
Berjalan berkeliling mall dengan Alvaro yang mendorong kereta bayi si kembar. Sebenarnya Tami tidak terlalu suka pergi jalan-jalan seperti ini. Namun, karena hari ini dia pergi bersama anak dan suaminya. Maka dia merasa sangat senang.
Dia membeli beberapa pakaian kembar untuk Alma dan Alqi. Pakaian dengan warna senada, sangat lucu dan membuat Tami tergoda untuk membelinya.
"Sayang, kenapa hanya membeli pakaian si kembar saja. Kenapa tidak membeli pakaianmu juga?"
Tami menoleh pada suaminya dan tersenyum padanya. "Tidak perlu, baju aku di rumah masih banyak. Jadi tidak perlu beli lagi, untuk apa coba"
Alvaro menggeleng pelan, merasa heran dengan istrinya yang sangat sederhana. Sangat berbeda dengan beberapa wanita yang pernah dekat dengan Alvaro. Semuanya hampir sama, suka berbelanja bahkan membeli barang-barang yang mewah ketika mereka pergi dengan Alvaro. Jelas, karena sejak dulu Alvaro sudah terbiasa untuk membayarkan wanita yang dia ajak jalan. Tentu saja hal itu membuat wanita-wanita matrealistis banyak mendekatinya.
"Sayang, kita pulang saja ya. Lebih baik makan di rumah Ibu saja. Aku sudah memberi tahu Ibu semalam, dan dia bilang akan memasak untuk kita"
Alvaro mengangguk, dia akan selalu menuruti apa yang dikatakan istrinya saja. Mereka berjalan menuju pintu keluar. Namun belum sampai di pintu keluar, Alvaro dan Tami terdiam saat dengan tidak sengaja berpapasan dengan seorang wanita yang juga mendorong kereta bayi.
"Hai Al, apa kabar?"
Alvaro melengos, dia malas meladeni Evelin yang pernah mencoba untuk menghancurkan rumah tangganya bersama Tami. Namun, Tami tidak seperti itu. Dia memang tegas pada setiap wanita yang berniat merebut suaminya. Tapi tidak harus menyimpan dendam juga. Jadi, dia membalasa sapaan dari Evelin itu.
"Hai Kak, kabar kami baik"
Evelin tersenyum, lalu dia berpamitan pada Tami dan Alvaro untuk melanjutkan jalannya. Setelah Evelin pergi, Tami langsung mengelus lengan suaminya yang memegangi dorongan kereta bayi.
"Sudah ayo pulang, kenapa jadi kesal begitu saat bertemu dengan mantan" Tami terkekeh dengan ucapannya sendiri, sengaja ingin menggoda suaminya itu.
"Jangan mulai deh Sayang, kalau kamu tidak mau kita berakhir bertengkar hari ini"
Tami tertawa mendengarnya, dia tidak pernah lagi merasa cemburu karena Tami tahu sendiri bagaimana cinta suaminya padanya yang begitu besar dan tulus. Di tinggal koma satu tahun saja, Alvaro masih setia bertahan dan menunggu Tami sadar.
Mereka sampai di depan mobil. Lalu masuk ke dalam mobil. Setelah dari mall, mereka melanjutkan perjalanam mereka ke rumah Ayah dan Ibu. Tami terlihat begitu antusias saat dia akan bertemu orang tuanya. Sungguh, Tami sangat merindukan Ayah dan Ibu.
__ADS_1
Ketika sampai disana, Ibu langsung menyambut kedatangan Tami dan Alvaro. Ibu menggendong Alma dan membawanya ke dalam rumah. Dia sangat antusias saat anaknya dan kedua cucunya datang ke rumah ini.
"Ayo masuk, Ibu sudah selesai masak. Kita makan siang bersama"
"Iya Bu, terima kasih" Alvaro selalu merasakan kehangatan keluaran jika dia berkunjung ke rumah mertuanya ini. Suasana rumah sederhana ini memang terasa sangat hangat.
"Bu, Ayah dimana?"
"Ayahmu mengantar bahan gorengan ke kios. Sekarang dia punya satu orang pegawai di kios nya"
"Beneran Bu? Wah, hebat dong Ayah sekarang. Siapa yang bekerja dengan Ayah Bu?"
