
Alvaro bangun lebih awal pagi ini, dia melihat istrinya yang masih terlelap. Mengelus kepalanya dan mencium pipinya dengan lembut. Lalu dia turun dari atas tempat tidur dan berajalan menuju ruang ganti. Dia tidak ingin mengganggu tidur istrinya yang terlihat lelap, setelah melewati malam panjang semalam setelah Tami selesai datang bulan.
Alvaro selesai mandi, dia keluar dari kamar mandi dan berjalan menuju lemari pakaiannya. Membukanya dan mengambil pakaian miliknya. Setelah memakai pakaiannya, Alvaro mencari jam tangan miliknya. Namun dia tidak menemukan jam tangan yang ingin dia pakai hari ini. Membuat Alvaro sampai membuka lemari milik Tami. Mencarinya di dalam laci lemari milik istrinya.
"Ini..." Bukannya menemukan jam tangannya, tapi Alvaro malah menemukan sebuah benda kecil di dalam laci lemari milik Tami. Mengambilnya dan mengamati benda itu. "...Pil kontrasepsi?"
"Sayang..." Tami berdiri di belakang Alvaro dengan wajah pucat pasi. Dia mendengar ucapan Alvaro yang terakhir. Lalu Tami melihat benda yang dia simpan rapi selama ini dari suaminya.
Alvaro menatap Tami dengan tajam, dia melempar pil kontrasepsi di tangannya ke arah Tami. Membentur dada Tami sebelum akhirnya jatuh ke atas lantai. Tubuh Tami bergetar di tempatnya, dia tidak pernah melihat Alvaro semarah ini.
"Berani sekali kau mengonsumsi pil itu, Hah?" Alvaro berjalan mendekati Tami dan mencengkram dagu gadis itu. Menatapnya dengan tatapan penuh kemarahan. "...Apa kau memang tidak mau mengandung anakku Hah?"
Air mata menetes begitu saja di sudut mata Tami. Dia menatap suaminya dengan dagu yang masih di cengkram kuat oleh Alvaro. Membuat Tami sulit untuk bicara.
"Kau benar-benar ya Tami, setelah apa yang aku lakukan padamu. Ini adalah balasannya Hah? Kenapa kau tidak mau mengandung anakku?"
Alvaro berteriak frustasi, dia menghempaskan dagu Tami sampai wajah gadis itu berpaling ke samping.
"Aku hanya tidak mau semakin terluka. Kamu tidak mengerti..."
"Mengerti apa?!" Alvaro berteriak dengan mengacak rambutnya dengan kasar.
"Kamu tidak mengerti keadaannya..."
"APA? APA YANG TIDAK AKU MENGERTI? APA TAMI, JAWAB AKU!"Alvaro mengguncang tubuh Tami dengan tatapan nyalang. Saat ini dia benar-benar berada dalam puncak kemarahannya.
"Karena aku tidak mau, tidak mau sampai harus pergi dan meninggalkan anakku juga ketika kamu sudah melepaskan aku dan merasa bosan hidup denganku"
"Gila. Aku tidak akan pernah melepaskan kamu, memangnya apa si yang ada di otak kamu ini?" Alvaro menuding kepala Tami, lalu dia mengusap wajahnya dengan kasar. Tidak mengerti lagi dengan jalan fikiran Tami saat ini.
__ADS_1
"Karena kamu tidak mencintaiku!" Tami berteriak
Akhirnya dia bisa mengungkapkan kata itu. Hal yang selama ini menjadi alasan dia untuk tidak mengandung anak Alvaro. Karena suaminya itu tidak pernah mengatakan cinta padanya. Membuat Tami yakin jika Alvaro memang tidak pernah mencintainya. Dan Tami tidak mau mengandung seorang anak dari pria yang sama sekali tidak mencintainya.
Alvaro menggeleng tidak percaya, jadi itu alasan Tami mengonsumsi pil kontrasepsi ini. Apa yang selama ini dia lakukan tidak berarti apa-apa untuknya, sampai dia menganggap jika Alvaro tidak mencintainya.
Tami menunduk, tangannya meremas gaun tidur yang dia pakai. Air mata kembali menetes di pipinya. "Aku hanya tidak mau semakin terluka ketika aku mengandung anak dari pria yang memang tidak pernah mencintaiku. Aku takut jika suatu saat nanti, dia akan meninggalkan aku dan anak ini. Aku tidak mau membuat masa depan anakku terluka. Lebih baik aku mencegah kehadirannya dalam rahimku"
"Bodoh!" Alvaro menuding kening Tami, lalu dia memeluk tubuh gadis itu. Mungkin memang salahnya yang mengira selama ini Tami mengerti dan bisa merasakan perasaannya. Jika Alvaro begitu mencintainya. Tapi, nyatanya Tami malah berfikir kebaikannya. "...Kau tahu apa alasan utama aku ingin menikahimu?"
