My Sweet Girl

My Sweet Girl
Bisakah Membuka Hati?


__ADS_3

Bisakah Tami membuka hati untuk suaminya? Dia masih merasa takut dan ragu, jika dia sudah terlanjur membuka hati untuk Alvaro dan benar-benar jatuh cinta padanya, apa suaminya itu akan benar-benar menjadikannya istri yang sesungguhnya. Bukan karena hutang dan tidak akan mencampakkannya? Tami merasa tidak yakin tentang itu. Mengingat awal pernikahan mereka bukan atas dasar cinta.


Karena terus memikirkan tentang ucapan suaminya tadi pagi, membuat Tami tidak terlalu fokus dalam pekerjaannya. Sudah kedua kalinya hari ini dia salah mengantarkan pesanan.


"Gimana si Mbak, kenapa bisa salah begini? Saya tidak memesan ini, kenapa malah datangnya ini. Mbak bisa bekerja tidak si?"


Tami hanya menunduk dan mengucapkan kata maaf beberapa kali pada pelanggan yang marah karena dia salah mengantar pesanannya. "Saya akan menggantinya Nona, tolong maafkan saya. Tunggu sebentar lagi ya"


"Tidak usah, saya tidak mau makan disini lagi. Katanya disini selain makanannya yang enak juga pelayanannya yang bagus. Tapi apa? Saya malah mendapatkan pelayanan seperti ini, sungguh di luar ekspetasi"


Tami menghela nafas, dia membungkukan tubuhnya saat wanita itu pergi dari sana. "Maafkan saya Nona"


Prita yang melihat itu langsung menghampiri Tami. "Ikut saya sekarang"


Tami mengangguk, dia mengikuti langkah Prita yang membawanya ke ruangan karyawan. Sudah pasti dia akan mendapat teguran kali ini. Karena sudah dua pelanggan yang marah-marah dan pergi begitu saja karena Tami yang salah mengantarkan pesanan mereka.


"Kamu sebenarnya kenapa? Tidak biasanya seperti itu? Apa ada masalah?"


Tami menunduk, dia menggeleng pelan. Lagian masalah yang dia hadapi juga tidak mungkin dia beri tahukan pada Prita. Itu semua sama saja dengan membongkar status pernikahannya dengan Alvaro.


"Tami, aku hanya kepala pelayan disini. Aku tetap harus menertibkan semua pelayan dan pekerja disini. Jadi, tolong kerja samanya. Aku tahu jika semua orang pasti memiliki masalah masing-masing. Tapi, setidaknya dalam urusan pekerjaan kamu tetap harus profesional. Mengerti?"


Tami mengangguk "Iya Kak, aku akan lebih profesional lagi mulai sekarang. Maaf ya Kak"


"Yasudah, kau kembali bekerja"


Tami mengangguk, dia berjalan keluar ruangan. Namun, sebelum dia membuka pintu ruangan. Langkahnya terhenti dengan ucapan Prita.


"Aku tahu jika kamu sedang bingung dengan pernikahanmu dengan Tuan Alvaro. Tapi tolong tetap profesional, jika kamu tidak mau di curigai yang lain"


Hah?


...💫💫💫💫💫💫💫💫...

__ADS_1


Tami kembali bekerja, meski dengan fikiran yang semakin kacau sejak dia mengetahui jika Pria telah tahu tentang pernikahannya dengan Alvaro. Namun, kali ini Tami tetap mencoba untuk fokus bekerja. Tidak mau mengecewakan Prita yang sudah memberikan peringatan padanya.


Tapi, darimana Kak Prita tahu tentang pernikahanku dan Tuan Alvaro dan sejak kapan dia mengetahuinya?


Pertanyaan itu terus memenuhi pikiran Tami. Dia ingin segera pulang dan menanyakannya pada suaminya. Apa mungkin memang Alvaro yang memberi tahu Prita tentang pernikahan mereka.


Selesai dengan jam kerja, Tami keluar dari restaurant itu. Entah kenapa hari ini Alvaro tidak datang ke Slick Grind Resto.  Padahal tadi dia bilang akan kembali kesini setelah dia menjemput Tami kuliah dan mengantarnya ke Slick Grind Resto. Tami berdiri di pinggir jalan, menunggu angkutan umum yang lewat. Dia tidak berani menelepon Alvaro dan memintanya untuk menjemput.


"Hai Mi, belum pulang? Dimana motor kamu? Perasaan sudah lama aku tidak lihat kamu bawa motor" Kemal datang menghampirinya dengan motornya.


