My Sweet Girl

My Sweet Girl
Tidak Seburuk Yang Difikirkan


__ADS_3

Berendam di dalam bak mandi dengan air hangat yang membuat rileks tubuh mereka. Alvaro berada di belakang tubuh Tami, mengelus perut Tami yang terasa ada bekas jaitan operasi disana. Alvaro selalu merasa bersykur karena istrinya masih hidup hingga saat ini. Bagaimana keadaan Tami sebelumnya, sudah membuat Alvaro merasa tipis harapan untuk Tami bisa sembuh dan sadar dari komanya.


"Sayang, terima kasih karena sudah bertahan sampai saat ini"


Tami menyandarkan kepalanya di dada Alvaro. Dia tersenyum mendengar ucapan suaminya. "Sayang, semuanya sudah menjadi takdir Tuhan untukku dan kamu. Bersyukur kamu tidak menikah lagi dan merasa bosen menunggu aku sadar"


Cup..


Alvaro mencium puncak kepala istrinya, tangannya memeluk erat bagian dada Tami. "Aku tidak akan pernah menikah lagi, karena dalam hidupku hanya akan menikah satu kali saja. Yaitu denganmu"


Tami tersenyum mendengar itu, merasa bersyukur memiliki suami seperti Alvaro. Yang benar-benar tulus dan mencintai Tami dengan segala keadaan Tami.


"Sayang, sudah ahh berendamnya. Aku mulai dingin"


"Baiklah"


Alvaro menggendong Tami dari dalam bak mandi dan mulai membersihkan tubuh mereka yang di penuhi oleh busa.


Selesai mandi dan berganti pakaian, Alvaro kembali membawa istrinya ke dalam kamar. Mendudukan Tami di kursi depan meja rias. Alvaro mengambil alat pengering rambut dan mulai mengeringkan rambut istrinya.


"Sayang untuk hal seperti ini aku bisa melakukannya sendiri"


"Sudah diam saja, selama kau sembuh dulu. Aku tidak pernah melakukan ini. Sekarang biarkan aku yang mengurusmu, jangan terus kamu yang mengurus aku"


Tami menatap pantulan wajah suaminya di balik cermin meja rias. Tubuh Alvaro juga terlihat sangat kurus, dengan rambutnya yang mulai panjang.


"Sayang, kamu potong rambut kamu ih. Jelek tahu, rambutnya sudah gondrong kayak gitu"


Alvaro terkekeh, dia memang mengabaikan penampilannya sejak Tami dinyatakan koma. Seolah semuanya sudah tidak penting lagi untuk Alvaro. Hanya kesembuhan istrinya yang lebih penting dalam hidupnya.


"Iya, besok aku potong rambut"


"Tubuh kamu juga sedikit kurus, kenapa? Apa karena aku?"


"Tentu saja, melihat kamu yang tak kunjung sadarkan diri membuat aku tidak lagi memperdulikan kesehatan dan penampilanku"


Tami meraih tangan Alvaro yang berada di bahunya. Mengenggamnya dengan lembut. "Maafkan aku Sayang, kamu jadi seperti ini gara-gara aku"


Alvarp menggeleng cepat. "Ini bukan kesalahanmu. Semua yang terjadi bukan karena keinginanmu. Semuanya hanya karena takdir Tuhan untuk memperkuat cinta diantara kita"

__ADS_1


Tami mengangguk, menyetujui ucapan Alvaro barusan. Mungkin memang semuanya adalah takdir Tuhan untuk memperkuat cinta diantara keduanya. Dan sepasang suami istri ini telah berhasil melewati semua ini.


"Terima kasih untuk semuanya"


Alvaro mengecup puncak kepala Tami, dia sudah selesai mengeringkan rambut Tami dan menyisirnya. "Aku akan selalu bersamamu apapun yang terjadi, karena aku mencintaimu"


...💫💫💫💫💫💫💫💫...


Setelah satu hari kemarin Tami libur untuk melakukan terapi, dan hari ini dia kembali melakukan terapi dengan di dampingi oleh suaminya juga Clarissa.


Ternyata Dokter Clarissa, tidak seburuk yang aku pikirkan.


Tami melihat bagaimana Dokter Clarissa yang begitu tulus padanya. Memberikan dia bimbingan saat melakukan terapi ini. Tami mulai merasa nyaman dengan adanya Dokter Clarissa. Karena gadis itu sangat baik dan ramah pada siapa pun.


"Apa kamu bisa berdiri jika tidak berpegangan pada tongkat?" Tanya Clarissa setelah Tami selesai melakukan terapi.


