My Sweet Girl

My Sweet Girl
Kebahagiaan Ayah Dan Ibu


__ADS_3

Menantikan seorang anak adalah kebahagiaan untuk semua pasangan yang telah menikah. Begitu pun dengan Alvaro dan Tami, mereka begitu bahagia menikmati setiap prosesnya. Alvaro tidak pernah kesal ketika Tami tiba-tiba menginginkan sesuatu yang aneh-aneh di malam hari. Karena semua itu adalah bentuk perjuangannya. Semua hal yang terjadi saat ini, mungkin akan dia rindukan di masa yang akan datang.


Hari ini Tami berkunjung ke rumah orang tuanya, memberi tahu tentang kabar bahagia ini. Tentu saja Ayah dan Ibu begitu bahagia mendengarnya.


"Semoga kandungan kamu sehat selalu sampai kamu melahirkan, Nak. Ibu ikut senang mendengarnya"


Tami mengangguk, dia merebahkan kepalanya di pangkuan sang Ibu. Tangan Ibu yang mengelus kepalanya, memberikan kenyamanan untuk Tami. "Terima kasih Bu, sudah mau merawat Tami sampai sebesar ini. Sekarang Tami bisa merasakan, bagaimana perjuangan Ibu ketika mengandung. Meski Tami belum merasakan sampai melahirkan"


"Semua itu adalah kodratnya perempuan, kamu akan merasakan bagaimana bahagianya ketika suara tangisan anak kamu terdengar untuk pertama kalinya di telinga kamu. Seolah semua rasa sakit yang kamu rasakan, sirna seketika. Tergantikan dengan kebahagiaan"


Tami tersenyum dengan tangan yang mengelus perut ratanya. Rasanya dia memang sangat merasa bahagia ketika dia mengetahui tentang kehamilannya.


"Bu, Ayah jualan hari ini?"


"Iya Nak, katanya dia mau membagikan gorengan gratis pada pekerja di jalanan, sebagai rasa syukurnya atas kehamilan kamu"


Tami bangun dari pangkuan Ibu, dia menatap Ibu dengan tidak percaya. Ternyata kehamilannya benar-benar membawa rasa bahagia pada setiap orang, termasuk orang tuanya.


"Beneran Bu, aduh Ayah memang sejak dulu selalu seperti itu. Ketika dia merasa bahagia, maka dia selalu berbagi kebahagiaannya itu pada setiap orang dengan cara apapun"


Ibu tersenyum dan mengangguk, dia mengelus kepala Tami dengan Sayang. "Iya Sayang, sekarang ayo makan Ibu masak makanan kesukaan kamu. Tadi suami kamu bilang katanya kamu kurang berselera makan"


"Iya Bu, apa emang seperti itu ya kalau sedang hamil"


"Ya, memang seperti itu Nak. Semua Ibu pasti merasakan"


Tami mengangguk, berbicara dengan oran yang sudah berpengalaman benar-benar membuatnya lebih tenang. "Ayo makan Bu, Tami kok jadi lapar ya pengen makan masakan Ibu"


"Yaudah ayo makan"


Dan siang ini, Tami benar-benar lahap makan masakan Ibunya yang sudah lama tidak dia rasakan.


...💫💫💫💫💫💫💫💫...


Sore hari Alvaro datang untuk menjemput istrinya. Seharian berada di rumah Ibunya, membuat Tami sedikit lebih ceria. Tidak terlalu lesu seperti di rumah.


"Ayo pulang"


"Iya, sebentar lagi ya. Aku masih kangen sama Ibu"

__ADS_1


"Sayang, gak boleh gitu kalau sudah menikah harus menurut sama suami kamu. Sekarang kamu pulang, nanti kapan-kapan kamu 'kan bisa kesini lagi"


"Iya Bu"


Alvaro tersenyum, istrinya memang anak yang penurut. Dan Alvaro bangga dengan itu. "Jadi gimana? Mau pulang sekarang?"


"Iya, pulang sekarang aja"


"Yaudah ayo"


Setelah berpamitan, Alvaro dan Tami segera pulang. Saat ini keduanya sedang berada di dalam mobil. Sebelah tangan Alvaro terus menggenggam tangan Tami, dengan sesekali mengecupnya. Jelas sekali terpancar kebahagiaan dari wajahnya.


"Sayang, mau itu" Tami menunjuk sebuah pedagang pinggir jalan yang berada di ujung jalan.


