
Pagi ini Alvaro terpaksa harus pergi ke Resto. Sudah hampir dua minggu lebih, dia tidak pergi untuk mengecek Slick Grind Resto. Jadi Alavaro terpaksa hari ini harus mengecek Resto. Meski dia merasa sangat tidak rela untuk meninggalkan istrinya, apalagi istrinya masih belum bisa melakukan apapun sendiri.
"Sudah ihh, kamu pergi saja. Aku tidak papa, lagian di rumah ini ada Dokter Clarissa dan Tante juga. Ibu juga akan datang nanti. Jadi, kamu tidak perlu terlalu mengkhawatirkan aku"
Alvaro masih saja menempel pada istrinya. Memeluk Tami dari belakang, mengecup pipi istrinya beberapa kali. "Tapi aku benar-benar merasa berat saat untuk harus meninggalkan kamu. Bagaimana kalau kamu ingin ke kamar mandi atau apa nanti"
Tami tersenyum, dia mengelus kepala suaminya yang berada di bahunya. "Aku bisa sendiri Sayang, lagian kaki aku sudah bisa hanya untuk melangkah ke kamar mandi saja. Kan sudah kamu sediakan tongkat untuk aku"
Alvaro menggeleng cepat. "Tidak! Pokoknya kalau kamu ingin ke kamar mandi atau kemana pun, kamu harus meminta bantuan pada orang rumah. Jangan membuat aku semakin khawatir dan cemas saat meninggalkan kamu"
Tami mengangguk saja, untuk menghilangkan kekhawatiran suaminya yang berlebihan itu, hanya dengan Tami menuruti dan mengiyakan apa yang dikatakan suaminya.
"Baiklah, kamu benar-benar harus menjaga diri kamu baik-baik. Sore, aku sudah pulang"
"Iya Sayang, kamu hati-hati ya di jalannya"
Alvaro mengangguk, dia mencium kening istrinya sebelum pergi bekerja. Tami tersenyum saat perhatian suaminya yang begitu besar padanya. Meski terkadang terasa terlalu berlebihan, tapi Tami mengerti jika beginilah cara Alvaro mencintainya. Apalagi dia sudah melewati banyak rintangan selama satu tahun ini. Bagaimana Alvaro selalu sabar menunggu Tami untuk bangun dari koma.
Terima kasih Tuhan, karena sudah menghadirkan dia dalam hidupku.
Clarissa masuk ke dalam kamar, dia akan mengecek keadaan Tami pagi ini. "Selamat pagi Tami, bagaimana keadaan kamu hari ini?"
Tami tersenyum, dia mulai menerima keberadaan Clarissa di rumah ini. Karena Dokter cantik itu terlihat begitu baik dan tulus merawatnya selama ini.
"Lebih baik Dok"
"Baguslah, sekarang biar aku periksa dulu keadaan kamu ya"
Tami mengangguk dan membiarkan Clarissa memeriksa keadaannya. Clarissa melihat bagaimana perkembangan Tami yang begitu baik sampai saat ini. Clarissa memijat pelan kakinya, melihat reaksi Tami atas sentuhan pada kakinya.
"Dok, apa bisa kita berlatih berjalan hari ini?"
Clarissa mendongak dan menatap Tami, terlihat sekali semangat di wajah Tami. "Bisa saja, tapi suamimu melarangnya. Katanya semalam kaki kamu terasa sakit. Tapi sebenarnya itu adalah perkembangan yang baik. Tidak terlalu perlu di khawatirkan"
__ADS_1
"Iya makanya, memang suamiku saja yang terlalu berlebihan. Jadi, mumpung sekarang dia tidak ada di rumah. Meningan kita terapi berjalan lagi, aku sudah bosan hanya berdiam di kamar. Aku ingin segera bisa berjalan normal lagi"
Clarissa sedikit berfikir, dia takut jika Alvaro mengetahuinya maka dia akan marah besar pada Clarissa. Tapi melihat semangat dalam diri Tami, dan tatapan memohon dia. Membuat Clarissa tidak bisa menolaknya.
"Baiklah, ayo kita berlatih. Tapi bagaimana kalau kita belajar berjalannya di sini. Di dalam kamar saja, kamu hanya perlu berjalan di sekitaran sini saja"
Tami mengangguk, belajar berjalan di dalam kamar pasti lebih baik daripada di luar. Jadi, tidak akan ada yang tahu dan tidak akan ada yang melaporkannya pada Alvaro.
Dan hari ini Tami habiskan dengan terus belajar berjalan agar dia bisa segera berjalan dengan normal. Meski beberapa kali terjatuh, tapi Tami tidak menyerah sampai disitu. Semangat dalam dirinya sedang benar-benar bergelora. Dia hanya ingin segera bisa berjalan normal dan bisa mengendong anaknya. Tami ingin mengurus sendiri kedua anaknya itu dengan tangannya sendiri.
