
Seolah waktu berjalan sangat cepat bagi Tami yang tidak tahu kapan semua ini akan berakhir. Tentang pernikahan tanpa cinta yang dia jalani sekarang. Dua bulan sudah dia menjalani kehidupan pernikahan yang sebenarnya membuat dia bahagia.
Setiap perhatian yang di berikan Alvaro padanya selalu menunjukan ketulusan. Tapi, sampai saat ini Tami masih ragu untuk bisa membuka hati untuk pria itu. Apalagi sejak pertemuannya dengan Evelin di kampus waktu itu, membuat Tami ragu. Dia ingin bertanya tentang wanita itu pada suaminya. Tapi Tami tidak memiliki banyak keberanian.
Entah harus bagaimana Tami menafsirkan perasaan Alvaro padanya. Semua perhatian dan apa yang dia lakukan selalu terlihat sangat tulus. Bahkan tidak jarang Tami merasa sangat dicintai oleh suaminya. Namun, sampai saat ini dia tidak benar-benar tahu perasaan suaminya padanya yang sebenarnya.
"Aku tidak tahu harus berbuat apa sekarang? Hati ini bisa saja luluh cepat atau lambat, tapi aku masih takut akan tercampakkan setelah semuanya benar-benar berakhir"
Jujur, Tami nyaman dengan pernikahannya. Dan rasa nyaman itu yang membuat dia semakin takut untuk memulai dan membuka hatinya.
"Sayang, kemeja aku yang biru dimana ya?"
Tami yang sedang menata makanan di atas meja langsung menoleh ke arah suaminya. "Kemeja? Memangnya kamu mau kemana malam-malam begini?"
Entahlah, ada rasa tidak suka saat suaminya pergi di saat Tami berada di rumah. Tami tetap sosok seorang istri yang menginginkan suaminya berada di rumah saat dia juga berada di rumah. Tami juga menginginkan waktu bersama suaminya.
"Aku ada urusan sebentar sama temanku gak lama kok"
Tami melirik masakan yang telah dia siapkan untuk makan malam bersama Alvaro. "Tapi aku sudah masak untuk makan malam, apa kamu tidak mau makan dulu di rumah?"
"Gak bisa Sayang, waktu sudah sangat mepet. Kamu makan saja sendiri"
Mendengar penolakan suaminya, entah kenapa hati Tami terasa nyeri. Karena selama ini Alvaro tidak pernah menolak makanan yang dia buat. "Yasudah, biar aku ambilkan dulu kemejanya"
Tami berlalu mendahului Alvaro ke kamar mereka. Masuk ke dalam ruang ganti dan mengambilkan kemeja yang di tanyakan suaminya barusan. Alvaro ikut masuk ke ruang ganti, dia sudah memakai celana jeans dan kaos oblong berwarna hitam.
"Yang ini?" Tami menunjukan satu kemeja berwarna biru tua pada suaminya.
"Iya benar, kok tadi aku cari-cari tidak ada" Alvaro berjalan mendekati istrinya dan mengambil kemeja di tangan istrinya.
__ADS_1
"Kamu carinya gak teliti si, padahal semua kemeja kamu ada di lemari"
Alvaro hanya terkekeh, dia mengecup bibir Tami dengan tiba-tiba. Tentu saja membuat istrinya terkejut. "Aku tidak tahu jika tidak ada kamu dalam hidupku, bisa apa aku ini"
Tami tertawa mendengar gombalan receh dari suaminya. Tidak biasanya Alvaro bergombal seperti itu pada Tami. Dan entah kenapa seketika muncul kecurigaan dalam hati Tami.
"Sayang, sebenarnya kamu mau kemana?"
Alvaro yang sedang memakai kemejanya menoleh sekilas pada istrinya. "Bertemu teman, memangnya kenapa?"
Aku tidak suka mau kau pergi, aku ingin kamu berada disini bersamaku. Kalimat itu hanya tertahan di tenggorokannya, nyatanya Tami tidak bisa mengungkapkan apa yang ada di fikirannya. "Tidak papa, aku hanya bertanya saja. Pulangnya jangan terlalu malam ya"
Alvaro tersenyum, dia berbalik dan memeluk istrinya. Mencium keningnya. "Iya Sayangku, kamu baik-baik ya di rumah. Jangan lupa makan malam. Aku hanya sebentar kok"
"Iya"
Setelah suaminya pergi, Tami kembali ke meja makan. Menatap sedih makanan yang tertata di atas meja. Duduk di salah satu kursi meja makan, Tami mengambil makanan untuk dirinya. Memakannya dengan perlahan, meski dia merasa tidak nyaman saat makan sendiri.
