
Tami terbangun lebih pagi hari ini, di jendela masih menempel embun pagi. Matahari pagi masih bersmbunyi di balik sela-sela pepohonan. Tami menatap wajah suaminya yang masih terlelap dengan tangan memeluk pinggang Tami. Garis wajah yang nyaris sempurna membuat Tami selalu berdebar saat menatapnya. Apalagi jika kedua mata dengan bola mata berwarna kecoklatan itu semakin membuat Tami berdebar.
Pria setampan ini mau menikahiku jika bukan karena alasan hutang, rasanya tidak mungkin.
Tami menggeliat pelan, mencoba menyingkirkan tangan suaminya yang berada di pinggangnya. Namun, gerakannya telah membangun Alvaro dari tidur lelapnya. Bukannya melepaskan Tami untuk bangun, Alvaro malah menarik tubuh istrinya semakin merapat dengan tubuhnya. Menyembunyikan wajahnya di dada Tami, posisi yang menjadi favorit Alvaro.
Tami menghela nafas saat suaminya tidak melepaskan dirinya untuk bangun lebih dulu. Dia mengelus rambut Alvaro yang memeluknya. "Sayang, aku mau bangun. Sudah pagi"
"Sebentar lagi, aku masih ingin memelukmu"
Tami hanya menghela nafas dan membiarkan suaminya melakukan apa yang ingin dia lakukan. Beberapa saat kemudian dia mendengar hembusan nafas suaminya yang mulai teratur, sepertinya dia kembali terlelap dalam pelukan Tami.
"Tidur lagi ya" Yakin jika suaminya telah kembali terlelap, Tami mencoba melepaskan diri dari pelukannya. Namun, seperti tahu apa yang di lakukannya, Alvaro langsung megeratkan pelukannya. Akhirnya Tami hanya diam dalam pelukan suaminya, kedua matanya sudah tidak mengantuk lagi. Jadi dia hanya diam dalam pelukan suaminya tanpa bisa terlelap lagi.
Kenyamanan yang aku rasakan saat ini, semoga hanya sebatas kenyamanan saja.
Tami tidak siap jika dirinya harus jatuh cinta pada Alvaro dan pada akhirnya dia akan di campakkan juga oleh suaminya setelah dia benar-benar bosan menjalani pernikahan dengan Tami. Jadi saat ini Tami hanya harus giat bekerja supaya bisa segera melunasi pinjamannya pada Alvaro dan dia bisa pergi sebelum hatinya jatuh cinta pada pria itu. Dia bisa segera mengakhiri pernikahan ini, sebelum Alvaro sempat mencampakan dirinya.
Akhirnya satu jam kemudian, Tami benar-benar bisa bangun setelah suaminya terbangun dan melepaskan dirinya. Tami segera turun ke lantai bawah untuk menyiapkan sarapan pagi ini.
...💫💫💫💫💫💫💫💫...
Siang ini Tami baru saja selesai dengan kuliahnya. Dia berjalan keluar kelas, merasa bingung saat dia melihat seorang wanita yang berdiri menyandar di dinding di depan kelasnya. Tami jelas mengingat siapa wanita itu. Wanita yang tidak sengaja menabrak dirinya di pesta semalam.
"Emm. Maaf Nona, ada apa ya?"
"Hai, saya Evelin. Maaf ya karena semalam saya sudah menabrak kamu sampai terjatuh"
__ADS_1
Tami menerima uluran tangan Evelin sebagai tanda perkenalan mereka hari ini. "Saya Tami. Tidak papa, lagian kemarin saya juga berjalan dengan terburu-buru"
Evelin tersenyum, senyuman yang sangat cantik menurut Tami. "Apa kuliahmu sudah selesai?"
Tami mengangguk pelan. "Ya, sudah selesai"
"Saya ingin mengajakmu makan siang bersama. Ada yang ingin saya bicarakan juga dengan kamu, apa bisa?"
Tami sedikit bingung harus menjawab apa. Sebenarnya dia tidak enak juga kalau menolak ajakan Evelin. Tapi, dia juga tidak bisa menyetujuinya. "Emm. Sepertinya tidak bisa, saya harus bekerja"
"Loh masin bekerja? Bukannya kamu istrinya Alvaro ya? Dan kalau tidak salah ingat, saya juga pernah melihat kamu berada di Slick Grind Resto dan bekerja sebagai pelayan disana"
"Ya, saya membantu suami saya disana. Kalau ada waktu senggang, saya juga membantu pelayan yang lain. Waktu kita bertemu, itu saya sedang membawakan makan siang untuk suami saya. Karena pekerja lain sedang sibuk dengan pekerjaan mereka"
Evelin terdiam, dia tidak menyangka jika Tami bisa memberikan jawaban seperti itu atas pertanyaannya. Padahal awalnya Evelin yakin jika pernikahan Alvaro dengan gadis di depannya, tidak seperti pernikahan pada umumnya.
