
"Cih. Apa ini? Sok-sok'an tanya kabar segala. Modus ini Sayang..." Alvaro menjatuhkan ponsel milik Tami ke atas tempat tidur dengan kesal. Lalu dia menatap Tami dengan lekat. "...Dia bukan mantan pacarmu 'kan?"
"Ya bukan dong Sayang, kamu tahu sendiri kalau aku belum pernah berpacaran. Kamu adalah yang pertama dan terakhir untukku. Memangnya kamu, aku jelas bukan yang pertama untukmu"
Tami cemberut ketika mengingat suaminya yang pernah melakukannya dengan wanita lain sebelum dengannya. "Apalagi wanita yang mengincar kamu juga banyak banget"
Alvaro tersenyum, dia menggaruk tengkuk lehernya yang tidak gatal. Dia beringsut mendekati istrinya dan memeluknya dengan erat. "Maaf Sayang, semua itu 'kan diluar dugaan aku. Bukan keinginan aku juga kalau banyak wanita yang mengincarku. Mungkin karena dasarnya aku yang sangat tampan"
"Dih narsis banget kamu ini" Meski sebenarnya apa yang dia katakan memang benar si. Siapa yang mengira aku akan menikah dengan pria tampan sepertinya.
"Sayang, kenapa kamu suka sama aku?"
Alvaro menatap istrinya dengan alis berkerut bingung. "Kenapa bertanya seperti itu? Ya, karena perasaan cinta itu tiba-tiba hadir saja di hatiku. Bahkan aku sudah merasa tertarik padamu di awal pertemuan kita"
"Ya 'kan aneh saja, kamu bisa tertarik bahkan jatuh cinta padaku yang jelas jauh sekali jika di bandingkan dengan para wanita yang menyukaimu di luar sana"
"Karena cinta bukan hanya tentang cantik, tapi berasal dari hati yang tulus. Lagian, kamu cantik. Memangnya siapa yang bilang kalau kamu tidak cantik?"
Tami menggeleng pelan, sejauh ini memang tidak pernah ada yang bilang jika Tami tidak cantik. Tapi, dia hanya merasa jika dirinya sangat biasa-biasa saja. "Tidak ada si, aku hanya merasa kalau aku biasa-biasa saja"
"Kamu tahu gak, terkadang orang yang biasa-biasa saja bisa menjadi sosok yang sempurna dan cantik di mata orang yang tepat. Ya, aku sepertinya"
Tami hanya tersenyum, dia memukul dada suaminya karena merasa Alvaro sedang menggombal.
"Oh ya, kapan kamu mau di periksa untuk mata kamu itu. Lanjutkan pemeriksaannya biar kamu gak ketergantungan pada kacamata baca lagi"
Tami memang sudah beberapa kali melakukan pemeriksaan pada Dokter yang di pilih oleh suaminya. Tentu Dokter mata terbaik yang juga mengobati saudara kembar suaminya yang juga memiliki masalah mata yang sama dengan Tami.
"Nanti sajalah kalau aku sudah lahiran, aku malas"
Alvaro berdecak kesal, dia mengelus perut buncit istrinya dengan lembut. "Dasar kau ini, untuk pemeriksaan saja malas"
"Kamu 'kan tahu sendiri, sejak hamil aku memang berubah menjadi pemalas. Rasanya untuk bergerak saja sangat berat"
"Pantas saja berat, kau mengandung dua bayi di dalam kandunganmu ini"
__ADS_1
Tami tersenyum, dia menguap beberapa kali hingga akhirnya tertidur sendiri di dalam pelukan suaminya. Alvaro tersenyum melihat istrinya yang terlelap di dalam pelukannya. Dia membaringkan tubuh Tami dengan perlahan agar tidak mengganggu tidur istrinya itu.
"Selamat tidur Sayang, aku mencintaimu" Alvaro mengelus kepalanya dan mencium keningnya dengan lembut.
...💫💫💫💫💫💫💫💫...
Pagi ini Tami terbangun dengan perutnya yang kembali terasa kram. Namun tidak terlalu sakit seperti waktu itu. Tami bangun terduduk di atas tempat tidur, menyandarkan tubuhnya dengan tangan yang mengelus lembut perutnya.
"Kenapa perutku jadi sering terasa kram seperti ini ya? Semoga saja bukan apa-apa. Sehat-sehat ya kalian di dalam perut Mama"
"Sayang, kamu kenapa?"