Sebenarnya kemana ya Tuan Alvaro? Tidak biasanya pergi malam-malam begini.
Tami masih saja memikirka tentang suaminya yang pergi malam ini. Ada rasa tidak tenang dalam dirinya. Hingga suara notifikasi pesan di ponselnya mengalihkan Tami dari setiap pemikirannya tentang suaminya. Tami meraih ponselnya di atas nakas, membuka pesan yang dia sendiri tidak tahu dari siapa.
Hai Tami, suamimu ada disini sekarang. Bersamaku. Dia mabuk berat, kami akan ke hotel sekarang.
Tami terdiam membaca pesan yang masuk ke ponselnya itu. Ting.. suara notifikasi kembali terdengar, masih dari nomor yang sama. Dia mengirimkan sebuah foto. Dimana di foto itu terlihat Alvaro yang terlelap dalam pelukan seorang wanita. Meski tubuhnya tertutup selimut, tapi Tami jelas melihat bahu mereka yang polos. Itu artinya keduanya tidur dengan keadaan tubuh yang polos tanpa busana.
Ada rasa sesak di dada Tami ketika melihat itu. Dia juga melihat penampilan Alvaro yang sedikit berbeda di dalam foto itu. Saat Tami menghubungi nomor telepon itu, tapi nomornya sudah tidak bisa dia hubungi. Tami juga mencoba menelepon nomor suaminya. Dan tidak teleponnya tidak di jawab oleh Alvaro.
Tami melihat kembali foto itu, dan wajah wanita itu membuat Tami mengingat seseorang. Bukankah ini wanita bernama Evelin?
__ADS_1
Semakin sesak saja dada Tami, sampai dia tidak bisa menahan air matanya yang meluncur begitu saja di pipinya. Dia tetap seorang istri yang tidak akan rela melihat suaminya mendua dengan wanita lain. Meski posisi pernikahan mereka memang belum jelas akan seperti apa ke depannya.
"Jadi wanita bernama Evelin itu memang ada hubungan dengan suamiku. Pantas saja mereka saling mengenal, dan wajah Tuan Alvaro saat kita bertemu di pesta terlihat begitu tegang"
Tami menangis sampai dia terlelap dengan sendirinya.
...💫💫💫💫💫💫💫💫...
Hari hampir larut, Alvaro baru sampai ke rumah. Ternyata memang berkumpul bersama teman-temannya membuat dia sedikit lupa diri. Alvaro bisa sedikit menghilangkan kepenatan dalam hidupnya.
Dia melihat istrinya sudah terlelap di atas tempat tidur. Meringkuk kedinginan tanpa memakai selimut. Alvaro segera mendekat ke tempat tidur, menarik selimut untuk menutupi tubuh Tami. Memberikan kecupan hangat di pipi istrinya.
"Selamat tidur Sayang, maaf aku pulang telat" lirihnya, sebelum dia berlalu ke kamar mandi.
Setelah bersih-bersih dan berganti pakaian, Alvaro segera tidur dengan memeluk hangat tubuh istrinya.
Dan pagi ini dia terbangun tanpa mendapati keberadaan istrinya lagi. Padahal saat dia menetap jendela kamar, masih pagi buta. Sisa embun pagi masih menempel di jendela kamar.
"Sayang..." Alvaro berteriak tanpa berniat bangun, dia yakin jika Tami sedang di kamar mandi. Namun beberapa menit berlalu, dia tetap tidak melihat istrinya keluar dari ruang ganti. Bahkan panggilannya barusan tidak mendapat jawaban.
Akhirnya Alvaro bangun dan mencari Tami di ruang ganti dan kamar mandi. Memang istrinya tidak ada disana. Akhirnya Alvaro mencarinya ke lantai bawah, berjalan menuju dapur karena biasanya Tami akan berkutat di dapur untuk menyiapkan sarapan. Namun, dia tidak menemukannya.
"Sayang..."
Alvaro terus memanggil istrinya sambil berkeliling rumah. Namun tetap tidak menemukan keberadaan Istrinya. Alvaro mulai panik, dia takut jika Tami meninggalkannya. Dia berlari untuk kembali naik ke lantai atas. Masuk ke dalam kamar dan mengambil ponselnya. Alvaro langsung menghubungi Tami.
Alvaro berjalan mondar-mandir dengan ponsel yang menempel di telinganya. "Angkat Tami, kamu kemana si?"
Dan sampai panggilan ke tiga, Tami tetap tidak mengangkat telepon dari Alvaro.
__ADS_1
Bersambung