
Tami dan Alvaro kembali ke rumah Ayah dan Ibu. Ketika mereka datang, ternyata si kembar telah terbangun dan sedang bermain dengan Ayah dan Ibu di halaman rumah.
"Kamu jarang bawa anak kamu ini main diluar rumah Mi?"
Tami menggeleng pelan, mencium pipi Alma dan Alqi secara bergantian.
"Anak itu harus sering dibawa main di luar ruangan Mi. Biar dia bisa mengenal alam dan juga menemukan suasana baru. Lihat saja, sekarang mereka terlihat sangat senang saat bermain di luar. Jangan takut kotor, karena anak-anak juga perlu mengenal kotor biar dia terbiasa jika sudah besar nantinya"
Tami hanya tersenyum mendengar penjelasan panjang lebar dari Ibu. Memang seperti itulah Ibunya, selalu cerewet jika sedang memberi tahu anaknya.
"Dulu juga kamu sering Ayah bawa main ke danau, senangnya bukan main"
Tami tertawa mengingat masa kecilnya yang sangat bahagia. Meski terlahir dari keluarga yang sederhana. Bahkan Tami kecil tidak mempunyai banyak mainan seperti kebanyakan anak-anak kecil lainnya. Tapi dia selalu bahagia, karena Ayah selalu bisa membuatnya bahagia.
Alavro mengelus kepala istrinya, dia senang melihat tawa istrinya kembali lagi. Mengecup kepala istrinya dengan lembut. Ternyata kebahagiaan Tami itu benar-benar sangat sederhana. Bisa berkumpul dengan kedua orang tuanya saja, sudah membuat dia sebahagia ini.
Setelah cukup puas berada di rumah kedua orang tuanya. Tami dan Alvaro kembali pulang ke rumah. Si kembar langsung terlelap setelah dia mandi dan berganti pakaian. Tami menatap kedua anaknya yang terlelap di dalam box bayi.
"Pasti capek ya main seharian dengan Kakek dan Nenek. Senang ya kalian main disana? Nanti kalau ada waktu, kita main lagi kesana ya"
Pintu kamar terbuka dan Alvaro masuk ke dalam kamar. Memeluk istrinya yang sedang berdiri di dekat box bayi.
"Mereka tidur ya?"
Tami mengangguk, dia mengelus tangan suaminya yang berada di perutnya. "Mungkin kecapen, senang sekali mereka bermain disana. Kapan-kapan ajak mereka piknik yuk?"
"Piknik ya? Boleh, ayo kita rencanakan lagi. Ajak Ayah, Ibu dan Tante juga bagaimana?"
Tami mengangguk setuju. "Lebih ramai pasti lebih seru"
Dan kebahagiaan mereka semakin bertambah sejak kehadiran si kembar. Semakin bertambah ketika Tami sudah benar-benar sembuh. Semua rintangan dalam hidup mereka telah bisa mereka lewati.
"Sayang, ayo ke kamar. Aku ingin sesuatu denganmu"
Kata sesuatu yang disebutkan oleh Alvaro tentu Tami mengerti apa maksudnya. Dia menoleh pada suaminya dan tersenyum menggoda pada Alvaro.
__ADS_1
"Sayang jangan mulai menggodaku, atau aku benar-benar tidak bisa menahannya. Bisa saja aku langsung melakukannya disini"
Tami langsung mendorong tubuh suaminya untuk keluar kamar. Bisa runyam masalahnya jika suaminya benar-benar melakukannya di kamar anak-anak mereka.
"Jangan macam-macam deh Sayang, kalau sampai anak-anak ke bangun bagaimana"
"Abisnya kamu yang menggoda aku"
Tami menggeleng pelan dengan tingkah suaminya ini. Selalu saja berdalih jika dirinya telah menggodanya. Padahal pada kenyataannya dia yang selalu tidak bisa nahan.
Sepasang suami istri ini masuk ke dalam kamar, berakhir dengan Alvaro mengunci kamar dan suara langsung senyap seketika. Entah mereka melakukan apa didalam sana.
...💫💫💫💫💫💫💫💫...
Pagi ini ketika Tami ke kamar mandi, dia melihat noda merah di pakaian dalamnya. Dia tersenyum karena artinya hormon dalam dirinya telah kembali normal setelah dia mengalami koma.
