My Sweet Girl

My Sweet Girl
Trauma Alvaro


__ADS_3

"Sayang kenapa seperti itu?"


Tami benar-benar terkejut dengan ucapan suaminya barusan. Jelas dia tidak pernah berfikir untuk berhenti mempunyai anak lagi. Meski kemarin dia sempat hampir tidak selamat saat melahirkan si kembar. Tapi, Tami tidak pernah berfikir sampai kesana. Tidak menyangka jika suaminya malah yang berfikir tentang hal itu.


Alvaro menatap Tami dengan lekat, dia meraih tangan istrinya dan menggenggamnya dengan lembut. Mengecup punggung tangan istrinya itu.


"Sayang, sudah cukup satu kali saja aku merasakan takut kehilanganmu kemarin. Jangan membuat aku takut lagi, kamu tahu sendiri bagaiamana aku sangat takut ketika kamu tidak sadarkan diri selama itu. Yang ada di fikiran aku selalu takut jika kamu pergi meninggalkan aku untuk selamanya. Jadi, aku benar-benar sudah memutuskan untuk stop mempunyai anak lagi. Si kembar sudah cukup untuk kita"


Tami menghela nafas pelan, dia menatap suaminya dengan lekat. Jelas sekali ada sebuah trauma di balik tatapan mata itu. "Sayang, sebenarnya aku tidak pernah berfikir tentang itu. Tapi, kalau kamu memang sudah mengambil keputusan itu. Maka aku akan menuruti saja, tapi kalau misalkan Tuhan berkehendak lain dan aku hamil lagi. Kita tidak bisa melakukan apapun"


"Ya justru itu, makanya sekarang ayo kita pasang kontrasepsi ya. Biar kamu tidak hamil lagi"


"Sayang, kenapa si sampai harus pasang kontrasepsi segala. Aku tidak mau"


"Sayang plis, aku tidak mau mengambil resiko lagi"


"Tapi 'kan biasanya kehamilan pertama dan kedua itu selalu berbeda. Jadi semuanya tidak selalu sama"


Alvaro tetap menggeleng, dia benar-benar memiliki trauma yang cukup besar ketika istrinya hamil. "Tidak Sayang! Pokoknya aku tidak mau kamu hamil lagi. Cukup sekali saja. Nanti siang aku jemput kamu untuk konsultasi pada Dokter tentang kontrasepsi yang baik untukmu"


Tami mengehela nafas, merasa heran dengan keadaan saat ini. Disaat dulu Tami yang meminum pil kontrasepsi secara diam-diam dari suaminya. Tapi sekarang malah Alvaro sendiri yang menyuruhnya untuk memakai kontrasepsi.


"Yaudah terserah kamu saja"


Alvaro menghela nafas lega mendengar ucapan istrinya itu. Setidaknya Tami sudah setuju untuk tidak mempunyai anak lagi. Alvaro memeluk istrinya, mencium pipinya dengan lembut.


"Aku sangat takut dengan keadaan kamu kemarin. Jadi aku tidak mau ambil resiko lagi"


Tami mengelus tangan suaminya yang melingkar di perutnya. "Terima kasih ya karena kamu sudah benar-benar berjuang untuk kesembuhanku. Bersyukur sekali karena sampai saat ini, aku masih bisa bersamamu dan anak-anak kita"


"Apapun akan aku lakukan asalkan kamu sembuh"


Tami benar-benar beruntung memiliki suami seperti Alvaro. Dia begitu banyak berkorban untuk kesembuhannya. "Yaudah, sekarang ayo kita ke bawah. Kamu sarapan dulu sebelum ke Resto"

__ADS_1


"Iya Sayang, nanti siang kamu siap-siap ya. Kita akan pergi ke dokter, sekalian cek up keadaan kamu juga"


Tami mengangguk.


...💫💫💫💫💫💫💫💫...


Siang ini Tami sudah berada di dalam ruangan Dokter bersama suaminya. Masih melakukan pemeriksaan untuk keadaan kaki dan kesehatan Tami juga. Alvaro selalu setia menemaninya, menggenggam tangan istrinya.


"Semuanya baik, kondisi kakinya juga sudah normal. Tapi meski begitu, tolong tetap di jaga kesehatannya. Jangan terlalu kecapean dulu karena kondisi kakinya masih perlu pemantauan selanjutnya"


"Baik Dok terima kasih"


"Ini vitamin dan beberapa obat, harus di minum secara teratur"


Tami menghela nafas pelan melihat serangkaian obat yang diberikan oleh Dokter. Rasanya dia sudah bosan dengan semua obat-obatan itu. Tapi masih harus tetap meminumnya.


