
Jadi setelah istrinya selesai di pasang kontrasepsi. Maka Alvaro benar-benar sudah lebih tenang sekarang. Bukan berarti dia menolak rezeki dari Tuhan, tapi dia hanya tidak mau jika harus merasakan hal yang sama seperti saat Tami melahirkan si kembar.
Sebuah pengalaman yang tidak pernah terfikirkan oleh Alvaro jika dia akan menyaksikan bagaimana istrinya berjuang untuk bisa kembali sembuh seperti saat ini. Sadar dari komanya selama satu tahun lamanya. Dan hal itu telah membuat dirinya benar-benar merasakan trauma yang mendalam.
"Sayang, ayo makan malam. Aku sudah siapkan makan malam untuk makan malam kita hari ini"
Alvaro menoleh dan tersenyum pada istrinya itu. Berjalan mendekati Tami. "Sayang, apa anak-anak sudah tidur?"
Tami mengangguk, dia mengalungkan tangannya di leher suaminya. Menatap Alavaro dengan lekat. "Ya, si kembar telah tidur"
Alvaro tersenyum dengan kelakuan istrinya ini. Dia tahu jika istrinya tidak mungkin mau melakukan ini jika dia sedang dalam keadaan suci. Jelas saja hari ini meski Tami mencoba menggodanya pun percuma, karena dia yang sedang dalam keadaan tidak bisa disentuh olehnya.
"Sayang jangn mulai deh, kalau kamu tidak sedang datang bulan mana berani kamu melakukan ini" Karena tanpa digoda pun, aku akan tetap tergoda.
Cup..
Tami mengecup bibir suaminya, lalu dia segera pergi tanpa rasa bersalah apapun setelah dia telah membangunkn sisi lain dalam diri Alvaro.
"Sayang.."
Teriakan Alvaro yang seperti rengekan itu malah membuat Tami tertawa senang. Biarlah sekali-sekali dia yang menggoda suaminya, jangan Alvaro terus yang sering menggoda Tami dengan kata-kata mesumnya.
Alvaro menggeleng tidak percaya dengan kelakuan istrinya ini. Sungguh ekspresi Tami itu selalu menggemaskan dimata Alvaro.
Tami yang sedang membantu pelayan untuk menata makanan di atas meja, langsung terkejut ketika ada seseorang yang tiba-tiba memeluknya dari belakang dan menciumi leher bagian belakangnya.
"Sayang lepas ih, apaan si kamu ini. Malu sama ai Mbak" Tami merasa malu ketika pelayan yang ada disana terlihat menundukan wajahnya sambil menahan senyum.
"Kau berani menggodaku, kau fikir aku tidak bisa membalas perbuatan jahatmu itu" bisik Alvaro ditelinga Tami, membuat istrinya sedikit mengangkat bahunya karena merasa geli dengan bisikan suaminya.
Apa si dia ini, perbuatan apa emangnya yang aku lakukan sampai dia mengatakan jika dirinya melakukan perbuatan jahat padanya. Dasar aneh.
__ADS_1
Terkadang Tami sering merasa heran dengan suaminya itu. "Sayang lepas dulu ih, aku sedang menata makanan ini"
Alvaro benar-benar tidak melepaskan pelukannya. Dia terus mengikuti kemana Tami melangkah. Barulah setelah istrinya selesai menata makanan, Alvaro melepaskan pelukanngya. Duduk di kursi meja makan, dan sang istri yang langsung mengambilkan makanan untuknya. Makan malam bersama selalu menjadi hal yang tak pernah terlewatkan oleh sepasang suami istri ini. Karena mereka selalu mendahulukan kebersamaan agar keluarga mereka selalu harmonis sampai kapan pun.
"Sayang akhir pekan ini ayo kita pergi piknik bersama seperti keinginanmu itu"
Tami mendongak dan menatap suaminya dengan tersenyum senang. "Benarkah? Bagaiimana kalau kita ajak Ayah, Ibu dan Tante juga"
Alvaro mengangguk setuju, dia hanya ingin membahagiakan istrinya. Karena dia tahu jika istrinya selalu merasa bahagia dengan hal yang sederhana.
" Nanti biar aku hubungi Tante, dan kamu hubungi Ayah dan Ibu juga"
Tami mengangguk sebagai jawaban, lalu mereka melanjutkan makan malam mereka dengan tenang.
...💫💫💫💫💫💫💫💫...
