My Sweet Girl

My Sweet Girl
Memberikan Apa Yang Alvaro Inginkan


__ADS_3

Mengetahui semua tentang suaminya adalah hal yang di inginkan Tami selama ini. Dan satu persatu cerita tentang suaminya mulai Tami ketahui. Tentang dia yang memiliki kembaran dan yang awal Tami ketahui saat ini adalah tentang hari kematian orang tuanya. Membuat Tami mengerti, jika Alvaro juga menyimpan kesedihan dalam dirinya. Di balik kebaikan yang selalu dia lakukan.


Tami menyiapkan pakaian ganti untuk suaminya ketika pintu kamar mandi terbuka. Suaminya berjalan ke arahnya, memeluk tubuhnya dari belakng.


"Ihh, Sayang basah kena baju aku"


"Biarin, salah sendiri mandi duluan. Aku ingin mandi bersama denganmu"


Tami menghela nafas pelan, memang suaminya ini selalu ada-ada saja keinginannya. Dan sejak mandi bersama waktu itu, entah kenapa Alvaro selalu ingin mengulang hal itu lagi dan lagi.


"Pakai baju dulu, nanti telat. Aku ada kelas pagi hari ini" Tami melepaskan lingkaran tangan Alvaro di perutnya, berbalik dan memberikan pakaian untuk suaminya.


"Nanti siang aku ke Restaurant kamu ya, jadi pulangnya kamu gak perlu jemput aku. Biar aku naik taxi online saja"


Alvaro memakai kemejanya, menatap istrinya itu dengan tatapan penuh curig. "Ngapain ke Resto?"


Tami mengerutkan keningnya, merasa heran dengan pertanyaan suaminya yang penuh dengan nada curiga. "Apasi kamu ini, ya aku mau ketemu kamu. Emangnya gak boleh kalau aku ke Resto kamu?"


"Bukan tidak boleh, tapi aku rasa kamu kesana karena ingin menemui pelayan pria itu 'kan? Yang pernah mengantar kamu pulang kesini" Alvaro berkata tanpa menatap ke arah Tami, dia sedang fokus mengancingkan kemeja yang di pakainya.


Tami menggeleng tidak percaya dengan ucapan suaminya itu. Benar-benar suami posesif. Gumamnya. "Kamu ini aneh, aku datang ke Resto ya pasti untuk menemui kamu. Masa kesana karena ingin menemui Kak Kemal si"


Lirikan tajam Alvaro membuat Tami terdiam, dia merasa merinding sendiri dengan tatapan suaminya kali ini.


"Berani sekali kau menyebutkan namanya, kau selalu mengingatnya ya? Padahal barusan aku tidak menyebutkan nama pria itu. Jadi, kau selalu mengingat namanya itu"


Apasi dia ini, cemburu juga harus tau aturan.


Tami berjalan mundur ketika suaminya terus berjalan mendekati. Tatapan Alvaro benar-benar membuat Tami tidak bisa berkutik. Ternyata memang seperti ini jika suaminya sedang dilanda cemburu buta. Padahal, istrinya tidak melakukan apa-apa. Hanya karena menyebut nama pria lain saja. Memangnya itu bisa dijadikan alasan untuk cemburu? Gumamnya.


Grepp...

__ADS_1


Alvaro menarik lengan Tami dengan satu tangannya. Satu tangan lainnya berada di pinggang Tami, menari tubuh istrinya agar semakin merapat dengan tubuhnya sendiri. Tami sudah tidak bisa berbuat apa-apa saat detak jantungnya mulai berdetak tidak beraturan. Tami menatap wajah suaminya dengan gugup. Posisi ini terlalu dekat dan mendebarkan jantungnya.


"Sa-sayang, mau apa?"


Alvaro menyeringai, jelas sekali tatapan pria itu tertuju pada bibir merah muda milik Tami. "Menurutmu aku akan melakukan apa?"


Tami hanya diam, dia tidak bisa berfikir jernih saat ini. Karena jika posisi sudah seperti ini, maka apalagi yang akan di lakukan Alvaro selain menyerangnya.


Dan benar saja, bibir Alvaro sudah menempel di bibirnya. Memberikan luma*tan halus pada Tami. Membuat Tami yang lambat laun memejamkan mata. Kedua tangannya tiba-tiba saja dia kalungkan di leher Alvaro. Mulai menikmati ciuman yang diberikan suaminya.


Gawat! Ini bisa lebih lama dari yang aku pikirkan.


