My Sweet Girl

My Sweet Girl
Menemui Alvaro


__ADS_3

Tami sudah sangat ingin memberi tahu Alvaro tentang kabar baik ini. Tapi sayang karena nomor ponsel suaminya kembali sulit untuk di hubungi. Mungkin karena sinyal yang susah di dapat di kota tempat Alvaro berada sekarang.


Mengalami morning sicknes setiap hari, membuat Tami lelah. Apalagi dengan nafsu makannya yang tidak baik. Namun, Tami tetap menjalani aktivitasnya setiap hari. Berangkat kuliah dan kegiatan lainnya. Bayinya cukup baik karena tidak terlalu membuat Tami kesusahan, kecuali dua keluhan itu. Muntah di pagi hari dan nafsu makan yang berkurang.


"Ya ampun Mi, aku benar-benar senang sekali mendengarnya. Selamat ya" Ayra langsung memeluk Tami dengan perasaan bahagia saat mendengar kabar kehamilan Tami. Sebagai sahabat, Ayra ikut merasa bahagia.


"Iya Ay, terima kasih ya. Tapi, sayang Mas Alvaro masih berada di luar kota dan sulit di hubungi. Jadi aku tidak bisa memberikan kabar bahagia ini"


Ayra mengerti perasaan Tami saat ini, dia mengelus kedua lengan Tami dengan senyum penyemangat untuk gadis itu. "Tenang saja, nanti juga suami kamu akan kembali dan kamu berikan kabar kehamilan kamu ini sebagai kejutan"


Tami mengangguk dan tersenyum, dia memang sudah merencakan itu. Meski dia tidak tahu kapan Alvaro akan kembali.


Hingga dua minggu kemudian, Alvaro masih belum ada kabar apapun. Perasaan Tami mulai gelisah dan tidak tenang. Dia merindukan suaminya, dan disaat keadaannya yang sedang hamil muda seperti ini, sebenarnya Tami sangat ingin berada di dekat suaminya dan di manja olehnya. Namun, kali ini dia malah harus benar-benar sendiri. Bahkan jika ada yang dia inginkan, dia pun harus membelinya sendiri.


Tami mulai kesal, dia mengelus perutnya dengan air mata yang mengalir di pipinya. "Papa kamu sebenarnya kemana? Kenapa tidak memberi Mama kabar sampai saat ini"


Seolah bayinya bisa menjawab semua kegelisahan Tami, membuat dia terus bercerita pada bayi dalam kandungannya.


Tami mengusap kasar air mata yang terus mengalir di pipinya, ketika suara dering ponselnya. Tami melihat layar ponsel yang menyala, sebenarnya nomor yang tidak dia kenal yang telah meneleponnya itu.


"Hallo"


"Hallo, apa ini benar dengan Nona Tami Arinda? Istri dari Tuan Alvaro?"


"Ya, saya sendiri. Ada apa ya?"


"Emm, maaf Nona ada sedikit kecelakaan disini. Tuan Alvaro tertimpa bahan proyek dan sekarang berada di rumah sakit di kota kami"


Tami mematung mendengarnya, dia benar-benar tidak bisa berfikir jernih sekarang. Suaminya kecelakaan? Di kota yang jauh dari tempatnya sekarang, lalu apa yang harus Tami lakukan?


Tami tidak bisa berfikir jernih sekarang, dia hanya ingin segera menemui suaminya dan melihat keadaannya. Meski orang yang meneleponnya mengatakan jika Alvaro hanya mengalami kecelakaan kecil, tapi Tami tetap harus memastikan jika keadaan suaminya benar-benar baik-baik saja.

__ADS_1


...💫💫💫💫💫💫💫💫...


Alvaro terbangun ketika merasa kepalanya yang terasa sangat pusing. Dia menatap Odi yang berdiri di samping ranjang pasien yang dia tempati.


"Di, ada apa denganku"


"Tuan.. Ahh, akhirnya Tuan sadar juga. Tuan tertimpa bahan proyek tadi. Apa anda baik-baik saja?"


Alvaro mencoba mengingat apa yang terjadi padanya. Di saat dia dan Odi  sedang mengecek pembangunan proyek Restaurant itu, tiba-tiba beberapa barang proyek jatuh dari atas sana dan menimpa kepalanya. Setelah itu Akvaro benar-benar tidak ingat apapun lagi.


Ceklek..


Pintu ruangan yang terbuka membuat Alvaro dan Odi langsung menatap ke arah pintu. Seorang pria masuk ke dalam ruang rawat Alvaro. Dia adalah arsitek proyek Restaurant yang sedang Alvaro kerjakan saat ini.


