
Tami merasa sudah memiliki kembali keceriaan di dalam kampusnya kali ini. Setelah sahabatnya kembali kuliah, Tami bisa memiliki teman lagi. Mereka sedang berada di kantin kampus. Memesan makan siang dan mengobrol disana.
"Jadi kamu minum pil kontrasepsi. Gila kamu Mi, kenapa bisa kamu kepikiran untuk minum itu"
"Iya, abisnya dia nikahi aku karena aku mempunyai hutang padanya. Kan jadinya aku berfikir kalau dia tidak akan mau kehadiran anak dari rahimku"
Ayra mengangguk mengerti. "Iya si, aku juga kayaknya akan berfikir kayak gitu. Karena suami kita berteman, jadi sikapnya hampir sama"
Tami mengangguk sambil mengaduk minuman di depannya. "Oh ya Ay, gimana ya biar bisa cepat hamil. Kamu waktu nikah sama Tuan Aiden, cepat sekali hamilnya"
"Ya aku juga gak tahu Mi, mungkin saat ini kamu agak telat mengandung karena pengaruh pil kontrasepsi yang kamu konsumsi kalian. Lumayan lama lagi mengonsumsinya"
"Iya mungkin karena itu"
Tami menghela nafas, dia meraih ponselnya dan melihat pesannya yang di kirim pada Alvaro tapi belum terbaca sampai sekarang. Mungkin karena suaminya sedang sibuk.
"Yaudah, ayo kembali ke kelas"
Tami mengangguk, mereka berlalu ke kelas setelah makan siang di kantin.
Dan hari ini terlewati dengan lancar, Tami dan Ayra saling merangkul tangan berjalan menuju parkiran. Disana sudah ada dua mobil mewah yang terparkir berdampingan. Ayra dan Tami tersenyum, tentu saja itu adalah suami mereka.
"Sekarang gak di jemput lagi di ujung jalan sana Ay.. Haha"
"Apaan si Mi, sekarang udah bisa publish. Hehe"
Tami menggeleng pelan, memang Ayra baru-baru ini berani pergi jalan dengan suaminya. Di jemput di depan kampus. Dulu, dia selalu menyuruh suaminya menunggu di ujung jalan karena takut ada yang tahu tentang pernikahannya dengan Aiden.
"Yaudah, pulang dulu ya Ay. Sampai ketemu besok"
"Oke"
Keduanya masuk ke dalam mobil suami masing-masing. Dan mobil mulai melaju meninggalkan parkiran kampus.
"Kirain gak bakalan jemput loh"
Alvaro menoleh sekilas pada istrinya dengan sedikit bingung. "Loh kenapa bisa ngira aku gak akan jemput kamu?"
__ADS_1
"Soalnya tadi aku udah chat kamu, tapi gak kamu balas. Dibaca aja enggak, aku pikir mungkin kamu sedang banyak pekerjaan"
"Oh ya ampun, aku belum buka ponsel. Lagian sekarang aja ponselku ketinggalan di Resto"
Tami mengangguk mengerti, dia menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi. Memejamkan matanya, merasa lelah dengan hari ini. Padahal cuma melakukan pembelajaran di kelas saja. Tidak ada kegiatan kampus lainnya. Tapi mungkin memang tubuhnya sedang manja, sampai merasa hari ini sangat melelahkan.
Alvaro melirik istrinya yang mungkin terlelap, dia mengelus kepalanya. "Sayang kenapa? Wajahnya pucat, kamu sakit ya. Tapi tidak panas si"
Tami membuka matanya, menatap suaminya. "Aku tidak papa, hanya lelah saja. Pengen cepat pulang dan istirahat"
Alvaro mengangguk mengerti, akhirnya dia tidak mengganggu istrinya lagi yang sepertinya benar-benar tidur kalo ini. Hingga mobil telah terparkir di pekarangan rumah, Tami masij belum bangun. Membuat Alvaro menggendong istrinya untuk masuk ke dalam rumah. Menidurkan Tami diatas tempat tidur dengan lembut. Membuka sepatu istrinya dan menarik selimut untuk menutupi tubuh Tami.
Cup..
Alvaro memberikan kecupan di kening istrinya. "Istirahatlah, kau memang terlihat sangat lelah. Aku akan kembali ke Resto sebentar"
Alvaro keluar dari kamar dan segera kembali ke Slick Grind Resto.
...💫💫💫💫💫💫💫💫...
