My Sweet Girl

My Sweet Girl
Kecelakaan?!


__ADS_3

Tami masih berada di kamarnya, masih terdiam sejak kepergian suaminya dengan kemarahan. Suara mobil membuat Tami segera turun dari atas tempat tidur, berjalan cepat menuju jendela kamar. Membuka tirai dan melihat mobil suaminya yang keluar dari pekarangan rumah. Tami menghembuskan nafas kasar. Entah kemana suaminya akan pergi setelah pertengkaran mereka barusan.


Akhirnya Tami duduk di sofa dengan memegang ponselnya. Dia mencoba menghubungi suaminya, mau bagaimana pun Tami tetap khawatir jika terjadi sesuatu pada suaminya yang pergi dalam keadaan marah. Namun, beberapa kali Tami menghubunginya tapi tetap tidak mendapat jawaban dari Alvaro.


"Kemana si dia ini? Kenapa aku jadi semakin khawatir"


Tami bingung harus menghubungi siapa? Karena dia tidak tahu teman-teman Alvaro. Dia tidak tahu siapa pun yang dekat dengan suaminya. Karena memang pada dasarnya Tami tidak tahu apa-apa tentang Alvaro.


Akhirnya setelah berpikir cukup keras, Tami berdiri dan mengambil jaketnya karena cuaca di luar mendung dan cukup dingin. Tami keluar dari rumahnya untuk mencari keberadaan suaminya. Motornya masih menjadi penghuni garasi rumah ini, dan sekarang menjadi berguna saat Tami ingin pergi mencari suaminya.


Dia mengendarai motornya dengan terus melirik ke kanan dan kiri jalan. Mencari keberadaan suaminya yang memang dia tidak tahu kemana tujuan suaminya ketika dia pergi dari rumah.


Sudah cukup lama Tami mengendarai motornya, hingga dia melihat suaminya ke luar dari super market dengan seorang wanita cantik. Tami memarkirkan motornya dan segera menghampiri suaminya dengan perasaan yang kacau. Ternyata memang sudah menjadi kebiasaan Alvaro jika mempunyai masalah dengan istrinya. Maka dia akan melampiaskannya bersama wanita lain.


Tami berdiri di depan Alvaro, menghadang dia dan wanitanya itu. Namun suaminya itu seolah tidak mengenalnya, dia malah melewati Tami begitu saja. Tanpa berkata apapun atau sekedar ingin menjelaskan tentang apa yang terjadi saat ini.


"Tuan.." Nyatanya Tami tidak bisa diam saja ketika melihat suaminya mengacuhkan dirinya disaat dia sedang bersama wanita lain.


Alvaro menoleh, dia menatap bingung pada Tami. "Kau memanggilku?"


Tami bahkan sampai menggeleng tidak percaya melihat akting suaminya yang sangat natural itu. Tami berjalan mendekatinya. "Ya, apa Tuan melupakan istri Tuan sendiri?"


Wanita yang sejak tadi bergelayut manja di lengan Alvaro langsung melepaskannya ketika mendengar ucapan Tami barusan. "Istri? Honey, apa benar dia adalah istrimu? Jadi selama ini kau membohongiku? Kau sudah punya istri?"


Tami menatap wanita itu yang terlihat sama marahnya dengan dirinya. Namun, Tami merasa tidak asing dengan wanita disamping suaminya.


"Ya, saya adalah istrinya. Meski Tuan merubah penampilan Tuan dengan memakai kacamata, tapi saya tidak akan salah mengenali Tuan"


"Kau gila ya!" Bentak Alvaro ketika dia merasa di permalukan oleh Tami. Sudah banyak orang yang menatap aneh ke arah mereka.


"Honey, aku tidak tahu siapa dia. Aku tidak mengenalnya"

__ADS_1


Sungguh ucapan Alvaro barusan membuat Tami merasa hancur. Hatinya begitu terluka ketika mendengar ucapan Alvaro. Suaminya bahkan berpura-pura tidak mengenalinya hanya karena dia sedang bersama wanita lain.


"Kamu pikir aku bodoh, tidak mungkin ada seorang wanita yang mengaku istrimu jika dia tidak merasa telah kau nikahi" Wanita di samping Alvaro pergi begitu saja.


"Sayang tunggu, aku benar-benar tidak tahu siapa wanita itu" Alvaro pun mengejar wanita itu tanpa menghiraukan lagi keberadaan Tami disana.


