
"Nanti Sore aku jemput kamu lagi ya"
Tami mengangguk, hari libur kali ini dia memilih untuk berkunjung ke rumah orang tuanya. "Iya Sayang, kamu hati-hati ya di jalan"
Tami mencium punggung tangan Alvaro sebelum dia turun dari mobil suaminya itu. Menunggu di pinggir jalan sampai mobil suaminya melaju. Tami berjalan ke teras depan rumahnya, mengetuk pintu rumah sampai Ayah yang membukakan pintu untuknya.
"Ya ampun Mi, lama banget gak datang kesini. Ayo masuk Nak, Ibu pasti senang melihatmu datang"
"Iya Yah, bagaimana keadaan Ibu?"
"Sudah lebih baik, sudah jarang sakit-sakitan lagi sekarang. Mungkin Ibumu sudah lebih ikhlas atas kepergiaan Tian"
Tami mengangguk dan tersenyum, meras lega ketika mendengar Ibunya yang sudah dalam keadaan baik. Dia berlari ke arah Ibu yang berdiri di depan wastaffel, sepertinya sedang mencuci piring. Memeluk tubuh Ibu dari belakang, menyandarkan kepalanya di punggung Ibu.
"Ya ampun Mi, bikin kaget saja. Kapan kamu datang Nak?" Ibu menyelesaikan cuci piring, mengelap tangannya dengan lap tangan yang menggantung disana. Lalu berbalik dan memeluk putrinya dengan erat.
"Maaf ya Bu, Tami baru bisa berkunjung pada Ibu dan Ayah sekarang. Abisnya Tami sibuk kuliah"
Ibu mengangguk mengerti, dia mengelus lembut kepala anaknya itu. "Tidak papa, asal kamu sehat dan bahagia bersama suami kamu. Ibu dan Ayah akan tenang, walaupun kamu jarang mengunjungi kami"
"Iya Mi, asalkan kamu bahagia. Ayah juga ikut bahagia"
Tami menoleh pada Ayah yang sedang mengaduk adonan gorengan di dalam wadah besar. "Iya Yah, Tami bahagia sekali dengan Mas Alvaro. Oh ya, hari ini Tami ikut Ayah jualan ya. Sekalian ingin lihat kios baru Ayah itu"
Tami selalu senang ketika mendengar Ayahnya bercerita tentang jualannya yang semakin laris sejak dia memiliki kios sendiri. Dia sudah tidak kepanasan lagi kalau berjulan sekarang.
"Gak usah Mi, kamu di rumah saja. Masa baru kesini, malah mau ikut Ayah jualan"
Tami menoleh pada Ibunya dan tersenyum pada wanita paruh baya yang begitu berarti dalam hidupnya itu. "Gak papa Bu, sekalian Tami ingin melihat kios baru Ayah"
__ADS_1
Ibu menggengam kedua lengan anaknya, tersenyum bahagia ketika dia melihat binar bahagia di balik sorot mata hitam milik Tami. "Sampaikan ucapan terima kasih Ibu dan Ayah pada suamimu ya. Dia sudah banyak membantu kita, dalam masalah perekonomian kita ini. Tapi, dia juga tidak merendahkan kita saat dia mencoba membantu keluarga kita ini"
Tami tersenyum, dia senang jika pengorbanannya tidak sepenuhnya sia-sia. Setidaknya kedua orang tuanya bisa lebih tenang dan bisa berjualan dengan tenang. Tanpa takut di usir pihak keamanan saat dia berjualan di pinggir jalan. Tidak takut di datangi pereman jalanan yang meminta jatah uang, padahal jualan Ayah belum ada yang laku. Tami pernah mengalami semua itu saat dulu dia sering membantu Ayah berjualan.
"Iya Bu, nanti Tami sampaikan"
Dan siang ini, Tami benar-benar ikut Ayah untuk berjualan. Dia menatap sebuah kios minimalis dengan peralatan yang lengkap. Ada dua kursi kayu di dalamnya, ada meja kompor dan peralatan menggoreng lainnya. Dia bagian depan kios di buka dengan kaca yang menjadi pembatas antara pembeli dan penjual. Hanya ada sebuah ruang untuk keluar masuk tangan saja, ketika pembeli mengambil pesanannya dan membayarnya.
"Wahh, nyaman banget ya Yah kiosnya"
"Iya Nak, suami kamu memang benar-benar sangat banyak membantu Ayah. Dia begitu baik dan tulus. Beruntung sekali kamu bisa mendapatkan suami sepertinya"
Tami duduk di salah satu meja kayu di dalam kios. Memang benar apa yang dikatakan Ayah, dia sangat beruntung bisa menjadi istri dari Alvaro. Sosok pria yang bertanggung jawab dan begitu tulus padanya. Bahkan Alvaro juga membantu kesulitan keluarganya.
