My Sweet Girl

My Sweet Girl
Istriku Pasti Kuat


__ADS_3

Lampu ruangan operasi bersinar terang. Tami sudah mulai memejamkan matanya dengan perlahan seiring obat bius yang mulai bereaksi pada tubuhnya. Rega menemani operasi istrinya, dia menunggu Tami dengan perasaan yang cemas. Rega terus mengecup puncak kepala istrinya.


"Kamu kuat Sayang, kamu hebat" bisiknya, meski sadar jika Tami sudah tidak sadarkan diri karena pengaruh obat bius.


Dokter mulai melakukan tugasnya, memulai operasi hingga tangisan pertama anak yang lahi terdengar menggema di ruangan itu. Rega mengucap syukur, ketika anak pertamanya sudah terlahir. Dan untuk anak kedua yang lahir, tidak terdengar suara tangisan. Rega melihat para dokter yang panik.


"Ada apa?"


"Sepertinya bayi ini keracunan air ketuban yang sudah keruh"


Seorang perawat segera membawa bayi kedua keluar ruangan untuk segera di tindak di ruang terpisah.


"Bayi yang lahir pertama adalah laki-laki, dan yang lahir kedua adalah seorang putri"


Rega tersenyum dengan mata berkaca-kaca penuh haru. Menatap bayi laki-laki yang sedang di bersihkan oleh perawat. Dia mengecup kening istrinya, dengan air mata haru yang menetes di kening istrinya.


"Terima kasih sudah memberikan aku dua malaikat kecil itu"


"Dok, gawat.. Pasien mengalami pendarahan hebat"


Deg..


Seketika tubuh Alvaro lemas mendengar itu, melihat dokter dan perawat yang panik dengan keadaaan Tami. "Sayang, kamu kuat Sayang"


Tubuh Tami mulai kejang-kejang dengan sangat kuat. Alvaro memeluk dada istrinya yang terus terangkat ke atas. "Sayang, aku mohon jangan tinggalkan aku. Sayang, kamu harus bertahan demi aku dan anak-anak kita"


Titttttt.......


Monitor yang mendeteksi detak jantung Tami berbunyi begitu nyaring. Tubuh Rega benar-benar lemas mendengarnya. Dia berdiri dan melangkah mundur dengan air mata yang menetes di pipinya. Dia melihat jelas bagaimana dokter mencoba memompa jantung Tami agar kembali berdetak.


"Sayang, aku mohon bertahanlah"


"Tekanan darah pasien meninggi, pendarahan tidak berhenti Dok"


Dokter segera mengambil alat kejut jantung untuk mengembalikan detak jantung Tami.  Keringat mulai membasahi kening Dokter dan para perawat. Alavro merasa penglihatannya mulai berputar. Dia tidak bisa melihat istrinya seperti itu. Akvaro tidak akan siap jika Tami pergi meninggalkan dirinya untuk selamanya.


"Catat jam kematiannya, kita sudah berusaha semaksimal mungkin"

__ADS_1


Brukk...


Tubuh Alvaro ambruk ke atas lantai setelah dia mendengar kabar yang tidak pernah ingin dia dengar. Kedua matanya terutup seiring, kain yang di tarik untuk menutupi wajah istrinya.


Tami, Sayang jangan tinggalkan aku.


...💫💫💫💫💫💫💫💫...


Kelopak mata itu mengerjap pelan, menyesuaikan cahaya yang masuk ke dalam kornea matanya. Sampai benar-benar terbuka dan melihat sahabatnya yang berdiri disana. Menatap ke arahnya.


"Al, syukurlah kau suda sadar"


"Dimana aku?"


"Kau sedang berada di ruang perawatan, tadi kamu pingsan saat menemani istrimu menjalani operasi"


Medengar itu seketika Alvaro langsung bangun, meski kepalanya masih twrasa sakit. "Dimana Tami? Bagaimana keadaan istriku? Dia baik-baik saja 'kan?"


"Al..." Rega menepuk bahu sahabatnya dengan pelan. "...Kau harus lebih sabar lagi ya"


"Tidak! Istriku pasti kuat, dia selamat 'kan? Dia pasti selamat"


"Tami koma Al"


Deg..


Alvaro tersenyum dengan air mata yang mengalir di pipinya yang segera dia usap dengan kasar. "Aku yakin dia bisa bertahan"


Kejadian setelah Rega pingsan adalah suara monitor yang mendeteksi detak jantung Tami tiba-tiba kembali berbunyi dengan beraturan. Dokter dan para perawat saling menatap, lalu mereka menghela nafas lega. Meski sebenarnya keadaan Tami belum bisa dibilang akan baik-baik saja.


