
Beberapa hari berlalu, keadaan Tami semakin membaik. Dia mulai bisa berbicara jelas, namun untuk kaki dan tubuhnya masih sangat lemah, sampai dia tidak bisa untuk bergerak sendiri. Masih harus di bantu.
"Sayang, aku ingin duduk"
Dengan sigap Alvaro langsung membantu istrinya untuk duduk menyandar di atas tempat tidur. Memposisikan bantal di belakang tubuh Tami, agar istrinya merasa nyaman.
"Mau makan dulu, akan aku ambilkan"
Tami menggeleng, selera makannya masih benar-benar buruk. Dia belum bisa mengecap rasa makanan. Sampai rasanya semua makanan yang masuk ke dalam mulutnya terasa hambar.
"Aku ingin tanyakan sesuatu padamu"
Alvaro mengerutkan keningnya, menatap istrinya dengan serius. "Apa yang ingin kau tanyakan padaku?"
"Sebenarnya siapa Clarissa? Kok dia terus tinggal disini?"
Alvaro tersenyum, ternyata koma selama satu tahun tidak membuat istrinya berubah. Dia tetap pencemburu. "Dia Dokter yang merawat kamu selama ini. Kenapa memangnya?"
Tami menatap Alvaro dengan mata menyipit tajam. Seolah dia tidak percaya dengan ucapan Alvaro barusan. "Tapi aku pernah dengar kalau kamu ingin menikah lagi? Kamu menikah lagi dengan Dokter Clarissa ya? Kenapa kamu tidak jujur?"
Alvaro langsung menahan tawanya mendengar ucapan Tami. Dia memeluk tubuh istrinya dan mencium pipinya. "Kalau aku menikah lagi, untuk apa aku begitu berjuang untuk membuat kamu sadar dari koma selama satu tahun ini. Kau tahu, betapa aku hancur ketika melihatmu terbaring lemah di atas tempat tidur. Aku seolah kehilangan tujuan hidupku"
Tami terdiam mendengar ucapan suaminya. "Lalu, kenapa kamu mengatakan jika kamu akan menikah lagi. Tahu tidak jika hatiku sakit saat mendengar suaramu yang mengatakan itu. Aku ingin bangun dan membuka mata, tapi tidak bisa. Akhirnya aku hanya bisa menangis"
Alvaro semakin erat memeluk tubuh istrinya, mencium pipi Tami beberapa kali. "Sayang, sampai kapan pun aku tidak akan menikah selain denganmu. Jadi, berapa lama pun kamu tidak sadarkan diri. Aku tetap tidak akan pernah menikah lagi. Karena hanya kamu cintaku yang terakhir!"
Tami meneteskan air mata mendengar ucapan suaminya. Dia benar-benar terharu dengan ucapan suaminya barusan. Tidak pernah sekalipun Tami berfikir jika akhir dari pernikahan terpaksa ini akan menjadi kisah yang indah dalam hidupnya.
"Terima kasih Sayang, karena kamu telah setia denganku dan tetap menunggu aku yang tidak sadarkan diri"
"Iya Sayang"
Pintu kamar terbuka, Tante masuk dan menghampiri sepasang suami istri itu. Dia mendengar semua yang di bicarakan oleh Tami dan Alvaro. Sekarang Tante sangat merasa bersalah, karena dia sempat memaksa Alvaro untuk menikah lagi ketika melihat keadaan Tami yang seolah tidak mempunyai harapan baru untuk hidupnya.
__ADS_1
"Tami, maafkan Tante karena Tante juga pernah menyuruh Al untuk menikah lagi. Semua itu Tante lakukan karena Tante yang melihat keadaan kamu yang sama sekali tidak ada perkembangan yang baik. Tante hanya memikirkan keadaan si kembar dan Al, jika sampai kamu meninggalkan mereka. Maafkan Tante, Tami"
Tami tersenyum ke arah Tante, tangannya terangkat dengan sedikit kesulitan. Meraih tangan Tante dan menggenggamnya. "Tidak papa Tante, Tami mengerti bagaimana perasaan Tante. Karena Tante hanya menginginkan yang terbaik untuk Mas Alvaro. Tapi, sekarang Tami sudah kembali. Tami janji tidak akan meninggalkan suami dan anak-anak Tami"
"Iya Nak, kamu harus sembuh dan menjaga anakmu dan suamimu itu"
"Iya Tante"
...💫💫💫💫💫💫💫💫...
