My Sweet Girl

My Sweet Girl
Kesalah Fahaman Yang Belum Terselesaikan


__ADS_3

Alvaro kembali ke lantai bawah, dia duduk di atas sofa dengan terus mencoba menghubungi Tami. Sampai suara pintu yang terbuka membuat Alvaro segera menoleh.


"Sayang..." Alvaro berlari ke arah Tami dan memeluknya, bahkan sampai kantung plastik yang Tami bawa terjatuh di atas lantai karena dia terkejut mendapatkan pelukan mendadak dari suaminya ini.


"Sayang, kenapa?" Tami malah bingung sendiri dengan sikap suaminya pagi ini.


Alvaro melerai pelukannya, dia menatap Tami dengan wajah panik. "Kamu darimana?"


Tami melirik kantung plastik yang tergeletak di atas lantai. Alvaro ikut menatap ke arah pandang Tami. "Aku abis belanja di pasar depan komplek, tidak ada bahan makanan di kulkas. Sudah habis, kita belum belanja. Sekalian beli untuk sarapan juga"


Akvaro menghembuskan nafas lega, dia benar-benar di buat panik karena Tami yang tiba-tiba tidak ada di rumah. Pikirannya sudah melayang entah kemana, takut jika istrinya benar-benar pergi meninggalkannya.


"Kenapa gak bangunin aku? Kan aku bisa mengantar kamu"


Tami melepaskan tangan Alvaro yang memegang lengannya, dia mengambil kantung plastik di atas lantai. Lalu berjalan menuju dapur. "Kamu kelihat lelap sekali, jadi aku tidak tega untuk membangunkannya. Kamu pasti lelah ya karena semalam"


Alvaro mengikuti langkah kaki istrinya, dia sedikit bingung ketika nada suara Tami terdengar sedikit dingin padanya. "Semalam aku pulang pukul 11 malam, kamu sudah tidur"


Tami tidak menjawab, dia hanya tersenyum masam mendengarnya. Tentu Alvaro tidak akan melihatnya. Tami sampai di dapur dengan Alvaro yang masih mengikutinya. Dia menyimpan beberapa sayuran ke dalam lemari es. Lalu mencuci tangannya sebelum dia menyiapkan makanan yang dia beli di pasar minggu tadi.


"Sarapan dulu" Tami membuka bungkusan makanan yang di belinya dan memindahkanhya ke atas piring.


Alvaro mengangguk, dia memeluk istrinya dari belakang. "Lain kali kalau mau pergi begitu, beritahu aku. Tidak peduli jika aku sedang tidur sekalipun"


Tami tidak menjawab, dia melepaskan lingkaran tangan suaminya di perutnya. Hal itu membuat Alvaro tertegun, tidak biasanya Tami seperti ini. Kenapa sikapnya berubah menjadi dingin padanya.


"Sarapan dulu, lagian apa kamu akan ke restaurant hari ini?" Tami menarik kursi dan duduk disana. Meraih makanan miliknya dan mulai memakannya. Sama sekali tidak menatap ke arah Alvaro.

__ADS_1


Alvaro berjalan ke arah wastaffel, mencuci tangannya. "Aku tidak ke Resto hari ini, kamu 'kan libur kuliah. Kita jalan-jalan saja"


"Aku malas kemana pun, hari ini hanya akan diam saja di rumah"


Lagi-lagi Alvaro di buat tertegun oleh sikap istrinya. Tidak biasanya Tami menolak ajakannya untuk pergi jalan. Biasanya dia akan terlihat antusias saat Alvaro mengajaknya jalan. Tami langsung berubah ke mode manjanya dan mengatakan jika dia memang bosan berada di rumah terus. Tapi kenapa kali ini berbeda, sikap Tami benar-benar membuat Alvaro bingung.


Alvaro duduk di depan Tami, mengambil makanan miliknya. Dia menatap istrinya yang seolah menghindari kontak mata dengannya. Tami hanya fokus makan dengan pandangan menunduk. Seolah tidak mau menatap ke arahnya.


"Aku sudah selesai, aku duluan ke kamar ya" Tami berdiri dan segera pergi darisana, meninggalkan Alvaro yang masih menyantap sarapannya.


Sikap Tami ini semakin membuat Alvaro bingung. Ada apa dengan dia? Gumamnya. Alvaro segera menyelesaikan sarapannya dan menyusul Tami ke kamar. Saat memasuki kamar, dia melihat Tami yang duduk di atas sofa dengan sebuah buku tebal di tangannya. Kacamata baca selalu bertengger di hidungnya.


Alvaro menghampirinya, duduk di ruang kosong samping Tami. Lalu memeluk istrinya. Menyandarkan kepalanya di bahu Tami. "Sayang, yakin tidak mau jalan-jalan bersamaku?"


