My Sweet Girl

My Sweet Girl
Selalu Bahagia Bersamamu


__ADS_3

Setelah Dokter keluar dari ruangan ini, Tami hanya diam. Melirik sekilas pada suaminya yang duduk di pinggir ranjang pasien yang di tempatinya.


"Aww..."


Tami sedikit meringis saat Alvaro memberikan cubitan kecil di tangannya. Tami menatap suaminya dengan bingung. "Sayang kenapa mencubit 'ku?"


"Kenapa selalu membuat aku khawatir? Apa tidak bisa untuk lihat-lihat dulu sebelum kau makan sebuah makanan. Sudah tahu punya alergi yang parah seperti ini"


Tami menunduk, dia tahu jika dirinya salah. Tapi memang dia tidak mengamati eskrim yang dimakan Ayra tadi. Bahkan dia juga tidak merasakan ada sari kacang kedelai di dalam eskrim yang dia makan.


"Maaf, aku juga tidak tahu kalau eskrim itu ada sari kedelainya. Karena sama sekali tidak terasa"


Alvaro menghela nafas berat, dia meraih kepala Tami dan menyandarkannya di dada. Memberikan kecupan beberapa kali di puncak kepalanya. "Pokoknya mulai saat ini, aku akan benar-benar memperketan makananmu. Harus tahu apa saja yang kamu makan"


Tami tersenyum masam, karena sepertinya mulai saat ini dia akan terus di awasi oleh suaminya. "Iya terserah kamu saja. Lagian sekarang 'kan aku sudah tidak apa-apa. Jadi kamu jangan marah lagi dong sama aku"


"Hmm"


Tami hanya menghela nafas ketika suaminya hanya berdehem biasa saja. Tami tahu jika suaminya memang sedang sangat cemas dan khawatir padanya. Namun, di balik sikap posesif Alvaro ini Tami merasa bahagia. Karena merasa begitu dicintai oleh suaminya.


"Sayang, kamu tahu gak kalau saat ini aku sedang bahagia"


Alvaro mengerutkan keningnya, dia menatap wajah Tami yang sedang menyandarkan kepalanya di dadanya itu. "Bahagia? Jadi kau bahagia melihat aku cemas dan khawatir melihatmu sakit seperti ini?"


Tami tersenyum, dia menjauhkan tubuhnya dari Alvaro. Sedikit menggeser posisi duduknya, lalu menangkup wajah Alvaro dan memberikan kecupan di bibir dan kedua pipinya.


"Sayang, aku senang melihat kekhawatiran kamu ini. Aku merasa sangat dicintai kamu saat ini"


Alvaro tersenyum, namun bukan karena ucapan Tami barusan. Tapi karena apa yang Tami lakukan padanya barusan. Ciuman kejutan seperti itu selalu membuat Alvaro berdebar senang.


"Sayang, kenapa kau menggodaku disaat kau sedang sakit begini. Jadinya aku tidak bisa melakukan apapun"


Tami memukul lengan suaminya, selalu saja dia membuat Tami malu dengan perlakuannya. Seolah fikirannya hanya tentang hal kegiatan malam saja. "Sayang apaan si, kamu hanya memikirkan itu saja"


"Memikirkan apa? Memangnya aku memikirkan apa?"


Tami semakin kesal dengan ucapan Alvaro, suaminya itu selalu bisa saja membuat seolah Tami yang memikirkan hal mesum dalam pikirannya.


"Tau ahh, sekarang kamu pulang saja sana. Istirahat di rumah"


"Kau gila ya! Mana bisa aku Istirahat di rumah jika keadaan istriku sedang terbaring lemah seperti ini"

__ADS_1


Tami tersenyum tipis, lalu dia menghela nafas. "Aku kasihan saja sama kamu, besok kamu harus bekerja 'kan. Pasti lelah kalau menjaga aku semalaman disini. Lagian aku sudah tidak papa"


Alvaro berdiri, berjalan ke arah sofa yang ada di ruangan itu. "Aku bisa tidur disini. Lagian tidak mengecek Resto satu hari saja, tidak akan membuat aku bangkrut"


Mendengar itu, Tami hanya tersenyum lucu. Suaminya memang selalu bisa saja membuat dirinya bahagia, meski hanya dengan hal sekecil ini.


