My Sweet Girl

My Sweet Girl
Kekhawatiran Alvaro


__ADS_3

"Apa sudah sering seperti ini?" Pertanyaan Dokter yang baru saja selesai memeriksa keadaan Tami.


"Baru kali ini saja, Dok" jawab Tami


"Semuanya masih baik-baik saja, tapi kalau sering terjadi seperti ini bisa berbahaya juga. Jadi, tolong di jaga kesehatannya. Jangan terlalu banyak fikiran dan banyak kegiatan yang membuat lelah"


"Baik Dok"


Setelah mendapat vitamin dan beberapa obat untuk Tami. Sepasang suami istri ini segera pergi dari rumah sakit. Beruntung karena Tami tidak perlu di rawat.


Berada di dalam mobil, Alvaro benar-benar baru bisa bernafas lega setelah mengetahui keadaan istrinya dari Dokter. Sebelumnya, dia benar-benar di buat panik dan khawatir dengan keadaan istrinya.


"Pokoknya aku akan cari orang untuk bekerja di rumah kita. Untuk sekalian menemani kamu selama aku tidak berada di rumah. Pokoknya kamu tidak perlu lagi mengerjakan pekerjaan rumah apapun"


"Iya Sayang, terserah kamu saja"


Tami juga tidak mau membahayakan keselamatan bayinya, jika dia terus menolak keinginan Alvaro ini.


"Kamu hanya perlu diam dan memperhatikan kesehatan kamu dan calon bayi kita"


"Iya Sayang, iya"


Sampai dirumah, Alvaro langsung membawa Tami ke kamarnya. Menyuruh istrinya itu untuk istirahat. Meski sebenarnya Tami tidak ingin tidur.


"Yaudah diam saja di tempat tidur, jangan melakukan apapun"


Memangnya apasi yang akan aku lakukan?


"Yaudah, asal temani aku"


Alvaro tersenyum, dia ikut naik ke atas tempat tidur. Menemani istrinya. "Aku harus benar-benar cari orang untuk menemani kamu di rumah"


"Bagaimana kalau Tante kamu saja"

__ADS_1


Seketika Alvaro baru teringat dengan Tantenya. Dia memang tinggal sendiri sejak Alvaro dan Alvino menikah. Maka dia benar-benar tinggal sendiri. Dan entah kenapa dia tidak teringat pada Tantenya untuk menemani istrinya selama di rumah.


"Kamu benar Sayang, biar Tante saja yang menemani kamu di rumah. Kalau masalah bersih-bersih rumah, kan selalu ada yang datang setiap tiga kali seminggu"


Tami mengangguk, dia memeluk tubuh suaminya dengan nyaman. Tangannya mengelus perutnya perlahan. "Kasihan saja Tante hanya sendirian"


"Iya Sayang, aku juga kenapa baru ingat sama Tante ya. Padahal dia hanya seorang diri"


"Emm. Apa Tante tidak pernah menikah?"


"Dia sudah menikah, namun suaminya dan anaknya meninggal saat kecelakaan. Dan Tante memutuskan untuk tidak menikah lagi"


Tami mengangguk mengerti, dia terus mengelus perutnya yang masih terasa kencang. Apalagi ketika bayi di dalam kandungannya mulai memberikan pergerakan.


"Sayang, apa masih sakit perutnya?"


"Tidak, hanya masih sedikit kencang saja"


Alvaro langsung merebahkan tubuhnya, kepalanya tepat berada di perut buncit Tami. Mengecupnya dan mengelusnya. "Sayang, kalian jangan nakal. Jangan membuat Mama kalian kesakitan"


"Sayang, kalau ada yang sakit langsung bilang aku. Kita harus periksa ke dokter, jangan membiarkan hal spele itu"


Tami mengangguk, dia mengerti bagaimana kekhawatiran Alvaro padanya dan juga calon bayi mereka. "Iya Sayang, tadi saja aku langsung bilang 'kan. Semoga saja tidak ada lagi keluhan yang lain selama aku mengandung mereka"


"Iya Sayang, mereka adalah anak-anak yang baik. Pasti akan menjaga Mamanya"


Kebahagiaan itu tidak bisa diukur dengan siapa kita jatuh cinta. Tapi, dengan siapa kita hidup. Jika kita hidup dengan orang yang tepat. Maka kita akan merasa bahagia. Cinta akan datang pada waktunya, karena terbiasa cinta akan datang dengan sendirinya. Begitulah yang di alami Tami.


...💫💫💫💫💫💫💫💫...


Menemui Tante, Alvaro langsung meminta Tantenya untuk tinggal di rumahnya dan menjaga Tami.


