
Tami tidak menyangka jika istri dari saudara suaminya ini begitu ramah dan baik. Bahkan dia tidak membahas tentang kejadian itu. Dimana Tami yang salah mengenali suaminya sendiri. Mungkin akan menjadi huru hara dalam rumah tangga mereka. Mengingat itu membuat Tami menggenggam balik tangan lembut Saqila yang sejak tangan menggenggam tangannya.
"Emm. Apa boleh aku panggil Kakak saja?"
Saqila mengangguk dan tersenyum. "Tentu saja, aku senang kau memanggilku seperti itu. Karena artinya kita memang telah menjadi saudara sekarang. Aku juga memiliki seorang adik yang seusia denganmu. Nanti dia akan kesini bersama suaminya"
Tami mengangguk, melihat senyuman ramah dan ketulusan Saqila membuat Tami begitu mengagumi pria di depannya ini. Apalagi dengan wajah yang cantik dan penampilan yang elegan membuat kesan wanita karier yang dewasa untuk Saqila. "Emm. Kak, Tami benar-benar minta maaf soal kejadian waktu itu. Tami benar-benar tidak mengetahui tentang Tuan Alvaro yang ternyata memiliki saudara kembar. Jadi, maaf sekali karena kejadian waktu itu mungkin membuat Kakak dan suami bertengkar"
Saqila tersenyum, dia tidak merasa terganggu dengan kejadian yang sudah berlalu. Itu sebabnya dia tidak membahasnya sejak dia datang ke ruang rawat Tami, karena Saqila tidak mau membuat gadis itu malu. "Tidak papa Mi, kamu tidak salah kok. Dengan kejadian itu aku bisa melihat jika kamu begitu mencintai suamimu itu. Lagian ini salah Alvaro yang tidak memberi tahu kamu tentang ini"
Alvaro hanya terkekeh melihat lirikan tajam dari Saqila.
"Kamu itu sebagai suami harus peka dong, gimana si. Setidaknya ceritakan tentang diri kamu dan keluarga kamu pada istrimu ini"
"Iya, nanti aku akan ceritakan" jawab Alvaro sedikit terkekeh
Suara pintu ruangan yang terbuka membuat semua orang yang ada disana langsung menoleh ke arahnya. Melihat siapa yang datang.
"Aiden, kau baru sampai ya"
"Ya, aku menjemput istriku dulu"
Teman Alvaro yang bernama Aiden itu berjalan masuk ke dalam ruang rawat Tami dengan menggandeng istrinya. Tami terdiam ketika melihat istri Aiden, dia merasa tidak percaya dengan apa yang dia lihat sekarang.
"Ayra?"
Wanita yang di panggil namanya langsung menoleh ke arah Tami, dia juga terlihat terkejut dengan keberadaan Tami disana.
"Tami?"
"Kalian saling kenal?" Tanya Saqila yang bingung dengan keadaan ini, mungkin bukan hanya Saqila saja. Tapi dengan Aiden dan Alvaro juga.
__ADS_1
Ayra berjalan mendekati ranjang pasien, dia menatap Tami masih dengan tatapan tidak percaya. Lalu beberapa detik kemudian dia tersenyum sambil menggelengkan keplanya.
"Jadi suamimu Kak Al? Ya ampun Tami, kenapa gak bilang?"
Tami juga merasa bingung dengan semua ini. Dia melirik ke arah suaminya dan Aiden secara bergantian. "Aku juga tidak tahu, Ay. Lagian kamu juga gak pernah kasih tahu aku siapa suami kamu. Ini aja pertama kalinya aku tahu suami kamu"
"Tunggu!" Saqila melerai perdebatan kedua gadis itu. "...Jadi, kalian saling kenal?"
"Ya, kita teman kuliah"
"Ya ampun, takdir macam apa ini?" Saqila sampai ingin menepuk jidatnya sendiri. Belum lagi dia yang baru mengetahui tentang dirinya yang bersaudara dengan Ayra. Dan sekarang ada Tami dan Ayra yang ternyata berteman. Dan suami mereka juga berteman sejak kuliah.
Tami dan Ayra hanya tertawa mendengar ucapan Saqila. Mereka juga tidak tahu tentang kenyataan yang seperti ini. Karena Tami dan Ayra adalah sosok gadis yang sama-sama tertutup. Bahkan untuk masalah suami mereka saja, tidak bercerita satu sama lain.
Tami merasa senang ketika tahu sahabatnya juga bahagia bersama suaminya.
...💫💫💫💫💫💫💫💫...