Entah pukul berapa sekarang, tapi Tami merasa tubuhnya sangat lemah. Dia bangun dan duduk menyandar di atas tempat tidur. Melirik jam dinding.
Tami turun dari tempat tidur dan tiba-tiba penglihatannya terasa berkunang-kunang. Dunia seolah berputar, hingga Tami ambruk kembali di atas tempat tidur dengan tidak sengaja menyenggol gelas kosong diatas nakas dan jatuh ke lantai. Menimbulkan suara yang keras. Membuat Alvaro yang ada diruang kerja langsung berlari ke kamarnya ketika mendengar suara sesuatu yang pecah.
"Sayang..." Alvaro berlari pada Tami yang tergeletak di atas tempat tidur dengan kaki yang menggantung di atas lantai. Alvaro menepuk pelan pipi Tami, namun tidak ada reaksi apapun dari istrinya itu. "...Ya ampun Sayang, kamu kenapa. Hey bangun"
Kepanikan Alvaro benar-benar menjadi ketik sadar jika istrinya jatuh pingsan. Menggendong Tami dan membawanya ke luar rumah dengan langkah kaki yang sudah berlari. Membawa Tami ke rumah sakit dengan laju mobil yang cepat dengan sesekali Alvaro melirik Tami yang duduk di kursi penumpang, dan masih tidak sadarkan diri.
"Sayang bangun ihh, jangan buat aku khawatir. Kamu ini sebenarnya kenapa si?"
Sesekali Alvaro mengelus kepala istrinya, bahkan tangan kirinya memegang minyak angin yang di dekatkan pada lubang hidung Tami, berharap istrinya segera sadar.
Hingga suara lenguhan Tami membuat Alvaro menoleh ke arahnya. "Sayang.."
Tami memegang kepalanya yang terasa pening, lalu dia bersin-bersin. Sebenarnya ada apa denganku? Gumamnya.
Saat Tami menyadari jika dirinya berada di dalam mobil, Tami menoleh pada suaminya yang terlihat panik. "Sayang ini kita mau kemana?"
__ADS_1
"Ke rumah sakit"
"Sayang aku udah gak papa, gak usah ke rumah sakit juga tidak papa"
Alvaro tidak menjawab, sepertinya dia memang sedang sangat panik. Mobil yang terparkir di depan rumah sakit. Alvaro segera keluar dan membuka pintu mobil bagian penumpang. Menggendong Tami dan menutup pintu mobil dengan kakinya.
"Sayang, aku bisa jalan kok"
"Diam!"
Tami benar-benar diam saat mendengar suara penuh penekanan dari suaminya. Ketika Alvaro membawanya ke ruang unit gawat darurat dan meminta Tami untuk segera di periksa.
Ketika Tami di tidurkan di atas ranjang pemeriksaan, tiba-tiba dia bengun kembali. "Dok, saya mual"
Dokter segera memberikan wadah untuk Tami memuntahkan apa yang ada di dalam perutnya. Tami benar-benar muntah, melihat itu Akvaro semakin panik. Dia memijat tengkuk istrinya dan melihat Tami yang terus memuntahkan cairan bening.
"Nona, apa yang anda rasakan sekarang?"
Alvaro mengelap bibir Tami dengan tangannya tanpa rasa jijik sedikit pun. Dia menatap khawatir pada istrinya yang mulai lemah kembali karena muntah-muntah barusan.
"Saya hanya pusing dan tiba-tiba muntah barusan"
"Baiklah biar saya cek dulu"
Dokter memeriksa Tami dengan mengecek sample darah Tami juga. Alvaro hanya berdiri di samping ranjang pasien dengan terus menggenggam tangan Tami.
"Sepertinya anda terkena alergi Nona, apa anda mengonsumsi makanan dengan ada kacang kedelai? Seperti tubuh anda tidak menerima makanan itu"
Tami mengerutkan keningnya, mengingat-ngingat apa yang dia makan hari ini. "Sepertinya saya memakan eskrim rasa kacang kedelai. Tapi hanya merasakan sedikit saja, tidak sengaja membeli sendiri"
Alvaro langsung menatap pada Tami dengan kesal.
"Ya meskipun sedikit, tapi tubuh anda tidak menerimanya. Jadi mulai sekarang harus lebih di perhatikan makannya"
"Iya Dok"
"Nona harus berada disini mungkin sampai besok"
__ADS_1
Tami hanya mengangguk saja, karena dirinya tidak akan bisa melakukan apapun.
Bersambung