"Yaudah terserah kamu saja, sekarang lebih baik kamu istirahat. Ehh, kamu belum makan malam ya. Cari makan dulu sana"


"Gak perlu..."Alvaro berjalan mendekati Tami, kembali duduk di pinggir ranjang pasien yang ditempati Tami. "...Rasanya selera makan 'ku langsung hilang saat melihat kamu seperti ini sekarang"


Tami mencebikan bibirnya, dia mengelus wajah suaminya dengan lembut. "Sayang, maaf ya karena telah membuat kamu khawatir. Terima kasih karena sudah memberikan aku cinta yang sebesar ini. Tapi, aku tidak mau kamu sampai ikut sakit karena mengabaikan jam makan"


Alvaro meraih tangan Tami, menggenggamnya dan mengecup telapak tangan Tami. "Entah harus seperti apalagi aku bersyukur karena telah di pertemukan dengan kamu dan bisa bersamamu sampai saat ini"


"Aku juga bahagia Sayang, bisa bersamamu. Sekarang kamu pesan makan saja, masa gak makan malam si. Aku takut kamu sakit"


Alvaro mengangguk, dia mengeluarkan ponselnya dari dalam saku celana yang dia pakai. Memesan makanan untuk dirinya malam ini.


"Kamu mau pesan juga?"


Tami berpikir sejenak. "Boleh, aku malas makan masakan rumah sakit"


Tami langsung mencebikan bibirnya, dia sedang membayangkan makanan pedas yang akan membuat nafsu makannya bertambah.


"Apa dong, yaudah terserah kamu saja"


"Oke, biar aku pesankan sekarang"


...💫💫💫💫💫💫💫💫...


Pagi ini Tami terbangun, dia melihat wajah suaminya yang terlelap di atas sofa dengan tenang. Melihat itu, benar-benar membuat Tami tersentuh. Bagaimana dia mendapatkan perhatian dan cinta yang begitu besar dari Alvaro. Pria yang menikahinya karena Tami yang meminjam uang padanya. Tapi ternyata, semua itu hanya sebuah alasan Alvaro agar bisa mengikat Tami untuk menjadi miliknya.


Pintu ruangan yang terbuka mengalihkan pandangan Tami. Seorang Dokter dan satu orang perawat masuk ke dalam ruangan Tami.


"Selamat pagi Nona, bagaimana keadaannya pagi ini?"


Tami tersenyum ramah pada Dokter. "Baik Dok"


Dokter mulai memeriksa keadaan Tami. "Apa masih merasa mual?"


"Emm. Tidak ada, hanya semalam saja. Sekarang sudah tidak merasa mual"

__ADS_1


"Kalau begitu sepertinya, Nona sudah bisa pulang hari ini"


Tami langsung tersenyum senang, dia memang sudah tidak betah berada di rumah sakit. Meski hanya semalam saja.


Alvaro yang sedang terlelap, mulai terusik dalam tidurnya. Saat dia melihat istrinya yang sedang di periksa oleh Dokter, membuat Alvaro langsung menghampirinya.


"Bagaimana keadaan istri saya Dok?"


"Sudah lebih baik, hanya tinggal lemas di tubuhnya saja. Sepertinya sudah bisa pulang hari ini"


Alvaro mengangguk, dia menghela nafas lega saat Tami sudah benar-benar baik-baik saja. "Baik, terima kasih Dok"


Setelah Dokter pergi dari ruangan Tami, Alvaro menghampiri istrinya. Mencubit hidung istrinya dengan gemas. "Awas kalau sampai nakal lagi, setiap ingin makan dan minum harus di lihat dulu bahan makanan apa saja yang terkandung di dalamnya"


"Iya, iya"


"Bukan hanya iya, iya saja"


"Iya Sayang, aku janji kejadian ini tidak akan terjadi lagi"


"Benar ya"


"Iya Sayang"


Alvaro memeluk istrinya, mencium puncak kepalanya dengan lembut. Entahlah, Alvaro sangat takut kehilangan Tami sampai dia tidak akan bisa jika melihat Tami sakit sedikit saja.


Dan hari ini Tami benar-benar diizinkan pulang. Dia senang karena bisa kembali ke rumahnya. Satu hari saja dirawat di rumah sakit benar-benar membuat Tami bosan.


"Akhirnya aku bisa pulang juga" Tami menjatuhkan tubuhnya di atas sofa di ruang tengah. Senang rasanya bisa kembali ke rumah.


"Sayang hati-hati ihh, ayo ke kamar. Kata dokter kamu masih harus banyak istirahat"


"Apaan si Sayang, aku sudah..."


"Tami!"


"Iya, iya"


Akhirnya Tami hanya menurut apa kata suaminya. Ketika Alvaro sudah menunjukan taringnya.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2