My Sweet Girl

My Sweet Girl
Mencintaimu Dan Menyerahkan Hatiku


__ADS_3

Seolah mendapatkan kenyamanan baru, Alvaro semakin lengket pada istrinya. Apalagi setelah ungkapan cinta yang di ucapkan istrinya membuat Alvaro semakin percaya diri saja. Dia tidak akan pernah melepaskan Tami apapun yang terjadi. Alvaro sangat mencintainya dan sekarang Tami juga mencintainya.


Keadaan Tami sudah benar-benar membaik, perban di kepalanya pun telah di lepas. Dan malam tadi adalah malam pertama lagi bagi mereka sejak kecelakaan yang menimpa Tami. Dan pagi ini keduanya masih bergelung di bawah selimut dengan saling berpelukan. Kulit mereka yang langsung bersentuhan tanpa ada penghalang apapun membuat kehangatan semakin terasa.


Tami mengerjap beberapa kali sebelum benar-benar membuka kedua matanya. Menatap dada bidang suaminya yang memeluknya dengan erat. Tami senang bisa merasakan lagi pelukan hangat ini dari suaminya. Hatinya selalu berdebar senang ketika melihat wajah tenang suaminya yang tertidur sambil memeluknya seperti ini.


Meski aku tahu, mungkin saja kedepannya semua ini akan berakhir. Tapi aku tetap akan mencobanya. Mencintaimu dan menyerahkan hatiku padamu.


Tami mencium dagu suaminya denga tangan mengelus pipinya. "Sayang bangun, sudah pagi. Apa kamu tidak akan ke Resto?"


Alvaro menggeliat pelan, dia membuka matanya dan tersenyum saat mendapati wajah polos istrinya yang baru bangun tidur. Cup.. Kecupan selamat pagi dia berikan di bibir istrinya. "Selamat pagi Sayang, aku tidak ke Resto. Hari ini ingin menemanimu saja di rumah"


"Loh kok gitu? Kalau aku ikut ke Resto gimana? Aku juga kangen sama suasana disana"


"Boleh, sekalian aku perkenalkan kamu pada semuanya. Jika kamu adalah istriku"


Mendengar itu membuat tatapan Tami berubah menjadi ragu. "Sayang, apa tidak apa-apa jika kamu memberi tahu semua orang tentang pernikahan kita?"


Cup...


Sebuah jawaban yang tidak di ucapkan oleh kata-kata. Alvaro malah memberikan kecupan di bibir Tami, cukup lama membiarkan bibir itu menempel di bibir istrinya. Lambat laun kecupan itu berubah menjadi sebuah luma*tan halus. Dan Tami mulai terbawa suasana, dia mulai memejamkan matanya menikmati setiap kecupan dan luma*tan yanh di berikan oleh suaminya.


Dan sepertinya pagi ini mereka tidak benar-benar bangun pagi. Harus menunggu satu jam kemudian sampai urusan mereka selesai di dalam kamar. Hingga suara erangan keras dari keduanya menggema di setiap sudut kamar.


"Sayang, aku berharap benih 'ku akan segera tumbuh di dalam perutmu ini" Alvaro mengelus lalu mencium perut rata Tami.


Mendengar itu Tami hanya diam saja. Alvaro kembali menjatuhkan tubuhnya di samping Tami, memeluk istrinya dengan erat dan memberikan kecupan hangat di pipinya.


"Mandi sana, atau mau mandi bareng?"


Tami yang mendengar itu langsung mendorong tubuh suaminya. Bisa runyam kalau sampai Alvaro benar-benar mengajaknya mandi bersama. Karena sampai saat ini acara mandi bersama yang selalu Alvaro ucapkan tidak pernah terwujud.


"Aku mandi ya, kamu tunggu dulu disini. Aku sebentar kok"

__ADS_1


Tami turun dan berlari ke arah ruang ganti. Alvaro yang masih berada di atas tempat tidur hanya tertawa melihat istrinya yang tiba-tiba panik karena ucapannya. Alvaro menjatuhkan kembali kepalanya ke atas bantal. Memeluk guling dengan senyuman yang tidak pernah lepas dari wajahnya.


Ternyata sebahagia ini saat kita bisa bersama dengan orang yang tepat.


...💫💫💫💫💫💫💫💫...


"Aku gak jadi ikut ahh, mau di rumah aja"


Alvaro menoleh dan menatap istrinya yang tiduran di atas tempat tidur. Terlihat sekali wajah lelah Tami, mungkin karena aktivitas semalam hingga tadi pagi telah membuat Tami benar-benar kelelahan. Alvaro berjalan ke arah tempat tidur dan duduk di sana. Mengelus kepala Tami lalu mengecup keningnya cukup lama. Dia merasa bersalah juga karena telaj membuat istrinya kelelahan seperti ini. Tapi, Alvaro tidak bisa berbuat apa-apa ketika gairah dalam tubuhnya selalu meningkat hanya berdekatan dengan Tami saja.