Ayah mulai menggoreng beberapa jenis gorengan ke dalam minyak yang panas di dalam wajan besar disana. "Tapi, sebenarnya Ayah sudah sangat lama ingin menanyakan hal ini padamu. Tapi Ayah belum mempunyai waktu yang tepat"
Ayah duduk di kursi kayu, sambil menjaga penggorengannya. "Sebenarnya apa kamu menikah dengan Alvaro karena cinta? Atau karena uang yang kamu gunakan untuk biaya operasi Tian waktu itu?"
Deg..
Tami terdiam, dia tidak menyangka jika perasan Ayah bisa sangat peka padanya. Tami kira Ayah tidak akan pernah berfikir sampai sejauh ini, setelah Tami mengatakan jika dia mendapatkan uang untuk biaya operasi Tian karena meminjam dari atasannya di tempat kerja. Namun, ternyata perasaan Ayah lebih peka dari itu.
"Ke-kenapa Ayah bertanya seperti itu?"
"Karena Ayah merasa janggal dengan kamu yang tiba-tiba mendapatkan uang sebanyak itu. Jika memang benar kamu mendapatkan pinjaman dari atasan di tempat kerja. Tapi, apa mungkin kamu akan mendapatkan pinjaman sebesar itu ketika kamu bekerja masih sangat baru disana. Bahkan belum sempat mendapatkan gaji pertama kamu disana"
Benar juga, Ayah pasti tidak akan percaya begitu saja pada ucapan anaknya. Logikanya memang sangat tidak memungkinkan alasan Tami itu. Namun sekarang apa yang bisa Tami lakukan saat ini? Apa memang dia harus menjelaskan tentang apa yang sebenarnya terjadi dengan pernikahannya dan Alvaro.
"Emm. A-ayah, Tami hanya melakukan semua ini untuk kesembuhan Tian. Meski kenyataannya masih sangat terlambat. Namun, apapun yang Tami lakukan untuk itu semua. Percayalah jika saat ini, Tami bahagia hidup bersama Mas Alvaro dan Tami tidak pernah menyesali keputusan Tami itu"
__ADS_1
Ayah membalikan gorengannya di dalam wajan. Dia menghela nafas lega setelah mendengar jawaban putrinya. "Ayah senang Nak, Ayah bahagia ketika putri Ayah juga bahagia"
Tami berdiri, dia memeluk Ayahnya dengan erat. Rasanya tidak bisa di ucapkan dengan kata-kata bagaimana Tami mengucapkan rasa terima kasihnya pada pria yang telah merawat dan berjuang untuk kelangsungan hidup keluarganya.
Meski keluarga Tami bukanlah keluarga yang begelimang harta, tapi Tami bahagia terlahir dalam keluarga ini. DiaΒ bisa merasakan keluarga yang harmonis dan saling menyayangi. Cinta Ibu dan Ayah yang kekal abadi, tidak termakan usia pernikahan yang sudah berpuluh tahun.
"Terima kasih sudah menjadi Ayah yang baik untuk Tami dan Tian, Yah"
Ayah mengelus kepala anaknya dengan rasa haru yang menguar di hatinya. Meski dia kehilangan Tian, namun dia harus mengikhlaskan kepergian anaknya itu karena dia tidak bisa terus terpuruk dalam kesedihan, sementara ada putrinya yang masih memerlukan kasih sayang dan perhatiannya.
...π«π«π«π«π«π«π«π«...
Malam ini Alvaro bisa merasakan lagi makan malam dengan suasana keluarga yang lengkap. Dia merasa begitu tersentuh dengan perlakuan orang tua Tami padanya. Sejak kepergian orang tuanya, Alvaro tidak lagi merasakan suasana seperti ini. Tapi, saat ini dia benar-benar merasakan kembali suasana seperti ini.
"Ayo tambah lagi makanannya Nak, apa kamu menyukai masakan Ibu?"
Alvaro tersenyum dan mengangguk. "Iya Bu, masakan Ibu sama enaknya dengan masakan Tami"
Tami tersenyum, dia senang melihat suaminya yang begitu di terima di keluarganya. "Ya kan aku belajar dari Ibu, Sayang. Lagian kamu juga lebih pandai masak. Pemilik Restoran"
Ayah langsung menatap putrinya dan menantunya secara bergantian. "Pemilik Restoran?"
Tami terdiam, dia baru sadar telah salah bicara. Namun, semuanya sudah terlanjur jadi Tami memang harus menjelaskan semuanya. "Maaf Ayah, sebenarnya Mas Alvaro bukan teman kerja Tami, tapi atasan Tami di Slick Grind Resto"
Alvaro tersenyum melihat istrinya yang menundukkan wajahnya, merasa bersalah karena telah berbohong pada orang tuanya. "Sayang, gak kira-kira kamu kalau mau bohong. Masa wajah kayak aku di bilang pelayan si"
Ayah dan Ibu terkekeh melihat wajah cemberut Tami yang menggemaskan.
Bersambung
__ADS_1