sofa ruang tengah. Mungkin Tami sengaja menunggu Alvaro pulang, sampai dia ketiduran di atas sofa.


Alvaro berlutut di lantai, tepat di depan sofa yang ditiduri Tami. Menatap wajah tenang istrinya yang sedang terlelap. Perlahan Alvaro mengelus pipi Tami, lalu memberikan kecupan di keningnya.


"Kasihan sekali istriku, dia sampai ketiduran disini. Maafkan aku sayang, karena sudah membuatmu menunggu"


Alvaro menggendong Tami dan membawanya ke kamar. Menidurkan tubuh istrinya dengan perlahan diatas tempat tidur.


"Sayang..."


Ketika Alvaro ingin pergi ke ruang ganti, tiba-tiba tangannya di tahan. Alvaro menoleh dan melihat istrinya yang terbangun. "Sayang, keganggu ya tidurnya. Maaf ya"


Tami menggeleng pelan, tangannya masih memegang tangan Alvaro. "Kamu jahat, pulangnya malem banget. Aku 'kan ingin tidur sama kamu"


Alvaro tersenyum, dia duduk di pinggir tempat tidur. Mengelus kepala istrinya dengan lembut. "Aku ada banyak pekerjaan yang harus di kerjakan hari ini. Maaf ya, karena aku pulang terlambat"


Tami bangun, dia merubah posisi tidurnya menjadi tidur di atas pangkuan Alvaro. Memeluk tubuh suaminya dengan erat. Seolah tidak ingin Alvaro pergi lagi.


Alvaro mengelus kepala istrinya, mode manja Tami sebenarnya memang membuat Alvaro senang. Karena dengan begini, maka istrinya akan selalu menunjukan perasaannya pada Alvaro.


"Sayang, aku ganti baju dulu ya. Nanti kita tidur"


Tami menghela nafas pelan, dia bangun dan menatap suaminya. Sebenarnya dia masih kesal karena kejadian tadi pagi. Tapi, tetap saja jika Tami tidak bisa berjauhan dari suaminya terlalu lama. Apalagi jika dia harus bermusuhan dengan Alvaro. Tami tidak sanggup untuk mendiamkan suaminya terlalu lama.


"Yaudah, aku juga mau ke bawah dulu ambil minum"


Alvaro mengecup kening istrinya. "Hati-hati pas turun tangganya"


"Iya"


Alvaro berlalu ke ruang ganti dan Tami yang pergi ke lantai bawah. Kehamilannya benar-benar membuat Tami lemas dan terlalu manja. Bukannya Tami tidak sadar akan perubahan dalam dirinya, tapi entah kenapa dia menikmati perubahan ini. Dia tetap menikmati setiap proses kehamilannya.


Tami menuangkan air putih ke dalam gelas, meminumnya sampai habis. Lalu duduk di kursi meja makan. Tangannya mengelus lembut perutnya yang masih rata.


Seandainya Mama tidak terikat pinjaman uang yang di manfaatkan Papamu untuk menikahi Mama. Mungkin kamu tidak akan hadir dalam perut Mama ini, Nak. Tapi, terima kasih karena sudah membuat Mama dan Papa semakin dekat.


Mengingat awal pernikahan yang Tami kira hanya akan berakhir sampai Alvaro merasa bosan padanya. Tapi, nyatanya pernikahan itu masih berlangsung sampai saat ini mereka hampir mempunyai seorang anak.

__ADS_1


"Sayang..."


Tami menoleh dan melihat suaminya yang berjalan ke arahnya. Alvaro menghampiri Tami. Memeluknya dari belakang dengan mencium gemas pipinya.


"Besok ke dokter ya"


Tami menggeleng, dia tidak punya janji dengan dokter. Lagian jadwal pemeriksaan masih jauh. "Mau apa ke dokter? Jadwal pemeriksaan masih lama"


"Aku mau konsultasi tentang kita"


Tami mengerutkan keningnya, bingung dengan ucapan Alvaro barusan. "Konsultasi apa? Aku dan bayi kita baik-baik saja 'kan"


Alvaro melepaskan pelukannya, lalu beralih duduk disampinga Tami. Menuang air ke dalam gelas, lalu meminumnya. Menyimpan kembali gelas di atas meja.