Selesai pemeriksaan tentang kesehatan Tami pasca koma. Kini mereka langsung pergi ke ruangan Dokter kandungan untuk konsultasi tentang kontrasepsi yang akan digunakan oleh Tami nantinya.


Duduk di depan meja Dokter, Alvaro mulai menjelaskan tujuannya datang kesini. Dokter juga memahami tentang ketakutan sang suami setelah istrinya mengalami koma pasca lahiran.


"Tuhkan Sayang, apa aku bilang"


Alvaro langsung melirik tajam pada istrinya. Alvaro merasa heran saat Tami seolah tidak ada rasa trauma sedikit pun setelah dia mengalami koma selama itu. Dirinya saja sudah setakut ini, tapi kenapa Tami malah terlihat biasa saja dan tidak takut sama sekali.


"Tidak Dok, saya tetap ingin istri saya pasang kontrasepsi. Saya sudah yakin dengan keputusan saya"


"Sayang.."


Tami tetap merengek pada suaminya, dia malah lebih takut pasang kontrasepsi dari pada hamil lagi. Entahlah, mungkin memang seperti itu naluri seorang perempuan yang meski dia tahu melahirkan itu sakit. Tapi tetap tidak pernah puas dengan satu anak saja.


"Kalau tetap ingin pasang kontrasepsi, maka harus disaat datang bulan hari terakhir. Jadi, kita tunggu sampai hormon Nona kembali stabil, dan bisa langsung pasang kontrasepsi di hari terakhir datang bulan"


"Apa tidak bisa sekarang saja Dok?"

__ADS_1


"Lebih bagus saat Nona datang bulan,Tuan"


Setelah mendengar penjelasan Dokter, Alvaro segera pulang bersama istrinya. Meski dia sedikit kecewa karena istrinya tidak bisa langsung pasang kontrasepsi saat ini. Sementara sejak Tami sadar, gadis itu memang belum mengalami datang bulan. Jelas karena hormon ditubuhnya masih belum stabil sampai saat ini.


"Udah si Sayang, kenapa kamu ingin sekali aku memasang kontrasepsi. Padahal kalau hamil lagi juga tidak papa"


Alvaro yang sedang mengemudi hanya mendelik tajam pada istrinya itu. "Kamu apa tidak takut dengan pengalaman pertama kamu melahirkan kemarin sudah separah itu. Apa masih ingin hamil lagi?"


"Ya 'kan kata Dokter juga, tidak semua kehamilan mengalami hal yang sama. Siapa tahu kalau kehamilan kedua, aku bis melahirkan secara normal"


"No! Kalau aku bilang tidak boleh ya tidak boleh berarti. Jadi, kamu jangan memaksa lagi"


Tami mencebikan bibirnya, lalu dia menyandarkan kepalanya di lengan Alvaro yang sedang mengemudi. "Yaudah deh, terserah kamu saja"


"Iya memang semuanya tergantung keputusan aku. Sayang, kamu harus ngerti dong bagaimana aku sangat takut kehilangan kamu saat itu. Jadi, aku tidak mau sampai kejadian itu terulang kembali"


Tami terdiam, dia menatap wajah suaminya di balik kaca spion yang ada di atasnya. Wajah Alvaro yang terlihat bersedih dan penuh dengan ketakutan. Trauma yang dia alami benar-benar nyata terlihat.


"Iya Sayang, aku tidak akan membantahmu lagi. Aku menuruti semua perkataanmu. Jika memang kamu tidak mau aku hamil lagi suatu saat nanti. Aku tidak papa, dan aku mau pasang kontrasepsi"


Tami tahu jika apa yang suaminya lakukan juga demi kebaikan dirinya. Alavro hanya takut jika kejadian kemarin akan terjadi lagi. Dimana istrinya harus mengalami koma pasca lahiran.


"Mau makan siang dulu?"


Tami mengerjap pelan, dia mendongak dan mencium pipi suaminya. "Ayo, makan siang di Restaurant saja. Sudah lama aku tidak memakan makanan di Slick Grind Resto"


"Bukan berarti kamu ingin bertemu dengan pelayan pria itu 'kan? Dia sudah aku pindahkan ke Slick Grind Resto cabang"


"Ya ampun Ssyang, kamu benar-benar serius memindahkan Kak Kemal ke Resto cabang?"


"Berhenti menyebut namanya Tami!"


Tami menghela nafas, suaminya ini memang masih menjadi sosok yang posesif padanya. "Iya Sayang, iya"

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2