
Tami menatap suaminya yang sedang mengompres kakinya dengan air hangat. Tami begitu tersentuh dengan perlakuan suaminya ini. Alavro benar-benar tulus melalukannya.
"Sayang, terima kasih ya"
Alvaro menoleh pada istrinya, mengerutkan keningnya. Bingung dengan Tami yang tiba-tiba saja mengucapkan terima kasih padanya.
"Terima kasih untuk apa?"
Tami tersenyum, dia menatap suaminya dengan penuh cinta. "Terima kasih karena kamu sudah begitu tulus mencintaiku dan merawat aku selama ini"
Alvaro tersenyum, dia kembali mengompres kaki istrinya dengan sedikit memberikan pijatan pelan di kakinya. "Tapi kalau kamu gak nurut kayak gini, aku jadi kesal sendiri"
"Iya maaf, tapi sekarang aku sudah bisa berjalan kok. Jadi, kamu tenang saja karena aku sudah bisa berjalan sendiri sekarang. Meski masih sedikit tertatih, tapi tidak papa. Aku bisa kok"
Alvaro mendelik tajam pada Istrinya yang terlihat sangat senang karena sudah mulai bisa berjalan kembali. "Ya, tapi jangan terlalu di paksakan. Lihat kakimu saat ini, semua ini karena kamu terlalu memaksakan diri"
Adriana tersenyum manis pada suaminya, berharap kekesalan Alvaro akan menghilang dengan senyuman manisnya itu. "Iya Sayang, maaf ya. Aku tidak akan terlalu memaksakan diri mulai sekarang"
"Harus! Kalau sampai aku tahu kamu memaksakan diri lagi untuk berjalan. Lihat saja, aku akan benar-benar marah"
"Iya Sayang, iya"
Entah harus berapa kali Tami mengucap rasa syukur karena Tuhan telah menghadirkan Alvaro dalam kehidupannya. Bagaimana Tami bisa menemukan pria yang benar-benar tulus mencintainya.
"Sudah ya, aku mau simpan dulu ini ke kamar mandi"
Tami mengangguk dan menatap suaminya yang berlalu ke ruang ganti untuk menyimpan wadah berisi air hangat dan handuk kecil yang dia gunakan untuk mengompres kaki Tami. Dia memegang kakinya sendiri, merasa sangat terharu dengan setiap hal yang Alvaro lakukan padanya.
Tami membaringkan tubuhnya, mungkin karena rasa lelah seharian terus berlatih untuk berjalan membuatnya terlelap begitu saja saat ini. Dan ketika Alvaro keluar dari ruang ganti, dia tersenyum melihat istrinya yang terlelap.
Alvaro naik ke atas tempat tidur, menarik selimut untuk menutupi tubuh istrinya. Dia mengelus kepala Tami, lalu memberikan kecupan di kening istrinya sebelum ikut berbaring di samping istrinya. Alvaro memeluk Tami dengan nyaman.
"Selamat tidur Sayangku"
__ADS_1
...💫💫💫💫💫💫💫💫...
Pagi ini Clarissa harus menghadap Alvaro di ruang kerjanya. Dia mendengarkan setiap kekesalan Alvaro saat tahu jika Clarissa mendukung Tami untuk terus berlatih berjalan tanpa sepengetahuannya.
"Kakinya bengkak semalam, kenapa kau tidak bisa menolak saja keinginannya"
"Ya ampun Al, memangnya kamu akan bisa menolak? Sudah tahu istrimu itu selalu memaksa dan selalu saja menggunakan wajah memelasnya. Kan aku jadi tidak tega untuk menolaknya"
Alvaro menghela nafas pelan, memang seperti itu cara istrinya untuk membuat orang tidak kuasa menolak keinginannya.
"Terus sekarang bagaimana keadaan istriku menurutmu?"
Clarissa menarik kursi di depan meja kerja Alvaro, lalu dia duduk disana. "Menurut penyelidikan ku, Tami sudah benar-benar membaik. Keadaan kakinya juga sudah lebih baik, bahkan dia sudah berani berjalan sendiri. Proses kesembuhan Tami ini termasuk sebuah proses kesembuhan yang cepat setelah melewati koma yang cukup lama"
"Jadi menurut kamu, apa aku sudah bisa melakukannya?"
Hah?
Clarissa terbengong mendengar ucapan Alvaro barusan. Dia tidak menyangka jika tujuan utama suami Tami, mengundangnya datang ke ruang kerjanya adalah untuk menanyakan hal seperti ini.