"Jangan dulu Cla, takutnya dia tidak akan kuat menahan berat tubuhnya" Alvaro langsung menanggapi ucapan Clarissa dengan segala kekhawatirannya.


"Tidak papa Sayang, aku akan mencobanya"


Alvaro langsung menatap ke arah istrinya, dia merasa sangat khawatir pada istrinya. "Sayang, jangan dulu. Kamu jangan terlalu memaksakan diri"


Tami berpegangan pada sofa, mencoba berdiri tanpa bantuan siapapun. Saat suaminya ingin membantu, Tami langsung menepis lengan Alvaro. Dia berhasil dan bisa berdiri tanpa berpegangan. Meski dia masih merasa tidak seimbang.


"Wahh. Bagus Tami, kamu benar-benar sangat berusaha keras"


Tami tersenyum, dia menatap kedua kakinya yang menapak di atas lantai tanpa dia berpegangan pada apapun.


"Sudah sekarang duduk lagi saja, kalau sudah seperti ini mungkin besok bisa kembali berlatih. Kita akan coba tanpa tongkat"


"Cla, jangan dulu"


Tami kembali duduk disamping suaminya. Dia mengelus lengan Alvaro yang terlihat sangat khawatir dengan keadaannya. "Sayang, tenang ya. Aku tidak kenapa-napa, aku akan berusaha sebisa mungkin untuk bisa berjalan normal lagi"


"Iya Sayang, aku mengerti kalau kamu ingin segera ingin berjalan. Tapi jangan terlalu memaksakan diri"


"Iya Al, kamu tenang saja. Semangat dalam diri Tami akan semakin mempercepat kesembuhannya"


Alvaro menghela nafas, dia tidak bisa melakukan apapun ketika istrinya saja begitu bersemangat untuk berlatih berjalan. Dia hanya perlu sedikit menurunkan kekhawatirannya.

__ADS_1


"Baiklah"


Dan esok harinya di taman belakang rumah, Tami benar-benar berdiri tanpa tongkat. Di sebelahnya sudah ada Clarissa dan Alvaro yang berjaga-jaga jika tubuh Tami tiba-tiba saja jatuh.


Ketika baru satu langkah, Tami sudah hampir terjatuh ke tanah. Namun Alvaro dan Clarissa segera menahan tubuhnya hingga di tidak sampai jatuh di atas tanah. Mencoba lagi, dan tetap tubuh Tami limbung dan hampir jatuh ke tanah. Namun, dia tetap tidak mau menyerah sampai dia benar-benar bisa berjalan.


"Sayang stop!" Ketika percobaan kelima dan Tami benar-benar terjatuh ke tanah, Alvaro mulai mencegahnya. "...Kita bisa melakukannya dengan perlahan. Kamu tidak harus terburu-buru seperti ini. Sekarang hentikan dulu terapinya"


"Baiklah, Tami kita sudahi dulu sampai disini"


Alvaro menggendong tubuh Tami dan membawanya masuk ke dalam rumah. "Semuanya tidak akan berakhir baik jika kamu terlalu memaksakan"


Tami mengalungkan tangannya di leher Alvaro. "Aku hanya ingin segera sembuh dan bisa berjalan kembali"


"Aku tahu, tapi tidak dengan memaksakan diri seperti itu"


Tami hanya diam, suaminya benar-benar sedang sangat khawatir padanya. Sampai di kamar, Alvaro segera membaringkan tubuh Tami di atas tempat tdiur. Lalu dia duduk di pinggir tempat tidur. Mengangkat kaki Tami ke atas pangkuannya dan memijat pelan kaki istrinya itu.


"Sayang tidak perlu melakukan itu" Tami merasa tidak enak saat suaminya yang malah memijat kakinya. Padahal seharusnya dia yang melakukan hal itu pada Alvaro.


"Diam. Kau sudah terlalu memaksakan kakimu ini untuk berjalan"


"Aww.."


Tami meringis pelan saat pijatan Alvaro terasa sakit di kakinya. Mungkin memang benar jika dirinya terlalu memaksakan diri sampai kakinya lelah dan terasa sakit.


"Tuhkan, sakit sekarang. Kenapa si selalu keras kepala dan tidak pernah mendengar ucapanku"


Tami mencebikan bibirnya saat Alvaro mengomelinya. Tapi jujur saja, Tami sangat merindukan omelan suaminya yang seperti ini.


"Ya 'kan Dokter Clarissa juga mengizinkannya"


"Ya, Clarissa juga kenapa mengizinkannya"


"Yaudah Sayang, jangan menyalahkan Dokter Clarissa"


Alvaro tidak menjawab, dia hanya terus melakukan pijatan lembut di kaki istrinya.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2