
Sore ini Tami sedang bermain dengan kedua anaknya di depan televisi. Meluhat perkembangan si kembar yang saat ini sudah mulai belajar berjalan, membuat Tami begitu senang.
"Sayang, sini Nak jangan terlalu jauh Alqi.."
Tami mengejar Alqi yang berjalan terlalu jauh darinya. Melihat cara berjalan anaknya ini, Tami jadi ingat saat dirinya juga belajar berjalan saat baru tersadar dari koma. Memang sama persis, saat Tami belajar berjalan juga seperti saat ini Alma dan Alqi yang berlajar berjalan.
"Wah, sedang apa anak-anak Papa ini?"
Tami menoleh pada suaminya yang baru saja pulang bekerja. Dia tersenyum melihat Alvaro yang langsung ikut bergabung dengan anak-anaknya.
"Sayang tumben pulang cepat"
Alvaro menghampiri istrinya, lalu dia mencium kening Tami dengan lembut. "Ya, aku sengaja saja ingin pulang lebih cepat"
Tami tersenyum mendengarnya, dia memeluk suaminya dan menyadarkan kepalanya di dada bidang Alvaro. Dia sedang ingin bermanja saja pada suaminya. Rasanya sudah lama sekali Tami tidak seperti ini pada suaminya.
"Sayang kapan kita akan jalan-jalan?"
Alvaro tersenyum, dia ingat jika dia pernah berjanji untuk mengajak Tami pergi jalan-jalan setelah dia sembuh. "Ayo, mau kapan?"
"Emm. Sebenarnya aku tidak ingin jalan-jalan si. Aku hanya ingin bermain ke rumah Ibu saja"
Sudah Alvaro duga, istrinya ini memang bukan seorang wanita yang hobby jalan-jalan dan berbelanja seperti kebanyakan wanita lainnya. Tapi dia lebih menginginkan sesuatu yang sederhana namun membuatnya bahagia.
"Besok saja bagaimana? Kita pergi ke mall, dan setelah itu langsung ke rumah Ayah dan Ibu"
Tami mengangguk antusias, lalu tertawa ketika melihat Alqi yang berjalan ke arah mereka dan menghambur ke pelukan Tami. Lalu Alqi memukul-mukul tangan Alvaro yang memeluk Tami.
"Sayang, lihatlah. Apa dia cemburu karena aku memelukmu?"
Tami tertawa mendengarnya, memang anak laki-lakinya ini lebih dekat dengan Tami. Seolah dia tidak boleh saja Tami bersama Alma, walau hanya sekejap.
__ADS_1
"Mungkin memang begitu Sayang" Tami mencium gemas pipi gembil anaknya ini. Dan seolah tidak mau kalah, Alma yang sedang bermain dengan pengasuhnya juga langsung berjalan ke arah Tami. Kini keduaya berada di atas pangkuan Tami.
"Ya ampun, Alma sini sama Papa Nak. Kenapa kalian malah menindih Mama seperti itu"
Tami tertawa meski dia merasa kakinya sakit ketika Alma berdiri di atas kaki kirinya dan Alqi yang duduk di atas kaki kanannya. Alma meraba wajah Tami lalu dia meraba wajahnya sendiri, seolah sedang menyamakan antara wajahnya dan wajah Ibunya.
"Iya Sayang, Papa tahu kalau wajah kalian itu mirip. Hampir sama" Alvaro memaksa menggendong Alma dan mendudukannya di atas pangkuannya. Dia tidak tega melihat istrinya yang sedikit kewalahan dengan kedua anaknya yang ingin bersamanya.
"Alma cantik, tapi Mama juga cantik. Jadi, kalian berdua adalah ratu dan putri dalam kehidupan Papa"
Tami tersenyum mendengar ucapan suaminya itu. Merasa sangat bahagia mendengarnya. Saat ini, Tami tidak pernah menyangka jika masa ini akan ada. Dimana dia berkumpul dengan suami dan kedua anaknya. Saling berbicara dan bercanda bersama. Tapi saat ini, Tami benar-benar merasakan hal ini. Kebahagiaan yang tidak dapat dia ucapkan dengan kata-kata.
Terima kasih Tuhan, karena masih memberiku kesempatan hidup dan bahagia bersama kedua anakku dan suamiku.
...💫💫💫💫💫💫💫💫...
Tami sudah bersiap pagi ini, dia begitu bersemangat untuk pergi ke rumah Ibu. Sudah lama sekali dia tidak perna datang ke rumah orang tuanya. Mungkin terakhir kali adalah saat dia mengetahui tentang permasalahan yang terjadi pada kandungannya. Dan hari itu, lebih dari satu tahun yang lalu.