Alvaro merasa terusik dari tidurnya saat merasa tangannya yang hampa. Istri yang biasa dia peluk tidak ada, dan saat dia membuka mata ternyata istrinya sedang duduk di atas tempat tidur dengan mengelus perutnya. Wajahnya sedikit meringis seolah sedang menahan sakit.
"Sayang, kenapa?" Alvaro bangun dan duduk di samping istrinya, ikut mengelus perut istrinya yang terasa sangat kencang.
"Tidak papa, hanya perutku kembali terasa kram. Tapi tidak terlalu sakit kok"
"Kita ke dokter lagi saja, bagaimana?"
"Yaudah, tapi kalau sampai nanti terasa sakit lagi. Kita ke rumah sakit, aku gak mau sampai kamu kenapa-napa"
"Iya Sayang"
Dan setelah Tami menyiapkan perlengkapan mandi suaminya dan baju ganti untuknya. Barulah dia turun ke lantai bawah, menemui Tante yang sudah berada di dapur untuk menyiapkan sarapan.
"Selamat pagi Tante"
"Pagi Sayang, sudah bangun ya. Dimana Al?"
"Lagi mandi Tan, masak apa nih? Biar Tami bantu ya"
"Tidak perlu, kamu duduk saja disana, lagian sebentar lagi juga selesai masakannya"
Tami mengangguk, dia menarik kursi meja makan dan duduk disana. "Tami merasa sangat santai ya Tan, semuanya Tante yang kerjakan"
__ADS_1
"Tidak apa Nak, kan memang sudah seharusnya Tante melakukan ini, menjaga kamu agar kandungan kamu baik-baik saja dan selalu sehat"
"Makasih ya Tan, Tami senang sekali adanya Tante ada disini"
"Iya Nak, Tante juga senang bisa bersama keponakan Tante ini. Kamu tahu, Tante juga pernah membayangkan bisa masak bersama menantu Tante. Tapi sayang, anak Tante sudah di panggil Tuhan sebelum dia memberikan seorang menantu pada Tante"
Tami berdiri, berjalan menghampiri Tante dan memeluknya dari belakang. Menyandarkan kepalanya di punggung Tante. "Mulai sekarang Tante bisa menganggap Tami sebagai menantu Tante juga. Lagian Tante adalah pengganti orang tua bagi suamiku, jadi Tante juga bisa menganggap aku sebagai menantu Tante. Atau kalau mau anggap aku anak Tante juga tidak papa"
"Terima kasih ya Sayang, Tante sangat senang bisa lebih dekat dengan kamu"
"Iya Tante, sama-sama"
Alvaro yang barun saja sampai di dapur tersenyum senang melihat pemandangan indah di depannya ini. Melihat bagaimana istri dan Tantenya begitu akur dan saling menyayangi. Istrinya memang paling bisa menjadikan orang lain merasa nyaman bersamanya. Tante yang sulit dekat dengan orang baru di kenal saja, bisa langsung sedekat itu dengannya.
"Wahh, ada acara apa nih sampai peluk-pelukan kayak gitu?" Alvaro menarik kursi dan duduk disana, menatap kedua wanita yang sangat berharga dalam hidupnya dengan senyuman bahagia.
Tami melepaskan pelukannya pada Tante, berjalan menghampiri Alvaro yang duduk di kursi meja makan. "Sayang, kamu sudah selesai mandi ya. Tadinya aku ingin membantu Tante membuat sarapan, tapi semuanya sudah siap"
"Iya, lagian apa gunanya Tante berada disini kalau tidak membantu apapun..." Tante membawa masakan terakhirnya dan menatanya di atas meja makan. "...Sekarang ayo kita sarapan bersama"
Mereka pun memulai sarapan, meski Alvaro lagi-lagi harus lebih sabar menghadapi Tami yang selera makannya berubah sejak dia hamil. Untuk bisa makan saja, harus Alvaro yang membujuk sambil menyuapinya.
"Sayang, ayo sedikit lagi. Kamu harus banyak makan, kasihan bayi kamu kalau tidak makan"
"Iya Mi, kamu harus memaksakan diri untuk makan. Kasihan calon bayi kalian kalau sampai kamu tidak mau makan. Tidak ada nutrisi yang mereka dapatkan dari tubuh kamu"
Tami mengangguk, dia menerima suapan dari suaminya itu. Memaksakan diri untuk menelan makanan yang terasa sangat hambar.
"Nah gitu dong, harus banyak makan agar kamu kuat dan bayi kita sehat"
"Iya Sayang, tapi udah ya. Aku gak kuat, mual"
Alvaro menghela nafas. "Yaudah, tapi nanti siang makan lagi"
"Iya"
__ADS_1
Bersambung