"Kamu dan bayi kita memang baik-baik saja. Tapi aku yang sekarang tidak baik-baik saja"


"Sayang, kamu sakit?" Seketika Tami langsung memegang kening Alvaro, mengecek suhu tubuh suaminya. "...Tapi tidak panas"


Alvaro menghela nafas, dia menurunkan tangan Tami dari keningnya. Menggenggamnya di atas meja. "Sayang, aku baik-baik saja. Hanya saja, aku tetap harus menanyakan pada Dokter apa kita masih bisa berhubungan disaat kamu sedang hamil"


Deg..


"Kamu apaan ihh, yang di pikirin malah itu. Aku kirain kamu beneran sakit"


Alvaro hanya tertawa, gemas dengan ekspresi istrinya. Alvaro menangkup wajah Tami dan mencium seluruh bagian wajahnya tanpa terlewat satu pun.


"Gemes ihh aku sama kamu"


"Emm. Tahu ahh, kalau kamu cuma mau konsultasi tentang itu. Tanyakan saja sendiri, jangan bawa-bawa aku"


Alvaro mengangkat satu alisnya, mempertanyakan ucapan Tami barusan. "Loh kenapa?"


"Ya ampun Sayang, aku malu. Masa aku juga harus memperjelasnya si" Tami berdiri dan pergi dari sana.


Sementara Alvaro hanya tersenyum melihat wajah istrinya yang malu-malu. Sungguh sangat menggemaskan di mata Alvaro.


"Dasar istriku ini, sangat menggemaskan"

__ADS_1


...💫💫💫💫💫💫💫💫...


Alvaro tersenyum ketika sepasang tangan mungil memeluk tubuhnya dari belakang saat dia sedang menata makanan di atas meja untuk sarapan pagi ini.


"Sayang, aku sudah buatkan jus jambu buat kamu. Kemarin 'kan kamu ingin minuman ini"


"Gak ahh, aku maunya kemarin. Bukan sekarang"


Alvaro menghela nafas, dia sudah mulai terbiasa dengan sikap istrinya ini sejak dia hamil. "Yaudah gak papa, biar aku saja yang minum"


Akhirnya Alvaro hanya perlu banyak bersabar menghadapi hormon Ibu hamil yang tidak menentu. Alvaro menarik kursi meja makan. "Ayo duduk, kita sarapan"


Tami menurut, dia duduk disana. Melihat Alvaro yang mengambilkan makanan untuknya. "Kok aku malas banget ya semenjak hamil, masa masak untuk sarapan saja harus kamu. Besok-besok biar aku saja yang masak"


Alvaro tersenyum mendengar itu, dia mengelus kepala istrinya dengan sayang. "Tidak papa, aku senang bisa melayani istriku yang sedang hamil. Tadi muntah lagi gak?"


Tami mengangguk, memang hampir setiap pagi pasti dia akan merasa mual dan berakhir muntah di kamar mandi. Dan hal itu terjadi setiap pagi.


"Yaudah, sekarang makan sarapannya"


"Aku gak berselera, kamu aja yang makan"


"Sayang, jangan kayak gitu dong. Sedikit saja, bayi dalam kandungan kamu juga perlu nutrisi"


Sebisa mungkin Alvaro membujuk istrinya agar mau makan. Meski hanya sedikit, tapi setidaknya ada asupan makanan ke dalam tubuh Tami. Alvaro tidak mau sampai istrinya sakit, apalagi kondisinya yang sekarang sedang hamil.


"Nanti aku jemput kamu pas makan siang, kita ke dokter"


"Sayang ihh, aku gak mau. Kamu aja sendiri"


Alvaro mengelus kepala Tami dan mengecupnya. "Kamu juga tetap harus ikut Sayang. Kan kita membicarakan hal yang membuat kita berdua aman. Jadi tetap harus kita yang datang, bukan hanya aku sendiri"


Tami menghela nafas, sepertinya suaminya benar-benar sudah tidak tahan harus menunggu lama lagi untuk bisa kembali melakukan aktifitas malam mereka. Apalagi setelah kemarin Alvaro berada di luar kota, cukup lama. Jelas Alvaro sangat merindukan kegiatan malamnya bersama Tami.


"Terserah kamu deh"


"Yaudah, nanti siap-siap ya Sayang. Aku pergi dulu..." Alvaro mencium kening istrinya. "...Aku mencintaimu"

__ADS_1


"Aku juga"


Bersambung


__ADS_2