My Sweet Girl

My Sweet Girl
Hormon Kehamilan


__ADS_3

Selama perjalanan ke ibu kota, Tami terus mengalami mabuk udara. Anehnya kemarin saat dia datang kesini sendirian, tapi dia baik-baik saja dan tidak mengalami ini.


Alvaro sampai panik sendiri melihat keadaan istrinya. Ketika turun dari pesawat Alvaro segera menggendong Tami menuju mobil jemputanΒ  mereka. Sang supir sudah siap siaga disana.


Keadaan Tami benar-benar lemah sekarang, dia hanya menyandar di dada Alvaro tanpa banyak bicara. Muntah beberapa kali benar-benar membuat kondisi tubuhnya sangat lemas.


"Pak, kita pergi ke rumah sakit dulu"


"Baik Tuan"


Bahkan Tami tidak menolak saat Alvaro ingin membawanya ke rumah sakit. Alvaro terus mencium puncak kepala istrinya dan mengelus lembut perutnya. Berharap bisa mengurangi rasa mual yang di alami istrinya saat ini.


"Masih mual, hmm?"


Tami mengangguk lemah, membuat Alvaro tidak tega melihatnya. "Sabar ya, nanti kita ke rumah sakit"


Sampai di rumah sakit, Alvaro segera membawa Tami ke ruang pemeriksaan. Menunggu beberapa saat sampai dokter selesai memeriksa istrinya.


"Istri anda harus di infus, terlalu banyak keluar cairan dari tubuhnya memuat dia lemas. Mungkin harus di rawat dulu sampai kondisinya benar-benar lebih baik"


"Iya Dok, terima kasih"


Setelah Dokter pergi, Alvaro menatap istrinya yang terbaring lemah di atas ranjang pasien. Menarik kursi di samping ranjang pasien dan Alvaro duduk disana. Mengelus kepala Tami dengan Sayang.


"Kasihan sekali sayangnya aku ini, sampai seperti ini"


Alvaro menggenggam tangan Tami dan mengecupnya.


...πŸ’«πŸ’«πŸ’«πŸ’«πŸ’«πŸ’«πŸ’«πŸ’«...


Tami mengerjapkan matanya, terbangun dan menatap suaminya yang tertidur dengan posisis duduk dan kepala yang menyandar di sisi ranjang. Tangannya menggenggam tangan Tami yang tidak terpasang infus.


"Sayang.."


Alvaro bangun ketika mendengar suara lirih itu. Dia melihat istrinya sudah terbangun. "Sayang, bagaimana keadaanmu sekarang? Apa yang sakit?"


"Sudah lebih baik, ayo kita pulang"

__ADS_1


"Sebentar ya, kita harus tunggu izin dari Dokter dulu"


"Tapi aku sudah tidak betah Sayang, ingin pulang saja"


Alvaro mengelus kepala istrinya dan mengecup keningnya. "Iya nanti tunggu kabar dari Dokter dulu"


Dan setelah Dokter memastikan keadaan Tami sudah benar-benar stabil, maka Tami langsung di izinkan untuk pulang. Sampai di rumah, Alvaro segera membawa Tami ke kamar mereka.


"Istirahatlah, kamu jangan banyak gerak dulu apalagi sampai kecapean" Alvaro mengelus kepala istrinya dengan lembut, dia benar-benar tidak mau sampai Tami kenapa-napa. Apalagi saat ini dia sedang mengandung calon anaknya.


"Sayang..." Tiba-tiba saja Tami memeluknya, menyandarkan kepalanya dengan nyaman di dada Alvaro. "...Jangan pergi lagi, pokoknya jangan ninggalin aku lagi. Aku sedang hamil anak kamu, aku takut sendirian"


Tolong di jaga emosinya, ibu hamil terkadang sangat sensitif. Itu adalah pengaruh hormon kehamilan.


Alvaro teringat ucapan Dokter saat di rumah sakit. Mungkin saat ini Tami sedang ingin dimanja olehnya. Dan Alvaro jelas tidak keberatan soal itu. Dia mengelus punggung istrinya dengan lembut.


"Iya Sayang, aku tidak akan meninggalkan kamu lagi. Mulai sekarang, aku akan mencari seorang asisten. Agar aku bisa lebih banyak waktu bersamamu"


Tami mendongak, dia tersenyum senang mendengar itu. "Beneran ya?"


Alvaro mencium kening istrinya, lalu mengangguk. "Iya Sayang, sekarang kamu istirahat ya. Kata dokter kamu masih harus banyak istirahat. Oh ya, nanti mau makan apa? Biar aku masakan"


"Aku tidak selera makan, jadi tidak ingin makan apapun"


"Tidak bisa gitu Sayang, kamu harus tetap makan. Kasihan calon bayi kita, kalau Ibunya tidak makan" Alvaro mengelus perut rata istrinya, dan seketika hatinya selalu berdebar senang saat menyadari jika ada calon anaknya dalam perut sang istri.


