
Tami menatap suaminya yang masih terlelap. Pagi ini dia terbangun lebih awal, dia mengelus kepala suaminya lalu memeberikan kecupan di kening pria itu. Tami turun dari atas tempat tidur, sedikit membenarkan selimut yang menutupi tubuh suaminya. Lalu dia berjalan menuju ruang ganti. Mandi dan berganti pakaian.
Tami turun ke lantai bawah dan melihat Clarissa yang sedang sibuk mengumpulkan barang-barang yang akan dia bawa pulang hari ini.
"Hai Tami, selamat pagi"
Tami tersenyum dan berjalan mendekat ke arah Clarissa. "Pagi Dok, apa semuanya sudah dibereskan?"
Clarissa mengangguk sambil menatap semua barang-barang yang ada di depannya. Takutnya ada yang dia lupa. "Oh ya Tami, aku mau minta izin bawa foto si kembar yang ini ya. Boleh ya, sebagai kenang-kenangan"
Tami menatap selembar foto yang di tunjukan oleh Clarissa. Foto si kembar saat belum berusia satu tahun. Keduanya terlihat sangat menggemaskan dengan baju yang warnanya senada.
"Iya boleh kok, lagian selama ini Dokter juga sudah membantu untuk merawat si kembar selama aku koma"
Clarissa tersenyum, dia menghampiri Tami lalu memeluknya dengan erat. Jujur saja berada di rumah ini selama satu tahun, membuat Clarissa menemukan banyak hal positif. Bagaimana Clarissa melihat cinta sejati yang benar-benar ada. Sempat tidak percaya dengan cinta karena dirinya yang mengalami hal buruk dalam hidupnya. Namun, saat ini Clarissa merasa yakin jika dia akan menemukan cinta sejatinya juga.
"Terima kasih untuk semuanya ya Tami, kapan-kapan main ke tempatku dan ajak si kembar juga"
Tami menepuk pelan punggung Clarissa. "Harusnya aku yang mengucapkan terima kasih. Karena berkat Dokter, aku bisa kembali sembuh dan bisa berkumpul kembali dengan anak dan suamiku. Terima kasih banyak ya Dokter"
"Tami, bisa tidak kalau kamu tidak memanggilku dengan iming-iming Dokter. Aku merasa kamu masih menjaga jarak denganku. Padahal aku ingin berteman denganmu, kamu 'kan juga istri dari teman kuliah aku dulu"
Tami tersenyum, dia melerai pelukannya. Memegang lengan Clarissa dengan lembut. "Aku hanya sungkan saja, takutnya Kakak merasa tidak nyaman dengan panggilan itu"
"Ihh, aku senang sekali kamu memanggilku seperti itu. Jujur saja aku ingin kenal lebih dekat dengan kamu"
"Iya Kak, setelah ini kita adalah teman. Kakak bisa cerita apa saja padaku"
Clarissa tersenyum, dia kembali memeluk Tami sekilas. "Do'akan hidup aku akan baik-baik saja disana ya. Karena aku datang kesini, selain untuk membantu Alvaro. Tapi aku juga menghindari mantan pacarku yang terus mengejarku"
Tami terdiam, ini baru pertama kalinya Clarissa bercerita tentang kehidupan pribadinya. Namun, Tami jelas melihat wajah sendu ketika Clarissa membahas tentang mantan pacarnya itu.
__ADS_1
"Apa Kakak masih mencintainya?"
Clarissa menatap Tami, dia tersenyum. "Entahlah. Tapi pacaran selama 2 tahun, tidak mudah untuk aku melupakannya. Namun, dia ketahuan selingkuh dengan temanku sendiri. Lalu aku harus bagaimana? Sekarang dia kembali mengejar aku"
"Jawabannya ada disini Kak..." Tami menyentuh dada Clarissa. "...Tanyakan pada hati Kakak, apa cinta itu masih ada atau sudah hilang. Apa Kakak mau menerima pangkhianatan yang pernah dia lakukan pada Kakak dan memulai kembali setelah yakin dia benar-benar sudah berubah. Tapi, jika tidak. Maka tetap ikuti kata hati Kakak"
Clarissa mengangguk, dia merasa menemukan pencerahan setelah bercerita pada Tami. Menyesal karena tidak sejak dulu dia bercerita tentang semuanya pada Tami. Karena meski umur Tami jauh di bawahnya, tapi dia memiliki fikiran yang lebih dewasa.
"Terima kasih ya Tami"
"Iya Kak"
Alvaro datang menghampiri mereka dengan bingung karena melihat kedua wanita di depannya ini yang terlihat akur dan asyik mengobrol.