Tami menyelesaikan mandinya dan segera berganti pakaian. Dia keluar kamar dan melihat suaminya yang masih bergelung dibawah selimut.
"Sayang, kau sudah mandi ya? Cantik sekali"
Tami duduk di kursi depan meja rias, menoleh pada suaminya dan tersenyum. "Cepat bangun Sayang, sudah pagi. Kamu gak ke Resto hari ini?"
"Yaudah, aku ke bawah ya mau lihat anak-anak sekalian bikin sarapan"
Tami mengecup bibir suaminya sebelum dia keluar kamar. Hal itu membuat Alvaro tersenyum. Perlakuan istrinya yang seperti ini selalu membuatnya bahagia. Tami tidak pernah menutupi perasaannya pada Alvaro. Bahkan sering kali dia mencium dirinya tanpa haru Alvaro meminta.
Tami sampai di kamar kedua anaknya dam ternyata tidak beda jauh dari Ayahnya. Kedua anaknya juga masih terlelap. Mungkin karena cuaca sekarang yang mendung dan gerimis membuat kedua anaknya begitu nyaman tertidur.
"Papa kalian juga sudah banget bangun, ehh anak-anaknya sama aja" Tami terkekeh dengan ucapannya itu. Dia mengelus kepala Alqi.
"Mbak tolong jaga anak-anak ya, saya mau buat sarapan"
"Baik Nona"
Tami menyiapkan sarapan untuk pagi ini dengan dibantu oleh pelayan. Ketika suaminya datang menghampirinya dan memeluknya dari belakang. Tami langsung menepis tangan Alvaro karena malu dengan pelayan yang ada disana.
__ADS_1
"Sayang apaan si, malu sama Mbak"
"Gak papa, kenapa harus malu? Kita suami istri, Mbak juga pasti mengerti"
Mendengar itu membuat Tami menggeleng tidak percaya dengan ucapan suaminya itu. Benar-benar tidak ada malu sedikit pun saat bermesraan dengannya di depan pelayan.
"Mbak maaf ya"
Pelayan itu hanya tersenyum, dia mengerti sebucin apa Alvaro pada istrinya. Karena hal seperti ini bukan hanya sekali saja terjadi. Tapi sudah berulang kali.
"Tidak papa Nona"
"Tuh tidak papa, jadi aku bisa memelukmu disini. Abisnya aku merindukan kamu"
Tami memutar bola mata malas, baru setengah jam dia pergi dari kamar dan meninggalkan suaminya. Tapi Alvaro sudah bicara jika dia sudah merindukannya. Memang suaminya ini selalu terlalu melebihkan.
"Sayang lepas dulu ih, aku mau masak kamu malah mengganggu kayak gini"
"Tidak papa Nona, biar saya saja yang melanjutkan memasak semua ini"
Cup..
Alvaro malah mengecup pipi Tami tanpa merasa malu sedikit pun pada pelayan yang ada disana. "Sayang kamu dengar apa kata pelayan. Sudah sekarang kamu temani aku saja"
Ini tidak akan benar. Gumam Tami, akhirnya dia memilih menuruti saja keinginan suaminya dan tidak jadi membuat sarapan. Karena Alvaro benar-benar tidak akan membiarkannya lepas begitu saja. Dan berakhir dengan duduk di atas sofa dengan televisi yang menyala. Saling berpelukan dengan nyaman.
"Sayang, aku datang bulan tadi"
Alvaro langsung menundukan pandangannya untuk menatap Tami yang berada dalam pelukannya. "Beneran? Berarti kamu bisa lebih cepat pasang kontrasepsi"
Adrina mendongak, menatap wajah suaminya dengan lekat. "Kamu yakin untuk tetap pasang kontrasepsi?"
Alvaro mengangguk yakin, di memang sudah sangat yakin dengan keputusannya ini. Alvaro tidak mau sampai harus mengambil resiko yang akan dia sesali nantinya. Cukup satu kali saja dia merasa takut kehilangan ketika melihat istrinya yang tidak sadarkan diri selama satu tahun lamanya.
"Aku yakin, kita cukup dengan dua anak saja. Ikut program pemerintah 'kan. Dua anak lebih baik"
__ADS_1
Tami terkekeh mendengar ucapan suaminya itu.
Bersambung