"Apa itu?"


"Kayaknya rujak deh, aku mau itu"


Alvaro mengangguk, keinginan Ibu hamil memang harus di turuti. Begitulah hal yang Alvaro ketahui. "Yaudah, tapi jangan pedas"


"Yah.." kedua bahu Tami langsung lemas mendengar itu. Jelas dia sangat menginginkan makanan pedas. Dia menyukai semua makanan pedas. "...Sedikit pedas saja"


Tami menghela nafas, memang benar apa yang dikatakan Alvaro barusan. Tapi, semua makanan pedas tetap makanan yang Tami suka sampai sekarang.


"Sedikit pedas, tidak papa 'kan?"


"Yaudah, gak papa. Tapi hanya sedikit"


Akhirnya Alvaro menyerah, dia tidak mau membuat mood istrinya hancur hanya karena soal makanan. Yang terpenting Alvaro masih membatasi makanan yang kurang sehat untuk di konsumsi istrinya. Dia tetap mengutamakan makanan yang sehat dan bergizi untuk Tami dan calon bayi mereka.


Mobil berhenti tepat di depan penjual rujak pinggir jalan. Tami membuka kaca jendela mobil. "Pak, saya mau satu porsi. Pedas ya..."


"Sayang!"


Peringatan dari suaminya membuat Tami menghela nafas pelan. "Jangan terlalu pedas Pak, sedikit saja pedasnya"


"Baik Neng"


Beberapa saat menunggu sampai pesanan rujak Tami selesai. Setelah Tami membayar, mobil kembali melaju.

__ADS_1


"Mulai gak nurut deh, padahal aku melakukan ini juga demi kebaikan kamu"


"Iya, iya maaf. Lagian aku 'kan gak jadi beli rujak pedas. Ini pedasnya sedikit kok"


"Awas saja kalau sampai gak nurut lagi"


"Iya, iya Sayang"


...💫💫💫💫💫💫💫💫...


Kehamilan benar-benar membuat Tami berubah, sikapnya yang pendiam dan mandiri. Berubah menjadi sosok wanita yang manja dan cerewet. Dia selalu menginginkan Akvaro membuatkan sesuatu atau memberikannya. Padahal dia bisa sendiri, tap entah kenapa dia ingin suaminya yang membuatkan itu untuknya.


"Sayang, aku ingin jus jambu. Kamu buatkan ya" Tami memeluk Alvaro dari belakang, suaminya itu sedang mengancingkan kemejanya di depan cermin besar di ruang ganti.


"Ya ampun Sayang, aku sudah telat ini. Hari ini ada pertemuan dengan beberapa rekan kerja yang ikut investasi di pembangunan Restaurant baru di luar kota itu"


Tami langsung melepaskan pelukannya, dia kesal karena suaminya tidak mau menuruti apa yang dia inginkan.


"Kan hanya sebentar"


"Sayang, nanti saja ya. Kan jambunya juga tidak ada. Aku harus beli dulu, jadi nanti saja pas aku pulang kerja"


"Yaudah, terserah kamu"


Tami berlalu keluar dari ruang ganti dengan perasaan kesal. Dia juga bingung kenapa perasannya jadi sangat sensitif seperti ini. Padahal hanya sebuah perkara kecil, tapi dia bisa sekesal ini.


Bukannya Alvaro tidak peduli dan tidak mengerti perasaan Istrinya. Tapi saat ini waktunya benar-benar mepet, tidak akan keburu jika Alvaro membuatkan dulu apa yang Tami inginkan. Jadi dia memilih tetap pergi bekerja.


Menghampiri Tami yang duduk di atas sofa, jelas sekali wajahnya yang di tekuk kesal. Alvaro mengelus puncak kepala Tami, lalu mengecupnya. "Aku pergi dulu ya, kamu baik-baik di rumah"


Tami tidak menjawab, dia hanya menatap kepergian suaminya itu dengan kesal. Tami berjalan ke arah tempat tidur den kembali berbaring di atas tempat tidur. Menghilangkan kekesalannya pada Alvaro.


Kenapa hatiku kesal sekali?


Hormon kehamilan tengah mempengaruhi Tami. Membuat dirinya sangat sensitif dan gampang sekali kesal ketika apa yang dia inginkan tidak segera di wujudkan oleh suaminya.


Mungkin semua ini adalah tantangan untuk Alvaro, sebelum dia benar-benar menjadi seorang Ayah.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2