Alvaro yang ikut naik ke atas ranjang pasien dan memeluk tubuh istrinya itu dengan posisi duduk menyandar di atas ranjang pasien. Alvaro hanya sedang memberikan kenayamanan untuk istrinya dan untuk dirirnya sendiri saat ini.
"Ya, karena takdir Tuhan. Aku juga tidak terlalu tahu tentang hal itu"
Tami mengangguk mengerti, dia menyandarkan kepalanya di dada bidang suaminya dengan nyaman. "Yang penting sekarang, Ayra sudah bahagia bersama keluarganya"
"Iya Sayang, tapi aku masih kesal padamu"
Tami medongak dan menatap bingung pada suaminya. "Kenapa kesal? Memangnya aku melakukan apa?"
Cup..
Kesal Alvaro membuat dia tidak tahan untuk tidak mencium bibir istrinya. Berawal dari kecupan dan lama-lama berubah menjadi sebuah luma*tan halus dan lembut. Tami yang awalnya terkejut, lambat laun mulai menikmati setiap kecupan dan luma*tan yang di berikan suaminya. Kedua matanya mulai terpejam dan menikmati ciuman mereka. Hingga beberapa saat kemudian, Alvaro mengakhiri ciuman mereka. Tami segera merubah posisinya, kembali memeluk tubuh suaminya dengan kepala yang menyandar di dada Alvaro. Dia sedikit mengusap bibirnya yang basah.
__ADS_1
"Aku tidak suka kau masih memanggilku dengan sebutan Tuan"
"Tidak, aku 'kan memanggilmu Sayang. Sesuai dengan permintaan kamu waktu itu"
"Tapi, tadi kau memanggilku Tuan di depan banyak orang. Aku suamimu, bukan majikanmu!"
Tami menghela nafas pelan, dia baru mengerti apa maksud suaminya. "Iya, lain kali aku tidak akan memanggilmu seperti itu lagi"
Alvaro tersenyum, dia mengecup puncak kepala istrinya dengan lembut. Saat bersama istrinya, Alvaro selalu merasa tenang dan nyaman. Alvaro selalu merasa dirinya sangat beruntung bisa mendapatkan Tami dan menjadi pria pertama yang di cintai oleh istrinya.
"Sayang, apa kepalamu ini masih sakit?"
Tami menggeleng, dia menyentuh pelan perban yang melingkar di kepalanya. "Tidak, hanya masih sedikit pusing saja jika kelamaan tiduran"
Alvaro mengelus pelan perban di kepala istrinya. Mengingat kejadian itu membuat dia selalu merasa cemas. Takut jika dia akan kehilangan istrinya saat itu. Mendengar Tami kecelakaan saja sudah membuat Alvaro hampir gila. Apalagi jika Tami pergi meninggalkannya.
"Sayang, jangan lagi seperti ini. Kau tahu bagaimana paniknya aku ketika tahu kamu yang kecelakaan. Aku sudah seperti orang gila yang takut kehilangan kamu"
Tami mendongak, dia menatap suaminya dengan tatapan yang sulit di artikan. Di saat seperti ini, Tami selalu merasa jika Alvaro memang mencintainya. Tapi yang membuat Tami ragu, karena sampai saat ini tidak pernah ada kata cinta yang terucap dari bibir Alvaro untuknya.
"Aku begini juga karena cari kamu. Aku khawatir kamu pergi kemana saja saat kita bertengkar kemarin. Lagian kamu yang sedang marah dan tiba-tiba pergi begitu saja tanpa memberi tahu aku mau pergi kemana. Kamu fikir aku gak khawatir dengan keadaan kamu"
Alvaro kembali mengecup kening istrinya dengan penuh rasa bersalah. Memang salahnya juga yang pergi tanpa bicara di saat mereka baru saja bertengkar. Hal itu pasti membuat Tami kebingungan dan khawatir padanya.
"Maaf Sayang, saat itu aku memang kesal padamu. Sampai aku pergi hanya untuk menenangkan diri dan pikiran ku. Tidak menyangka kejadiannya akan seperti ini"
Tami mengelus dada suaminya, lalu dia meraih tangan Alvaro dan mengecupnya dengan lembut. "Jangan seperti itu lagi ya. Kalau kamu memang marah sama aku, lebih baik kamu marah dan bentak-bentak aku saja. Jangan langsung pergi tanpa kejelasan. Aku mengkhawatirkan kamu"
"Iya Sayang, aku janji tidak akan melakukan hal seperti itu lagi. Terima kasih karena kamu sudah begitu mengkhawatirkan aku dan mencintaiku"
Bersambung
__ADS_1