My Sweet Girl

My Sweet Girl
Preeklamsia?!


__ADS_3

Beberapa bulan berlalu, usia kandungan Tami yang semakin dekat dengan hari kelahira. Usia kandungannya sudah menginjak 8 bulan, dimana semua Ibu begitu menantikan kelahiran anak mereka. Begitupun dengan Tami, dia begitu menantikan kelahiran anak-anaknya.


Hari ini dengan terpaksa Tami harus memeriksa kandungan tidak ditemani oleh suaminya. Alvaro mendadak harus keluar kota untuk mengecek Resto yang ada disana. Meski begitu, Tante tetap menemaninya.


Dokter mulai memeriksa keadaan Tami, dan kali ini ekspresi dokter benar-benar tidak bisa di tebak. Tami tahu, beberapa bulan lalu dia sudah mendengar penjelasan Dokter tentang keadaannya yang kemungkina  memang kehamilannya tidak baik-baik saja.


"Seperti dugaan saya, kehamilan Nona mengalami Preeklamsia"


Deg.. 


Tami langsung menatap Tante yang memegang erat tangannya. Tante juga terkejut mendengarnya. Apa yang di alami Tami, benar-benar sama persis dengan kejadian saat Ibu Alvaro melahirkan Alvaro dan Alvino.


"Bagaimana itu Dok?" Tanya Tami dengan tangan yang mulai gemetar


"Preeklamsia adalah penyakit yang ditandai dengan tekanan darah tinggi yang dikombinasikan dengan peningkatan protein dalam urine.


Preeklamsia yang tidak ditangani dengan baik dapat menyebabkan gangguan kesehatan pada ibu, seperti stroke hingga kejang. Namun, tidak ada pengobatan yang bisa mengatasi kondisi ini. Ketika preeklamsia dinilai cukup membahayakan bagi ibu, salah satu cara yang bisa dilakukan dengan melahirkan bayi kembar lebih awal"


"Ja-jadi maksud Dokter saya harus melahirkan anak saya sebelum waktunya?"


Air mata mulai menggenang di pelupuk matanya. Tangan Tami yang bergetar mengelus perutnya. Rasanya dia tidak akan tega jika anak-anaknya harus terlahir sebelum waktunya.


Dokter menghela nafas, dia tahu jika hal ini pasti berat untuk semua Ibu yang mengandung anak kembar. Tapi, hal ini adalah satu-satunya cara untuk bisa menyelamatkan ibu dan bayi. "Hanya ini cara satu-satunya Nona, itu pun hanya mempunyai 50 persen kemungkinan bisa selamat Ibu dan anak"


"Ya Tuhan" Tante menatap Tami yang sudah meneteskan air matanya. Terlihat dia sangat terguncang dengan kondisinya yang baru saja di beritahukan oleh Dokter.


"Sebaiknya, anda diskusikan dulu semua ini dengan suami anda. Karena keputusan ini harus segera di ambil dalam waktu cepat, jika tidak ingin terjadi sesuatu yang lebih parah lagi"


"Baik Dok" jawab Tante


Di dalam mobil, Tami hanya diam dengan memegang perutnya. Rasanya dia tidak tega jika harus membuat anaknya lahir sebelum waktunya. Tami mengusap kasar air mata yang menetes begitu saja di pipinya.

__ADS_1


Tante memeluk Tami, mengelus punggungnya yang begetar hebat karena menangis. "Tami, kamu yang tenang ya, dengan begini kamu akan semakin membuat stres dan itu juga tidak baik untuk calon bayi kamu. Sekarang kita kasih tahu Al tentang semua ini"


Tami menahan tangan Tante yang siap mengeluarkan ponselnya dari dalam tas. "Jangan sekarang Tante, takutnya Mas Alvaro sedang dalam keadaan sibuk. Nanti malam dia akan pulang, kita tunggu saja sampai dia pulang dan kita bicarakan di rumah saja"


"Baiklah"


Sampai di rumah, Tami langsung menuju kamarnya. Berdiam diri di dalam kamar dengan kertas hasil pemeriksaannya hari ini. Tami duduk di atas sofa, menatap kertas hasil pemeriksaannya dengan tatapan menerawang. Tangannya mengelus perutnya yang sudah sangat membuncit.


Itupun hanya mempunyai 50 persen kemungkinan bisa selamat Ibu dan anak.


Perkataan Dokter kembali terngiang di telinganya. Hati Ibu mana yang tidak akan hancur ketika mendengar semua itu. Jelas Tami juga merasakan kehacuran yang sama ketika mendengar kenyataan yang harus dia terima.


