
Ketika semuanya terjadi karena cinta dan ketulusan. Maka tidak akan ada yang tidak mungkin atas setiap do'a yang terucap dari orang yang mencintai dan saling mencintai. Alvaro benar-benar merasa sangat bersyukur ketika semua do'a yang dia ucapkan terkabul. Kini istrinya telah bangun dari tidur panjangnya.
Alvaro tersenyum melihat Tami yang begitu bahagia saat bisa memangku anaknya. Alma berada dalam pangkuan Tami, sementara Alvaro menjaga Alqi yang sepertinya juga mulai iri dengan adiknya. Alqi juga ingin di gendong oleh Ibunya, bahkan dia merangkak naik ke atas kaki Tami yang berselonjor di atas tempat tidur.
"Ya ampun sayang, sebentar. Mama akan menggendong kamu juga" Tami menurunkan Alma di sampingnya, lalu beralih memangku Alqi. Mencium pipi anak laki-lakinya itu dengan lembut.
"Kalian sehat selalu ya, Mama senang bisa melihat kalian tumbuh sehat"
"Iya, tapi Mama juga harus segera sehat agar bisa menggendong kita berdua" kata Alvaro, menggantikan kedua anaknya untuk menyerukan suara hati mereka.
Tami tersenyum, dia menatap suaminya dengan lembut. "Sayang, terima kasih karena sudah menjaga anak-anak kita dengan baik"
"Sebenarnya bukan hanya aku yang menjaga si kembar. Tapi juga Tante dan Ibu"
Tami tersenyum, dia mengelus kepala Almi yang duduk di sampingnya. "Beruntung sekali karena kalian memiliki Nenek yang baik"
"Sudah ya Alma, Alqi sekarang kita biarkan Mama istirahat"
Tami langsung menatap suaminya dengan cemberut. "Sayang, aku masih ingin bersama mereka. Jangan dulu di bawa"
Alvaro mengelus kepala istrinya dengan lembut. "Nanti kalau kamu sudah benar-benar sembuh, kamu akan bisa mempunyai waktu lebih lama dengan mereka. Sekarang 'kan kamu masih harus banyak istirahat"
Tami menghela nafas dengan mencebikan bibirnya. "Kenapa juga mereka tidak tidur disini saja bersama kita. Tempat tidur ini muat kok untuk kita berempat"
"Sayang, Alma dan Alqi tidurnya sudah mulai tidak mau diam. Takutnya mereka akan menyakitimu"
"Sayang, apaan si. Gak mungkin mereka sampai menyakitiku. Ya, biarkan saja mereka tidur disini. Aku benar-benar masih merindukannya"
Alvaro tetap menggeleng, meski Tami sudah menunjukan wajah memelasnya. "Nanti kalau kamu sudah benar-benar sembuh, mereka bisa tidur disini"
Tami cemberut, kesal dengan suaminya yang benar-benar tidak membiarkan Alma dan Alqi tidur di kamar mereka.
"Yaudah, aku bawa dulu si kembar ke bawah ya. Sudah ada Tante di bawah yang akan menjaga si kembar"
Tami benar-benar tidak bisa melakukan apa-apa ketika suaminya tetap membawa kedua anaknya keluar dari kamar. Alma dan Alqi yang seolah merasakan apa yang Ibunya rasakan, hanya menatap ke arah Tami dengan tangan mereka yang melambai ke arah Tami.
Beberapa saat kemudian, Alvaro kembali masuk ke dalam kamar. Tami masih saja cemberut karena kedua anaknya yang di bawa oleh Alvaro dan tidak di izinkan oleh suaminya untuk tidur di kamarnya.
__ADS_1
"Sayang, jangan cemberut terus dong. Kan nanti bisa main lagi dengan mereka"
Alvaro naik ke atas tempat tidur dan memeluk istrinya dengan lembut. "Nanti kalau kamu sudah benar-benar sembuh, aku akan mengajak kalian pergi untuk jalan-jalan"
Tami menghembuskan nafas pelan, dia merasa senang mendengar ucapan suaminya. Tapi, Tami benar-benar harus sembuh dulu. Dia harus benar-benar sembuh dan bisa menjaga kedua anaknya.
"Sayang, aku besok terapi dengan siapa?"
"Clarissa, dia masih disini"
"Apa dia itu mantan kamu?"
Alvaro melerai pelukannya, menatap ke arah Tami dengan tersenyum manis. "Tentu saja bukan, kenapa? Apa kamu cemburu dengannya?"