"Tapi aku benar-benar gak selera makan"


"Makan sedikit saja, asal ada asupan makanan dalam tubuh kamu. Kalau tidak, kita ke rumah sakit lagi. Kamu harus di pasang infus lagi kalau tetap tidak mau makan"


Ancaman Alvaro bukan main-main, dia benar-benar akan melakukan itu jika istrinya tetap menolak makan. Karena tubuh istrinya membutuhkan nutrisi yang masuk. Apalagi sekarang bukan hanya dia saja yang membutuhkan nutrisi makanan, tapi juga bayi dalam kandungannya.


"Yaudah deh, aku mau makan. Kamu buatkan aku bubur saja, supaya lebih gampang makannya"


Alvaro mengangguk, akhirnya ancaman dia berhasil membuat istrinya takut. "Yaudah, sekarang kamu istirahat. Biar nanti aku yang buatkan bubur spesial buat kamu"


Alvaro mengelus kepala istrinya sampai Tami benar-benar terlelap. Lalu dia mencium keningnya dengan lembut. "Istirahatlah, aku mencintaimu Sayang"

__ADS_1


Alvaro turun dari tempat tidur dan berjalan keluar kamar, menuju lantai bawah. Dia memulai masaknya di dapur. Rasanya sudah lama dia tidak memakai alat-alat di dapur ini lagi. Dan hari ini dia kembali menggunakan alat dapur. Mulai menunjukan keahliannya dalam memasak.


...πŸ’«πŸ’«πŸ’«πŸ’«πŸ’«πŸ’«πŸ’«πŸ’«...


Entah berapa lama Tami terlelap, tapi saat dia terbangun tepat pada saat suaminya masuk ke dalam kamar dan membawa semangkuk bubur pesanannya.


Alvaro duduk di pinggir tempat tidur, menyimpan mangkuk yang dia bawa di atas nakas. "Sudah bangun ya, ayo makan dulu mumpung buburnya masih hangat"


Tami bangun, duduk menyandar di atas tempat tidur. Menatap mangkuk bubur buatan suaminya. "Aku gak enak loh, masa suami yang malah masakin aku"


Alvaro terkekeh, dia mengelus kepala Tami dan merapikan rambutnya yang sedikit berantakan karena baru bangun tidur. "Karena kamu sudah sering membuatkan aku makanan enak, jadi sekarang gantian. Giliran aku yang memasak untuk kamu"


Tami tersenyum, tangannya mengelus perutnya seolah menunjukan pada anaknya bagaimana Ayahnya begitu baik padanya.


Lihatlah Nak, Papamu memang sangat perhatian pada kita.


"Yaudah sekarang makan ya, biar aku suapin"


"Gak usah, aku bisa makan sendiri. Mendingan kamu mandi saja, belum mandi 'kan dari tadi"


Akhirnya Alvaro menurut saja, dia membiarkan Tami makan sendiri dan dirinya segera bersih-bersih. Badannya sudah terasa sangat lengket, karena belum mandi sejak pulang dari luar kota tadi.


Tami menatap mangkuk bubur di tangannya, Alvaro benar-benar membuatkan bubur yang sehat untuknya. Ada beberapa butir jagung, telur dan ayam di dalamnya. Saat Tami mencoba suapaj perhama, dia layak memuji masakan suaminya ini. Karena rasanya benar-benar enak.


"Suamiku ini hebat juga ya, pantas saja dia menjadi pemilik Restaurant terkenal. Dia saja pandai memasak seperti ini"


Entah memang bubur buatan Alvaro yang enak sehingga selera makan Tami kembali pulih. Dia memakan bubur itu sampai habis tak bersisa.


Saat Alvaro keluar dari ruang ganti, dia tersenyum melihat mangkuk bubur yang kosong. Berjalan menghampiri istrinya yang masih berada di atas tempat tidur. "Bagaimana Sayang? Apa makanannya enak?"


Tami mengangguk, dia meminum air dalam gelas lalu menyimpan kembali gelas itu di atas nakas. "Enak Sayang, kamu memang pandai memasak ya. Aku suka, sampai benar-benar habis loh. Sepertinya anak kita juga suka makanannya"


Alvaro tersenyum, dia duduk di pinggir tempat tidur dan mengelus perut istrinya. "Syukurlah kalau kalian menyukainya"


"Kalian? Sayang, emangnya anak kita ada dua gitu"


"Bisa saja 'kan, toh aku punya gen kembar"

__ADS_1


Tami terdiam mendengar itu.


Bersambung


__ADS_2