
Waktu berlalu begitu cepat, bayi kembar yang di beri nama Alma dan Alqi itu, kini telah berusia satu tahun. Keduanya sudah pandai mengoceh, meski belum terlalu bisa dimengerti. Alma dan Aqi masih belum belajar berjalan, mungkin pertumbuhan mereka sedikit terlambat karena mereka juga lahir lebih cepat dari waktunya.
Namun, keadaan Tami masih sama seperti sebelumnya. Clarissa bahkan sudah menambah dosis obat yang dia berikan pada Tami, namun tetap belum mendapatkan reaksi apa-apa dari tubuh Tami.
Malam ini Alvaro kembali dari pekerjaannya, setiap dia pulang maka dia selalu disambut oleh pemandangan kedua anaknya yang sedang bermain di ruang tengah bersama Tante dan Clarissa.
"Hallo, anak-anak Papa"
Alma dan Alqi langsung bersorak dan merangkak menuju Ayahnya. Alvaro duduk di atas karpet berbulu, dan memangku kedua anaknya.
"Pa..pa..pa.."
"Iya Sayang, ini Papa"
Alvaro tersenyum melihat kedua anaknya yang tumbuh dengan sehat. Bahkan mereka sudah mulai belajar berbicara meski masih terlalu tidak terlalu bisa dimengerti.
"Ayo kita lihat Mama"
"Al, sebaiknya kamu mandi dan bersih-bersih dulu. Baru nanti membawa Alma dan Alqi untuk menemui Tami" kata Tante
"Baiklah, titip dulu mereka ya Tan, Cla"
"Iya Al, kamu mandi saja dulu. Atau mau aku bantu siapkan airnya?"
Alvaro menggeleng. "Tidak perlu Cla, aku bisa sendiri"
Alvaro berlalu ke kamarnya, dan ketika dia membuka pintu kamar maka suasana sepi selalu dia rasakan. Tidak seperti saat istrinya masih sehat, dia selalu menyambut dirinya dengan senyuman penuh ketulusan. Alvaro menatap tubuh kurus yang terbaring di atas tempat tidur selama satu tahun ini.
"Segeralah bangun, anak-anak kita membutuhkan kamu Sayang"
Alvaro berlalu ke ruang ganti, membersihkan dirinya dan berganti pakaian. Alvaro kembali keluar dari ruang ganti, menghampiri istrinya yang masih betah dalam tidur panjangnya. Alvaro naik ke atas tempat tidur. Mengelus kepala istrinya lalu mengecupnya. Alvaro sedikit terhenyak ketika dia melihat bekas air mata di sudut mata istrinya. Alvaro mengelus sudut mata Tami dengan lembut.
"Sayang, apa kau menangis? Ada apa? Kenapa Sayang menangis, ayo ceritakan padaku. Bangunlah"
__ADS_1
Pintu kamar terbuka, Tante masuk dengan menggendong Alma dan Alqi menggunakan gendongan khusus anak kembar.
"Al, sudah selesai mandi"
Alvaro menoleh pada Tantenya, tersenyum saat melihat kedua anaknya. "Iya Tan, aku sudah selesai mandi. Ayo kesini sayang-sayangnya Papa. Kita ajak ngobrol Mama"
Tante menurunkan Alma dan Alqi yang langsung merangkak menuju Ayahnya. Tante duduk di pinggir tempat tidur, menatap prihatin pada keadaan Tami yang masih belum menunjukkan reaksi apapun.
"Al, apa kamu tidak mau mencari sosok Ibu lain untuk kedua anakmu ini. Mereka tetap membutuhkan sosok seorang Ibu"
Alvaro langsung menatap ke arah Tante dengan tatapan tidak suka. "Apa maksud Tante?"
"Al, sampai kapan kamu akan terus menyiksa Tami dengan keadaan seperti ini? Clarissa saja sudah merasa bingung bagaimana lagi memberikan dosis obat untuk Tami. Istrimu ini benar-benar tidak memberikan reaksi apa-apa pada setiap obat yang Clarissa berikan. Apa kamu masih berharap Tami akan sembuh?"
"Tan! Aku yakin istriku akan sembuh, aku akan berusaha sebisa mungkin untuk menyembuhkan dia"
"Tapi Al, kedua anakmu tetap membutuhkan sosok seorang Ibu"
Alvaro menatap kedua anaknya yang menepuk-nepukan tangan mungilnya di wajah Alvaro. "Tan, aku tidak bisa melakukan apa yang Tante inginkan. Sampai kapan pun aku akan tetap menjaga istriku dan menunggunya sampai benar-benar sembuh"
"Al, bagaimana dengan Clarissa?"