"Pokoknya kalian tenang saja, apapun yang terjadi, Mama akan tetap menyelamatkan kalian. Biarkan jika harus Mama yang berkorban"


...💫💫💫💫💫💫💫💫...


Alvaro memijat pelipisnya yang sedikit pening. Hari ini benar-benar melelahkan untuknya. Sampai dia sepertinya tidak akan bisa pulang malam ini. Sudah terlalu larut untuk dirinya berkendara.


Alvaro meraih ponselnya dan menelepon istrinya. Namun, Tami tidak mengangkat telepon dari Alvaro. "Mungkin dia sudah tidur, aku kirimkan pesan saja"


Di rumah, Tami baru saja kembali masuk ke kamar setelah dia mengambil minum dari dapur. Mengambil ponselnya diatas tempat tidur. Melihat ada satu panggilan tidak terjawab dan satu pesan yang masuk dari nomor ponsel suaminya.


Sayang, maaf aku tidak bisa pulang malam ini. Terlalu banyak laporan yang harus aku selesaikan disini. Jadi terlalu larut untuk pulang. Besok siang aku akan segera pulang.


Tami terdiam membaca pesan itu, tidak berniat membalasnya. Tami kembali meletakan ponselnya di atas nakas. Lalu dia segera berbaring di tempat tidur. Sebenarnya dia tidak bisa tidur dengan tenang sekarang. Setelah mengetahui tentang keadaannya. Dia lebih banyak memikirkan hal tentang apa yang akan terjadi nanti. Saat dia harus memutuskan melahirkan anaknya sebelum waktunya.


Dan pagi ini Tami sudah bersiap, turun ke lantai bawah dan menemui Tante.


"Loh, mau kemana? Kok sudah rapi, oh ya semalam Alvaro tidak pulang ya?"


Tami menggeleng pelan. "Tidak Tan, semalam Mas Alvaro kirim pesan padaku jika dia tidak bisa pulang malam tadi. Siang ini dia baru pulang"

__ADS_1


Tante mengangguk mengerti. "Lalu, kamu akan pergi kemana?"


"Aku ingin ke rumah Ibu, sudah lama tidak berkunjung pada Ayah dan Ibu"


Tante berjalan menghampiri Tami, dia mengelus bahu gadis itu dengan lembut. "Yakinlah jika semuanya akan baik-baik saja. Sekarang kamu temui orang tuamu dan beritahu mereka. Minta do'a dari mereka untuk kebaikan kamu dan bayi kalian"


Tami mengangguk, dia mencium punggunt tangan Tante sebelum berpamitan. "Tami pergi dulu ya Tan, diantar supir kok. Nanti siang pulang sebelum Mas Alvaro sampai rumah"


Tante mengangguk. "Iya Nak, hati-hati"


Tami pergi ke rumah orang tuanya dengan perasaan yang sebenarnya tidak baik-baik saja. Di perjalanan dia berhenti sebentar untuk membeli kue kesukaan Ibu dan Ayah.


Ketika dia sampai dirumah, tentu saja Ayah dan Ibu menyambutnya dengan senang.


"Ya ampun pake repot-repot bawa kue segala Nak, kalau mau datang kesini ya datang saja. Oh ya dimana suamimu?" Tanya Ibu


"Mas Alvaro ada pekerjaan di luar kota dari kemarin, jadi baru akan pulang nanti siang. Oh iya Bu, Yah, sebenarnya Tami datang kesini karena ada sesuatu yang ingin di sampaikan"


Ibu menatap putrinya, sadar ada yang sedang tidak beres yang terjadi pada putrinya. Membuat Ibu langsung menghampirinya, duduk di sampingnya.


"Ada apa?"


"Sepertinya Tami harus melahirkan sekarang"


"Apa? Maksudnya bagaimana Nak? Bukannya usia kandungan kamu baru masuk 8 bulan ya?" Ayah ikut terkejut mendengar apa yang di ucapkan oleh Tami.


"Iya Yah, tapi kandungan Tami bermasalah jadi harus lahir lebih cepat. Tami juga baru mengetahuinya kemarin. Mas Alvaro saja belum tahu, nanti siang saat dia pulang baru akan Tami kasih tahu dia"


Ibu meraih tangan Tami, mengenggamnya dengan lembut. "Do'a Ayah dan Ibu akan selalu menyertaimu. Kami yakin kamu daj calon anak-anak kalian pasti baik-baik saja. Sekarang kamu hanya perlu menceritakan semuanya pada suami kamu dan menunggu keputusan yang akan suami kamu ambil untuk kebaikan kalian"


"Iya Bu, do'akan Tami dan calon bayi Tami baik-baik saja ya"

__ADS_1


"Iya Sayang, pasti"


Bersambung


__ADS_2