Tami membenarkan posisi kacamatanya. "Kalau mau pergi jalan, kamu bisa pergi sendiri saja. Aku benar-benar hanya ingin di rumah seharian ini"


Alvaro menatap wajah Tami dari samping, dia masih menyandarkan kepalanya di bahu Tami. "Gimana kalau kita pergi periksa matamu itu. Aku akan mencoba menghubungi Dokternya, mungkin saja dia punya waktu luang hari ini untuk konsultasi"


"Foto tidak pantas? Maksudnya?"


"Bukan apa-apa, aku tidak sengaja membaca keras cerita di novel ini" Tami sedikit mengangkat buku yang sedang dia baca.


Alvaro mengangguk saja, meski sebenarnya dia sedikit bingung dengan apa yang baru saja di ucapkan oleh Tami. Alvaro masih bertanya-tanya kenapa sikap istrinya bisa berubah seperti ini. Apa yang telah dia lakukan sampai Tami bersikap dingin padanya.


Sampai hari menuju siang, sikap Tami masih saja dingin padanya. Alvaro menjadi bingung sendiri harusĀ  melakukan apa untuk membuat istrinya kembali hangat padanya. Meski Tami tidak terlihat kesal atau marah-marah padanya, tapi sikapnya yang berubah dingin pada Alvaro justru malah semakin menyiksa pria itu.


"Sayang, kamu kenapa?"

__ADS_1


Tami yang sedang menyisir rambut di depan meja rias, langsung menoleh ke arah suaminya yang tidur di atas tempat tidur dengan satu tangan menyangga kepalanya.


"Aku tidak papa, memangnya aku kenapa?"


"Tapi kamu terlihat beda, kamu marah sama aku? Kalau kamu marah atau kesal padaku, bicara saja. Luapkan segala kemarahan kamu. Jangan bersikap dingin seperti ini padaku"


"Sikapku biasa saja padamu, memangnya aku berubah?"


Alvaro bangun dari tidurannya, dia menurunkan kedua kakinya ke atas lantai. Duduk di pinggir tempat tidur. "Ya, kau berubah. Menjadi dingin padaku. Aku punya salah apa padamu? Apa karena semalam aku pergi keluar? Sayang, semalam aku hanya berkumpul dengan temanku. Hanya sekedar menghilangkan penat saja"


Ohh jadi caranya menghilangkan penat, adalah bermain dengan wanita lain.


"Yaudah, tidak masalah bagiku. Kamu memang perlu menghilangkan penat, karena pernikahan kita ini memang terlalu menjenuhkan"


Deg..


Ucapan Tami benar-benar terasa langsung menusuk ke hati Alvaro. Dia mulai yakin jika istrinya marah karena semalam dia pergi keluar bersama teman-temannya. Tapi, jika mengingat hal itu. Aiden yang juga sudah memiliki anak dan istri, tetap bisa meluangkan waktu untuk berkumpul sesekali bersama sahabatnya. Tapi kenapa Tami harus mempermasalahkan soal ini. Bahkan sampai dia berubah sikap pada Alvaro.


"Kenapa kamu jadi begini? Apa setelah menikah, aku tidak boleh bertemu dengan teman-temanku? Bahkan hanya sesekali saja, kenapa kamu jadi seperti ini?"


Tami tersenyum, dia menatap suaminya dari balik pantulan cermin meja rias di depannya. "Aku tidak masalah jika kamu pergi bersama teman-temanmu. Lagian aku punya hak apa untuk melarangmu atau marah padamu?" Pernikahan kita saja hanya atas pinjaman uang. Bukan karena cinta.


"Kau!" Alvaro berdiri, dia menatap Tami dengan dingin. "...Aku tidak menyangka jika sejauh ini pernikahan kita berjalan. Kau masih tidak membuka hatimu untukku. Kau masih menganggap aku sebagai orang asing dalam hidupmu"


Tami terdiam, tidak berniat menjawab apapun. Karena dia memang sudah terlanjur membuka hati untuk suaminya. Meski dia tetap mencoba untuk tidak melakukan itu. Tapi apa boleh buat saat hatinya sendiri yang memberikan celah untuk Alvaro bisa masuk sebagai pemilik hatinya saat ini.


Namun, Tami harus di kecewakan oleh kenyataan yang baru dia ketahui. Jika suaminya memang tidak pernah serius dengan pernikahan ini. Dia tetap melakukan hal yang mungkin memang sering dia lakukan semasa dia belum menikah. Menghilangkan rasa penatnya dengan bermain dengan wanita lain. Hal yang membuat Tami kecewa.

__ADS_1


Alvaro keluar dari kamar dengan membanting pintu kamar dengan keras. Kesalah fahaman di antara mereka masih belum terselesaikan.


Bersambung


__ADS_2