Tami tidak menjawab, dia hanya menurunkan tubuhnya dengan perlahan untuk tidur berbaring di atas tempat tidur. Melihat itu, Alvaro segera membantunya.
"Kalau cemburu juga tidak papa. Aku senang melihat kau cemburu" Bisik Alvaro di telinga Tami lalu dia mencium pipi istrinya itu.
Tami tidak menjawab, dia hanya pura-pura memejamkan matanya. Dan Alvaro tertawa melihat itu. Merasa sangat lucu ketika melihat istrinya yang berpura-pura tidur karena tidak ingin dia mengakui dirinya sedang cemburu.
...💫💫💫💫💫💫💫💫...
Pagi yang cerah, sinar matahari masih terasa hangat di tubuh. Di taman belakang, Tami sedang berusaha keras untuk belajar berjalan dengan Clarissa yang mendampinginya.
"Ayo Tami, berusaha lagi. Melangkah dengan pelan saja"
Tami memegang erat tongkat walker, dan mulai melangkahkan kakinya yang benar-benar terasa sangat berat. Namun, dia bisa melangkah sampai tiga langkah meski terasa sangat susah.
"Bisa Sayang, aku yakin kamu pasti bisa melakukannya"
Tami menghembuskan nafas pelan, sebelum dia kembali mencoba melangkahkan kakinya untuk bisa sampai pada suaminya yang menunggunya di jarak beberapa meter darinya.
Tami terus berusaha sampai dia benar-benar sampai pada suaminya. Alvaro segera menahan tubuh Tami yang lelah, yang hampir saja akan ambruk ke atas tanah.
"Capek ya, tapi kamu benar-benar telah berjuang Sayang"
Alvaro langsung menggendong Tami dan membawanya masuk ke dalam rumah. Mendudukan tubuh istrinya di atas sofa di ruang tengah. Tami tersenyum ketika melihat kedua anaknya yang sedang bermain di atas karpet berbulu di depan televisi yang menayangkan acara kartun anak-anak. Rasa lelahnya seolah hilang begitu saja ketika melihat keceriaan di wajah kedua anaknya.
__ADS_1
Mama akan segera pulih agar bisa menggendong kalian berdua.
Alvaro menyodorkan segelas air putih pada Tami. "Minumlah, kamu pasti lelah setelah berusaha berjalan barusan"
Tami tersenyum, dia mengambil gelas itu dan segera meminumnya. Dia memang merasa sangat lelah. Namun, dia tidak merasa putus asa karena dia sudah benar-benar berusaha sebisa mungkin.
"Terima kasih" Tami menyerahkan kembali gelas yang sudah kosong pada suaminya.
Alvaro menyimpan gelas kosong itu di atas meja, lalu dia meraih kepala Tami untuk bersandar di dadanya. Alvaro mencium kening istrinya dengan lembut.
"Kamu hebat, sudah berjuang sampai keringetan begini"
"Aku ingin segera bisa berjalan dan sembuh"
"Iya Sayang, sabar ya. Semuanya pasti butuh proses"
Clarissa masuk setelah dia melatih Tami untuk terapi berjalan. Dia menghampiri sepasang suami istri yang sedang berpelukan di atas sofa itu.
"Besok kita berhenti dulu berlatihnya ya"
Tami langsung menoleh pada Clarissa yang berdiri di depan mereka. "Kenapa? Aku ingin segera bisa berjalan normal lagi"
"Iya, aku mengerti. Tapi, tidak bisa terlalu di paksa Tami. Kalau kamu melakukan terapi berjalan setiap hari, takutnya tubuh kamu malah jadi kelelahan dan itu tidak baik juga untuk kesehatanmu"
"Iya Sayang, kamu harus menurut apa kata Clarissa. Semuanya pasti yang terbaik untuk kamu"
Akhirnya Tami tidak membantah apapun. Dia hanya menurut saja apa kata Clarissa. Alvaro menggendong Tami dan membawanya kembali ke kamar.
"Sayang aku mau mandi, gerah sekali"
"Iya, sebentar ya biar aku siapkan dulu airnya"
Alvaro mendudukan Tami di atas tempat tidur. Lalu dia berlalu ke kamar mandi untuk menyiapkan perlengkapan mandi istrinya.
Sebenarnya ada keberuntungan tersendiri bagi Alvaro. Sejak Tami bangun dari koma, maka ketika dia memandikan istrinya dia juga ikut mandi. Mandi bersama yang selalu dia inginkan, kini terjadi hampir setiap hari.
Bersambung
__ADS_1