My Sweet Girl

My Sweet Girl
Aku Bahagia Menikah Denganmu!


__ADS_3

Alvaro tidak bisa meninggalkan istrinya, apalagi ketika Tami tetap melarangnya untuk memberi tahu orang tua Tami. Dia tidak akan tenang jika meninggalkan Tami sendirian di rumah sakit. Meski banyak perawat dan Dokter, tapi dia tetap tidak akan tega meninggalkan istrinya.


"Kamu gak ke Resto?" Tami menatap suaminya yang sedang duduk di sofa dengan laptop di atas pangkuannya.


Alvaro mendongak, mengalihkan fokusnya pada layar laptopnya. "Tidak, aku tidak mau meninggalkanmu"


"Aku gak papa kok, kamu dengar sendiri penjelasan dokter tadi"


"Iya, aku tahu. Tapi aku tetap tidak mau meninggalkan kamu sendirian disini"


"Kamu bisa pergi kok. Kan banyak perawat dan Dokter disini"


Alvaro tetap menggeleng, dia tetap pada pendiriannya. Karena dia tidak mau mengambil resiko. Mendengar istrinya kecelakaan saja sudah membuat dirinya sangat cemas. Alvaro tidak ingin kehilangan istrinya. Dia sudah sangat menyayangi istrinya.


Tami menatap wajah suaminya yang sedang fokus pada layar laptop di atas pangkuannya. Wajah tampan yang terasa semakin bertambah ketampanannya ketika dia sedang fokus seperti ini. Rasanya memang sangat mustahil jika Tami tidak sampai jatuh cinta pada Alvaro. Sementara dia saja sudah kagum seperti ini pada suaminya itu.


"Aku tahu aku tampan"


Tami tersentak mendengar ucapan Alvaro, pria itu masih fokus pada layar laptop di depannya. Sementara dia mengucapkan kalimat itu seolah dirinya tahu jika Tami sedang menatap dirinya.


Alvaro menutup laptopnya, menatap ke arah Tami yang sedang duduk menyandar di ranjang pasien. "Kenapa berhenti menatapku?"


Tami menoleh dan tersenyum kaku, ternyata memang benar suaminya mengetahui tentang dirinya yang menatapnya sejak tadi. "Tidak, aku tidak menatapmu. Tapi kalaupun aku menatapmu, apa tidak boleh?"


"Tentu saja boleh, kenapa tidak. Kau istriku"


Alvaro berdiri, menyimpan laptop di atas meja lalu dia berjalan mendekati ranjang pasien. Mengelus kepala istrinya dan memberikan kecupan hangat di sana.


"Kamu boleh melakukan apa saja padaku, kau istriku"


Tami hanya tersenyum, meski sekarang hubungan diantara mereka sudah lebih baik dari sebelumnya. Tapi, sepertinya Tami tetap harus lebih berhati-hati dengan hatinya yang sudah terlanjur cinta pada Alvaro. Tami harus siap jika suatu saat hatinya akan tetap terluka, karena sampai saat ini belum ada kata cinta yang terucap dari bibir suaminya.


"Apa kamu juga men..."


Drett.. Drett..

__ADS_1


Ucapan Tami terpotong dengan suara ponsel Alvaro yang berdering. Pria itu langsung mengangkat telepon dari saudaranya itu.


"Hallo"


"Kau dimana, aku dan Aiden di rumah sakit. Ingin menjenguk istrimu"


Alvaro memutar bola mata malas, sebenarnya dia tahu tujuan saudara dan sahabatnya itu sengaja datang ke rumah sakit, bukan semata-mata karena ingin menjenguk istrinya. Tapi mereka ingin tahu siapa istrinya.


"Datang saja kesini" Alvaro menyebutkan nama ruangan yang di pakai Tami sekarang. Setelah itu dia segera memutuskan sambungan telepon.


"Siapa?"


Alvaro menoleh ke arah istrinya, lalu dia memasukkan ponselnya kembali ke dalam saku celana. "Alvino mau datang kesini"


Wajah Tami berubah panik, dia pasti sangat malu jika bertemu kembali dengan kembaran Alvaro yang waktu itu dia sangka adalah suaminya. "Duh, gak usah aja deh. Kamu telepon lagi, jangan datang kesini aja"


Alvaro terkekeh melihat kepanikan di wajah Tami. "Memangnya kenapa? Dia punya niat baik loh, mau menjenguk kamu kesini. Masa aku larang"


"Ishh, Sayang aku malu jika bertemu dengan saudara kamu itu. Atau aku pulang saja ya sekarang, jadi kamu aja yang nemuin mereka"


Tami melihat tatapan Alvaro, lagi-lagi dia seolah tersihir dengan bola mata coklat itu. Tami tidak pernah melihat kebohongan di setiap Alvaro menatapnya seperti ini. Selalu ada ketulusan di balik tatapan mata Alvaro dan hal itu membuat Tami meyakikan diri untuk membuka hatinya dan mengungkapkan perasaan cinta pada suaminya itu. Meski sampai saat ini, Tami belum mendapat jawaban atas ungkapan cintanya pada Alvaro.