"Dimana anakku Ga?"


"Mereka masih di ingcubator, beruntung gadis kecilmu juga selamat"


Alvaro mengusap wajahnya dengan kedua tangannya. Mengucap syukur yang sangat ketika anak dan istrinya selamat. Meski mungkin keadaan Tami saat ini tidak bisa dibilang baik-baik saja.


"Aku ingin melihat anakku Ga"

__ADS_1


"Baiklah, ayo biar aku antar"


Rega memabawa Alvaro melihat bayinya di ruang bayi. Dia masih tidak bisa masuk dan menggendong secara langsung anak-anaknya. Alvaro hanya melihat dari kaca jendela saja. Melihat bagaimana kedua bayinya berada di dalam ingcubator dengan selang oksigen di hidungnya.


"Anak-anak Papa, do'akan Mama kalian segera bangun dan bisa menggendong kalian ya"


Rega menepuk bahu Alvaro, rasanya dia tidak pernah melihat sahabatnya sampai serapuh ini. Ternyata memang benar, seorang pria akan hancur ketika melihat wanita yang dicintainya terluka. Apalagi sekarang keadaan Tami masih belum bisa di kabarkan baik-baik saja.


"Aku ingin bertemu istriku Ga"


"Tami masih berada di ruang ICU, ayo kita kesana. Disana ada beberapa orang yang menunggu Tami"


Alvaro mengangguk, dia melangkah gontai mengikuti Rega. Rasanya tubuhnya benar-benar lelah, dia tidak siap melihat keadaan Tami saat ini. Dari kejauhan, Alvaro melihat keluarganya yang duduk di depan ruang tunggu. Terlihat sekali wajah-wajah sedih dari mereka.


"Tante.."


Tante menoleh, dia berdiri dan langsung memeluk keponakannya itu. "Al anak kuat, kamu harus lebih kuat untuk menguatkan istrimu"


Kejadian ini mengingatkan Tante pada saat kelahiran Alvaro dan Alvino. Saat itu, Kakak iparnya juga mengalami hal yang sama dengan Tami.


"Aku ingin melihat istriku"


"Masuklah, hanya boleh satu orang yang masuk menjenguk Tami untuk saat ini" kata Ayah, jelas sekali tatapan mata Ayah yang begitu sayu dan penuh dengan kesedihan.


Alvaro mengangguk, dia berjalan masuk ke dalam ruangan itu. Memakai baju kesehatan yang memang harus dia pakai ketika masuk ke ruangan istrinya ini. Langkah kaki Alvaro mulai terasa lemas, ketika dia mulai dekat dengan ranjang yang di tempati oleh istrinya. Melihat dengan jelas bagaimana keadaan istrinya yang sangat mengkhawatirkan.


Beberapa selang kesehatan yang terpasang di tubuhnya. Alat oksigen yang juga terpasang di hidungnya. Alvaro menarik kursi di samping raniang pasien, lalu duduk disana. Meraih tangan istrinya yang tak terpasang infus. Mendekapnya di pipinya. Mengecup tangan itu dengan lembut.


"Sayangnya aku hebat, kamu bisa sekuat ini untuk melahirkan kedua anak kita. Sekarang kamu juga harus kuat untuk bertahan demi anak-anak kita dan aku"


Alvaro tidak bisa menahan tangisannya, melihat keadaan istrinya yang seperti ini benar-benar membuat Alvaro sedih. Bagaimana keadaan istrinya yang memang belum bisa menentukan jika dia akan benar-benar selamat.


"Sayangku, cintaku bangun yuk. Lihat anak-anak kita. Kamu pasti ingin menggedongnya 'kan? Hiks..." Alvaro tidak bisa mengendalikan tangisannya. Dia benar-benar sangat terluka melihat keadaan istrinya yang seperti ini. "...Aku juga belum bisa menggendongnya. Mereka sangat lucu, putri kita sangat cantik seperti kamu Sayang. Ayo bangulah, lihat mereka dengan mata kepalamu sendiri"


Alvaro mencium punggung tangan istrinya, saat dia tidak mendapatkan respon apa-apa dari istrinya. Saat ini dia hanya bisa berharap pada keajaiban Tuhan pada istrinya.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2