
Alvaro pulang ke rumah malam ini sedikit lebih cepat. Saat dia memasuki ruang tengah rumahnya, Alvaro mencium aroma masakan yang sangat menggoda hingga membuat perutnya berbunyi minta diisi. Alvaro memutar arah tujuan menjadi ke dapur. Dan dia melihat meja makan yang penuh dengan beberapa macam masakan. Istrinya masih mengaduk masakan lain di dalam wajan.
"Sayang..." Alvaro menatap meja makan yang penuh dengan berbagai macam masakan. "...Ada acara apa sampai kamu masak sebanyak ini?"
Tami berbalik dan tersenyum pada suaminya, dia berjalan dengan membawa masakan terakhirnya. Menyimpannya di atas meja makan. "Kamu mandi dulu ya, kita makan malam bersama"
Alvaro menatap istrinya, dia berjalan mendekati Tami. Mengelus kepalanya dan mencium pipinya. "Ada apasi, sampe masak sebanyak ini"
"Udah, kamu mandi dulu. Nanti juga tahu, biar aku siapin air untuk mandinya"
Alvaro jadi gemas sendiri pada istrinya, dia peluk Tami dan mencium pipinya dengan gemas, membuat Tami tertawa geli dengan apa yang di lakukan Alvaro padanya. "Udah ahh, aku akan siapkan air untuk kamu mandi"
"Mandi bersama?" Bisik Alvaro di telinga Tami, membuat gadis itu sedikit merinding merasakan hembusan nafas suaminya di kulitnya.
Malu dengan pembicaraan yang sedang di bahas oleh suaminya, Tami segera pergi dari sana. Mandi bersama? Kata yang selalu menjadi obsesi suaminya. Entah apa yang sebenarnya ingin dia lakukan saat mereka mandi bersama.
Tami keluar dari kamar mandi setelah dia menyiapkan air dan perlengkapan mandi untuk suaminya. Melihat Alvaro yang ternyata sudah menunggu dirinya di dekat lemari. "Sayang cepat mandi, aku sudah siapkan semuanya"
Alvaro tersenyum, dia berjalan ke arah Tami. Mendorong tubuh istrinya hingga terpojok di dinding dekat pintu kamar mandi. Menatapnya dengan tatapan penuh arti. Alvaro mendekatkan wajahnya ke arah Tami, mencium bibir istrinya dengan lembut.
Tami benar-benar tidak bisa berkutik ketika suaminya mulai menyerang dirinya. Dengan satu gerakan Tami telah berada dalam gendongan Alvaro dengan tautan bibir mereka yang belum terlepas. Kaki Tami melingkar di pinggang Alvaro, dengan tangan yang juga melingkar di leher suaminya itu. Ketika ciuman mereka terlepas, Tami baru sadar jika sekarang dirinya sudah berada di dalam kamar mandi.
"Sayang.. Aku sudah mandi"
"Tidak papa, hanya mandi bersama. Sebentar saja"
"Benar hanya mandi"
"Iya hanya mandi, memangnya aku mau melakukan apa selain mandi?"
Dan gemercik air menurunkan suara mereka. Mandi bersama akhirnya terjadi juga setelah beberapa kali Alvaro selalu meminta Tami untuk mandi bersama.
__ADS_1
Beberapa saat kemudian, mereka keluar dari ruang ganti. Sudah dengan pakaian lengkap dan wajah yang lebih segar. Hanya benar-benar mandi dan berendam saja.
"Ayo kita makan malam bersama"
"Iya ayo"
Makan malam kali ini benar-benar terasa berbeda bagi Alvaro. Makanan yang tersaji di atas meja, tidak biasa. Sampai dia bingung sendiri mau mengambil makanan yang mana. Semuanya terlihat menggiurkan lidah.
"Jadi?" Alvaro melirik semua makanan yang ada, mempertanyakan tentang semua ini pada Tami.
Tami tersenyum, dia mengambilkan nasi untuk suaminya. "Merayakan ulang tahun kamu, maaf ya karena aku tidak tahu tentang hari ulang tahun kamu"
Deg..
Alvaro terdiam, bahkan dia saja tidak terlalu mengingat-ngingat tentang hari ulang tahunnya. "Ka-kamu tahu darimana hari ulang tahunku?"