Tami yang berada dalam dekapan Alvaro masih merasa bingung dengan suaminya ini. Apalagi dengan pertanyaan yang baru saja Alvaro tanyakan padanya. "Tentu saja karena aku meminjam uang padamu. Kau pasti takut aku akan kabur darimu jika tidak mengikatku dengan pernikahan"
"Bodoh!" Kali ini bukan sebuah telunjuk yang menuding keningnya, namun kecupan lembut dari Alvaro. "...Itu hanya alasan aku saja agar aku bisa mengikatmu. Aku sudah tertarik padamu saat pertemuan kita pertama kali. Dan saat kau bekerja di Slick Grind Resto, aku semakin yakin jika perasaan aku ini bukan hanya sebatas rasa tertarik saja. Aku mencintaimu. Dan ketika kau meminjam uang padaku, sengaja aku jadikan alasan itu untuk bisa menikahimu"
Deg..
"Jadi...."
"Jadi aku mencintaimu, apa semua tindakanku selama ini tidak cukup untuk membuatmu melihat perasaan cintaku ini"
Tami mencebikan bibirnya. "Kamu tahu, perempuan juga membutuhkan kata-kata cinta bukan hanya tindakan di atas tempat tidur saja. Memangnya itu semua bisa membuktikan cinta kamu apa?"
Alvaro terkekeh, dia mengecup bibir istrinya dengan gemas. "Yaudah aku minta maaf karena tidak peka dengan perasaan kamu. Sayang, Tami Arinda aku mencintaimu"
Tami menahan senyum mendengarnya, dia langsung menyembunyikan wajahnya di dada Alvaro. Malu juga saat Alvaro mengungkapkan kata cinta seperti itu padanya. Padahal Tami memang sudah lama mengharapkan kalimat itu terucap dari bibir suaminya.
Alvaro terkekeh melihat tingkah istrinya ini. Dia menendang jauh-jauh pil kontrasepsi di dekat kakinya itu. "Sekarang kita harus ke dokter untuk memeriksamu"
Tami langsung melepaskan pelukannya dan menatap Alvaro dengan bingung. "Ke dokter untuk apa? Aku merasa baik-baik saja"
__ADS_1
"Kau memang baik-baik saja, tapi setelah kau mengonsumsi pil sialan itu aku harus memastikan kesehatananmu. Kau tahu, aku sudah sangat ingin memiliki anak darimu"
Tami tersenyum kaku, dia jadi merasa bersalah saat ini. Seandainya dia tahu tentang perasaan Alvaro lebih awal, mungkin dia juga tidak akan mengonsumsi pil kontrasepsi. Dia akan dengan suka rela mengandung anaknya Alvaro yang jelas-jelas mencintainya.
"Yaudah, aku ngikut kamu saja"
"Iya, karena ini adalah kesalahanmu yang berani meminum pil kontrasepsi di belakangku"
Tami kembali memeluk suaminya yang terdengar marah ketika dia mengingat pil kontrasepsi yang Tami konsumsi untuk menghindari kehamilan. "Sudah dong jangan marah-marah terus. Aku minta maaf karena sudah berani mengonsumsi pil itu"
"Mandi sana, kita akan ke dokter sekarang"
"Iya"
...💫💫💫💫💫💫💫💫...
Tami dan Alvaro hanya diam mendengarkan setiap penjelasan dari Dokter tentang apa yang harus mereka lakukan setelah Tami mengonsumsi pil kontrasepsi. Dokter juga menjelaskan apa saja yang lebih baik di konsumsi saat masa penyuburan ini.
"Tapi apa Nona datang bulan dengan teratur meski mengonsumsi pil kontrasepsi itu?"
Tami mengangguk "Iya Dok, setiap bulan saya selalu mengalami menstruasi. Meski tidak sebanyak biasanya"
"Ya, karena itu efek dari pil pencegah kehamilan yang Nona minum. Tapi sejauh ini saya rasa keadaan anda dan suami baik-baik saja. Jadi, kalian bisa cepat memiliki seorang anak jika kalian mengikuti saran saya"
"Baik Dok, terima kasih atas waktunya"
Alvaro menggandeng tangan istrinya keluar dari ruangan dokter. Dia cukup merasa lega saat mendengar penjelasan Dokter barusan. Saat ini Alvaro hanya berharap bisa lebih cepat memiliki seorang anak dari istrinya.
Bersambung
__ADS_1