My Sweet Girl

My Sweet Girl
Cemburu Hanya Untuk Orang Yang Mencintai?!


__ADS_3

Tubuh Tami masih mematung di tempatnya ketika Alvaro mulai berjalan ke arahnya. Entah kenapa dia merasa jika tatapan pria itu lebih menyeramkan dari biasanya. Terlihat sangat dingin dan tajam.


"Diantar siapa?"


Pernyataan yang seolah sedang menyudutkan Tami. Ingin menjawab jujur, tapi merasa akan semakin bahaya. Tapi jika Tami berbohong, akan semakin rumit. "Kak Kemal, dia mengantar aku sekalian dia pulang"


"Kemal?" Alvaro sedikit mengangkat alisnya, mengingat siapa nama itu. "...Ohh. Pelayan itu ya, ada hubungan apa kalian berdua? Sampe pelukan begitu naik motornya?"


Tami menunduk dengan tangan saling meremas. Suasana malam ini terasa sangat dingin. "Maaf, aku dan Kak Kemal tidak ada hubungan apapun. Dia hanya mengantarku sebagai balasan karena dulu aku pernah membantunya"


Alvaro mendengus kesal, dia tahu kapan itu terjadi. Dia sudah sangat kesal saat itu, apalagi sekarang ketika Tami telah resmi menjadi istrinya. Tami telah menjadi miliknya.


Cup..


Tami terkejut dan bingung ketika Alvaro tiba-tiba mencium bibirnya. Tami menatapnya dengan bingung. Kenapa tiba-tiba dia menciumku seperti itu? Apa dia sudah tidak marah ya.


"Bentuk kecemburuan ku padamu" kata Alvaro sebelum dia berlalu dari hadapan Tami.


Kecemburuan? Jika suaminya merasa cemburu padanya. Apa mungkin saat ini Tami bisa berharap lebih? Karena sebuah rasa cemburu hanya terjadi pada seseorang yang mencintai. Tami masih mematung, dia meraba bibirnya. Bekas bibir Alvaro yang masih terasa disana.


"Sayang, apa kau tidak mau masuk?"


Tami mengerjap dari keterkejutannya, dia menoleh ka arah suaminya yang berdiri di teras rumah. Tami segera menghampirinya. Saat sampai di depan suaminya, Alvaro langsung merangkul bahunya dan mencium keningnya.


"Kau hanya milikku Tami"


Tami mendongak saat mendengar bisikan itu dari suaminya. Miliknya? Rasanya Tami tidak seberharga itu sampai harus Alvaro menekankan jika dirinya adalah miliknya.


"Jadi, jangan pernah membuat aku cemburu lagi. Untuk hal tadi masih aku maafkan, tapi seterusnya jangan pernah berdekatan lagi dengan pria mana pun. Aku benar-benar akan sangat cemburu"


Tapi, cemburu hanya untuk orang yang mencintai.

__ADS_1


Tami tidak menjawab, dia masih mencoba menafsirkan perasaan Alvaro padanya. Meski Tami tidak seyakin itu jika Alvaro memang benar-benar mencintainya atau mungkin dia hanya menganggapnya sebagai barang yang sudah dia miliki dan tidak boleh di sentuh atau dimiliki oleh orang lain.


Sampai di kamar, Tami masih diam. Mencerna setiap kata dan perilaku yang Alvaro lakukan padanya. Menafsirkan itu sebagai cinta? Namun, Tami merasa terlalu percaya diri saat ini. Ketika kata-kata cemburu dia artikan sebagai cinta.


"Mau mandi dulu, biar aku siapkan airnya"


"Mari mandi bersama"


Tami yang siap melangkah masuk ke dalam ruang ganti, langsung terhenti. Untuk kesekian kalinya Alvaro mengajaknya untuk mandi bersama. Tidak tahukah Alvar, jika jantungnya selalu berdebar ketika dia mengatakan itu.


"Aku masih datang bulan"


Sebenarnya kenapa aku mengatakan itu? Padahal dia hanya mengajakku mandi bersama. Hanya mandi, kenapa aku harus membahas tentang datang bulan. Ya Tuhan Tami, kamu benar-benar memalukan.