Ceklek..


Suara pintu ruangan yang terbuka membuat Alvaro melepaskan tangannya dari wajah Tami, dia menoleh ke arah pintu dan saudaranya muncul di sana bersama istrinya. Tami langsung menunduk karena merasa sangat malu dengan apa yang pernah dia lakukan pada saudara kembar suaminya ini.


Duh, kenapa juga aku tidak bisa membedakan mereka. Padahal saudara kembar suamiku selalu memakai kacamata.


Ya, saya adalah istrinya. Meski Tuan merubah penampilan Tuan dengan memakai kacamata, tapi saya tidak akan salah mengenali Tuan.


Tami memejamkan matanya malu ketika dia mengingat ucapannya pada Alvino waktu itu.


"Katanya dengan Aiden, mana dia?"


"Masih di jalan, dia menysul kesini karena menjemput istrinya dulu"

__ADS_1


Alvaro mengangguk mengerti, dia melirik istrinya yang menundukan wajahnya membuat Alvaro ingin tertawa melihatnya. "Al, ini sedikit buah tangan untuk istrimu. Bagaimana keadaannya sekarang" Saqila, istri dari Alvino memberikan parsel buah kepada Alvaro yang langsung menerimanya.


"Makasih Sa, kalian duduk dulu di sofa"


"Aku ingin melihat istrimu" kata Saqila yang langsung berjalan mendekati ranjang pasien.


Mendengar derap langkah yang semakin dekat, membuat Tami semakin menundukkan wajahnya dengan tangan yang meremas selimut yang menutupi kakinya.


Duh bagaimana ini? Aku malu sekali.


"Hai, bagaimana keadaanmu?" Tanya Saqila yang tersenyum ramah pada Tami.


Tami mendongak, dia tersenyum kaku. "Ba-baik Nyonya"


Saqila duduk di pinggir ranjang pasien, dia mengelus punggung tangan Tami yang berada di atas pangkuannya. "Jangan panggil Nyonya, kan kamu istri saudara suamiku. Jadi, kita adalah saudara. Emang suami kamu saja yang tega sampai menikah saja tidak memberi tahu kami"


"Bukan begitu Sa, pernikahan aku dan Tami memang sangat mendadak. Jadi, tidak sempat memberi tahu kalian" sahut Alvaro yang duduk di sofa bersama Alvino. Di lihat dari manapun memang mereka sangat mirip. Hanya perbedaannya ada di Alvino yang selalu memakai kacamata.


Saqila menoleh ke arah Alvaro, selain dia menikah dengan saudara kembar Alvaro. Tapi Saqila juga teman kuliah Alvaro dan Alvino. Membuat dia sudah akrab dengan keduanya. Termasuk, Aiden.


"Terus apa kau tidak akan mengadakan resepsi pernikahan? Kasihan loh istrimu ini, sudah menikah secara sederhana. Masa resepsi pun tidak ada"


"Sebenarnya aku ingin mengadakannya, tapi..."


"Tidak perlu!" Tami kaget sendiri dengan nada suaranya sendiri. "...Emm. Maksudnya tidak perlu ada acara resepsi lagi, karena kita juga sudah menikah secara resmi. Jadi aku fikir, tidak perlu ada resepsi lagi"


Saqila beralih menatap Tami, dia memegang kedua tangan Tami dan negara wajah polos gadis manis di depannya ini. "Kenapa tidak? Emangnya kamu tidak mau ada resepsi pernikahan, agar semua orang tahu tentang pernikahan kalian"


"Tidak perlu, aku sudah bahagia menikah dengan Tuan Alvaro"


Deg..


Seketika Alvaro langsung menatap ke arah istrinya. Ada debaran senang di hatinya ketika Tami mengatakan jika dirinya bahagia menikah dengannya. Artinya, Alvaro telah berhasil membuat istrinya bahagia berada disisinya selama ini.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2