Pagi ini Alvaro terbangun lebih awal dari istrinya. Dia tersenyum melihat istrinya yang masih terlelap dengan tenang. Alvaro mengelus kepala Tami dengan lembut. Sungguh dia begidtu menyayangi istrinya ini. Tami adalah sumber kebahagiaan untu Alvaro, tidak terfikir jika dia kehiilangan Tami. Entah apa yang akan dia lakukan dalam hiddupnya ini.
Alvaro mencium kening istrinya dengan lembut. "Aku mencintaimu, Sayang. Jangan pernah meninggalkan aku dalam hal apapun'
Alvaro membenarkan selimut yang menutupi tuabuh istrinya. Lalu dia segera turun dari atas tempat tidur. Berjalan menuju ruang ganti.
Tami menggeliat pelan dibawah gelungang selimut tebal yang menutupi tubuhnya. Dia melirik tempat tidur disampingnya dan baru menyadari jika suaminya telah tidak ada disana.
"Tumben Mas Alvaro sudah bangun jam segini biasanya dia selau sulit untuk dibangunkan"
Tami turun dari atas tempat tidur dan berjalan ke arah ruang ganti, dia mendengar suara gemercik air dikamar mandi. "Dia masih mandi ternyata"
Tami segera berjalan menuju lemari pakaian dan menyiapkan pakaian untuk suaminya. Sampai ketika dia masih menyiapkan pakaian untuk suaminya, tiba-tiba Alvaro memeluknya dari belakang.
"Sayang, basah ih"
__ADS_1
"Biarin, lagian kamu juga belum mandi"
Tami berbalik dan memberikan pakaian ganti yang dia siapkan untuk suaminya itu pada Alvaro. "Nih baju ganti untuk kmu. Sekarang aku mau mandi dulu"
Tami berlalu dari hadapan Alvaro dan berjalan menuju kamar mandi. Namun seblum dia sampai di depan pintu kamar mandi, teriakan suaminya membuat Tami menghentikan langkah kakinya sejenak.
"Sayang apa kamu tidak mau mandi bersama denganku"
Tami memuatar bola mata malas, tanpa menghiarukan ucapan suaminya, dia langsung masuk ke dalam kamar mandi. Hal itu membuat Alvaro terkekeh lucu dengan kelakuan istrinya yang selalu membuatnya gemas dengan sikap Tami.
Selesai mandi dan berganti pakaian, Tami segera keluar dari ruang ganti. Suaminya sudah tidak ada disana. Mungkin dia turun ke bawah menemui anak-anak. Gumamnya. Tami pun segera keluar dari kamar menuju lantai bawah. Ketika dia sampai di lantai bawah, Tami melihat suaminya yang sedang bermain dengan kedua anaknya. Tami tersenyum melihat itu.
Alvaro menoleh dan tersenyum pada istrinya. "Sayang sini, kita main sama si kembar"
"Kamu saja dulu, aku mau siapkan sarapan dulu"
"Baikah kalau begitu"
Tami langsung berlalu ke dapur dan menyiapkan sarapan. Sementara Alvaro kembali bermain dengan si kembar. Melihat perkembangan anak-anaknya yang semakin hari semakin banyak kemajuan. Bahkan si kembar sudah bisa berjalan dengan cukup baik.
Akhirnya semuanya bisa terlewati dengan baik oleh Alvaro. Bagaimana begitu banyak cobaan dalam kisah cinta mereka, hingga saat ini mereka telah sampai di puncak kebahagiaan setelah kehadiran si kembar dan juga Tami yang telah sehat kembali sekarang.
Setelah sarapan, Alvaro langsung pergi menuju Restaurantnya. Hari ini adalah akhir bulan, jadi akan banyak laporan yang harus Alvaro periksa. Agar akhir pekan ini dia bisa bersantai untuk bisa mengajak istri dan anak-anaknya piknik, sesuai dengan rencana mereka.
Tok..tok..
"Permisi Tuan, dibawah ada Nona Weny yang memaksa ingin keruangan Tuan. Tapi saya mencoba melarangnya, karena itu adalah perintah Tuan waktu itu"
Alvaro menghe nafas pelan, dia merasa heran kenapa sampai saat ini Weny masih saja menemuinya, padahal jelas dia tahu sendiri jika Alvaro sudah mempunyai seorang istri.
"Suruh saja dia masuk, saya ingin tahu apa yang akan dia bicarakan"
__ADS_1
Bersambung