Pria itu membungkukkan tubuhnya sebagai rasa hormat dan permintaan maaf karena kelalaian bawahannya sampai membuat Alvaro celaka. "Tuan, tolong maafkan atas kelalaian pekerja saya. Saya benar-benar minta maaf, saya janji akan langsung memberhentikan dia"


Alvaro mengangkat tangannya dengan sedikit meringis karena kepalanya yang terasa sakit. "Tidak usah, semua ini adalah kecelakaan. Kau hanya perlu menertibkan pekerjamu agar lebih hati-hati lagi ketika menaruh bahan bangunan. Apalagi saat posisinya berada diatas, takutnya akan menimpa orang lain yang berada di bawah. Contohnya seperti tadi"


"Baik Tuan, terima kasih atas pengertian anda"


"Bagaimana? Apa kau sudah menghubunginya?" Tanya Odi pada pria itu


"Sudah Pak"


Alvaro mengerutkan keningnya bingung, menatap kedua bawahannya di depannya itu. "Apa? Menghubungi siapa?"


"Emm. Istri anda Tuan, saya kira memang istri anda seharusnya tahu tentang keadaan ini"


"Bodoh! Kenapa kau menghubunginya, istriku pasti akan khawatir kalau mengetahui keadaanku saat ini"


Kedua pria yang berdiri di dekat ranjang pasien itu terlihat terkejut. Mereka kira Alvaro akan senang saat mereka menghubungi istrinya tentang keadaannya yang sekarang. Karena yang Odi pikirkan jika istrinya berhak mengetahui tentang keadaan Alvaro saat ini. Bahkan Pak Arsitek saja sampai rela naik ke perbukitan hanya untuk bisa menghubungi istri dari Tuannya ini. Tapi ternyata Tuannya malah marah dengan apa yang dirinya lakukan.

__ADS_1


Alvaro mengusap wajah kasar. "Kalian ini kenapa bodoh sekali, aku tidak mau membuat istriku khawatir. Lagian kondisi aku juga tidak papa. Hanya kepalaku saja yang sedikit cedera"


"Maaf Tuan, kami benar-benar tidak tahu"


Alvaro mengangkat tangannya, menyuruh kedua bawahannya itu untuk keluar. "Ahh, sudahlah. Kalian keluar saja sekarang, aku ingin istirahat"


"Baik Tuan"


Keduanya pun keluar dari ruangan Alvaro. Meninggalkan pria itu seorang diri di dalam ruangan. Alvaro membaringkan tubuhnya, memejamkan matanya meski dia tidak benar-benar tertidur. Hanya merasakan kepalanya saja yang terasa begitu pening.


Bagaiamana keadaan istriku sekarang? Ahh. Sial, kenapa mereka harus memberi tahu Tami tentang keadaanku ini.


Alvaro kesal sendiri pada bawahannya, padahal dia tidak ingin Tami merasa cemas dengan keadaannya yang sebenarnya tidak papa. Suara pintu yang kembali terbuka membuat Alvaro menghela nafas. Untuk apalagi mereka masuk kesini. Gumamnya.


"Ada apalagi si"


Brukk..


Seketika Alvaro langsung membuka matanya yang terpejam saat seseorang memeluk tubuhnya yang berbaring di ranjang pasien ini. Alvaro benar-benar terkejut saat mengetahui jika itu adalah istrinya.


"Sayang..." Saking terkejutnya sampai membuat Alvaro tidak bisa berkata-kata. Tangannya mengelus kepala Tami yang berada di dadanya. Dia mencoba bangun dan memeluk istrinya itu.


"Hiks..Hiks.. Kamu jahat" Tami memukul dada Alvaro dengan tangisan yang pecah dalam pelukan suaminya itu. Sungguh Tami sangat merindukan pelukan suaminya ini. Dua minggu di tinggalkan Alvaro, benar-benar membuatnya tersiksa.


"Sayang.. Hey, tenang dulu. Kenapa kamu datang kesini?"


Tami melerai pelukannya, menatap Alvaro dengan mata basahnya. Dia usap kasar air mata yang mengalir di pipinya. "Karena aku khawatir dengan keadaan kamu. Karena aku merindukanmu. Selama dua minggu ini kamu benar-benar tidak memberikan aku kabar sama sekali. Kamu tahu, kalau aku sangat mengkhawatirkan keadaanmu disini"


Alvaro kembali memeluk istrinya, mencium pipinya dengan lembut. Dia juga sangat merindukan Tami. Hanya saja pekerjaan disini benar-benar membuat dirinya sibuk.


"Aku juga merindukan kamu, Sayang. Maafkan aku"

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2