My Sweet Girl

My Sweet Girl
Siapa Rendi Fahreza?!


__ADS_3

"Ayo Al, Tante sudah siap"


Alvaro mengerjap saat tiba-tiba suara Tantenya menyadarkan dia dari ingatannya tentang masa lalu. Alvaro tersenyum pada Tantenya.


"Ayo Tan, kita berangkat sekarang"


Alvaro membantu Tante untuk membawa beberapa barang miliknya. Memasukannya ke dalam bagasi mobil, lalu mereka pun masuk ke dalam mobil Alvaro.


Di rumah, Tami sudah menunggu kedatangan Alvaro yang menjemput Tantenya itu. Tami sedikit gugup karena ini adalah pertemuan ketiga dengan Tante Alvaro itu. Yang, pertama saat acara pernikahan, yang kedua adalah saat dia datang berkunjung ke rumah ini saat mendengar kabar Tami hamil. Dan sekarang adalah pertemuan ketiganya. Tami sedikit takut, karena memang dia merasa belum bisa mengakrabkan diri dengan Tante dari suaminya itu.


Suara pintu yang terbuka membuat Tami langsung menoleh, Akvaro dan Tante masuk ke dalam rumah. Tami segera menghampiri mereka, menyalami suaminya dan juga Tante secara bergantian.


"Selamat datang Tante"


"Bagaimana keadaan kamu, Nak? Tante dengar kamu mengalami kram perut kemarin ya?"


Tami tersenyum, dia mengangguk pelan. "Iya, tapi sekarang sudah tidak papa"


Tante mengelus perut Tami dengan lembut. "Jangan terlalu banyak fikiran, jangan kelelahan juga"


Tami mengangguk, dia mengajak Tante untuk duduk di sofa. "Terima kasih ya, Tante sudah mau tinggal disini dan menemani Tami"


"Iya Nak, lagian Tante juga ikut khawatir kalau kamu tinggal seorang diri di rumah ini. Apalagi Tante dengar dari Al, kamu mengandung lebih dari satu bayi"


"Iya Tante, bersyukur banget karena Tami diberi kesempatan ini"


Tante tersenyum, dia mengelus lembut perut Tami. "Di jaga baik-baik kandungannya. Dulu juga Ibunya Al, sama seperti kamu saat mengandung Al dan Vino. Sering mengalami kram perut, bahkan saat melahirkan dia mengalami pendarahan dan sempat koma beberapa bulan"


Tami terkejut mendengar itu, dia benar-benar tidak tahu soal itu. Menatap Alvaro yang tersenyum tipis padanya, dia sudah tahu tentang cerita itu. Dan dia berharap kejadian itu tidak akan terjadi pada istrinya sekarang.


"Tapi kamu tenang saja, kamu pasti bisa melahirkan dua anak ini dengan selamat dan sehat. Kalau tidak ada keluhan sejak awal pasti akan lebih mudah melahirkannya"


"Iya Tan, do'akan saja Tami bisa ya"


"Iya Sayang"


Tami merasa senang bisa mengobrol banyak hal dengan Tante. Merasa dirinya mulai bisa mengakrabkan diri dengan Tante suaminya ini. Yang menjadi pengganti orang tua Alvaro selama ini.


"Tan, Sayang aku ke Resto dulu ya"


"Iya Sayang, hati-hati"

__ADS_1


"Yaudah Al, hati-hati di jalan"


Alvaro menyalami Tante, lalu mencum kening istrinya dengan lembut. "Aku lebih tenang sekarang, karena kamu ada yang menemani di rumah"


"Iya Sayang, sekarang kamu bisa bekerja dengan tenang"


Setelah kepergian Alvaro, Tami benar-benar merasa senang bersama Tante. Dia banyak mengobrol banyak hal dengan Tante. Dan Tante juga baru sadar jika dia memiliki keponakan yang begitu ceria dan nyaman di ajak bicara. Bahkan Tante dengan mudahnya menceritakan tentang kehidupannya pada Tami, yang bahkan tidak dia ceritakan pada orang lain. Apalagi pada orang yang baru di kenal.


"Tante, ayo kita masak. Sebenarnya makanan kesukaan Mas Al itu apa si?"


