My Sweet Girl

My Sweet Girl
Berbeda Dari Wanita Lain


__ADS_3

Keadaan Alvaro memang tidak separah itu, jadi dia sudah diizinkan pulang. Sekarang sepasang suami istri yang saling melepas rindu itu, sedang berpelukan di atas tempat tidur di penginapan tempat Alvaro tinggal selama berada di kota ini.


Tak henti-hentinya Alvaro mencium puncak kepala istrinya. Dia sangat merindukan Tami dan pelukan istrinya ini. "Sayang, kenapa kamu nekat banget si datang kesini sendirian"


"Memangnya kenapa?" Tami mendongak dan menatap wajah suaminya dengan mata menyipit. "...Apa aku tidak boleh menemui suamiku? Atau jangan-jangan kamu sudah mempunyai wanita lain ya disini"


Alvaro tersenyum tipis, dia merasa lucu dengan ucapan istrinya. Bagaimana bisa dia menemukan wanita pujaan lain, jika hati Alvaro saja sudah untuk Tami seutuhnya. Hanya Tami yang menjadi pemilik hatinya.


"Aku tidak mungkin berpaling ke lain hati, karena hatiku sudah menjadi milikmu"


"Ya iyalah, sebentar lagi punya anak. Masa mau main-main dengan wanita lain"


Hah?


Alvaro melepaskan lingkaran tangan Tami di tubuhnya. Sedikit menjauhkan tubuh istrinya itu. Menatapnya dengan lekat. "Sayang, apa maksudnya kamu....?"


Tami tersenyum, dia meraih tangan Alvaro dan meletakan di perutnya. "Ya, aku sedang hamil sekarang. Usianya baru 3 minggu"


Alvaro benar-benar tidak percaya dengan kabar baik yang baru saja dia dengar. Tangannya mengelus perut Tami dengan bergetar. Begitu bahagia ketika dia tahu jika sebentar lagi, keluarganya akan benar-benar lengkap dengan kehadiran seorang anak diantara keluarga mereka.


"Sayang..." Alvaro memeluk Tami, dia tidak bisa berkata-kata lagi. Sungguh hatinya sangat bahagia. "...Terima kasih karena sudah memberikan kebahagiaan ini untukku"


Apa dia sampai menangis?


Tami mengangguk dengan sedikit kikuk ketika mendengar isakan lirih dari suaminya. Tami mengelus punggung suaminya. "Iya Sayang, aku juga bahagia bisa memberikan kamu keturunan dari rahimku"


Alvaro melerai pelukannya, menatap wajah Tami dengan pancaran kebahagiaan yang dia rasakan saat ini. Lalu dia mengecup seluruh bagian wajah Tami. Berhenti cukup lama di bibirnya, berciuman dengan saling meluapkan rindu yang ada di dalam hati.


Tami tersenyum melihat suaminya yang begitu bahagia dengan kabar yang dia berikan. Akhirnya dia bisa memberikan apa yang Alvaro harapkan selama ini. Tami bahagia dengan semua ini, selepas bagaimana awal pernikahan ini terjadi.


"Sayang, kamu datang kesini sendiri?"


Tami kembali memeluk suaminya, menyandarkan kepalanya di dada Alvaro dengan nyaman. "Ya, aku sendiri. Memangnya dengan siapa la... Aww.."


Tami meringis saat Alvaro mencubit kecil lengannya. Tami menoleh dan menatap suaminya yang menatapnya dengan tajam. "Kenapa? Kenapa menatapku seperti itu?"

__ADS_1


Cup.. Cup..


Alvaro memberika dua kali kecupan gemas di bibir Tami. Lalu kembali menatap wanitanya dengan lekat. "Kenapa harus datang kesini dalam keadaan kau yang sedang hamil. Sayang, terlalu bahaya pergi jauh seorang diri dalam keadaan kamu yang sedang hamil"


Tami menghela nafas pelan, saat itu dia memang tidak memikirkan apapun selain harus segera menemui suaminya. "Yaudah, makanya kamu cepat pulang. Aku sedih sendirian di rumah, apalagi setiap pagi aku selalu muntah-muntah. Aku ingin ada kamu di sisiku dan menemaniku di saat seperti ini"


Alvaro mengecup puncak kepala istrinya. Dia tahu bagaimana perasaan Tami ketika dia ditinggalkan olehnya, apalagi dengan keadaan yang sedang hamil muda. Pasti akan membutuhkan kasih sayang lebih dari suaminya. Tami sedang ingin di manja saat ini.


