My Sweet Girl

My Sweet Girl
Keluar Kota?!


__ADS_3

Sebenarnya Tami sudah merasa lebih baik, efek alergi dia pada kacang kedelai seharusnya juga sudah hilang. Tapi, entah kenapa tubuhnya masih terasa lemas sampai saat ini. Bahkan dia masih sering merasa mual dan muntah di pagi hari. Sekarang Tami jadi bingung sendiri ada dengan tubuhnya itu.


"Sayang, nanti sore aku harus ke luar kota. Ada pekerjaan disana, mungkin agak lama. Kamu mau ikut saja kesana"


Tami yang sedang memakai riasan tipis di depan meja rias, langsung menoleh pada Alvaro yang duduk diatas sofa. Dia sedang memakai sepatunya.


"Berapa lama?"


"Aku tidak bisa menentukan, karena aku bikin cabang baru disana. Jadi pasti akan cukup memakan waktu juga"


Tami menghela nafas, sebenarnya dia tidak ingin suaminya pergi meninggalkan dirinya. Tapi, apa boleh buat. Ini juga sebuah pekerjaan yang harus Akvaro lakukan. Dia punya tanggung jawab juga atas pekerjaannya.


"Gak bisa ikut, aku 'kan kuliah disini. Kamu pergi aja, nanti kalau hari libur aku akan datang kesana, mengunjungimu"


Alvaro menghampiri istrinya, memeluknya dari belakang. Keduanya saling menatap di balik pantulan cermin. "Sebenarnya aku juga berat meninggalkan kamu, tapi gimana lagi. Pekerjaanku memang seperti ini, dulu saja aku sampai satu bulan berada di luar kota hanya untuk mengurus pekerjaan. Aku hanya ingin mewujudkan cita-cita Papa dulu, menjadikan Slick Grind Resto terkenal di mana-mana. Memiliki banyak cabang di beberapa kota"


Tami tersenyum, dia memegang tangan suaminya yang melingkar di dadanya. Senang rasanya ketika dia mempunyai suami yang begitu berbakti pada kedua orang tuanya. Meski orang tuanya telah tiada.


"Aku akan selalu mendukung kamu, Sayang. Pokoknya lakukan apa yang menurut kamu terbaik"


Cup..


Alvaro mengecup puncak kepala Tami dengan lembut. "Iya Sayang, terima kasih karena sudah mendukung aku dan selalu bersamaku"


Sejenak mereka hanya saling memeluk dan menatap satu sama lain, sampai Tami mulai merasa mual lagi. Dia melepaskan lingkaran tangan suaminya dan berlari ke kamar mandi. Kembali muntah di wastaffel. Alvaro yang melihat itu, tentu saja membuatnya panik. Dia berlari menyusul Tami ke dalam kamar mandi.


"Sayang, muntah lagi ya. Duh, kenapa si kamu ini. Apa kita periksa lagi ke dokter" Alvaro membantu memijat tengkuk Tami dan memegang rambut istrinya agar tidak menghalangi wajahnya saat dia muntah.


Tami mencuci wajahnya setelah merasa mualnya reda. "Tidak perlu Sayang, sepertinya ini masih efek dari alergi aku deh"


Mengingat itu Alvaro jadi kesal sendiri pada istrinya. Dia mendengus kesal karena istrinya tidak lebih hati-hati dengan apa yang dia makan. Sudah tahu dia memiliki alergi dengan beberapa makanan tertentu.


"Yaudah, hari ini gak usah kuliah saja. Istirahat di rumah"


"Aku gak papa kok, bisa kalau aku kuliah"

__ADS_1


"Sayang pliss, nanti sore aku sudah harus pergi. Aku gak akan tenang meninggalkan kamu dalam keadaan seperti ini"


Tami menghembuskan nafas kasar, dia memeluk suaminya. "Yaudah, aku gak kuliah hari ini. Tapi kamu juga gak boleh kerja, temani aku di rumah sampai nanti kamu berangkat ke luar kota"


Alvaro mengangguk, dia balas pelukan Tami dengan mengelus rambut istrinya itu. "Iya, seharian ini aku akan temani kamu di rumah. Aku juga butuh asupan nutrisi sebelum aku berangkat, apalagi akan cukup lama aku disana"


Tami memutar bola mata malas dalam pelukan suaminya, jelas dia mengerti apa yang di maksud Alvaro barusan.


Mereka masuk ke dalam kamar dan benar saja, Alvaro sedang meminta asupan nutrisi yang banyak dari Tami. Agar dia bisa lebih kuat bertahan saat jauh dari istrinya nanti.