"Sudah dulu Mi, aku rasa latihan hari ini selesai sampai disini. Kamu sudah mempunyai perkembangan yang baik. Kita lanjutkan besok, sekarang kamu harus istirahat"
Tami mengangguk, dia berjalan menuju tempat tidur dengan sedikit tertatih-tatih, namun dia bisa sampai juga di tempat tidur. Duduk di pinggir tempat tidur, Tami mengambil segelas air minum di atas nakas dan meminumnya sampai tandas.
"Kamu istirahat ya Mi, nanti keburu suami kamu pulang. Kalau sampai Al tahu kamu belajar berjalan tanpa dia ketahui. Pasti Al akan marah besar padaku"
"Tenang saja Dok, aku pastikan jika suamiku tahu. Dia tidak akan berani marah dengan Dokter"
"Iya Dok, terima kasih ya"
Clarissa mengangguk dan tersenyum, lalu dia segera keluar dari kamar Tami.
...💫💫💫💫💫💫💫💫...
Sore hari Alvaro benar-benar pulang, dia segera menemui istrinya di dalam kamar. Namun, Alvaro menemukan istrinya tidak ada di tempat tidur. Membuat Alvaro panik dan langsung berteriak memanggil-manggil istrinya.
"Sayang, kamu dimana? Tami, Sayang.."
Pintu ruang ganti yang terbuka membuat Alvaro langsung menoleh ke arahnya. Dia mematung di tempatnya ketika melihat istrinya yang berdiri di ambang pintu ruang ganti.
"Sayang..." Setelah kesadarannya kembali, Alvaro segera menghampiri istrinya dengan panik. "...Kenapa berjalan sendiri ke kamar mandi? Kamu bisa meminta bantuan pada orang-orang di bawah"
Tami tersenyum menenangkan pada suaminya. Meraih tangan Alvaro dan menciumnya. "Tenang saja, aku sudah bisa berjalan kok. Kamu lihat ya"
__ADS_1
Tami berjalan menuju tempat tidur dengan sedikit tertatih-tatih. Alvaro yang melihat itu langsung memegangi lengan Tami. Takut jika istrinya akan terjatuh ke atas lantai.
"Sayang, aku bisa sendiri kok. Kamu tenang saja"
Alvaro mendudukan Tami di pinggir tempat tdiur. Lalu dia duduk di atas lantai, tepat di hadapan istrinya itu. Melihat kaki Tami yang sedikit membengkak. Seolah kaki itu telah di paksakan berjalan. Seperti saat kemarin Tami yang terlalu memaksakan diri, hingga malam harinya kaki dia terlihat bengkak.
Alvaro menatap Tami dengan tatapan menyelidik. "Apa kau berlatih berjalan lagi?"
Seketika tubuh Tami langsung menegang, dia bingung kenapa suaminya bisa tahu. Padahal Tami belum bicara apa-apa. "Tidak. Aku tidak berlatih berjalan, kan kamu sendiri yang melarangnya"
Alvaro menyipitkan matanya tajam, merasa tidak percaya dengan ucapan istrinya barusan. "Bohong! Terus kenapa kaki kamu bengkak?"
Hah?!
Tami langsung melihat kakinya, ya memang bagian bawah kakinya terlihat bengkak. Tapi dia saja sampai tidak sadar dengan kakinya yang bengkak. Justru malah suaminya yang lebih teliti yang lebih dulu mengetahui kakinya yang bengkak.
"Sudah tidak perlu berbohong lagi. Aku tahu jika kamu pasti memaksakan diri lagi untuk berlatih berjalan"
Adriana diam dengan kepala yang menunduk. Dia sedang mengakui kesalahannya. Tapi kesalahan apa, karena Adriana hanya ingin segera sembuh dan bisa segera berjalan.
"Sayang, kenapa si gak pernah menurut padaku? Kamu tahu kalau aku hanya tidak ingin kamu sakit lagi. Kalau kaki kamu terus di paksakan untuk berjalan, pasti akan tanbah sakit"
"Maaf Sayang, aku 'kan hanya ingin segera sembuh dan benar-benar bisa berjalan normal lagi"
"Iya aku tahu, tapi 'kan kamu juga harus bersabar. Karena semuanya pasti butuh proses. Kamu koma bukan di waktu sebentar, jadi pantas saja jika saraf di kaki kamu belum benar-benar pulih. Jadi bersabarlah"
"Iya Sayang, maafkan aku"
"Jangan ulang lagi!"
Adriana mengangguk sebagai jawaban.
Bersambung
__ADS_1