Tami tersenyum, jelas dia tidak akan membawa lagi motor butut itu. Sejak menikah dengan pemilik Slick Grind Resto, motor Tami hanya menjadi penghuni garasi di rumahnya. "Di jual Kak, aku butuh uang waktu itu. Jadi gak punya motor lagi deh"


Kemal mengangguk mengerti. "Terus sekarang mau pulang naik apa?"


"Gak tahu ya, mungkin nunggu ada angkutan umum atau ojek saja"


"Kalau gitu, biar aku antar pulang saja yuk"


"Gak papa Mi, lagian malam-malam begini susah cari angkutan umum. Meningan kamu bareng sama aku aja. Kamu anggap saja ini sebagai ucapan terima kasihku karena waktu itu kamu sudah membantu aku saat ban motorku bocor"


Tami tersenyum, dia ragu sebenarnya untuk naik ke atas motor Kemal. Tapi hari memang semakin malam, rasanya memang akan sulit untuknya mendapatkan angkutan umum. Akhirnya Tami menerima helm yang di berikan Kemal padanya. Memakainya, lalu naik ke jok belakang motor Kemal.


"Pegangan Mi, nanti jatuh"


"I-iya Kak" Tami memegang ujung jaket yang di pakai Kemal.


...💫💫💫💫💫💫💫💫...


Sial. Aku sampai telat menjemput Tami karena pekerjaan yang tak kunjung selesai.


Saat kembali dari mengantar Tami ke Slick Grind Resto.  Alvaro memang mendapat telepon dari manager restaurant cabang di luar kota. Membuat dia harus segera kesana dan menyelesaikan sedikit permasalahan yang terjadi disana. Perjalanan yang cukup memakan waktu, belum lagi terkendala macet membuat Alvaro pulang larut dan lupa untuk menghubungi istrinya.


Kesialan seolah tidak sampai disitu saja, saat sekarang ban mobilnya malah bocor. Ingin menghubungi Tami, tapi ponselnya mati karena habis baterai. Dia lupa membawa charger ponselnya.

__ADS_1


Benar-benar sial. Tami pasti sudah pulang ke rumah. Mungkin dia akan pesan taxi online.


Selesai dengan masalah ban mobilnya yang bocor, Alvaro segera melajukan mobilnya menuju rumah.


Sementara di perjalanan, Tami bingung harus memberi tahu Kemal arah jalan ke rumah yang mana. Apa rumah orang tuanya atau rumah suaminya. Jika Tami pulang ke rumah orang tuanya, pasti akan menjadi huru hara baginya. Jadi, dia memilih menunjukan arah jalan menuju rumah suaminya.


"Wahh kamu tinggal disini Mi?" Kemal berdecak kagum saat memasuki komplek perumahan yang harganya tidak akan sanggup dia untuk tinggal disini meski tidak memakai gajinya yang bekerja di Slick Grind Resto selama 10 tahun.


Tami menggaruk belakang lehernya, bingung harus menjawab apa. Pasti Kemal merasa heran karena pekerja paruh waktu seperti Tami tinggal di perumahan mewah seperti ini. "I-iya Kak, Ibuku kerja di salah satu rumah disini. Jadi aku sering pulang kesini, menemui Ibu"


Akhirnya Tami menemukan jawaban yang tepat untuk menghindari kecurigaan Kemal. Pria itu hanya mengangguk. Tami menoleh ke belakang saat melihat cahaya lampu mobil yang tepat berada di belakangnya.


Deg..


Itukan mobilnya Tuan Alvaro, duh bagaimana ini?


"Dimana rumahnya Mi?"


Tami kembali menoleh ke depan, dia sudah merasakan sinyal bahaya ketika suaminya melihatnya sedang bersama pria lain. Meski tidak ada hubungan apapun, tapi di mata Alvaro tetap istrinya sedang bersama pria lain.


"Di depan sana Kak, yang itu" Tami menunjukan rumah suaminya.


Kemal mengangguk, dia menghentikan motornya di depan rumah yang di tunjuk oleh Tami barusan. Tami segera turun dan melepas helm yang di pakainya, memberikan pada Kemal sambil melirik mobil yang seolah sengaja memperlambat lajunya agar bisa mempergoki Tami yang sedang bersama pria lain.


Ya Tuhan, aku benar-benar seperti ketahuan selingkuh sekarang.


"Yaudah Kak, makasih ya sudah mengantar aku. Sekarang Kakak cepat pulang, sudah hampir larut"


"Iya Mi, kalau begitu aku pergi ya. Sampai ketemu besok, bye"


Tami mengangguk, dia menatap motor Kemal yang pergi darisana. Lalu, menoleh pada mobil yang sejak tadi berada di belakang motor Kemal itu. Tami minggir saat mobil masuk ke pekarangan rumah. Pintu mobil yang terbuka membuat jantung Tami berdebar kencang.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2