"Yaudah, kamu istirahat saja di rumah. Aku juga gak lama, cuma ambil laporan Resto bulan ini dari Prita. Nanti malam kita makan di luar, jadi kamu gak perlu masak"


"Iya, kamu hati-hati di jalan ya"


"Sini cium dulu" Alavro menarik tangan Tami agar bangun dan memberikan ciuman perpisahan untuknya.


"Aaahh.. Aku lelah Sayang, nanti saja"


"Gak mau, harus cium dulu"


"Makasih Sayang, sekarang kamu istirahat saja"


Tami tidak menjawab, dia menjatuhkan tubuhnya kembali ke atas tempat tidur. Dia butuh istirahat yang cukup untuk memulihkan tenaganya lagi setelah apa yang di lakukan suaminya semalam.


Sementara Alvaro benar-benar berangkat ke Slick Grind Resto. Dia memarkirkan mobilnya di parkiran Slick Grind Resto. Masuk ke dalam Restaurant dan langsung di sambut dengan sapaan penuh hormat para pekerjanya. Wajah Alvaro terlihat berseri siang ini. Mungkin karena moodnya yang sedang baik.


"Prita, tolong buatkan aku kopi dan bawa berkas laporan bulan ini"


"Baik Tuan"


Alvaro kembali berjalan menuju lift. Sementara ada kehebohan di antara para karyawan.


"Tuan Alvaro terlihat selalu cerah setiap harinya. Apa mungkin karena dia sudah menikah?"

__ADS_1


"Heh, tau dari mana kau kalau dia sudah menikah?"


"Ya, siapa tahu aja. Mungkin Tuan Alvaro menikah sama Tami ya"


Kemal yang sedang mengelap meja langsung mendongak dan menatap ke arah wanita yang berbicara itu. "Jangan ngaco kamu, mana mungkin Tami menikah sama Tuan Alvaro"


"Ya bener dong, apa kamu gak lihat selama Tami bekerja disini selalu di minta Tuan Alvaro untuk mengantar makan siang dan membuatkan kopi. Apalagi kalau mereka tidak mempunyai hubungan spesial"


"Sudahlah, kamu jangan gosip terus. Ketahuan oleh Mbak Prita, habis kamu. Lebih baik kamu beresin tuh meja di ujung, pengunjungnya sudah pergi. Kamu lap dan bereskan bekas makannya"


Wanita itu langsung pergi dengan menghentakan kakinya kesal. Sementara Kemal masih memikirkan ucapan wanita tadi. Apa benar Tami menikah dengan Tuan Alvaro. Gumamnya.


Kemal menaruh lap di atas meja lalu mengambil ponselnya di dalam saku apron yang dia kenakan. Menekan nomor ponsel Tami untuk meneleponnya.


Di tempat yang berbeda, Tami baru saja bangun dari tidurnya. Tubuhnya yang lelah membuat dia terlelap cukup lama. Tami bangun dan duduk menyandar di atas tempat tidur ketika dering ponselnya terdengar. Tami mengambil ponsel di atas nakas.


"Kak Kemal, ada apa dia telepon aku? Apa ada sesuatu yang terjadi dengan suamiku?"


Tami segera mengangkat telepon dari teman kerjanya di Slick Grind Resto. "Hallo Kak, ada apa?"


"Hallo Mi, gak ada apa-apa. Kamu apa kabar? Kok gak pernah bekerja lagi?"


"Emm. Kabar Tami baik, cuma Tami emang gak bekerja lagi disana. Sekarang Tami sudah menikah dan suami Tami melarang Tami untuk bekerja lagi"


Deg..


Kemal yang sebelumnya ingin menanyakan soal itu, kini sudah terjawab. Dia cukup terkejut mendengarnya. "Me-menikah, kapan Mi? Kok a-aku gak tahu ya"


"Sudah hampir 3 bulan Kak, aku memang tidak menyebar undangan. Hanya pernikahan sederhana saja. Yaudah Kak, aku tutup dulu ya. Aku mau mandi ini"


"Emm. I-iya Mi"


Kemal menatap ponselnya dengan tangan yang bergetar. "Tami sudah menikah? Tapi dengan siapa? Bodohnya, kenapa aku tidak menanyakan siapa suaminya. Apa mungkin dengan Tuan Alvaro?"

__ADS_1


Kemal menggelengkan kepalanya, menghilangkan pikiran aneh dalam kepalanya. "Ahh.. Rasanya tidak mungkin jika Tami menikah dengan Tuan Alvaro"


Bersambung


__ADS_2