"Dari seseorang, lagian kamu kok gak kasih tahu aku tentang hari ulang tahunmu. Aku 'kan jadi telat memberikan kamu selamat"
Alvaro menghela nafas, dia menatap Tami yang tersenyum tulus padanya. Dia tahu jika istrinya begitu tulus menyiapkan semua ini. Tapi sepertinya ada hal yang tidak Tami ketahui tentang hari ulang tahunnya ini.
Tami mengerutkan keningnya, bingung. Kenapa Alvaro tidak merayakan ulang tahunnya lagi? Sebenarnya apa yang Tami tidak ketahui? Sepertinya memang terlalu banyak hal yang tidak Tami ketahui tentang suaminya ini.
"Ulang tahunku ke 18 saat itu, adalah hari dimana orang tuaku meninggal dunia"
Deg..
Tami terdiam mendengar ucapan Alvaro barusan. Dia benar-benar tidak tahu soal ini, dan sekarang dia jadi merasa bersalah dengan apa yang dia lakukan saat ini.
"Sayang maaf..." Tami menundukan wajahnya dengan tangan saling bertaut di bawah meja, dia benar-benar merasa bersalah sekarang. "...Aku benar-benar tidak tahu soal ini"
Alvaro merangkul bahu istrinya yang duduk di sampingnya. "Hey, kenapa meminta maaf? Aku tahu jika kamu memang tidak tahu apa-apa tentang semua ini. Jadi, tolong jangan merasa bersalah begini"
__ADS_1
"Aku tidak tahu soal ini"
"Tapi, darimana kamu tahu tentang hari ulang tahunku?"
Tami mendongak, dia menatap Alvaro dengan wajah sendu. Dia bisa merasakan kesedihan yang dirasakan suaminya setiap kali hari kelahirannya itu. Saat hari ulang tahun adalah hari menyenangkan bagi banyak orang, tapi tidak bagi Alvaro. Dia akan selalu mengenang hal menyakitkan di setiap hari itu. Karena tepat pada hari ulang tahunnya, dia menjadi seorang yatim piatu.
"Aku akan selalu merayakan hari ulang tahunmu, tapi tidak pada hari dan bulan itu. Kita rayakan sesudahnya ya, pokoknya aku akan selalu memberikan ucapan selamat ulang tahun padamu setiap tahunnya. Karena hal menyakitkan itu, bukan berarti kamu tidak berhak mendapatkan ucapan selamat ulang tahun di setiap tahunnya"
Alvaro tersenyum, dia mengecup kening istrinya dengan lembut. Bagaimana hatinya sangat benar-benar bahagia sekarang, karena ternyata Tami begitu mengerti perasaannya dan keadaannya.
"Terima kasih Sayang, kamu sudah mengerti keadaan dan perasaanku"
"Iya sama-sama, sekarang ayo kita makan malam. Aku sudah memasak banyak makanan untukmu"
Alvaro mengangguk dan tersenyum, dia melihat Tami yang antusias memberikan makanan ke atas piring Alvaro. Ulang tahunnya kali ini, benar-benar terasa berbeda bagi Alvaro.
...💫💫💫💫💫💫💫💫...
Berpelukan di atas tempat tidur dengan tubuh yang sama-sama polos. Alvaro telah meminta hadiah ulang tahunnya malam ini.
"Sayang, jawab jujur deh. Kamu tahu darimana tentang hari ulang tahunku?"
Tami meraih tangan Alvaro dan menggenggamnya. Mengecup telapak tangan suaminya. "Sebenarnya tadi Kak Weny datang kesini, dia bilang ingin memberi kado untuk kamu dan mengatakan hari ulang tahunmu kemarin"
Alvaro sedikit kesal mendengar penjelasan Tami. "Untuk apa dia datang kesini? Lagian aku sudah tidak butuh hadiah ulang tahun apapun darinya, hadiah istriku saja sudah cukup"
"Ya aku juga tidak tahu, sepertinya dia sengaja ingin membuat aku cemburu dan akhirnya jadi bertengkar denganmu"
Alvaro langsung menatap Tami, mengecup kening istrinya dengan lembut. "Tapi kamu tidak akan semudah itu untuk percaya 'kan Sayang?"
"Ya iyalah, aku juga berfikir dulu harus cemburu pada orang seperti apa. Dia yang ingin di jodohkan dengan kamu, tapi menolak. Berarti sekarang dia sedang menyesal karena melepaskan kamu"
__ADS_1
Alvaro tersenyum, dia mencium puncak kepala Tami cukup lama. Menghirup aroma shampo di rambut istrinya ini. Merasa beruntung telah memiliki Tami dalam hidupnya.
Bersambung