My Sweet Girl

My Sweet Girl
Aku Mencintaimu


__ADS_3

Hari ini benar-benar hanya di lewati Tami dan Alvaro untuk berdiam diri di dalam kamar. Alvaro tidak mengizinkan Tami bergeser sedikit saja dari pelukannya. Setelah pertengkaran yang terjadi, Tami merasa lebih lega karena sekarang dia bisa mengetahui dengan jelas jika suaminya juga merasakan perasaan yang sama dengannya.


"Sayang, aku sampai gak kuliah hari ini loh"


"Salah siapa? Kalau kamu tidak pernah mengonsumsi pil itu, mungkin semua ini tidak akan terjadi"


Tami hanya mencebikan bibirnya ketika mendengar suara ketus Alvaro. Entahlah suaminya itu selalu bernada suara ketus ketika membahas soal pil kontrasepsi yang Tami konsumsi di belakangnya. Lagian ini semua bukan sepenuhnya salah Tami. Salah Alvaro sendiri yang tidak berkata jujur tentang perasaannya.


"Sayang, sudah dong jangan marah terus. Kan sekarang aku sudah tidak mengonsumsi pil itu lagi"


Alvaro mendengus kesal, namun dia mengecup puncak kepala istrinya. "Kenapa kepalamu ini bodoh sekali"


"Apasi, dari tadi terus mengataiku bodoh"


"Ya karena kamu memang bodoh, sampai tidak sadar jika aku mencintaimu"


"Ya 'kan karena kamu tidak mengatakannya, mana bisa aku tahu kalau kamu juga mencintaiku"


"Sudahlah, intinya memang kamu ini bodoh"


Tami hanya mendengus kesal, tapi meski begitu dia merasa sangat bahagia karena hari ini dia bisa mengetahui perasaan suaminya padanya. Setidaknya mulai saat ini Tami sudah bisa menjalani kisah yang lebih membahagiakan dalam pernikahannya ini.


Tidur dengan berpelukan, melewati semua hal yang terjadi hari ini. Tentang pertengkaran yang terjadi di ruang ganti, namun menjadi saksi pengungkapan cinta Alvaro pada Tami. Hingga pagi ini keduanya terbangun ketika matahari mulai menunjukan cahayanya dengan malu-malu.


Tami memulai kembali aktifitasnya dengan suasana hati yang lebih bahagia. Menyiapkan sarapan untuk dirinya dan suaminya yang masih bersiap di dalam kamar.


Terima kasih karena telah mempertemukan aku dengan Mas Alvaro, Tuhan. Aku bahagia dengan takdirmu ini.


Tidak pernah sekalipun Tami merasa menyesal dengan takdir Tuhan padanya. Karena jika bukan karena takdirnya, mungkin Tami juga tidak akan merasakan kebahagiaan ini dengan suaminya.


"Selamat pagi Sayang. Aku mencintaimu"


Tami tersenyum ketika Alvaro yang memeluknya dari belakang disaat dia sedang menata makanan di atas meja. "Selamat pagi juga, ayo sarapan sebelum kamu berangkat ke Resto"


"Love You" Alvaro mengecup pipi Tami, lalu dia menarik kursi dan duduk disana.


"Mau makan dengan apa? Aku ambilkan"

__ADS_1


"Ayam sama sayur saja"


Tami mengangguk, dia segera mengambilkan makanan untuk suaminya. Pagi ini memang sengaja Tami membuat cukup banyak menu untuk sarapan. Menunjukan rasa bahagianya dengan memasak untuk suaminya.


"Hari ini kuliah?"


"Iya, tapi agak siang Dosennya ada urusan, jadi masuk agak siang"


Alvaro mengangguk mengerti, dia kembali menyuapkan makanan ke dalam mulutnya. "Jam berapa berangkat?"


"Mungkin jam 10"


"Yaudah, nanti aku jemput kamu kesini jam 10"


"Kayaknya gak usah deh, aku 'kan bisa...."


Seketika Tami tidak lagi melanjutkan ucapannya saat tatapan Alvaro sudah sangat tajam padanya. Jadi dia mengangguk dan menuruti saja apa kata suaminya. Kemarin saja melihat kemarahan Alvaro membuat Tami sangat takut, jadi dia tidak berani membuat suaminya marah lagi.


...💫💫💫💫💫💫💫💫...