Tami mulai mengendalikan kesadarannya, ketika tangan suaminya mulai meremas bagian dadanya. Sudah pasti semuanya akan lanjut ke hal lain, membuat Tami menepuk dada suaminya agar menyudahi semua ini.


"Apasi Sayang?" Alvaro terpaksa melepaskan tautan bibirnya dengan Tami. Padahal dia sedang sangat menikmatinya.


"Sayang, aku harus kuliah. Aku bisa telat" Tami segera berlari dari hadapan suaminya, dia tidak boleh dekat-dekat dengan suaminya di waktu mepet seperti ini. Entahlah, Tami tidak mengerti kenapa suaminya ini mulai menjadi suami yang mesum akhir-akhir ini.


Alvaro keluar dari ruang ganti setelah selesai bersiap. Menatap istrinya dengan kesal. Tami yang sedang duduk di pinggir tempat tidur hanya tersenyum manis pada suaminya. Berharap suaminya tidak akan terus kesal padanya, karena kejadian di ruang ganti barusan.


Alvaro melengos kesal, meski sebenarnya dia tetap tidak bisa terus merasa kesal pada istrinya. Apalagi saat dia melihat senyuman manis Tami, selalu saja membuat hatinya berdebar senang melihatnya.


"Aku malas berangkat, karena kau telah membuat aku kesal pagi ini"


"Yaudah, kalau gitu aku bawa motor sendiri lagi kalau kamu sudah malas mengantar jemput aku kuliah"


Alvaro langsung mendelik kesal, tanpa berkata-kata dia langsung menggandeng tangan Tami dan membawanya keluar kamar. "Jangan macam-macam!"


Tami terkekeh melihat kekesalan di wajah suaminya itu.


...💫💫💫💫💫💫💫💫...

__ADS_1


Waktu yang berjalan terlalu cepat membuat Tami dan Alvaro tidak merasa lelah menjalani setiap kegiatan setiap harinya. Semuanya karena seseorang yang mereka cintai, selalu ada di sampingnya.


"Yahh, datang bulan lagi"


Entahlah, kenapa saat kali ini Tami melihat noda merah di pakaian dalamnya membuat hatinya sedih. Tidak seperti sebelumnya, dia selalu merasa lebih tenang ketika mengetahui dirinya telah datang bulan. Karena itu artinya dia tidak mengandung anaknya Alvaro yang belum mengatakan cinta padanya.


Tapi, hari ini Tami merasa sedih karena mengetahui dirinya telah datang bulan lagi. "Aku harus lebih berusaha lagi, harus mengikuti semua petunjuk dokter supaya bisa cepat memberkan anak untuk suamiku"


Cintanya terlalu besar, hingga Tami hanya ingin membuat suaminya bahagia dengan memberikan apa yang dia harapkan. Yaitu seorang anak yang lahir dari rahim Tami.


"Sayang, sedang apa di dalam? Lama sekali?"


Suara pintu kamar mandi yang di ketuk dan coba dibuka dari luar menyadarkan Tami dari segala lamunannya.  "Sebentar Sayang, aku sedang mandi"


"Kenapa lama sekali?"


"Aku datang bulan"


Tidak terdengar lagi jawaban dari luar kamar mandi. Tami menghela nafas, pasti suaminya juga kecewa dengan keadaan saat ini. Tami segera menyelesaikan mandinya, tanpa berendam. Tami langsung mengguyur tubuhnya dibawah shower.


Tami keluar dari kamar mandi menggunakan jubah mandi ditubuhnya. Berjalan menuju lemari pakaian dan segera bersiap.


Ketika Tami keluar dari ruang ganti, dia melihat Alvaro yang sedang duduk di atas tempat tidur dengan ipad di tangannya. Tami sedikit ragu saat ingin menghampiri suaminya. Takut jika Alvaro masih merasa kecewa pada dirinya. Saat Alvaro mendongak membuat Tami menunduk, takut jika melihat tatapan kecewa dari suaminya.


"Sayang, ngapain berdiri disitu? Sini"


Tami mendongak dan melihat suaminya yang melambaikan tangan pada Tami. Menyuruh Tami untuk segera mendekat padanya. Tami tersenyum, dia segera berjalan ke arah tempat tidur dan naik ke atas tempat tidur.


Alvaro meraih tubuh Tami dan memeluknya, mencium puncak kepala istrinya. "Apa perutnya sakit? Katanya kamu datang bulan"


Tami menggeleng pelan. "Tidak papa, maaf ya karena aku belum juga bisa memberikan apa yang kamu mau"

__ADS_1


Alvaro tersenyum, dia mengecup kening istrinya dengan lembut. "Tidak papa"


Bersambung


__ADS_2