"Cla, kamu berangkat jam berapa?"
Clarissa menatap arloji yang melingkar di tangannya. "Emm. Satu jam lagi"
Clarissa mengangguk, mereka berjalan menuju ruang makan. Sarapan pagi ini telah disiapkan oleh pelayan di rumah ini. Semuanya menikmati sarapan dengan tenang.
Sampai waktunya Clarissa pergi, Alvaro dan Tami mengantarnya ke bandara. Clarissa memeluk Tami sebagai perpisahan terakhir dengan pasien yang dia rawat selama satu tahun ini.
"Ingat Mi, obatnya masih harus rutin diminum. Terus kamu juga belum boleh berjalan terlalu jauh. Dan masih harus cek up ke rumah sakit ya. Karena aku sudah tidak bis memeriksa keadaanmu"
"Iya Kak, terima kasih untuk semuanya ya"
Clarissa mengangguk, lalu dia beralih menatap Alvaro. Mengingat kejahilan yang dia lakukan pada Alvaro, membuat Clarissa ingin tertawa sendiri.
"Dan untuk kamu Al, sebenarnya kamu sudah bisa melakukannya sejak bulan lalu. Haha"
Clarissa segera pergi dari hadapan Alvaro dengan tawanya yang pecah. Melambaikan tangannya pada Tami, yang membalas lambaian tangannya dengan wajah bingung.
__ADS_1
Sementara Alvaro menatap Clarissa dengan tatapan penuh permusuhan. Dia benar-benar merasa sangat dibodohi oleh Clarissa. Padahal Alvaro sudah benar-benar menahannya untuk tidak menyentuh istrinya. Padahal dia sangat menginginkannya.
"Sayang, ayo pulang. Kak Rissa juga sudah masuk ke dalam. Kamu kenapa?" Tami memegang lengan suaminya dan merasa heran dengan Alvaro yang terlihat kesal. Padahal Tami tidak merasa telah melakukan kesalahan apapun yang membuat suaminya itu kesal.
"Tidak papa, ayo kita pulang sekarang"
Alvaro merangkul istrinya dan berjalan menuju parkiran. Membukakan pintu mobil untuk Tami dan dia pun segera menyusul masuk ke dalam mobilnya.
Tami merasa semakin bingung ketika melihat wajah suaminya yang masih terlihat kesal. Padahal dia tidak melakukan apapun yang membuatnya kesal.
"Sayang, kamu kenapa? Kok wajah kamu terlihat kesal begitu. Apa aku membuat kamu kesal?"
Alvaro menoleh sekilas pada istrinya itu. Dia menghela nafas panjang, untuk sedikit menghilangkan rasa kesal di hatinya. "Sayang, aku tidak kesal denganmu. Tapi aku kesal dengan Clarissa"
Tami mengerutkan keningnya bingung. "Kenapa? Kenapa kesal dengannya? Atau kamu kesal karena dia pergi, jadi gak bisa ketemu lagi dengannya. Gitu?"
Loh kenapa istriku yang jadi balik kesal padaku?
"Enggak Sayang, bukan begitu maksud aku"
"Ya terus apa? Jelas sekali kamu kesal karena Kak Rissa yang kembali ke negaranya dan kamu tidak bisa lagi melihatnya dan bertemu dengannya. Kamu benar-benar ada perasaan ya sama dia?"
Alvaro mulai bingung menjelaskannya karena Tami yang sudah terlihat sangat kesal padanya. "Sayang, bukan begitu. Clarissa itu memang menyebalkah, aku sudah pernah bertanya padanya bulan lalu tentang apa aku bisa melakukannya lagi denganmu. Tapi dia menjawabnya tidak bisa dan aku harus bersabar sampai dua bulan lagi. Nah tadi dia baru bilang kalau sebenarnya aku sudah bisa melakukannya sejak bulan kemarin. Bagaimana aku tidak kesal coba?"
Seketika wajah Tami terasa panas saat mendengar ucapan Alvaro barusan. Bagaimana bisa suaminya itu tidak merasa malu menanyakan hal itu pada Clarissa yang statusnya belum menikah.
"Sayang kamu ngapain juga menanyakan soal begituan. Apa tidak malu?"
"Loh kenapa malu? Kan wajar saja kalau aku menanyakannya. Karena aku memang sudah sangat merindukan pergulatan kita di atas ranjang Sayang"
Semakin memerahlah wajah Tami mendengar itu. Suaminya benar-benar ya.
__ADS_1
Bersambung