"Apa maksud Tante?"
"Kamu bisa menjadikan Clarissa ibu sambung untuk anak-anak kamu. Clarissa terlihat begitu tulus menyayangi Alma dan Alqi"
"Cukup Tan! Sampai kapan pun aku tidak akan mengkhianati istriku"
"Kamu tidak bisa egois, kedua anakmu ini membutuhkan sosok seorang Ibu. Tante tetap tidak bisa menjadi sosok seorang Ibu untuk mereka"
"Terus maksud Tante, aku harus menikahi Clarissa untuk menjadikan dia sosok seorang Ibu untuk Alma dan Alqi. Aku tidak bisa, Tan!"
Akhrinya Tante menyerah, dia tidak bisa lagi memaksa Alvaro untuk melakukan saran yang dia berikan. Tante keluar dari kamar Alvaro dan membiarkan keponakannya itu memikirkan usulan darinya.
__ADS_1
Alvaro melihat Tami yang kembali meneteskan air mata di sudut matanya. Dia mengusapnya dengan lembut. "Tidak Sayang, tidak perlu takut. Aku tidak akan berpaling pada siapa pun. Aku hanya mencintaimu, sampai kapan pun"
Kedua balita itu duduk diam, menatap Ayahnya yang berbicara dengan Ibunya yang berbaring tidak bergerak di atas tempat tidur. Keduanya menepuk-nepuk tangan Tami.
"Ma..ma..ma.."
"Iya Sayang, ini adalah Mama kalian. Do'akan Mama agar bisa segera sembuh ya. Biar dia bisa menggendong kalian"
"Ma..ma..ma.."
Mendengar celotehan kedua anaknya yang memanggil Tami, membuat Alvaro meneteskan air mata. Semua orang tidak akan tahu serindu apa dia pada istrinya. Mencintai Tami, adalah hal yang tidak akan pernah dia sesali sampai kapan pun. Dan sekarang Alvaro sedang mencoba mempertahankan cintanya untuk Tami.
...💫💫💫💫💫💫💫💫...
Ayra datang berkunjung kembali ke rumah Tami. Menatap sahabatnya yang sampai saat ini masih betah dengan tidur panjangnya. Ayra duduk di samping Tami, mengelus kepala sahabatnya dengan lembut.
"Apa kamu tidak rindu denganku? Lagian anak-anak kamu sudah menunggu untuk kau gendong. Ayolah, apa yang membuat kamu betah sekali di bawah alam sadarmu ini? Apa disana lebih indah? Cepat bangun dan ceritakan padaku atas pengalamanmu disana"
Ayra terdiam dengan tidak percaya dengan apa yang dia rasakan saat dia menggenggam tangan Tami. Sebuah gerakan kecil yang hampir tidak terasa. Tapi beruntungnya Ayra bisa merasakannya.
"Kau bergerak Mi? Kau memberi respon atas ucapanku? Ayo gerakan lagi tanganmu"
Dan jari-jari tangan Tami kembali bergerak dengan sangat pelan. Ayra tersenyum melihat itu, dia segera menelepon Alvaro dan memberi tahukan tentang kejadian ini. Hal itu membuat Alvaro yang sedang berada di Resto langsung meluncur pulang ke rumah. Masuk ke dalam kamar dan melihat Tami yang sedang di periksa oleh Clarissa.
"Bagaimana Cla? Apa istriku akan segera sadar?"
"Sebuah gerakan tangan yang diberikan Tami adalah satu kemajuan yang bagus. Dia mulai merespon dari setiap apa yang kita bicarakan. Meski perkembangannya ini masih belum menunjukan jika dia akan segera sadar. Tapi, aku yakin Tami akan bisa sadar dan sembuh kembali suatu saat nanti"
Alvaro tersenyum mendengar itu, dia mengecup kening istrinya dengan lembut. "Cepat sadar, aku menunggumu Sayang. Aku sangat merindukanmu"
Clarissa melihat bagaimana Alvaro bergitu mencintai istrinya. Cinta tulus Alvaro membuat Clarissa tersenyum. Dia berharap suatu saat nanti dirinya juga akan menemukan pasangan seperti Alvaro.
Segeralah sadar Mi, kasihan suamimu yang selalu menunggumu.
__ADS_1
Bersambung