Fikiran licik langsung terlintas dalam fikiran Clarissa. "Sepertinya belum Al, kamu harus menunggu sampai satu atau dua bulan lagi. Karena untuk hal itu, tubuh Tami masih belum kuat"
Bahu Alvaro langsung lemas seketika, dia merasa sangat kecewa dengan ucapan Clarissa barusan. "Yasudah, kau boleh keluar"
Sungguh Clarissa ingin tertawa sekarang, melihat wajah kecewa Alvaro atas jawabannya barusan. "Baiklah, aku keluar dulu"
Clarissa keluar dari ruang kerja Alvaro, setelah pintu ruangan tertutup kembali. Clarissa benar-benar tidak bisa lagi menahan tawanya. Dia menutup mulutnya untuk menahan tawanya agar tidak terdengar oleh Alvaro yang berada di dalam ruangan.
Al, Al.. Ternyata memang sebucin itu ya kamu sama istri kamu itu.
Clarissa sampai menggeleng-geleng heran dengan tingkah sahabatnya itu. Pertanyaan yang Alvaro berikan, sungguh membuat Clarissa ingin terbahak.
Di dalam ruangan, Alvaro memijat pelipisnya yang sedikit pening setelah dia mendengar penjelasan Clarissa barusan. "Aku sudah puasa selama satu tahun, apa sekarang masih harus menahannya sampai dua bulan lagi? Arghh... Aku benar-benar tidak bisa terus seperti ini. Apalagi sering melakukan mandi bersama dengan istriku, selalu membuat aku frustasi sendiri"
__ADS_1
Sepertinya Alvaro memang harus lebih bersabar lagi. Dia berjalan gontai menuju kamarnya, membuka pintu kamar dengan helaan nafas yang panjang.
"Loh Sayang, kamu kenapa?" Tami yang sedang duduk di atas sofa, merasa bingung dengan suaminya yang berjalan lunglai dengan wajah menunduk.
Alvaro mendongak, dia menatap istrinya yang baru saja selesai mandi. Rambut Tami yang masih sedikit basah, malah semakin membuat sisi lain dari tubuhnya langsung tegak, tapi bukan keadilan.
Kenapa istriku terlihat sangat menggairahkan. Arghh.. Aku harus segera pergi ke kamar mandi dan menyelesaikan semuanya.
Tami menatap suaminya yang berlalu begitu saja ke ruang ganti tanpa menjawab ucapannya barusan. "Dia kenapa?"
Tami tidak terlalu memperdulikan keanehan suaminya itu. Dia berdiri dan berjalan dengan pelan ke arah tempat tidur. Duduk disana untuk menunggu suaminya keluar dari ruang ganti.
Hampir satu jam, Alvaro baru keluar dari ruang ganti. Tami menatap ke arah suaminya itu. "Sayang, kenapa lama sekali di kamar mandinya. Apa yang kamu lakukan di kamar mandi?"
Alvaro berjalan menghampiri istrinya, naik ke atas tempat tidur. Memeluk dan mencium pipi istrinya. "Aku sedang menyelesaikan masalah aku gara-gara kamu"
Tami mengerutkan keningnya, merasa bingung dengan ucapan suaminya barusan. "Maksudnya? Gara-gara aku kenapa memangnya?"
Gara-gara kamu yang belum bisa aku sentuh, aku 'kan jadi sengsara sekarang.
Alvaro menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Tami. Tidak berniat menjawab pertanyaan istrinya barusan. Dia hanya sedang mencari kenyamanan, dan kenyamanannya adalah dalam pelukan istrinya. Menghirup aroma sabun dan shampo yang masih tersisa di tubuh Tami.
"Sayang, kenapa?" Tami mengelus rambut Alvaro.
Alvaro menggeleng pelan, dia masih terlalu nyaman berada dalam posisi seperti ini. "Aku hanya sedang merasa pusing saja. Ingin berada dalam pelukan kamu saja"
"Sayang, apa kamu sakit?"
"Tidak, aku tidak papa..." Alvaro melepaskan pelukannya, dia mengecup pipi istrinya. "...Aku hanya sedang sedikit pusing saja. Terlalu banyak pekerjaan"
Tami mengelus pipi suaminya dengan lembut. Mengecupnya sekilas. "Kasihan sekali suami aku ini, pasti capek ya"
Alvaro mengangguk dengan sedikit mencebikan bibirnya. Dia sedang dalam mode manja pada istrinya. "Pengen dipeluk kamu seharian ini"
__ADS_1
"Iya Sayang, sini peluk aku" Tami merentangkan tangannya dan Alvaro langsung masuk ke dalam pelukannya.
Bersambung