"Itu Nak Winda yang dulu sering ngerjain kamu"
Tami terkejut mendengar itu, jelas dia mengingat siapa orang yang Ibu maksud. "Ah masa Bu? Bukannya dia punya suami kaya ya? Dulu, dia sering mengejek aku karena aku berani melanjutkan kuliah. Ibunya juga sering bilang kalau Winda tidak perlu kuliah tinggi-tinggi karena dia akan menikah dengan pria yang kaya raya"
"Dia diceraikan oleh suaminya, karena ternyata suaminya itu adalah seorang juragan tanah yang istrinya banyak. Nah, dia dijadikan istri ke empat dan sekarang diceraikan karena suaminya kembali tertarik pada gadis lain"
"Iya Nak Al, Tami ini memang dari dulu selalu menjadi korban bully. Gak tau kenapa dia itu tidak pernah mau melawan. Sejak kecil selalu saja Ibu atau Ayahnya yang harus turun tangan"
Alvaro tertawa keras mendengar itu, membayangkan bagaimana istrinya ini menjadi wanita lemah, dulu. "Tapi Bu, sekarang dia sudah berani melawan kok. Buktinya kalau ada perempuan yang mendekati aku. Maka langsung dibuat mundur oleh ucapannya yang pedas itu"
Ibu tertawa mendengar itu, dia menatap Tami yang cemberut karena malah dirinya yang menjadi bahan perbicangan antara Ibunya dan suaminga.
"Bersyukur kalau Tami seperti itu Nak, itu atrinya dia memang tidak ingin kehilanganmu"
Alvaro tersenyum dan mengangguk, dia mengelus kepala istrinya yang duduk di sampingnya itu. "Iya Bu, dan aku sangat bersyukur istriku ini telah kembali padaku dan bisa kembali berkumupul dengan kita semua"
Ibu ikut menatap Tami, dia juga merasakan hal yang sama. Merasa sangat bersyukur karena putri satu-satunya ini bisa kembali sadar. "Iya Nak, Ibu juga merasa sangat bersykur melihat Tami yang sekarang sudah kembali pada kita semua"
__ADS_1
Tepat pada saat itu, Ayah datang dan dia langsung ikut bergabung dengan keluarganya. Ayah mengambil alih Alqi dari pangkuan Tami dan menggendongnya.
"Kalian sengaja datang kesini atau habis pergi darimana?"
"Kita pergi jalan-jalan sebentar dari mall, dan langsung mampir ke rumah Ayah dan Ibu. Semalam Tami sudah menghubungi Ibu, apa Ibu tidak cerita pada Ayah"
"Ibu lupa Nak, semalam 'kan Ayahmu sudah tidur"
Tami mengangguk mengerti, dia senang dan bahagia sekali ketika melihat kedua orang tuanya yang sehat dan bahagia. "Bu, nanti titip si kembar ya, aku ingin mengunjungi makam Tian"
"Iya Nak, pergilah biar anak-anak bersama Ibu dan Ayah"
Dan setelah makan siang, Tami menidurkan dulu si kembar di kamarnya. Setelah kedua anaknya terlelap, dia langsung berpamitan pada Ayah dan Ibu untuk segera pergi ke makan mendiang adiknya.
Jarak rumah Tami dan pemakaman umum hanya cukup dengan berjalan kaki saja. Jadi Tami dan Alvaro berjalan kaki melewati beberapa rumah disana. Tami tidak lepas menggandeng tangan suaminya dan selalu menyapa beberapa tetangga yang tidak sengaja berpapasan dengannya.
"Sayang, pantas saja kamu menjadi korban bully. Kamu terlalu baik pada semua orang"
Tami menyandarkan kepalanya di lengan Alvaro dengan tangan yang merangkul tangan suaminya.
"Terus aku harus bersikap jutek gitu? Kan gak bisa Sayang. Itu bukan sikapku"
Alvaro tersenyum, dia mengecup puncak kepala istrinya. "Ya, karena itu aku sangat bersyukur memilikimu"
Setelah berjalan cukup lama, kini Tami dan Alvaro sudah berada di depan gundukan tanah yang sudah mengering. Tami berjongkok di dekat batu nisan yang bertuliskan nama adiknya itu.
Tami mengusap batu nisan itu dengan menghela nafas panjang. Melihat nama adiknya di batu nisan, membuat Tami kembali mengingat dengan semua perjuangannya di masa lalu. Sebelum dia menemukan kebahagiaan ini dengan suaminya.
"Tenang disana ya, Dek. Kakak akan menjaga Ibu dan Ayah"
__ADS_1
Alvaro merangkul bahu istrinya, mencoba menguatkan Tami yang terlihat sekali jika dia hanya sedang menahan kesedihannya saat ini.
Bersambung