"Yaudah, lusa kita pulang. Aku akan menugaskan sisa pekerjaanku pada Odi"


Tami mendongak, menatap suaminya dengan binar bahagia. "Benar ya? Kamu akan ikut pulang nanti lusa"


"Iya Sayang, aku akan pulang bersamamu nanti lusa"


Tami tersenyum bahagia, karena akhirnya dia bisa kembali bersama suaminya.


...💫💫💫💫💫💫💫💫...


Pagi ini Tami kembali mengalami morning sicknes. Alvaro begitu tidak tega ketika melihat Tami yang terlihat begitu tersiksa dengan keadaannya saat ini.


Tami menggeleng, dia kembali menundukan wajahnya di wastaffel ketika rasa mual kembali menyerangnya. Memuntahkan cairan pahit dari mulutnya.


"Sayang, kita ke dokter saja ya"


"Tidak usah, kata Dokter memang sudah biasa mengalami hal ini di awal kehamilan. Dokter juga sudah memberikan aku obat dan vitamin untuk aku dan kandunganku"


"Tapi aku tidak tega melihatmu seperti ini"


Tami hanya tersenyum, lalu memeluk Alvaro dengan erat. "Asal kamu ada disamping aku, semuanya pasti akan baik-baik saja. Berebeda dengan hari-hari kemarin, saat kamu tidak ada bersamaku. Aku selalu merasa kesepian"


Alvaro membalas pelukan Tami, memberikan kecupan di kening istrinya. "Mulai sekarang aku akan selalu bersamamu Sayang"


Tami mendongak dan menatap wajah suaminya. "Sayang, hari ini aku ingin jalan-jalan"


"Ayo, mau jalan-jalan kemana?"

__ADS_1


"Ke tempat wisata disini saja, sepertinya disini suasananya masih sangat asri"


Akvaro mengangguk.


Dan setelah sarapan penuh paksaan dari Akvaro, barulah Tami bersiap untuk pergi jalan-jalan bersama istrinya. Pergi ke beberapa tempat dan wisata di kota ini. Suasana yang masih asri, membuat Tami begitu menikmati udara segar di kota ini. Apalagi cuaca yang mendukung, tidak panas namun juga tidak hujan. Sangat nyaman untuk di pakai jalan-jalan.


"Sayang aku mau beli itu"


"Jangan lari, ingat kau sedang hamil" Alvaro menahan tangan Tami yang siap berlari menuju penjual makanan diujung jalan.


"Oke"


Akhirnya mereka berjalan sambil bergandengan tangan. Tami membeli beberapa makanan di pinggir jalan. Kebanyakan adalah jajanan khas dari kota ini. Alvaro hanya tersenyum melihat istrinya yang terlihat begitu bahagia dengan hal sederhana seperti ini.


Kau memang benar-benar berbeda dari wanita lain.


Puas membeli banyak makanan, Tami dan Alvaro kembali ke penginapan. Alvaro menggeleng pelan melihat istrinya yang duduk di atas lantai beralaskan karpet kecil, dengan beberapa makanan di depannya. Dia membongkar semuanya dan mencobanya satu persatu makanan dan jajanan yang dia beli.


"Sayang, aku mandi dulu ya"


Tami mengangguk, dia masih fokus pada beberapa makanan yang dia beli. Rasanya hatinya begitu bahagia hanya dengan membeli jajanan pinggir jalan seperti ini.


Bahkan sampai Alvaro selesai mandi, Tami masih berada di posisinya. Alvaro menggeleng tidak percaya melihat tingkah istrinya ini. Dia pun ikut bergabung dengan istrinya di atas karpet.


"Bagaimana? Apa makanannya enak?"


"Emm. Yang ini, ini dan ini enak. Tapi kalau yang ini dan ini, emm ini juga kurang enak" Tami menunjuk beberapa makanan yang menurutnya enak dan tidak enak.


Alvaro mengelus kepala istrinya dengan gemas. "Yasudah, makan yang kamu suka. Setelah itu mandi dan istirahat. Oh ya, apa kamu minum susu hamil?"


Tami menggeleng pelan, dia tidak suka mencium bau susu hingga tidak berfikir untuk meminum susu Ibu hamil. "Aku tidak suka bau susunya, bikin aku mual"


Alvaro menghela nafas. "Yaudah, nanti kita konsultasi pada Dokter. Siapa tahu ada jenis susu Ibu hamil yang baunya tidak terlalu menyengat"


Tami mengangguk saja, dia kembali fokus pada makanan di depannya. Membuat Alvaro terkekeh melihatnya.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2