"Emm. Iya Sayang, sebentar lagi. Aku masih mengantuk"
Tami mendengus kesal, dia sudah mengingatkan semalam untuk Alvaro yang tidak terlalu lama bermain dengannya karena hari sudah larut malam. Tapi masih saja dia melakukannya karena masih belum merasa puas. Pada akhirnya mereka benar-benar tertidur hampir dini hari dan sekarang Alvaro susah bangun, padahal sudah janji untuk mengajak Tami berjalan-jalan.
"Sayang, ayo dong. Keburu siang nantinya, makanya kalau aku bilang udah ya udah. Bukan malah mulai lagi dari awal"
Alvaro menghembuskan nafas panjang sebelum dia benar-benar membuka matanya yang masih terasa berat itu. Menatap istrinya yang sudah bersiap. Alvaro bangun dan menatap istrinya yang terlihat sangat cantik pagi ini.
"Sayang, kenapa kamu sangat cantik?"
Tami memutar bola mata malas, dia mulai curiga dengan tatapan suaminya itu. Membuat Tami segera berdiri dan menjauh dari suaminya. "Jangan macam-macam Sayang, kita 'kan mau pergi sekarang. Mendingan kamu segera mandi dan bersiap. Aku akan lihat dulu si kembar di bawah"
"Sayang, gak mau cium dulu? Atau peluk dulu sebentar?"
__ADS_1
"Tidak! Kamu bau, belum mandi"
Tami berlalu keluar kamar, sementara Alvaro kembali menjatuhkan tubuhnya di atas bantal. Menatap langit-langit kamar dengan senyuman yang sulit di artikan. Alvaro sedang mengingat kejadian malam tadi.
Semalam aku terlalu ganas kali ya, sampai istriku saja mengeluh capek dan meminta untuk segera menyudahinya.
Lalu Alvaro terkekeh sendiri mengingat hal itu. Dia segera turun dari atas tempat tidur dan berjalan ke arah ruang ganti. Segera mandi dan bersiap.
Di lantai bawah, Tami sedang menatap kedua anaknya yang sudah rapi dan wangi. Mereka telah di mandikan oleh pengasuhnya.
"Wahh, anak Mama sudah wangi sekali. Seneng ya mau jalan-jalan..." Tami mencium Alma dan Alqi secara bergantian. Lalu dia menoleh pada pengsuhnya. "...Mbak apa semua perlengkapan si kembar sudah disiapkan?"
"Iya Nona, semuanya sudah ada di dalam tas ini. Emm. Apa Nona yakin untuk saya tidak ikut dengan kalian? Takutnya nanti anda kewalahan menjaga si kembar"
Tami tersenyum, dia mengambil tas berukuran sedang dari pengasuh anaknya."Tidak perlu Mbak, saya bisa kok. Lagian ada suami saya juga dan kasihan juga Mbak belum pernah libur selama bekerja disini. Jadi biarkan hari ini Mbak bisa istirahat"
"Baik Nona, terima kasih"
"Iya Mbak sama-sama"
Pintu kamar terbuka dan Alvaro langsung masuk ke dalam kamar. Menghampiri istri dan anak-anaknya. "Sayang ayo berangkat, aku sudah siap"
Tami menatap suaminya, lalu dia mengangguk. Alvaro menggendong Alqi dan Tami menggendong Alma. Sementara pengasuh anaknya membawakan tas dan kereta bayi lipat yang khusus untuk anak kembar. Dengan dua tempat yang berdampingan. Jadi si kembar bisa duduk dengan nyaman dengan di dorong oleh orang tuanya.
Setelah semuanya siap, Alvaro segera melajukan mobilnya. Dia menatap istrinya yang memangku kedua anaknya. Namun anehnya, Alma dan Alqi yang biasanya sangat aktif. Mereka diam diatas pangkuan Ibunya. Hany bereceloteh tidak jelas saja saat melihat beberapa mobil dan kendaraan lainnya yang lewat.
"Sayang, kenapa kamu tidak mau bawa si Mbak pengasuh saja. Sekarang kamu jadi kerepotan sendiri 'kan"
Tami menoleh dan tersenyum pada suaminya. "Tidak papa, aku hanya ingin memberi waktu Mbak'nya anak-anak untuk istirahat sebentar. Dia tidak pernah libur selama ini"
Bersambung
__ADS_1