"Sudah ihh, aku lelah"


"Sebentar lagi Sayang, janji ini yang terakhir"


"Ahh.. Sebenarnya kamu suruh aku istirahat, atau malah membuat aku kecapean seperti ini"


Alvaro tidak menjawab, dia hanya tersenyum mendengar ucapan istrinya. Masih bermain dengan kegiatannya, sampai akhirnya dia melepaskan kenikmatan yang kesekian kalinya siang ini. Berakhir dengan berpelukan di atas tempat tidur dan keduanya terlelap dengan nyaman.


...💫💫💫💫💫💫💫💫 ...


"Sudah dong jangan cemberut terus..." Alvaro memeluk istrinya dan memberikan kecupan di puncak kepalanya beberapa kali. "...Aku janji kalau misalkan ada waktu luang sehari saja, aku akan sempatkan pulang kesini. Menemuimu"


"Yaudah, kamu hati-hati disana ya. Jaga hati kamu itu"


Alvaro tersenyum mendengarnya, dia menangkup wajah Tami dengan kedua lengannya. Menatap mata gadis itu dengan lekat. "Tidak akan ada yang bisa menggantikan kamu, Sayang. Sampai kapanpun kamu adalah yang terbaik untukku"


Cup...


Seketika Alvaro terdiam saat tiba-tiba istrinya yang memulai ciuman kali ini. Terkejut beberapa saat, sampai Alvaro sadar jika dia tidak bisa menyia-nyiakan kesempatan ini. Dia menahan tengkuk leher Tami, semakin memperdalam ciuman mereka.


Bahkan sepertinya mereka lupa jika saat ini sedang berada di teras depan. Mungkin ada yang melihatnya, tapi keduanya benar-benar tidak peduli. Saat ini mereka hanya ingin menyalurkan rasa cinta masing-masing dengan ciuman perpisahan ini.


Tami melepaskan tautan bibir mereka, dia menunduk dengan wajah yang memerah. Malu juga karena dia yang memulai. "Sudah sana pergi, hati-hati di jalan"


Alvaro tersenyum melihat wajah merah malu istrinya. Dia menangkup wajah Tami, lalu memberikan ciuman di seluruh bagian wajah istrinya. Tak terlewat sedikit pun, mulai dari kedua mata, pipi, hidung dan bibir.

__ADS_1


"Aku mencintaimu, tunggulah sampai aku pulang"


"Iya Sayang, aku juga mencintamu"


Dan hari ini Tami benar-benar melihat suaminya yang pergi dengan supir menuju bandara. Kota yang akan Alvaro kunjungi untuk pembangunan cabang Restonya adalah sebuah kota yang cukup terpencil dan jauh dari Ibu kota. Sehingga membuat Alvaro memilih untuk menggunakan pesawat kesana, agar lebih cepat.


Setelah suaminya pergi, Tami kembali ke kamarnya. Duduk terdiam di sofa dekat jendela kamarnya. Menatap pemandangan di luar jendela.


"Padahal baru satu jam yang lalu kamu pergi, kenapa aku sudah merasa rindu ya. Ya ampun Tami, kenapa kamu jadi bucin begini"


Ternyata Alvaro memang telah berhasil menembus dinding pembatas di hati Tami. Alvaro telah berhasil menempati ruang kosong di hatinya. Tami yang tertutup dan cenderung menutup hatinya pada pria manapun. Akhirnya luluh juga oleh Alvaro.


Tami berdiri, berjalan menuju tempat tidur dan mengambil ponselnya di atas nakas. Mengirim pesan pada Alvaro, namun masih belum aktif. Artinya Alvaro belum sampai.


Ya Tuhan, lindungi suamiku dimana pun dia berada.


Tami hanya bisa berdo'a untuk keselamatan Alvaro.


...💫💫💫💫💫💫💫💫...


Di kota yang berbeda, Alvaro baru saja turun dari pesawat setelah melewati perjalanan beberapa jam. Dia berjalan ke arah seorang pria muda yang menjadi penanggung jawab proyek Restaurant disini.


"Selamat malam Tuan, silahkan" Dia membukakan pintu mobil untuk Alvaro.


"Makasih Di"


Setelah Odi memasukan koper milik Alvaro ke bagasi mobil. Dia masuk ke dalam mobil dan segera melajukannya.


"Saya sudah siapkan penginapan untuk Tuan"


Alvaro menagangguk, dia sedang mengaktifkan ponselnya. "Disini sinyalnya cukup jelek ya"


"Iya Tuan, memang sinyal disini masih cukup jelek untuk jaringan ponsel"


Alvaro menghela nafas berat, sepertinya dia akan sedikit sulit menghubungi istrinya nanti.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2