Siang ini Ayra datang untuk menjenguk Tami. Dia sangat bersyukur melihat sahabatnya yang sudah kembali sadar dari koma. Hari ini Ayra datang bersamaan dengan Saqila.
"Senang banget melihat kamu yang sudah sadar. Terus sehat dan jangan kayak gini lagi ya, Mi. Aku kasihan melihat Kak Alvaro yang begitu kacau saat kamu tidak sadar"
Tami tersenyum mendengar ucapan Ayra, dia memang melihat bagaimana perubahan pada Alvaro. Dia terlihat lebih kurus, bahkan rambutnya yang biasa rapi, sekarang terlihat lebih panjang dan tidak terurus.
"Iya Mi, kamu harus terus sehat. Jangan biarkan suami kamu bersedih lagi. Kami juga sedih saat melihat keadaanmu waktu itu"
"Iya Mi, itu pasti"
Setelah Ayra dan Saqila pulang, kini Tami hanya seorang diri di dalam kamarnya. Dia menatap ke sekelilingnya. Suasana kamar yang masih tetap sama dengan sebelumnya.
"Berapa lama aku tertidur, sampai aku tidak sadar jika sekarang sudah berganti tahun"
Tami benar-benar bersykur, dia masih bisa melihat dunia ini. Bahkan dia bisa melihat kedua anaknya. Betapa baiknya Tuhan pada Tami. Disaat dia benar-benar berada di ujung kematian, tapi takdir telah membuatnya bertahan dan kembali membuka mata.
"Sayang, ayo makan dulu" Alvaro masuk ke dalam kamar dengan membawa nampan di tangannya. Menaruh nampan di atas nakas, mengambil semangkuk bubur yang dia bawa.
"Aku bisa sendiri, Sayang"
"Sudah diam, orang sakit harus diam"
Tami tersenyum mendengar ucapan suaminya. Padahal tangannya memang sudah bisa di gerakan, tinggal kakinya yang masih sangat sulit untuk bergerak. Tami menerima suapan demi suapan dari suaminya. Meski dia benar-benar merasa tidak berselera makan.
__ADS_1
"Sudah ya, aku benar-benar kenyang"
"Satu suap lagi" Dan Alvaro benar-benar memaksa Tami untuk memakan satu suapan terakhir darinya.
"Sekarang minum obatnya"
Alvaro memberikan gelas air minum pada Tami, lalu dia mengambil obat-obatan milik Tami. Memberikannya pada Tami yang segera meminumnya.
"Anak baik..." Alvaro mengelus kepala Tami yang begitu nurut padanya. "...Besok kita akan coba terapi berjalan"
Tami menatap suaminya, dia mengangguk saja. Karena memang dia juga ingin segera bisa berjalan kembali. "Sayang, dimana si kembar? Aku ingin sekali menggendongnya"
"Mereka sedang tidur, nanti kalau mereka bangun aku akan bawa kesini"
Tami selalu merasa sedih ketika mengingat kedua anaknya yang tidak pernah merasakan gendongan seorang Ibu sejak mereka lahir.
"Aku memang Ibu yang buruk, aku bahkan tidak tahu apa-apa tentang mereka. Tentang perkembangannya"
Alvaro langsung menatap Tami dengan tidak suka. Dia merapikan rambut istrinya yang sedikit berantakan. "Siapa bilang kamu Ibu yang buruk? Kamu sudah berjuang sampai seperti ini hanya untuk melahirkan mereka. Kamu hanya memikirkan tentang keselamatan anak-anak kita, tanpa memikirkan keselamatan diri kamu sendiri. Kamu adalah Ibu terbaik di dunia ini!"
Tami memeluk suaminya, menyandarkan kepalanya di bahu suaminya. "Sayang, terima kasih karena kamu sudah mau merawat aku dan begitu sabar menunggu aku"
"Iya Sayang, aku mencintaimu"
"Aku juga sangat mencintaimu"
Nyatanya cinta yang benar-benar tulus tidak akan pernah mengikis selama waktu berlalu. Justru cinta diantara Tami dan Alvaro semakin besar, seiring waktu terus berjalan.
Tidak ada kemungkinan yang tidak mungkin. Tami kembali sadar setelah dia melewati banyak rintangan selamat satu tahun ini. Koma dengan meninggalkan dua bayi yang baru saja lahir. Namun, waktu satu tahun itu telah membuat Tami sadar jika cinta suaminya begitu besar untuknya.
Terima kasih karena sudah setia denganku.
Bersambung
__ADS_1