"Al, suka semua masakan rumahan"


"Wahh, pantas saja dia tidak pernah komplen saat aku memasak makanan sederhana untuknya. Padahal dia adalah pemilik Resto, jelas skill memasaknya lebih baik"


"Ya, memang Al menyukai masakan rumahan daripada masakan khas luar. Padahal dia lama kuliah di luar negara"


Tami merasa senang mempunyai teman saat dia berada di rumah. Memasak bersama dan menceritakan banyak hal dengan Tante.


...💫💫💫💫💫💫💫💫...


Malam ini Tami menunggu suaminya pulang, duduk bersandar di atas tempat tidur dengan ponsel di tangannya. Mengecek media sosialnya yang sudah sangat lama tidak pernah dia buka. Ada beberapa notifikasi dari beberapa orang yang mengajaknya berteman atau mungkin ada yang menyukai foto atau apapun yang Tami unggah. Kebanyakan adalah teman sekolahnya dulu. Jika teman kuliah, dia tidak terlalu punya banyak teman.


"Rendi? Seperti tidak asing ya" Tami membuka pesan yang di kirimkan oleh akun bernama Rendi itu.


Hai Mi, lama sekali tidak bersapa denganmu. Kamu apa kabar? Masih ingat aku tidak? Rendi Fahreza, teman sekelas kamu dulu.


"Ya ampun, ini Rendi Fahreza ya. Pantas saja namanya seolah tidak asing bagiku"


"Siapa Rendi Fahreza?"


Deg..


Suara bariton itu membuat Tami langsung mendongak. Menatap suaminya yang berjalan ke arahnya dengan tatapan mata tajam. Membuat Tami merinding sendiri melihat tatapan itu.


Duh, kenapa menatapku seperti itu?


"Sa-sayang, sudah pulang ya. Aku kangen sama kamu"


Alvaro berdiri di samping tempat tidur, menatap Tami dengan tajam. Tami langsung memeluk suaminya, menempelkan pipinya di perut Alvaro.


"Siapa Rendi Fahreza?"

__ADS_1


"Bukan siapa-siapa, hanya teman sekolah saja dulu"


"Kenapa kau menyebut namanya? Apa kau sedang memikirkannya? Berani sekali kau memikirkan pria lain!"


"Apasi, gak gitu. Aku cuma gak sengaja keinget aja"


"Ohh jadi benar kau sedang mengingat pria lain" Alvaro yang kesal langsung melepaskan lingkaran tangan Tami dan pergi ke ruang ganti.


"Sayang, hei tunggu... Aku bisa jelasin"


Tami menghela nafas pelan, suaminya ini memang sangat pencemburu berat. Tami segera turun dari atas tempat tidur dan berjalan menyusul suaminya ke ruang ganti.


"Dia di kamar mandi rupanya"


Tami segera menyiapkan baju ganti untuk suaminya. Tahu jika suaminya sedang kesal seperti itu, maka dia harus pandai untuk merayunya. Menunggu Alvaro keluar kamar mandi, Tami duduk di sofa tunggal yang berada di pojok ruangan. Sampai beberapa saat Alvaro kembali keluar dari kamar mandi dengan rambut basah dan handuk yang terlilit di pinggangnya. Alvaro benar-benar terlihat sangat berkharisma saat ini.


Aduh, apasi yang kamu fikirin Tami.


Tami menggeleng pelan saat fikirannya mulai melayang kemana-mana. "Sayang ini baju gantinya, udah dong jangan kesal. Aku bisa jelasin"


Alvaro masih cemberut, mengambil pakaian di tangan Tami dengan kasar. Lalu berjalan ke arah lain untuk memakai pakaiannya.


"Sayang, sudah dong marahnya" Tami mengikuti Alvaro, memeluk suaminya dari belakang.


"Aduh..."


"Kenapa?" Seketika Alvaro langsung berbalik dan menatap suaminya yang memegangi perutnya. "Sayang, kenapa?"


Tami menggeleng pelan, dia memang tidak kenapa-napa. Perutnya hanya sedikut mengencang saja, tapi hal ini sedang dia manfaatkan untuk membuat suaminya memaafkannya.


"Aku tidak papa, tapi perutnya kencang sekali"


Alvaro memegang perut Tami, merasakan perut istrinya yang memang benar-benar terasa kencang. "Sakit tidak?"


Tami memeluk Alvaro, lalu menggeleng dalam pelukan suaminya. "Tidak papa, ini sudah biasa kok. Tapi kamu maafkan aku"


"Iya, iya aku maafkan. Tapi siapa Rendi Fahreza?"


Ck. Masih saja di bahas.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2