Alvaro tersenyum melihat wajah tegang dan memerah istrinya. Selalu terlihat gemas di matanya. "Jadi kau fikir aku akan melakukan apa di kamar mandi? Tapi sebaiknya memang menunggu sampai datang bulan kamu selesai"


Tuhkan, fikiran suaminya sudah pasti tidak jernih lagi. Semuanya karena ucapan Tami. Lagian kenapa dia harus membahas datang bulan. "Aku siapkan airnya untuk mandi ya"


"Ada apa denganku? Kenapa sering sekali merasa berdebar seperti ini. Terutama saat berdekatan dengan Tuan Alvaro"


Semnetara di dalam kamar, Alvaro duduk di pinggir tempat tidur. Terkekeh sendiri melihat tingkah istrinya, hal itu malah semakin membuatnya senang untuk menggodanya.


"Dia manis sekali saat malu seperti itu"


...💫💫💫💫💫💫💫💫...


Malam yang hangat setelah ada pertengkaran kecil tadi. Tami menyandar di dada suaminya. Memeluknya dengan erat. Entahlah dia selalu merasa nyaman dengan posisi seperti ini.


"Kenapa tadi tidak datang lagi ke Resto?" Sebenarnya Tami sudah ingin bertanya sejak tadi. Namun, dia mencoba memberanikan dirinya untuk menanyakannya.


Alvaro mencium puncak kepala istrinya, tangannya memeluk bahu Tami. "Ada urusan pekerjaan mendadak di Slick Grind Resto cabang di luar kota"

__ADS_1


Tami mengangguk, dia tidak terlalu curiga karena selama ini Alvaro selalu jujur padanya. "Sudah makan malam?"


Alvaro mengangguk, ditanya seperti itu saja sudah membuat Alvaro senang dan merasa sangat di perhatikan oleh istrinya. "Sudah, kalau kamu?"


"Sudah, tadi aku sempatkan makan malam sebelum pulang bekerja"


"Sama siapa?"


Entahlah kenapa nada suara dari pertanyaan Alvaro kali ini terasa sangat menekan. "Sendiri, memangnya sama siapa?"


Aku kira bersama pria tadi.


"Tidak, aku hanya bertanya"


Tami tersenyum, dia tahu apa maksud suaminya bertanya seperti itu dengan nada mengancam. Seolah dia akan benar-benar murka jika tahu Tami makan malam bersama pria lain. Tangan Tami mengelus pipi suaminya dengan lembut, menggambarkan garis wajah Alvaro dan merekam dalam ingatannya.


"Aku tidak pernah jatuh cinta, aku juga tidak pernah berpacaran. Jadi, saat sekarang aku memberikan diriku pada dirimu. Maka aku tidak akan berpaling dari pria yang telah memiliki diriku seutuhnya. Aku akan bersamamu" Sampai kau bosan dan akhirnya membuangku.


Mendengar itu membuat hati Alvaro menghangat. Dia bersyukur sekali bisa mendapatkan gadis yang benar-benar masih suci seperti Tami. Bahkan hatinya saja tidak pernah merasakan jatuh cinta. Jadi, bisa di pastikan jika Alvaro adalah laki-laki pertama yang menyentuh Tami, mencium Tami dan akan menjadi laki-laki terakhir yang mencintai dan dicintai Tami.


Namun, Alvaro masih merasa punya satu kebohongan yang belum dia ungkapkan pada Tami. Dia hanya takut untuk berkata jujur saat ini. Ketika hati Tami belum mencintainya. Takut ketika Tami telah mengetahui tentang masa lalu dirinya, maka dia akan membencinya dan tidak akan mencoba membuka hati untuknya.


"Sayang..." Alvaro merubah posisi mereka, menidurkan Tami dan menatapnya dengan sedikit mengukung tubuhnya. "...Berjanjilah padaku, apapun yang kamu ketahui suatu saat nanti tentang aku dan masa laluku. Jangan pernah meninggalkan aku"


Bola mata hitam Tami bergerak-gerak, menatap Alvaro dengan lekat. Dia meras bingung kenapa pria itu mengatakan itu. Tapi, dia melihat sorot ketakutan di balik tatapan mata itu. Tangan Tami terangkat, mengelus pipi Alvaro dengan lembut.


"Aku tidak akan meninggalkan kamu, kecuali kamu yang memintaku pergi dari kehidupanmu" Karena disini posisiku hanya sebagai istri jaminan untuk semua hutangku.


Alvaro tersenyum, dia lega setelah mendengar jawaban Tami. Karena sampai kapan pun dia tidak akan meminta Tami pergi. Apapun yang terjadi, dia akan tetap merasa tenang ketika Tami berada di sisinya. Jadi, Alvaro tidak akan pernah meminta Tami pergi dari kehidupannya.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2