Melihat suaminya yang pergi mengejar wanita lain, tubuh Tami langsung lunglai begitu saja. Dia merasa hatinya begitu terluka melihat sikap suaminya barusan. Bahkan suaminya berpura-pura tidak mengenali dirinya hanya tidak mau wanita itu marah padanya.


Ternyata dia tetap tidak bisa menerima ketika melihat suaminya bersama wanita lain. Hatinya begitu sakit dan terluka. Kini, Tami sadar jika seberapa keras dia berusaha untuk menahan hatinya dan tidak membuka hati untuk suaminya. Tapi tanpa sadar dirinya telah membuka hatinya, bahkan telah menyimpan nama Alvaro di hatinya. Tami telah jatuh cinta pada Alvaro.


Merasa lunglai hingga Tami tidak mampu menahan berat tubuhnya. Dia jatuh terduduk di atas tanah. Seiring dengan air mata yang menetes begitu saja di pipinya. Tami tidak bisa membiarkan suaminya bersama wanita lain. Dia tidak suka melihatnya.


Tuhan, kenapa sesak sekali.


Tami memukul dadanya ketika dia merasa sangat sesak. Tidak bisa menahan lagi rasa sesak di dadanya. "Kenapa kamu meminta aku untuk membuka hati, jika pada akhirnya hanya membuat hati ini terluka"


Duar..


Suara petir terdengar di iringi dengan rintik hujan yang mulai jatuh membasahi bumi. Tami membiarkan tubuhnya terkena air hujan yang lebat. Membiarkan air mata yang mengalir di pipinya tersamarkan oleh air hujan.


...💫💫💫💫💫💫💫💫...


Sementara Alvaro yang baru saja sampai di rumah setelah membeli minum di luar karena minuman kaleng yang biasa dia minum sudah tidak mempunyai stok di lemari es. Namun saat dia kembali ke rumah, Alvaro harus terkejut karena tidak menemukan keberadaan Istrinya. Alvaro sudah mencari Tami ke seluruh ruangan rumahnya. Dan tidak ada Istrinya dimana pun.


"Dia kemana? Kenapa selalu membuat khawatir. Di luar juga hujan"


Dan Alvaro baru menyadari jika motor istrinya tidak ada di garasi. Hal itu membuatnya semakin panik. Alvaro merogoh ponselnya di dalam saku celana. Dia melihat ada beberapa panggilan tidak terjawab dari Tami. Alvaro lupa jika dia telah men-silent ponselnya, hingga saat Tami meneleponnya tidak terdengar.


Alvaro mencoba menelepon balik nomor ponsel istrinya. Namun tidak mendapat jawaban, dia benar-benar khawatir sekarang. Apalagi ketika Tami pergi menggunakan motornya, sementara cuaca di luar sedang hujan deras.


"Bodoh, karena aku pergi begitu saja"

__ADS_1


Alvaro memang marah pada Tami saat mendengar ucapan istrinya itu. Namun dia juga tidak berniat meninggalkan Tami atau marah berlama-lama pada gadis itu. Alvaro keluar rumah hanya untuk menenangkan pikiran, sekalian dia membeli beberapa minuman untuk mengisi lemari es.


Alvaro masih mencoba menghubungi Tami, hingga untuk dering telepon yang ke sekian kalinya akhirnya terangkat.


"Hallo Tami, kau dimana?"


"Hallo, maaf Tuan apa ini keluarga dari gadis pemilik ponsel ini?"


Alvaro mengerutkan keningnya ketika mendengar suara orang lain dari sambungan teleponnya. Dia melihat layar ponselnya untuk memastikan jika dia tidak salah menelepon. Namun memang benar jika itu adalah nomor ponsel Tami.


"Hallo... Tuan, Hallo"


Alvaro segera menempelkan kembali ponselnya ke telinga. "Ya, Hallo"


"Apa Tuan saudara gadis pemilik ponsel ini?"


"Ya, saya suaminya"


"Ahh, kalau begitu Tuan sebaiknya segera ke rumah sakit. Istri anda mengalami kecelakaan" Menyebutkan nama rumah sakit di kota ini.


Deg..


Alvaro terdiam, dia seolah berada di dunia yang berbeda. Fikirannya langsung melayang, memikirkan keadaan Tami yang sekarang.


"Ke-kecelakaan?"


"Iya Tuan, sebaiknya Tuan segera ke rumah sakit sekarang"


"Baiklah, aku akan segera datang"


Seperti orang yang kesetanan, Alvaro melajukan mobilnya dengan begitu kencang. Dalam fikirannya saat ini hanya keadaan Tami.

__ADS_1


Semoga kau tidak kenapa-napa.


Bersambung


__ADS_2