"Tante mau saja Al, tapi apa istrimu mau tinggal sama Tante? Takutnya dia merasa tidak nyaman atau apa"

__ADS_1


Alvaro tersenyum, dia mengerti kekhawatiran Tantenya ini. "Tante belum benar-benar mengenal istriku. Coba saja Tante lebih dekat dengannya, dia sangat baik dan gampang akrab dengan siapapun. Justru Tami sendiri yang meminta agar Tante saja yang tinggal bersama kami. Untuk menemani dia kalau aku sedang tidak berada di rumah"


"Yaudah, Tante akan tinggal dirumah kamu. Tapi mungkin hanya sampai Tami lahiran saja, karena Tante tidak bisa meninggalkan rumah ini terlalu lama"


Alvaro menghela nafas, memang sejak dulu Tante tidak pernah mau meninggalkan rumah yang mungkin memang terlalu banyak kenangan untuk dirinya dan mendiang suami juga ayahnya.


"Tante, apa tidak ingin di jual saja rumahnya? Atau di renovasi. Rumahnya sudah banyak yang lapuk seperti ini dindingnya juga"


Rumah minimallis puluhan tahun yang tidak pernah di renovasi atau di rubah sedikit pun. Sebenarnya Alvaro dan Alvino sudah sangat ingin merenovasi rumah ini. Namun, Tante selalu melarang karena dia bilang suasananya akan berbeda. Dia tidal bisa lagi mengenang suami dan anaknya di dalam rumah ini.


"Tidak usah, Tante nyaman tinggal disini. Kalau kamu mau renovsi juga, Tante tidak izinkan. Nanti suasananya akan berbeda"


Jawaban yang selalu sama setiap Alvaro atau Alvino menanyakan soal itu. Dan lagi-lagi Alvaro tidak bisa memakasa. Membiarkan saja apa yang Tante inginkan, asal dia bahagia.


"Yaudah, sekarang Tante bereskan barang-barang Tante yang akan di bawa ke rumah Al. Kita berangkat sekarang"


"Ya, kamu tunggu sebentar disini"


Alvaro menunggu di ruang tengah rumah ini. Rumah yang menjadi tempat tinggalnya sejak usia 18 tahun, tepatnya setelah kedua orang tuanya meninggal dunia. Sebenarnya memang banyak kenangan juga di rumah ini. Tentang bagaimana Alvaro berjuang mempertahankan Slick Grind Resto, dan Alvino yang ingin menjualnya karena merasa sudah tidak ada harapan mempertahankan Restaurant peninggalan Ayah mereka itu. 


...💫💫💫💫💫💫💫💫...


Malam itu, sepasang saudara kembar sedang berada di balkon kamar. Mereka sedang berada dalam perdebatan yang tiada habisanya.


"Aku akan menjual Slick Grind Resto, Dan kita bisa buka usaha di bidang lain. Kita harus tetap hidup dan melanjutkan kuliah. Kita tidak bisa terus berharap pada Slick Grind Resto. Sekarang pengunjungnya pun sangat sepi, sementara pajak harus tetap di bayar. Belum lagi hutang kepada beberapa investor" kata Alvino


"Tidak! Kalau kau ingin membuat usaha sendiri. Kau buat saja sendiri, tapi tidak dengan menjual Resto. Itu adalah harta satu-satunya peninggalan Papa" Alvaro yang tetap mempertahankan Slick Grind Resto peninggalan Ayahnya. Dia yakin bisa membangkitkan kembali Restaurant itu. Membuatnya lebih di kenal dan akan memiliki banyak cabang, sesuai keinginan Ayahnya semasa hidupnya.


"Begini saja, kau ambil tabungan Papa dan buat usahamu sendiri. Biar aku yang mengurus Slick Grind Resto. Kita berjuang sendiri-sendiri"


Keputusan yang akhirnya diambil oleh Alvaro. Dia benar-benar menjalankan Restaurant tanpa memegang modal sepeser pun. Bermodalkan nekat, Alvaro mencari investor yang mau menanamkan modal tambahan di Restaurant itu. Hingga sahabatnya, Aiden yang menjadi penolongnya saat itu. Aiden meminta Ayahnya untuk menanamkan modal tambahan di Slick Grind Resto. Dan sekarang Restaurant itu benar-benar terkenal dan memiliki banyak cabang baru.


Sementara Alvino juga mulai merintis usahanya di bidang property. Meski sebuah perusahaan yang tidak terlalu besar dan terkenal. Tapi, dia termasuk sosok muda yang sukses yang memulai usahanya dari awal seorang diri.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2