Setelah suaminya berangkat, Tami hanya mengisi waktu luang sebelum berangkat kuliah dengan bermain ponsel di atas sofa ruang tengah. Sampai suara derap langkah seseorang membuat Tami menoleh.


Tami menghela nafas pelan, dia sudah berpikir kemana saja saat mendengar seseorang yang masuk ke rumah. Ternyata petugas kebersihan yang biasa datang seminggu tiga kali itu.


"Iya Bu, tidak papa. Saya kira siapa tadi"


Setelah petugas kebersihan itu mulai menjalani tugasnya. Tami kembali menatap layar ponselnya, dia sedang menonton drama favoritnya di ponsel itu.


Setelah mulai bosan dengan ponsel, Tami berdiri dan berjalan ke arah tangga sampai suara bell yang terdengar. Tami menoleh ke arah pintu utama rumah ini. "Siapa yang datang? Apa Mas Alvaro sudah datang, padahal ini baru jam sembilan. Tapi kalau pun itu Mas Alvaro, ngapain dia pencet bell"


Menghilangkan rasa penasaran, Tami berbalik arah dan berjalan menuju pintu. Membuka pintu dan seorang perempuan berdiri membelakangi dirinya.


"Maaf, cari siapa ya?"


Wanita itu berbalik dan tersenyum pada Tami. "Hai, apa Alvaro ada di rumah?"


"Emm. Mas Alvaro sudah pergi ke Resto"

__ADS_1


"Ohh gitu ya, yaudah aku samperin dia ke sana saja"


Eh apa dia bilang? Samperin Mas Alvaro ke Resto? Enak saja.


"Maaf Kak.. Wen..Weny ya"


Weny yang sudah berbalik dan hampir melangkah langsung kembali menoleh ke arah Tami.  "Iya?"


"Memangnya ada perlu apa ingin menemui suami saya?" Sengaja Tami menekan kata suami, untuk menegaskan pada wanita yang hampir di jodohkan dengan suaminya itu jika Alvaro sudah menjadi miliknya.


Wajah Weny berubah sedikit kesal mendengar Tami yang seolah sedang menunjukkan kepemilikan atas Alvaro. "Tidak ada, aku hanya ingin memberikan hadiah ulang tahun untuknya. Apa kamu tidak tahu jika kemarin adalah hari ulang tahun Alvaro"


Hah? Apa?


Tami benar-benar tidak tahu tentang itu, selama beberapa bulan ini menikah dengan suaminya. Tami benar-benar tidak tahu hari ulang tahun Alvaro.


Melihat Tami yang terdiam membuat Weny tersenyum. "Yaudah aku pergi dulu ya, bye Tami"


Tami menatap kepergian Weny dengan kesal, dia sebagai seorang istri merasa terkalahkan olehnya karena tidak tahu tentang ulang tahun suaminya sendiri.


"Aduh aku harus buat apa ya, malah udah telat satu hari lagi dari hari ulang tahunnya. Istri macam apa aku ini?"


Tami malah bingung sendiri dengan kejutan apa yang harus dia buat untuk merayakan hari ulang tahun suaminya yang sebenarnya sudah terlewat satu hari.


"Sayang.."


Tami mengerjap ketika mendengar panggilan itu, dia sampai tidak sadar jika mobil suaminya sudah berada di depan teras rumah. Alvaro menurunkan kaca jendela mobilnya dan memanggil Tami yang terlihat melamun di teras rumah.


"Ehh, sudah sampai ya" Untung saja Mas Alvaro datang tepat waktu, jadi pasti wanita tadi tidak bisa bertemu dengan suamiku ini di Resto.


Alvaro keluar dari mobilnya dan menghampiri Tami, mengecup kening istrinya dengan lembut. "Kamu kenapa? Kok ngelamun disini?"


"Gak kok, gak papa. Tadi aku hanya nungguin kamu disini"


"Ohh, yaudah ayo sekarang berangkat. Entar telat lagi ke kampusnya"


Tami mengangguk, dia masuk ke dalam rumah untuk mengambil tas dan beberapa bukunya. Lalu kembali lagi keluar menemui suaminya. "Ayo Sayang, aku sudah siap"

__ADS_1


Alvaro mengangguk, dia membukakan pintu mobil untuk istrinya itu. Setelahnya dia ikut masuk ke dalam mobil. Mulai melajukan mobilnya meninggalkan pekarangan rumah.


Bersambung


__ADS_2