My Sweet Girl

My Sweet Girl
Menjadi Satu-satunya Untukku


__ADS_3

"Kenapa aku belum bisa hamil juga ya? Apa mungkin karena terlalu banyak minum pil kontrasepsi?" Tami berbicara sendiri di depan cermin meja rias, dia sedang bingung dengan keadaan dirinya yang belum juga bisa mengandung anak suaminya. Padahal Tami sudah sangat ingin memberikan Alvaro buah hati.


"Tapi Dokter juga bilang keadaanku baik-baik saja. Berarti memang belum saja"


Tami menghembuskan nafas, di berdiri dan berjalan ke arah ruang ganti untuk menyiapkan pakaian ganti suaminya. Alvaro masih di kamar mandi saat ini. Tami memilihkan pakaian ganti untuk suaminya. Menatap dirinya di balik cermin lemari suaminya. Menatap pantulan dirinya di balik cermin.


"Aku sangat biasa-biasa aja, kalau sampai suamiku suatu saat nanti berpaling pada wanita lain yang lebih cantik dariku. Bagaimana ya?"


"Jangan suka mikir aneh-aneh deh"


Deg..


Seketika Tami berbalik saat mendengar suara bariton suaminya. Dia tersenyum kaku ketika suaminya berjalan ka arahnya dengan wajah datar. Duh, kenapa dia terlihat sangat marah. Gumamnya takut.


"Eh Sayang, sudah mandinya. Ini baju ganti untuk kamu" Tami menyodorkan pakaiaj Alvaro yang sejak tadi berada di tangannya.


Alvaro mengambil pakaian di tangan Tami, lalu mulai memakainya di depan istrinya yang langsung memalingkan wajahnya. Karena Tami memang belum benar-benar terbiasa dengan ini. Entah kenapa selalu dirinya yang merasa malu, padahal seharusnya Alvaro yang malu dengan apa yang dia lakukan di depan istrinya itu.


"Kau jangan memikirkan hal yang tidak-tidak, sampai kapanpun aku akan tetepa bersamamu dan mencintaimu. Faham"


Seolah terhipnotis oleh perkataan suaminya, Tami hanya menganggukan kepala. Alvaro yang sedang mengancingkan kemeja yang di pakainya, menoleh pada Tami yang sejak tadi hanya diam saja.


"Kau akan menjadi satu-satunya untukku"


Tami tersenyum pada suaminya, ada perasaan bahagia yang membuncah dalam hatinya. Tami benar-benar bahagi ketika mendengar ucapan Alvaro barusan. Dia tahu jika suaminya sangat tulus mengucapkan itu.


Alvaro berjalan mendekat pada Tami, dia merangkul bahu gadis itu dan membawanya keluar dari ruang ganti. "Kuliah jam berapa sekarang?"


"Seperti biasa"


Mereka turun ke lantai bawah dan langsung menuju dapur untuk sarapan. Tami menghela nafas, ketika melihat meja makan yang masih kosong. Hanya ada roti tawar dan beberapa slai saja disana.


"Sayang, maaf ya karena aku bangun kesiangan sampai tidak sempat membuat sarapan"


Cup..

__ADS_1


Alvaro mengecup kening istrinya dengan lembut. "Tidak papa, lagian kamu kesiangan juga karena kegiatan kita tadi malam"


"Apasi, malah membahas itu" Tami melepaskan tangan Alvaro yang merangkul bahunya, dia berjalan mendekati meja makan dan mengambil roti, lalu mengoleskan slai diatas roti tawar itu.


Akvaro hanya terkekeh lucu melihat istrinya yang salah tingkah karena ucapannya barusan.


"Duduk dong, sarapan dulu"


Alvaro tersenyum, dia menarik kursi dan duduk di sebrang Tami yang masih mengoleskan slai di atas roti tawar. Setelah selesai dengan roti, Tami berjalan ke arah lemari es dan membukanya. Mengambil susu full krim dan memanaskannya. Setelah dua gelas susu hangat tersedia, Tami membawanya ke meja makan.


"Makanlah, sarapannya ini dulu saja ya untuk hari ini"


"Iya Sayang, tidak papa. Lagian dulu pas aku masih sendiri di rumah ini, aku hampir melupakan sarapan setiap paginya"


"Jangan gitu ihh Sayang, nanti kalau kamu sakit bagaimana?"