Sial, ternyata dia tidak sepolos itu.
Tami berbalik dan pergi meninggalkan Evelin dengan tangannya yang mengusap dada. Entah kenapa sejak Tami mengetahui jika Evelin dan Alvaro saling mengenal, meski dia tidak tahu hubungan seperti apa yang di jalani mereka di masa lalu. Saat ini Tami hanya ingin menunjukan jika dirinyalah yang menjadi pemilik Alvaro seutuhnya.
Padahal aku tahu jika pernikahan ini hanya sementara. Hanya sampai Tuan Alvaro bosan saja denganku, tapi kenapa aku tetap ingin menunjukan pada wanita lain jika Tuan Alvaro adalah milikku.
Tami menghembuskan nafas berat, dia mengusap wajah kasar. Bingung dengan perasaannya sendiri. "Tuhan, ada apa denganku saat ini?"
Selesai dengan sarapan yang di buatnya. Tami segera menemui suaminya di dalam kamar. Di lihatnya Alvaro masih terduduk di atas sofa dekat jendela kamar. Memandangan pemandangan pagi hari di luar jendela. Tami segera menghampirinya dan ikut duduk di samping Alvaro.
"Belum mandi Sayang"
__ADS_1
Alvaro tersenyum, dia berbalik dan menatap istrinya. "Belum, aku ke restaurant siang, kamu mau kuliah hari ini?"
Tami mengangguk "Iya, kalau gitu aku mandi duluan ya"
Saat Tami berdiri, tangan Alvaro langsung mencekal pergelangan tangannya dan menariknya hingga dia terjatuh di atas pangkuannya. Alvaro memeluk Tami dari belakang, mengecup bahu dan leher belakang istrinya dengan lembut. Apa yang di lakukan Alvaro membuat Tami merinding. Dia ingin lepas, tapi tidak bisa karena pelukan suaminya sangat erat di perutnya. Tami sudsh merasa sangat berdebar dengan apa yang di lakukan suaminya. Meski sudah hampir satu bulan mereka menikah dan tidur bersama, tapi Tami belum bisa menyesuaikan diri dengan keadaan seperti ini.
"Sayang, aku mau mandi"
"Sebentar, aku sedang capek dengan pekerjaan jadi ingin bermanja dengan istriku"
Mendengar itu selalu membuat Tami merasa tidak nyaman. Tami selalu merasa jika pernikahan ini terjadi memang karena cinta. Bukan atas dasar pinjaman uang seperti dirinya dan Alvaro. Tami selalu berpikir apa benar apa yang di ucapkan oleh Alvaro tulus dari hatinya. Bukan hanya ingin membuatnya merasa nyaman hingga akhirnya jatuh cinta padanya. Tami merasa jika Alvaro sedang mencoba mempermainkannya.
"Sebenarnya kenapa kamu memperlakukan aku seperti ini?" Pertanyaan yang selama ini dia tahan dalam pikirannya. Kini terungkap juga.
Alvaro memegang pinggang istrinya, membalik tubuh istrinya agar menghadapnya. Masih berada di atas pangkuannya. Alvaro menatap Tami dengan lekat, mencari apa yang sebenarnya dirasakan istrinya padanya.
"Kenapa kau bertanya seperti itu? Aku memperlakukan kamu seperti ini, karena kamu memang istriku. Lalu, apa salah jika aku bermanja padamu?"
Bukan itu maksudnya.
Tami bingung sendiri bagaimana menjelaskan pertanyaan yang sebenarnya ada dalam pikirannya. Bukan masalah pagi ini Alvaro yang sedang ingin bermanja dengannya, tapi tentang sikap Alvaro padanya selama ini. Sebenarnya semua sikap lembut dan perhatian Alvaro padanya, membuat Tami sedikit goyah dengan pendiriannya.
"Apa kamu tidak bisa membuka hatimu sedikit saja untukku?" Tanya Alvaro, dengan menatap lekat mata istrinya.
Tami terdiam mendengar itu, pertanyaan yang tidak pernah dia sangka akan dengar dari mulut suaminya. Benarkah Alvaro tengah memintanya untuk membuka hati untuknya? Lalu jika Tami benar-benar telah membuka hati untuknya, apa Alvaro tidak akan mencampakkan dirinya? Hal yang paling Tami takutkan selama ini.
Alvaro memeluknya dengan erat, menyandarkan kepalanya di bahu Tami. "Sayang, cobalah untuk membuka hatimu untukku"
__ADS_1
Bersambung
Like komen di setiap chapter.. kasih hadiahnya dan votenya.. berikan bintang rate 5