Alvaro hanya tersenyum, dia senang melihat Tami yang memberikan perhatian padanya. Keuntungannya memiliki istri yang baik dan lembut seperti Tami, ya ini. Selalu mendapatkan perhatian lebih untuknya.


"Ya kan dulu aku belum ada yang memperhatikan seperti saat ini"


Alvaro hanya tersenyum, dia tidak akan pernah merasakan hal sebahagia saat ini jika tidak mengikat Tami dalam pernikahan ini atas dasar hutang yang telah membuat Tami salah faham dan akhirnya sampai memutuskan untuk mengonsumsi pil kontrasepsi.


Tapi mungkin semua itu adalah lika liku perjalanan pernikahan mereka.


Kini keduanya telah berada di dalam mobil, menuju kampus Tami untuk kuliah. Ada yang matanya langsung melirik curiga ketika suara dering ponsel Tami berbunyi. Bertanya-tanya siapa yang menghubungi istrinya di pagi-pagi seperti ini. Apalagi saat melihat Tami tersenyum ketika melihat layar ponsel yang menunjukan nama si penelepon.


"Siapa?"


Tami menoleh pada suaminya, sedikit mengerutkan keningnya yang bingung dengan ekspresi yang di tunjukkan oleh suaminya.


"Apasi Sayang, ini Ayra yang menelepon. Kamu kok kayak yang curiga gitu" Tami menunjukan layar ponselnya yang masih menyala, terlihat nama Ayra di layar ponsel yang berkedip itu.


"Gk curiga, cuma takut aja kalau kamu sampai melakukan kecurangan di belakangku"


"Hallo, Ay" Tami melirik suaminya, dia hanya menggeleng pelan menanggapi ucapan suaminya. Tidak sempat membalasnya karena dia sudab terlanjur mengangkat telepon dari Ayra.

__ADS_1


"Hallo Mi, kamu dimana? Aku udah di kampus nih"


"Wahh, lanjut lagi nih. Kirain akan selamanya berhenti, secara suaminya udah tajir melintir gitu. Hahaha"


"Apasi, aku juga tetap harus menyelesaikan apa yang sudah aku mulai"


"Haha. Iya, iya"


Cukup lama mereka berbicara lewat telepon sampai akhirnya Tami mengakhiri lebih dulu, ketika melihat wajah suaminya sudah cemberut. Tami menyandarkan kepalanya di bahu Alvaro yang sedang mengemudi.


"Sayang kenapa si? Kok cemberut gitu"


"Gak, aku lagi merasa di cuekin sama istri sendiri"


Tami tersenyum gemas mendengarnya, dia hanya menelpon beberapa menit saja. Tidak sampai berjam-jam. "Apasi, aku hanya menelepon sebentar saja. Kamu kok marah gitu"


"Tau ahh, intinya selama bersama aku, kamu tidak boleh mengabaikan aku apapun alasannya"


Tamo tersenyum, dia mengecup bahu suaminya. "Iya, iya. Udah dong jangan marah lagi. Aku tidak akan mengabaikanmu"


Sebesar itulah cinta Alvaro, sampai dia tidak akan bisa melihat Tami kenapa-napa. Dia kesakitan datang bulan saja, sudah membuat Alvaro khawatir dan panik berlebihan.


Mobil sampai di parkiran kampus, Tami melihat sahabatnya yang sudah lama cuti karena melahirkan sedang menunggunya di depan kampus. Duduk di bangku disana.


"Sayang aku pergi dulu ya, kamu hati-hati di jalan"


"Iya Sayang, jaga jarak ya sama pria lain"


Tami tertawa mendengarnya. "Apa kamu lupa jika aku tidak mempunyai teman selain Ayra. Semuanya memang berubah padaku sejak apa yang kamu lakukan waktu itu. Jadi, sekarang aku lebih tenang lagi menjalani kuliah"


Alvaro mengelus kepalanya, meraih balakang Tami dan mengecup keningnya. "Sayang, pokoknya kalau sampai ada yang berani mengganggu kamu lagi, bicara sama aku. Tidak akan aku biarkan siapapun mengganggu istriku"


"Iya Sayang"


Tami meraih tangan suaminya dan menciumnya. Di balas dengan elusan lembut di kepalanya dan kecupan di keningnya. Rutinitas pagi setiap Tami akan berangkat kuliah, selalu menjadi hal yang menyentuh hati Alvaro.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2